
Pada hari itu akhirnya Lara dan Eiji saling bertemu secara personal. Di kafe Oliver yang cukup ramai, kedua orang tersebut terlihat menikmati makan siang sambil mengobrol santai dan bergurau.
"Oh iya, saat aku ingin kembali ke negara ini, Joy menitipkan salam padamu. Dia bilang rindu padamu dan Rey," ungkap Eiji kemudian menyuap croissant ke mulutnya.
Sementara itu, Lara sendiri sesekali malah tampak sedikit gelisah, mengingat ia belum izin pada Vander kalau dirinya izin keluar.
Semoga dia tidak marah, Lara berharap demikian. Sebenarnya bukannya tidak ingin bilang, hanya saja Vander memang sejak pagi hampir tidak ada di kantor Laizen, mengingat dia yang ditemani Robert hari ini ada pertemuan penting dengan koleganya yakni CEO perusahaan perihiasan nomor satu dunia yang baru tiba dari swiss.
Disisi lain, Eiji yang melihat wanita di hadapannya itu tampak bengong pun bertanya. "Lara kau kenapa? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
"Eh tidak apa-apa kok, hanya tiba-tiba kepikiran kerjaan saja." Aku tidak mungkin bicara pada kak Eiji kalau sebenarnya aku kepikiran soal Vander. Lagipula kak Eiji juga kan belum tahu kalau ternyata sebenarnya Vander itu suamiku. Kalau aku bilang, sepertinya nanti malah aku dan kak Eiji akan canggung dibuatnya. Aku tidak mau hal itu terjadi, terlebih Vander juga bilang kalau musuhnya yang bernama Gauren itu masih berkeliaran. Memang lebih baik jika hubunganku dengan Vander tidak ada yang tahu. Ya... Kalau dipikir-pikir ini sih deja vu, seperti saat aku pacaran dengan Vander diam-diam. Bedanya sekarang dia bosnya aku yang pegawainya.
"Oh iya Lara, saat aku kembali kesini aku membeli hadiah ini untukmu." Eiji tiba-tiba mengeluarkan bingkisan berwarna putih dengan berhiaskan pita berwarna merah, dan memberikannya pada Lara.
"Eh apa ini?"
"Kau buka saja nanti kau juga akan tahu. Tapi aku rasa kau bukanya di rumah saja, soalnya aku agak canggung kalau hadiah yang kuberikan langsung dibuka di depanku."
"Begitu ya? Ah baiklahβ aku akan buka dirumah nanti. Terima kasih banyak ya kak Eiji kau memang terbaik," ucap Lara diikuti senyumnya yang menawan.
"Sama-sama, aku harap kau akan suka hadiah dariku ini."
"Pasti aku suka, sekali lagi thank you so much."
Eiji tampak puas sekali melihat Lara menerima pemberiannya dengan senang hati.
...πππ...
Sementara Vander yang baru saja selesai melakukan pertemuan dengan tuan Richard dari Savior Jewelry, kini sudah berada di dalam mobil menuju kembali ke Laizen. Di mobil, Vander yang duduk di kursi belakang tampak sedang memeriksa berbagai panggilan masuk di ponselnya, salah satunya ada 5 panggilan tak terjawab dari sang istri. Karena tadi ponselnya di silent Vander jadi tidak bisa mendengar ada panggilan. Ia pun langsung menelepon balik Lara.
Lara : Halo.
Vander : Maaf, ponselku tadi mode silent jadi tidak mendengar panggilanmu. Ada apa? Apa ada masalah? Atau kau rindu padaku?
Lara : Oh tidak apa-apa kok! Hanya saja tadi aku mau izin keluar, setelah itu pergi ke Lavioletta untuk menemui nona Yuna untuk membahas rancanganku yang sudah mulai akan dikerjakan.
Vander : Jadi kau sekarang di Lavioletta?
Lara : Belum sih, tadi aku makan siang dulu dengan temanku, nah sekarang aku masih diperjalanan menuju ke Lavioletta.
