
Hari iini menjadi hari sibuk bagi Lara. Wanita cantik berambut panjang dengan bandana slayer menutupi sebagian rambutnya itu, tampak sibuk berkemas barang-barang yang akan dibawanya kembali ke negara asalnya.
Setelah memasukan album foto dirinya dan sang putra kedalam kotak kardus bersama barang berharga lainnya, Lara kembali mengecek.
"Sepertinya sudah semuanya, kecuali..." Lara membuka laci nakasnya, lalu mengambil sebuah kotak berwarna putih yang di dalam kotak itu berisi berbagai barang kenanangan Lara. Salah satunya adalah kotak perhiasan berisi cincin permata dari suaminya.
Sorot matanya langsung berubah sendu melihat cincin tersebut. "Padahal sudah emapat tahun berlalu, tapi kenapa masih saja terasa sedih kalau mengingatnya?"
Tentunya tidak mudah bagi Lara melupakan begitu saja orang yang telah memberikan tersebut padanya. Padahal sudah beberapa kali Lara berniat membuang cincin tersebut, tapi entah kenapa saat ingin membuangnya hatinya malah berkata sebaliknya.
"Padahal yang memberikannya saja sudah pergi meninggalkanku, tapi kenapa selalu saja ada hal yang membuatku tidak rela membuang cincin ini."
Saat tengah termenung sendirian sambil memandangi kotak berisi cincin itu, tiba-tiba saja bel kedian Lara berbunyi, wanita itu pun langsung bergegas meninggalkan kamarnya untuk membukakan pintu.
"Joy? Ada apa?"
Joy mengangkat kedua bahunya dan melirik kearah belakang punggungnya seolah memberi kode.
Lara memiringkan kepalanya seraya mengintip seseorang yang ada dibalik punggung Joy, lalu berkacak pinggang.
Dari tempatnya berdiri Lara bisa melihat sosok pria kecil sedang bersembunyi dibalik punggung Joy dan tidak berani menampakan dirinya langsung dengannya..Pria kecil itu hanya berani mengintip dari balik punggung Joy dengan mata bulatnya yang berwana kecoklatan.
"Jangan sembunyi!" Seru Lara bernada kesal.
Sayangnya pria kecil itu tetap tidak mau beranjak pergi dari balik punggung Joy.
Lara pun kembali memberi ultimatum, "Aku bilang jangan sembunyi dipunggung orang lain Reynder Hazel, cepat kemari dan hadapi Mamamu!"
Reynder si pria kecil pemilik sepasang mata bulat berwarna kecoklatan itu, akhirnya keluar dari persembunyiannya.
Mengenakan celana selutut dengan atasan sweater berwarna gelap dipadukan dengan topi bucket yang menutupi kepalanya. Rey biasa anak Lara itu dipanggil, tampak tidak berani menatap lansung sang Mama. Rey tahu saat ini Lara pasti kesal padanya dan ingin memarahinya karena sudah membuat kekacauan hari ini.
"Kau buat ulah apalagi anakku? Apa kau tidak lelah setiap hari mendengar mamamu ini mengoceh dan mengomelimu?!"
Rey tak menjawab, ia hanya diam memasang raut wajah setengah bersalah sambil memainkan jemari kecilnya. Rey sengaja diam begitu, karena dia sendiri tau kali ini dirinya memang salah karena sudah mengacau di tempat kerja Joy.
"Rey, lihat mataku saat aku bicara padamu!" Tegas Lara yang kesal pada anaknya itu.
"Um, Lara jangan terlalu galak pada Rey kecil yang manis, dia memang nakal tapi dia tetap saja hanya anak kecil yang manis."
"Joy, tolong jangan selalu membelanya. Karena kalau kau selalu saja membela dia, nanti Rey malah akan tumbuh jadi anak yang semena-mena."
"Iya sih...! Tapi dia sangat imut dan lucu, aku kan jadi tidak tahan kalau melihatmu memarahinya."
Astaga... Anak ini, kenapa selalu saja ada yang membelanya kalau aku marahi! "Rey cepat minta maaf pada Joy lalu masuk ke dalam!"
