Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Rencana licik


__ADS_3

"Eh kalau dilihat-lihat, Nona Lara lebih cocok dengan pria bertopeng itu dibanding Nona Karina," celetuk salah satu tamu undangan.


"Kau benar! Lihat saja saat berdansa dengan Karina pria itu tampak kaku, tapi saat bersama Nona Lara dia tampak lebih lepas. Menurutku juga auranya Nona Lara lebih cantik dibanding Nona Karina."


"Ssttt... Jangan keras keras, kalau Karina dengar dia bisa marah. Dari gosip yang beredar kan Karina Foster itu orangnya agak tempramen."


Tidak disangka ternyata Karina mendengar pembicaraan kedua wanita tadi. Ia pun marah dan merasa muak mendengarnya.


"Lara terus dan terus, memang apa bagusnya perempuan itu sih!" Gerutu Karina sewot. "Sial, kenapa aku sampai tidak kepikiran sama sekali soal adanya pergantian pasangan saat dansa!" Kalau sudah begini saatnya Karina melakukan rencana terakhirnya.


Karina lalu meminta agar musik dansa dihentikan. Dengan begitu Lara dan Van juga otomatis selesai berdansanya dan mereka pun kembali berdiri terpisah.


Lara yang merasa haus setelah berdansa kemudian memutuskan untuk mengambil minum. Sementara Vander malah fokus mengawasi Jeden yang terlihat tengah berinteraksi dengan Karina.


"Kau yakin akan melakukan ini sekarang?" Tanya Jeden pada Karina.


"Tentu saja yakin! Aku sudah muak sekali melihat Lara dan Vander bersama terus!"


"Lalu bagaimana caramu memberikan obat itu ke Lara?" Tanya Vander.


"Tenang saja, aku sudah menyuruh pelayan untuk memberikan minuman yang sudah aku tambahkan afrosidiak didalamnya dan memberikannya kepada Lara," jelas Karina.


Rencana licik itu memang sejak awal sudah dirancang oleh Jeden dan Karina sehingga kemungkinan besar akan berhasil. Karina sendiri tampak optimis dengan rencananya ini. "Tuan Jeden kau harusnya sudah tau kan apa yang harus kau lakukan setelah ini?"


"Serahkan padaku, aku sudah tidak sabar menghabiskan malam dengannya," ungkap Jeden dengan tatapan mata penuh gairah nafsu.


"Bagus!" ujar Karina.


Baik Karina dan Van keduanya berencana agar setelah Lara meminum minuman yang dicampur afrodisiak tadi, dan setelah itu Jeden akan pura-pura membantunya dengan membawanya ke kamar hotel yang sudah di booking.


"Setelahnya kau tinggal ambil fotomu dan Lara saat kalian sedang berada di ranjang. Foto itu bisa kita jadikan sebagai senjata untuk mengancam Lara. Ancam dia dengan mengatakan akan menyebarkan foto intimnya ke internet, sudah pasti Lara takut kalau reputasinya hancur. Dan kalau sudah begitu Lara pasti tidak akan berani padamu dan akan menuruti semua kemauanmu, termasuk menjauhi Vander. Dengan begitu kau dan aku bisa mendapatkan tujuan kita masing-masing," Jelas Karina.


Vander yang mengawasi dari jauh semakin dibuat curiga dengan gelagat Karina dan Jeden. "Apa yang mereka bicarakan sebenarnya?" Insting Vander merasakan ada rencana licik diantara Karina dan Jeden. Aku harus lebih ketat menjaga Nona Lara kalau begini!


Mata elang Vander tiba-tiba menyorot ke salah satu pelayan yang membawa minuman, pelayan itu tampak mencurigakan, ia terlihat mau memberikan minuman yang dibawanya pada Lara yang tengah kehausan.


Tidak minumannya! Van yang khawatir pun langsung berjalan cepat mendekati pelayan itu dan menyambar minuman yang ingin diminun oleh Lara, alhasil gelas minuman itu pun terjatuh dan pecah hingga menyebabkan kegaduhan.


Lara melihat ke arah Van dengan wajah bingung. Ada apa sebenarnya, kenapa Vander tiba-tiba menyambar gelas itu ya?


Karina pun langsung datang menghampiri kegaduhan itu. "Ada apa ini?"