Vander : Makan siang? Dengan siapa? Apa kauβ
Lara : Kak Eiji, akuβ makan siang dengannya tadi. (Terdengar agak takut)
Vander : Kenapa tiba-tiba dia mengajakmu makan, bukankah pertemuanku dengannya nanti masih sepuluh hari lagi? Kenapaβ
Lara : Kami hanya makan siang biasa saja kok, kau tidak perlu cemburu. Lagipula aku dan kak Eiji hanya teman sejak kecil tidak lebih.
Vander : Okey aku percaya padamu.
Lara : Terima kasih Vander kau baik sekali, aku jadi ingin mencium dirimu deh rasanya (terdengar menggoda)
Vander : Aku tagih itu di kantor. Sudah ya, kau hati-hati.
Lara : Iya, kau juga. Love you...
Vander : I love you more...
Vander mematikan ponselnya. "Si arsitek sialan itu, beraninya dia cari kesempatan mendekati istriku!" Ucapnya dengan wajah masam.
...πππ...
Setibanya di dalam gedung Lavioletta, Lara langsung dibuat semangat. Bagaimana tidak? Lara yang sangat suka fashion dan menggemari brand tersebut kini ada langsung dikantor pusat produksi Lavioletta, tempat dimana Yuna dan timnya mengolah ide rancangan. Lavioletta sendiri sudah masuk di jajaran top 5 brand fashion paling laris di dunia tahun ini. Tentu saja Lara semakin bangga karena produk dari tanah kelahirannya bisa setenar ini di kancah dunia, ditambah kali kini ia akan berpartisipasi di dalam acara tahunanya nanti.
"Aku makin tidak sabar, aku harus semangat!" Ucap Lara menyemangati dirinya sendiri.
"Nona Lara, kau sudah datang ya? Maaf membuatmu menunggu," ujar seseorang yang tidak lain adalah Yuna sang direktur utama produksi dan designer Lavioletta.
"Oh nona Yuna, tidak kok aku belum terlalu lama menunggu."
"Kalau begitu izinkan aku menyambutmu, selamat datang di Lavioletta. Kuharap kita bisa menyelesaikan rancangan ini dengan sangat baik."
"Ya, mohon bantuannya Nona Yuna," ucap Lara penuh hormat.
"Baiklah ayo kita keruang produksi," ajak Yuna.
Akhirnya Lara dan Yuna pun memulai untuk mengerjakan beberapa model rancangan gaun yang akan dipamerkan nanti di acara fashion show nanti. Disana Lara beberapa kali dibuat takjub dengan cara kerja Yuna yang sangat detail, bahkan dalam pemilihan bahan Yuna sampai harus mencari ke beberapa produsen kain demi mendapatkan kualitas yang terbaik. Setelah beberapa jam kemudian, mereka pun beristirahat dan memutuskan untuk meneruskannya besok, mengingat Yuna masih belum puas dan meminta Lara agar memperbaiki detail bentuk lipatan gaunnya.
__ADS_1
Lara yang cukup lelah pun langsung duduk untuk merilekskan tubuh dan otaknya. Jujur, Lara tidak menyangka pengerjaan design perusahaan besar ternyata sulit, bagi Lara yang hanya punya pengalaman dibutik sederhana tentu sedikit syok, karena jelas tekanan kerjanya berbeda.
"Ini kau minum dulu ini, lumayan bisa menyegarkan badanmu lagi," ucap Yuna memberikan sekaleng minuman rasa lime pada Lara.
"Terima kasih Nona Yuna," balas Lara dan langsung meneguknya.
"Oh iya, soal design aku mau kau perbaiki lagi polanya. Karena bagaimanapun dalam pembuatan pakaian jika ingin sempurna kau harus buat pola yang sesempurna mungkin," terang Yuna.