"Joy, i'm sorry for making you in trouble, tolong jangan marah padaku," ucap Rey dengan polosnya.
"Ah ya ya.. it's oke my lovely cutie boy, mana mungkin aku tega memarahimu sementara kau seimut ini," Ucap Joy sambil mencubit gemas kedua pipi mungil Rey yang mengembang seperti roti baru matang.
"Kau baik sekali Joy tidak seperti mamaku diaโ"
"Berhenti berdrama, dan cepat masuk kedalam!" Titah Lara pada putra semata wayagnya itu.
"Oke ma'am!" Takut ibunya makin kesal Rey pun akhirnya menurut dan langsung segera masuk ke dalam rumah.
Lara sampe geleng-geleng kepala karena tak habis pikir melihat kelakuan putranya itu. "Kenapa dia sering sekali buat ulah sih! Buatku pusing saja!"
"Oh iya Lara, are you sure want to go back to your country?"
"Yes, karena bagaimanapun aku rindu negaraku dan kampung halamanku. Ditambah aku ingin anakku menetap di negara tempat dimana ibunya dilahirkan dan dibesarkan."
"Tapi pasti aku akan rindu masakanmu yang lezat, masakanmu itu kan jarang bisa dijumpai disini."
Lara tertawa kecil. "Kalau begitu, kapan-kapan kau datanglah ke negaraku, kau harus ke kota kelahiranku, disana banyak makanan enak yang harus kau coba."
"Menarik, kapan-kapan aku pasti akan datang berkunjung. Tapi ngomong-ngomong apa Tuan Eiji juga akan kembali pulang bersamamu?"
"Emโ dia bilang sih iya. Kebetulan karena study-nya disini sudah selesai, dia memutuskan untuk kembali pulang dan bekerja di negara asalnya saja."
__ADS_1
...๐๐๐...
Di dalam rumah saat melewati kamar Lara, Reynder yang tadinya mau pergi ke kamar mandi malah mengurungkan niatnya. Dirinya tiba-tiba saja malah lebih tertarik untuk memasuki kamar Lara saat ini pintunya terbuka. Pria kecil itu pun menyelonong masuk ke kamar sang mama.
Di kamar sang mama, Rey tampak penasaran melihat ada kotak di atas ranjang, dimana kotak itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Karena rasa penasarannya begitu besar, akhirnya Rey pun membuka kota tersebut.
"Woah! Aku baru tau Mama punya benda-benda ini!"
Di dalam kotak itu tersimpan benda-benda yang bagi Lara memiliki arti mendalam. Ada dasi, snowball, jam tangan, sampai gulungan surat yang diikat pita. Dan yang paling menarik perhatian Rey adalah, sebuah kotak perhiasan yang saat ia buka didalamnya terdapat sebuah cincin permata. Melihat cincin permata itu Rey kecilpun jadi penasaran dibuatnya.
"Ini cincin punya Mama? Kok aku tidak pernah lihat ya? Hem..." Dengan tampang sok seriusnya pria kecil itu menebak. "Mungkin ini cincinnya Mama dari Papa, tapi aku kan tidak ada papa. Tapi Joy bilang kalau ada aku seharusnya ada papa, karena dia bilang aku diberasal dari milik papa," ucapnya dengan begitu polosnya.
"Tapi sebenarnya aku ini punya papa tidak sih?" Pungkas Rey dengan nada sedih.
Malam harinya saat waktu makan malam, tiba-tiba saja bel rumah Lara berbunyi. Karena ia sedang sibuk menyiapkan makan malam, Lara pun menyuruh sang putra untuk melihat siapa yang datang dan membukakan pintu.
Reynder pun bergegas turun dari kursi lalu membukakan pintu.
Lara yang masih sibuk memasak kari sapi pun bertanya pada putranya siapa yang datang.
"Mama, tebak siapa yang datang?"
"Memang siapa?" Lara pun menoleh untuk melihatnya. "Eh, Kak Eiji kau datang kesini? Kau bilang kau sibuk di universitas sampai besok."
"Hehe, ternyata aku bisa selesai lebih cepat. Oh iya baunya enak, kau masak apa?"