Karina yang mengetahui kalau gelas yang dibawa pelayan suruhannya itu pecah, seketika merasa murka dibuatnya. Sial! Kenapa malah jadi begini? Kalau begini rencanaku menjebak Lara bisa gagal semua.


"Kau ini tidak becus bekerja ya!" Karina membentak pelayan tersebut.


"Ma- maafkan aku Nona Karina, aku ceroboh," ucap si pelayan tampak sangat ketakutan.


"Alasan saja, bilang saja kalau kau tidak bisa bekerja jadi pelayan yang profesional!" Karina marah karena merasa pelayan itu telah membuat rencananya menjadi berantakan.

__ADS_1


Para tamu pun tiba-tiba jadi saling berbisik membicarakan sikap kasar Karina yang sudah marah-marah pada pelayan tersebut.


Astaga! Aku sangat emosi jadi hilang kendali dan marah-marah. Sadar jadi pembicaraan orang-orang, Karina pun langsung berpura-pura minta maaf kepada si pelayan.


"Nona Karina seharusnya sebagai pemilik Appletree yang berasal dari keluarga terpandang, kau bisa bersikap lebih bijak lagi pada pekerjamu," sindir Lara.


Karina menatap Lara dengan sinis. Kurang ajar! Wanita ini mencoba mempermalukanku dihadapan tamuku!


Memangnya enak pestamu jadi kacau, batin Lara menertawakan Karina.


Sementara Van yang berdiri diantara dua wanita yang saling berseteru ini pun hanya bisa diam mengawasi.


Lara kemudian menyuruh tamu lain untuk bubar dan meminta si pelayan segera membersihkan kekacauan ini, karena takut akan ada yang terluka karena pecahan gelasnya.


"Ba- baik Nona Lara, saya permisi," ucap si pelayan bergegas mengambil alat pembersih.


Lara menoleh sebentar ke arah Vander lalu pergi.


"Lara Hazel kau benar-benar wanita sialan!" Maki Karina.


"Berhenti memaki Nona Lara," balas Vander yang ternyata masih berdiri di dekat Karina.


"Jadi kau membelanya?!" Ucap Karina dengan nada marah.


"Tentu saja, Nona Lara adalah bosku dan selamanya akan begitu." Vander lalu mendekati Karina dan berbisik, "Kau pikir aku tidak tahu rencanamu dan si bodoh Jeden itu?"


Karina terbelalak kaget, "Ka- kau tau?"


Karina tertawa geli. "Vander- Vander, kau sungguh berani menggertakku tapi tidak sadar akan dimana posisimu saat ini."


Karina memperingatkan. "Dengar Van, kau boleh saja cerdas dan punya kemampuan bertarung yang hebat. Tapi selain dua hal itu kau tidak punya apa-apa lagi, tapi bagaimana mungkin dengan sombongnya kau berani bicara begitu padaku?"


Karina menyentuh pipi Vander dan berkata, "Oh iya kau harus ingat, posisiku saat ini lebih tinggi dari Lara jadi... Bukan tidak mungkin buatku untuk menghancurkannya dan perusahaannya dalam semalam. Oleh karena itu aku peringatkan, jangan pernah bersikap sombong di depanku sayang..." Karina tersenyum licik lalu pergi.


Vander mengatupkan gerahamnya sorot matanya dingin, kedua tangannya mengepal kuat. Sungguh sebuah refleksi akan kemarahan dan kekecewaan yang sedemikian ditahannya. Pria itu merasa frustasi setelah mendengar perkataan Karina barusan.


Seorang pelayan tiba-tiba menawarinya segelas anggur. Dengan cepat Van yang tengah merasa kacau menyambar gelas minuman itu dan meminumnya sekali teguk sampai habis.


DRIP DRIP ponsel Van tiba-tiba bergetar, ia langsung bergegas mencari spot sepi untuk mengangkat panggilan dari Aron tersebut.


Van : Halo!


Aron : Vau kau ada dimana sekarang?


Van : Ada apa?


Aron : Aku baru menerima info kalau Eva dan orang-orangnya kini ada di hotel rosevelt.


Van :  Apa?!

__ADS_1


Aron : Van kau harus hati-hati, Eva dan orang-orang dari Crux pasti tidak akan main-main dengan tindakan mereka.


Van : Lalu apa lagi yang kau tau.


Aron : Aku tidak tahu banyak aku hanya ingin mengingatkanmu soal Eva, karena aku dengar hari ini ada pesta ulang tahun besar yang dihadiri banyak petinggi perusahaan termasuk Lara Hazel disana.