"Baik, akan aku segera perbaiki dirumah nanti." Menurut Lara sebenarnya Yuna agak berbeda saat bekerja dan tidak. Dalam situasi biasa ia tampak santai dan friendly, namun saat sudah pada pekerjaannya dia berubah jadi sangat tegas dan perfeksionis. Benar-benar keren idolaku! Pikir Lara.
"Oh iya Lara, kau sudah tahu kan' kalau nanti rancanganmu itu akan dikenakan oleh Emily Hasaki saat moment pengenalan dirinya sebagai Global Ambassador Lavioletta?"
"Ya, aku sudah tahu kok!"
"Baguslah kalau begitu."
"Maaf tapi Nona Yuna, kalau boleh aku tahu Nona Emily itu seperti apa orangnya? Aku tidak kenal dengannya, tapi karena aku harus membuat pakaian untuknya, aku rasa akan bagus jika aku mengenal si pemakai baju rancanganku."
"Hem... bagaimana ya? Jujur saja aku juga hanya baru beberapa kali bertemu dengannya di paris waktu itu. Sebelumany hanya bertemu dan menyapa saja, sisanya kami tidak pernah ngobrol. Tapi kebetulan hari ini Emily dan manajernya akan kemari, sepertinya kau bisa ikut aku menemuinya."
"Benarkah? Wah terima kasih nona Yuna atas kesempatannya." Kebetulan aku juga sekalian mau memastikan, apa benar yang dikatakan kak Jeha soal personalitinya yang buruk dibelakang kamera?
...πππ...
Di rumahnya, Rey yang baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya tiba-tiba saja merasa bosan. Ia pun memutuskan untuk keluar dan bermain mencari hiburan, sayangnya saat ia mau minta izin ke Emika untuk keluar, dirinya malah mendapati sang bibi sedang sibuk mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik lewat headphone. Melihat Emika sepertinya serius sekali, Rey pun tidak mau mengganggunya dan akhirnya memutuskan untuk keluar saja tanpa izin.
"Aku cuma keluar sebentar kok, aku rasa juga tidak apa-apa kalau tidak bilang," ucap Rey sambil menutup pintu apartemennya dari luar.
Di luar area apartemennya, Rey langsung berjalan menuju ke taman bermain yang letaknya tidak terlalu jauh. Disana Rey melihat ada beberapa anak-anak yang masih sepantaran dengannya sedang bermain bola. Karena dia suka olahraga Rey pun langsung minta ikut bergabung bermain bola bersama mereka. Rey pun akhirnya main bersama anak-anak tersebut dengan suka cita. Setelah puas bermain, mereka pun istirahat. Rey yang kebetulan membawa cukup banyak uang bermaksud membeli limun dingin untuk menghilangkan dahaga. Namun saat ia mengajak teman-temannya membeli limun, anak-anak itu malah bilang kalau mereka tidak haus. "Apa kalian itu unta? Bagaimana bisa kalian tidak haus setelah main bola selama itu?"
"Sebenaranya bukannya tidak haus, tepatnya kami tidak punya uang untuk membelinya. Di panti kami hanya dapat uang jajan seminggu sekali," jelas Reki salah satu anak penghuni panti asuhan yang ada disekitar tempat tinggal Rey.
Oh ternyata mereka anak panti asuhan, pantas saja mereka selalu main bersama dan kadang pakaiannya pun suka bergantian. Itu artinya aku lebih beruntung dari mereka ya? Rey jadi kasihan dengan mereka.
"Ah yasudah, kalian beli saja limunnya biar aku yang bayar nanti semuanya," ucap Rey.
"Benarkah Rey?"
"Rey baik sekali!"
"Terima kasih Rey!"
Tidak lama kemudian, saat sedang asyik menikmati limun dengan teman-temannya itu. Rey malah mendapati dihampiri oleh seseorang pria tinggi besar yang sudah tidak asing lagi baginya itu. Reynder bahkan syok karena melihat pria yang ternyata Vander itu datang menghampirinya tiba-tiba.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Vander yang tampak hanya memakai kemeja hitam yang kacing atasnya terbuka dengan lengannya digulung sampai siku.
