
Jeden yang kini berada di apartemennya nyatanya masih kepikiran dengan sosok perempuan yang dilihatnya mirip Lara kemarin. Ia yang tidak tahu apa-apa tentang wanita itu semenjak pindah ke luar negeri, membuat Jeden bertanya-tanya, apa benar wanita yang dilihatnya kemarin adalah Lara? Kalau memang iya, itu artinya dia sudah pulang kesini. "Tapi kemarin dia bersama siapa? Vander kah? Sepertinya bukan, lalu siapa?" Semakin di rundung penasaran, Jeden pun memutuskan untuk mencaritahunya.
"Stelah sekian lama, akhirnya ada kesempatan lagi kita untuk bertemu Lara." Ternyata perasaan Jeden untuk wanita itu belum berubah meski sudah empat tahun lebih berlalu.
...πππ...
Di kota RK, Vander, Lara, dan Robert dan timnya tampak melakukan pertemuan langsung dengan Eiji dan Sona asistenya di lahan tempat dimana Resort baru Laizen akan dibangun. Disana mereka semua terlihat bergaya santai, mengenakan pakaian pantai menyusuri lahan yang akan segera dibangun Resort mulai minggu depan.
Sebagai arsitek yang bertanggung jawab penuh atas pembangunan resort tersebut, Eiji pun menjelaskan jika, konsep resortnya nanti akan seperti permintaan Vander, dimana nantinya resort tersebut akan bekerjasama dengan warga lokal untuk mensinergikanya wisata alam RK agar lebih mudab ditemui wisatawan. Jadi dengan kata lain, jika menginap di resort tersebut maka pengunjung bisa dengan mudah melakukan banyak kegiatan hiburan dan olahraga seperti, jetski, diving, snorkling, dan water sport lain. Mengingat wilayah RK ini cukup banyak pantai, maka Vander memutuskan harus dibuat banyak fasilitas yang melibatkan laut, hal itu Vander lakukan karena ingin memaksimalkan sumber daya alam yang ada disana agar tidak sia-sia.
"Jadi sudah bisa mulai kan pembangunannya?" Tanya Vander yang terlihat necis memakai kemeja hawai berwarna navy, dengan bawahan celan pendek lengkap dengan kacamata hitamnya.
"Tentu, minggu depan jika tidak ada kendala sudah bisa mulai pengerjaannya," jelas Eiji.
Setelah selesai melakukan peninjauan, semuanya pun bebas untuk melakukan apapun termasuk bersenang-senang melakukan aktifitas lain. Karena kebetulan Vander membawa semua tim dari Laizen dan Revoir untuk menginap di cottage pribadi miliknya, yang letaknya tidak jauh dari tempat tersebut.
Karena sudah santai Lara pun memutuskan untuk sekedar jalan-jalan mengitari pantai sambil menikmati udara pantai yang hangat. Wanita berambut panjang itu terlihat cantik mengenakan dress croptop tanpa lengan dipadukan rok motif hawai dengan belahan tinggi dikanan kirinya dan topi floppy warna skyblue. Setelah puas berjalan-jalan, Lara nampak berhenti dan memandangi indahnya pantai diiringi suara desiran ombak. "Segar sekali, sepertinya aku harus ajak Rey kesini kapan-kapan," ungkap wanita itu.
Saat sedang asyik menikmati susana pantai, tiba-tiba seseorang menghampiri Lara dan menyapanya.
"Hai!"
"Eh kak Eiji? Kau disini?"
"Iya aku tadi mengikutimu, kau sepertinya suka disini ya?"
"Ya begitulah, disini tenang dan belum terlalu ramai. Tapi sepertinya kalau resort dan beach clubnya sudah buka, aku yakin akan ramai. Jadi saat ini berhubung belum ramai harus dinikmati sepuasnya."
"Ya kau benar."