"Aku buat kari daging."
"Padahal sudah empat tahun disini, tapi kau tetap lebih sering masak makanan asia dibanding menu western."
"Karena meski Reynder lahir disini dan tumbuh disini, lidahnya tetap saja lidah asia, bukannya kakak juga begitu?"
"Ya kau benar, bagaimanapun makanan dari tanah kelahiran kita memang tetap yang terbaik."
"Oh iya kak Eiji sudah makan malam belum? Kalau belum, bagaimana kalau makan malam bersama disini saja," ajak Lara.
Tentu saja dengan senang hati Eiji menerima tawaran itu.
Akhirnya mereka bertiga pun makan malam bersama. Mereka bertiga tampak akrab menikmati makan malam sambil diselingi obrolan seru.
"Paman Eji tau tidak, tadi siang aku berhasil menyelamatkan anjing milik orang yang tiba-tiba saja masuk ke butiknya Joy. Tadi itu seru sekali, anjingnya terus berlarian di dalam butik danโ"
"Dan setelah itu kau buat butiknya Joy jadi kacau berantakan, begitukan ceritanya?" Lara meneruskan cerita putranya tersebut.
Reynder pun hanya bisa setengah memelas dan mengakuinya. "Iya aku salah, maafkan aku Mama..."
Melihat wajah putranya menyesal, Lara sudah pasti luluh dibuatnya. "Tentu saja mama sudah memaafkanmu, hanya saja aku heran kenapa kau ini susah sekali diberitahu agar tidak membuat ulah Rey."
"Aku tidak berulah Mama, aku hanya bersenang-senang. Mereka dan mama saja yang berpikir kalau aku ini nakal."
"Merusak pekarangan orang lain, jatuh dari atas pohon, membuat gudang kakek Harold hampir terbakar, mengambil ayam peliharaan paman Larry, dan jangan lupa yang terbaru, kau membuat kegaduhan di butiknya Joy. Yang seperti itu kau sebut senang-senang Reynder Hazel?" Lara benar-benar dibuat geleng kepala dengan pemikiran anaknya.
"Mama... semua yang aku lakukan itu ada alasannya!"
"Alasan apa, coba jelaskan?"
"Alasannyaโ" Rey mencoba mencari alasan.
"Oh iya satu lagi, kejadian beberapa minggu lalu. Kau berkelahi dan memukul anak lain yang bahkan usianya diatasmu."
"Kalau itu jelas bukan salahku Ma!" Reynder kali ini tampak serius membela diri.
"Kalau bukan salahmu, jelaskan alasannya."
Sayangnya Rey malah diam.
"Lihat, kau selalu saja bilang itu bukan salahmu, tapi setiap mama minta penjelasannya kau tidak pernah mau bicara dan malah pergi."
Reynder mengepalkan kedua tangannya lalu berkata, "Aku sudah kenyang!" Pria kecil itu pun pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Lara menghela nafas kesal, "Kau lihat kak Eiji, seperti itu sikapnya selalu! Aku jadi bingung kadang harus bagaimana menghadapinya."
"Aku rasa, kau harus lebih peka padanya Lara. Reynder itu anaknya tidak se-ekspresif dirimu dalam menunjukan perasaannya. Dia mungkin sering terlihat membuat ulah dan cenderung abai peraturan, padahal bisa jadi itu bentuk perlawanan isi hatinya yang sebenarnya. Saranku, kau harus lebih sabar menghadapinya, karena mau bagaimanapun anakmu itu tetaplah seorang pria, sudah pasti sudut pandang dan cara berpikirnya pun akan sedikit berbeda dengan kau yang seorang wanita," jelas Eiji.
...๐๐๐...
Di kamarnya Rey duduk diatas ranjangnya dengan raut wajah masam. Ia kesal pada sang mama yang seolah tidak mau percaya padanya soal perkelahian beberapa waktu lalu. "Padahal sudah aku bilang bukan salahku, tapi mama tetap saja tidak mau percaya!" Gumam pria kecil itu dengan nada kesal.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar Rey diketuk dari luar. Rey yang masih kesal pun tak mau membukakan pintu kamarnya, karena ia berpikir itu adalah mamanya yang datang. Namun saat ia tau kalau yang mengetuk kamarnya adalah paman Eiji Rey pun langsung membukakan pintunya.