"Rey paman itu siapa?"
"Iya paman keren ini siapa?"
"Umβ dia, dia... dia papaku," ucap Rey.
Heh? Vander pun langsung agak kaget mendengarnya.
Aduh paman Vander marah tidak ya aku kenalkan sebagai papaku.
Vander pun lalu tersenyum kecil dan berkata, "Ya, aku papanya Reynder."
Huh? Jadi dia malah mendukung kebohonganku?
Vander kemudian duduk disebelah Rey dan mengusap kepala putranya itu."Hey pria kecil kenapa kau disini? Apa kau sedang main?"
"Iya, aku sedang main dengan teman-temanku! Oh iya, aku tadi mentraktir teman-temanku es limun lho, papa aku baik kan?" Ujar Reynder untuk pertama kalinya memanggil Vander dengan sebutan papa.
Sontak perasaan Vander pun jadi tidak menentu, dirinya merasa senang namun juga asing. Tapi mendengarnya dipanggil papa oleh darah dagingnya sendiri seolah ada rasa kebanggaan yang sulit dijelaskan.
"Papa! Aku benar hebatkan?"
"Tentu saja, anakku sudah pasti hebat!"
"Paman, Rey sangat hebat bermain bola apa paman juga hebat seperti Rey?" Ujar salah seorang teman Rey tersebut.
"Papaku diaβ"
Tiba-tiba saja Vander berdiri dan berkata, "Baiklah, kalau kalian mau tahu seberapa hebat aku? Bagaimana kalau kita main bersama?"
"Yeeeyyy..."
__ADS_1
Akhirnya disore yang cerah itu Vander menemani putranya bermain bola bersama.
...πππ...
Menjelang malam, Lara yang baru saja tiba di apartemennya pun langsung memencet bel, sayangnya tidak ada yang jawab. Alhasil Lara pun menarik tuas pintunya dan langasung terbuka. Lara pun kaget mengetahui pintunya tidak dikunci dari dalam. "Eh? Kenapa pintunya tidak dikunci? Kemana Emika dan Rey?"
Lara yang khawatir segera bergegas masuk dan memeriksa tiap ruangan sambil berteriak memanggil Emika dan Rey. Sampai akhirnya Lara mendapati Emika yang tertidur di meja belajarnya dan masih mengenakan headphone. Ia pun langsung mengguncangkan tubuh Emika dan memintanya bagun. Tak lama Emika pun akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Eh kak Lara?" Ucap wanita itu sambil mengucek matanya.
"Emika dimana Rey!" Pekik Lara dengan wajah cemas.
Akhirnya Emika pun sadar penuh dan bertanaya kepada Lara, "Kak ada apa? Kenapa kau tampak panik begitu?"
"Emika dimana anakku!"
"Eh? Re- Rey dia ada dikamarnya kok!"
"Kamar mana, dia tidak ada. Ditambah pintu tidak dikunci! Sebenarnya kau ini bisa menjaga anakku tidak sih!" Ujar Lara dengan penuh emosi melihat anaknya tidak ada saat ini.
"Kak, aku yakin tadi Rey ada dikamarnya danβ"
"Dan apa?! Dia hilang! Aku tidak mau tahu cepat bantu aku cari dia!" Titah Lara.
Akhirnya Lara dan Emika pun mencari keluar area apartemen. Diluar Lara terus memanggil-manggil nama anaknya.
Karena tak kunjung ketemu, Lara pun bergegas untuk mencari di area taman, dan siapa sangka saat dirinya berlari, tiba-tiba saja di ujung jalan ia melihat sosok anak yang sedang dicarinya itu berada digendong diatas pundak oleh seorang pria yang mana suaminya sendiri. Melihat mereka dari ujung jalan, Lara pun langsung berlari menghampiri mereka.