Van : Aku ada diacara itu sekarang!


Aron : Van berhati-hatilah!


DEGH! Jantung Van tiba-tiba berdegup dengan cepat, tubuhnya pun jadi terasa sangat panas dan berkeringat. Sial, ada apa denganku? Jangan-jangan minuman tadi? Van menyadari kalau anggur yang minum barusan ternyata dicampur dengan afrodisiak.


Aron : Van halo, apa kau masih disana!? Vander!


Van : Aku terlambat Aron!


Aron : Hei Van kau kenapa?! Kenapa suaramu jadi seperti sedang terengah-engah begitu?!


Van : Maaf Ron aku harus segera mencari Lara sekarang!


Van langsung menutup teleponnya. "Sial! Anggur tadi pasti sudah diberi obat, aku harus segera menyuruh Nona Lara pergi dari tempat ini!"


Tubuh Van mulai tidak bisa dikendalikan, pengaruh obatnya semakin kuat menjalar ke aliran darahnya. Ia berkali-kali mencoba menelepon Lara namun tak kunjung diangkat. "Gadis bodoh! Kenapa tidak kau angkat!" Maki Vander semakin tidak kuat menahan reaksi obat yang menyerang tubuhnya.


"Aku tidak bisa menemui Lara dengan kondisi seperti ini." Van takut jika ia nekat menemui Lara dirinya tidak akan bisa lagi menahan rangsangan obatnya. Pria itu berkeringat makin banyak tubuhnya panas seperti tengah dibakar di dalam tungku besar. "Aku...Argh!" Van menghantam kepalanya sendiri agar tidak makin terpengaruh efek obat. "Eva sialan! Ini pasti ulahnya!" Van terlihat benar-benar tersiksa sekali. Pria yang biasanya berdiri gagah kini nampak tehuyung tak kuasa menahan suhu panas dan dahaga luar biasa yang menyerangnya, bahkan sekalipun berendam di laut es tak langsung menghilangkan dahaga panasnya saat ini.


Tak lama kemudian tiba-tiba saja lampu di ballroom dan sekitarnya padam, dan setelahnya terdengar suara tembakan.


"Aa....." Suara wanita berteriak histeris di ballroom terdengar sampai ditelinga Vander. Semua yang ada disana di ballroom panik dan berteriak berlarian saling bertabrakan di keadaan gelap.


Pihak hotel pun meminta para tamu undangan untuk tenang dan mencoba mencari tahu penyebab padamnya api.


"Nona Lara, aku harus mencarinya!" Van yang sudah diambang batas mencoba memaksakan dirinya mencari Lara dengan bermodalkan cahaya ponselnya.


Sementara itu, Lara yang baru selesai cuci tangan ternyata masih ditoilet. Disana ia ketakutan karena gelap dan sendirian.


"Halo apa ada orang diluar? Tolong bawakan aku senter aku tak bisa melihat sama sekali!" Teriak Lara sambil meraba-raba mencari jalan keluar dari toilet. Lara kemudian merogoh tasnya untuk mengambil ponsel untuk menghubungi Vander. Lara melihat ponselnya ternyata dalam keadaan mode senyap sehingga tidak tau sama sekali kalau Vander meneleponnya berkali-kali. Lara segera langsung menelepon pengawalnya itu.


Lara : Halo Van,


Van  : Nona ada kau dimana!? (Terdengar panik dan khawatir)


Lara : Van aku ada di dalam toil— hm.... Tolong Vander! (Ponsel Lara terjatuh


Van : Halo Nona Lara, halo kau dengar aku! Nona! Lara Hazel! Sial! (Van bisa mendengar ada suara pria lewat ponsel Lara yang masih tersambung dengannya)


"Baj*ngan! Beraninya menyentuh wanitaku!" Vander yang benar-benar murka mengetahui wanitanya tengah dalam bahaya saat ini langsung bergegas pergi menolong Lara. "Nona tolong bertahan sebentar, aku akan segera menemukanmu!" Dengan keadaannya tubuhnya yang tersiksa karena pengaruh obat, Van tetap berlari secepat mungkin untuk mencari Lara. Tatapannya yang seperti serigala buas seolah sudah siap menyerang musuhnya.Tidak boleh ada yang menyakiti wanitaku bahkan seujung kuku pun!


Bersambung....

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2