"Boleh aku masuk?" Ucap Eiji meminta izin pada Reynder memasuki kamarnya.
"Boleh!"
Di atas ranjangnya, Rey dan Eiji duduk bersebelahan. Disana Eiji memuji kamar Reyย dengan mengatakan kalau kamarnya keren. "Apa kau selalu tidur sendirian?"
Rey menggeleng. "Sebenarnya aku lebih sering tidur dengan Mama, karena kalau dipeluk Mama terasa sangat hangat dan nyaman."
"Apa Lara sangat berarti buatmu?" Tanya Eiji.
"Tentu saja, aku sangat sayang pada mama. Dia yang paling aku sayangi di dunia ini."
"Anak pintar," Eiji mengusap kepala Rey dengan bangga.
"Aku sayang mama, tapi mama tidak percaya padaku, apa mama tidak sayang padaku?"
"Kenapa kau berkata begitu? Padahal semua orang disini tau, betapa Lara sangat sayang padamu."
"Habisnya mama tidak percaya padaku, jelas-jelas bukan aku yang salah di perkelahian itu. Anak itu duluan yang memulainya!"
Eiji mulai memancing Rey agar mau menjelaskan apa sebenarnya yang ia ingin katakan. "Kau tidak menjelaskan pada mamamu, bagaimana dia bisa percaya pada ucapanmu?"
"Aku- aku tidak mau bilang karena, tidak mau buat Mama jadi bersedih."
"Maksudmu?"
"Aku akan cerita tapi paman janji jangan cerita pada mamaku ya?"
"Ya aku janji!" Keduanya saling mengaitkan keliking seraya berjanji.
"Sebenarnya alasan kenapa aku memukul anak itu, karena dia sudah berani mengejek mama dan aku."
Rey pun bercerita kepada Eiji kejadian beberapa waktu yang lalu.
[Flashback on]
Di suatu hari saat Rey dan teman-temannya sedang asyik bermain pasir di taman, tiba-tiba saja muncul beberapa anak laki-laki usia SD yang datang mengganggu Rey beserta temannya yang sedang bermain. Karena anak-anak itu lebih tua dan badannya agak lebih besar dari Rey dan temannya, kedua teman Rey pun jadi takut dan menangis. Rey yang tidak terima pun langsung menyuruh anak-anak SD itu untuk minta maaf.
Sayangnya bukannya minta maaf, anak itu malah jadi menghina dan mengejek Reynder dengan kata-kata tidak pantas.
"Dasar kau anak sial yang tidak punya ayah! Jangan sok jadi pahlawan ya!"
"Hei anak kecil, dimana ayahmu? Pasti dia pergi meninggalkan ibumu, hahah kasihan."
"Ibuku bilang, anak yang tidak tau siapa ayahnya tandanya ibunya wanita tidak baik! Bisa jadi mamanya Reynder itu penjahat yang suka culik anak!"
"Jangan-jangan dia anak pungut!"
Reynder yang tidak terima dengan ucapan anak-anak itu pun marah, dan langsung melempari wajah mereka dengan pasir alu memukuli mereka sampai mereka menangis dan mengadu pada orang tuanya.
[Flashback off]
"Aku sangat marah saat itu, makanya aku langsung memukul mereka. Aku tidak cerita ke mama tentang hal itu karena takut mamaku sedih. Aku tidak suka melihat mama bersedih," ungkap Reynder.
Eiji yang mendengarnya pun langsung merasa kagum sekaligus terenyuh. Aku tidak menyangka kalau anak ini sampai seperti itu demi mamanya.ย "Aku bangga padamu Rey, kau anak yang hebat," puji Eijiย penuh rasa bangga.
...๐๐๐...
JANGAN LUPA DI COMMENT, LIKE, VOTE DAN FAVORIT DAN KASIH GIFT YANG BANYAK MAKASIH ๐๐๐
__ADS_1