"Mama?"
"Lara?"
Van dan Rey pun bingung melihat istri dan sang mamanya itu tiba-tiba muncul dengan nafas terengah-engah.
"Mama kenapa?"
Lara tak menjawab dan malah menangis sambil mengeluh kesal dihadapan kedua pria itu.
...πππ...
Di dalam apartemen Lara, sasana seketika hening dan agak tegang, melihat ada satu pria dewasa, satu pria kecil dan satunya wanita muda, ketiganya duduk bersimpuh saling berjajar dengan wajah menyesal sambil mendengarkan ocehan ibu muda yang sedang kesal. Ya, Lara saat ini tampak seperti seorang ibu yang sedang mengomeli ketiga orang anaknya.
"Kalian bertiga ini apa tidak sadar, kau!" mata Lara menunjuk pada Emika. "Kau ini kan mahasiswi harusnya bisa berpikir lebih jauh, bagaimana mungkin sikap kewaspadaanmu saat menjaga anak kecil seceroboh itu! Selanjutanya kau pria kecil!" Lara sampai berkacak pinggang dan menggeleng kepala mengingat ini sudah keberapa kalinya pria kecil ini kabur tanpa bilang. "Reynder, apa membuatku khawatir dan marah itu hobimu? Kau ini kenapa sih! Pokoknya minggu ini tidak ada main game!"
"Tapi Ma..."
"Tidak ada tapi!"
Dan terakhir, Lara menatap ke arah pria besar yang tidak lain adalah suaminya. "Dan kau Tuan, kenapa kau bukan ke kantor dan malah kesini?"
"Aku kan bosnya jadi bebas kalau aku mau lakukan apapun," jawab Vander.
"Oh begitu ya? Okey... Emika kau tolong buat makan malam, dan Rey kau cepat mandi setelah itu makan malam."
"Tapi mamaβ"
"Tidak ada bantahan anak muda," jawab Lara tegas.
Setelah itu Lara akhirnya tinggal berdua dengan sang suami. Lara pun bertanya serius kepada Vander kenapa dirinya tiba-tiba datang menemui Rey?
"Aku tiba-tiba saja merindukannya, entah kenapa perasaan rindu itu muncul dengan sendirinya. Jadi aku kemari, dan kebetulan aku lihat Rey ditaman. Dan kau tahu, disana aku merasa bangga sekali dengan Rey, aku rasa kau juga akan bangga padanya saat kau tahu apa yang ia lakukan ditaman tadi. Akhirnya Vander menceritakan kepada Lara tentang putra mereka yang dengan cuma-cuma, mau menghabiskan uang jajannya demi metraktir teman-temannya yang penghuni panti asuhan.
"Ah benarkah? Aku memang tahu tahu kalau Rey ternyata punya teman di sekitar sini. Tapi aku baru tahu ternyata mereka anak-anak panti asuhan," Lara merasa bersalah karena kurang peka akan hal itu.
"Lara, anak kita luar biasa, aku bangga sekali padanya," ucap Vander tersenyum lepas.
Lara sampai terharu melihat Vander yang tampak bangga sekali pada putranya untuk pertama kalinya. "Vander aku... Eh!"
Tiba-tiba saja Vander menarik Lara dan memeluknya erat. "Lara, terima kasih sudah jadi istri dan ibu yang baik selama ini. Maafkan suamimu yang tak berguna ini."
Lara langsung memeluk balik Vander dan berkata, "Tidak, kau suamiku yang sangat hebat, Rey pun pasti bangga sekali padamu. Jadi jangan bilang begitu. Van... tetaplah bersamaku dan Rey. Kau dulu juga kan sudah berjanji akan selalu menjagaku dan melindungiku bukan?"
"Iya, aku akan menjagamu dan anak-anak kita, aku janji."
Mereka pun berpelukan hingga tak sadar kalau ada Emika dan Rey yang mengintip mereka dari ruangan lain.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π