"Oh iya, ini kan sudah sore bagaimana kalauβ"
"Hai kalian!" Seseorang dengan aura dominan tiba-tiba saja datang menghampiri Lara dan Eiji yang sedang ngobrol.
"Oh tuan Vander kau dari mana?" Ucap Eiji.
"Tidak dari mana-mana, aku hanya penasaran kalian bicara apa. Pasti bahas soal masa lalu ya? Hemβ setahuku orang yang terlalu dalam hidup di dalam bayang-bayang masa lalu itu tidak baik jadiβ"
"Sebenarnya aku hanya mau mengajak Lara naik jetski," tandas Eiji mengajak Lara.
"Eh?" Lara seketika melirik Vander yang meski raut wajahnya tampak biasa saja namun ia tahu, kalau dirinya terima ajakan Eiji pasti suaminya itu akan marah besar.
"Umβ maaf kak, tapi sayangnya aku tidak bawa pakaian renang jadi aku rasa kali ini tidak dulu," balas Lara sehalus mungkin menolak Eiji.
"Begitu ya? Sayang sekali."
"Karena nona Lara tidak mau, bagaimana kalau kau dan aku saja bertanding jetski?" Ujar Vander. "Ya itupun kalau tuan Eiji tidak takut kalah..."
Eiji tertawa kecil. "Tentu saja, dengan senang hati aku bersedia melawan anda."
Berada disituasi saat ini, Lara malah jadi punya firasat tidak enak. Aduh mereka ini kenapa sih? Kok auranya jadi tegang begini?
...πππ...
Setelah Vander dan Eijimemutuskan untuk bertanding jetski, semua tim baik dari Laizen dan Revoir pun berkumpul untuk melihat kedua pria tampan itu adu skill mengendarai jetski. Disana juga ada sebagian pengungjung pantai yang tertarik untuk melihatnya.
Robert yang ditunjuk jadi pengawas pun memberi tahu peraturannya. "Jadi siapapun yang bisa kembali dalam waktu paling singkat maka dia pemenanngnya."
"Kuberitahu, aku ini sempat jadi juara satu jetski saat di kanada," pungkas Eiji.
"Oh ya? Wow! Aku sih tidak pernah lomba dan dapat juara, tapi satu hal yang pasti. Vander tidak pernah kalah kalau bersaing," balas Vander dengan santainya.
"Baiklah tiga, dua, satu, go!"
Kedua pria itu akhirnya melesat ke laut berombak. Sementara orang-orang yang melihat dari pinggir pantai tampak saling bersorak memberi semangat. Kecuali Lara, dirinya agak bingung harus bagaimana bersikap saat ini. Di satu sisi ia ingin mendukung sang suami, tapi disisi lain ia tidak boleh sampai ketahuan kalau dirinya istri bosnya sendiri. Ditambah Lara tahu kalau Eiji sangat handal dalam olahraga air satu ini.
Tuan Vander kami mendukung anda!
Tuan Eiji ayo kau bisa!
Tuan Robert kenapa tidak dukung tuan Vander?
"Aku ini harus netral!"
Eiji tampaknya sungguh-sungguh melawan Vander, begitu juga Vander, ia tampak cukup serius. Sebenarnya persaingan mereka bukan sekedar persaingan biasa mencari siapa yang tercepat. Lebih dari itu, bagi Eiji perlawanan ini adalah pembuktian kepada Lara kalau dirinya lebih baik dari Vander.
Eiji pun dengan cepat menyelesaikan putarannya dan akhirnya menuju kembali ke tepian. Sementara Vander ia baru mau selesai melakukan putaran dan menuju kembali ke tepian.
Melihatnya, Lara sudah bisa menebak pasti Eiji yang akan menang, mengingat Eiji memang sangat handal.
__ADS_1
Dan finish! Eiji tiba duluan. Sementara Vander ia malah tampak melambat dan tiba-tiba terjatuh dari motor jetskinya. Alhasil semuanya pun panik termasuk Lara yang langsung berteriak memanggil nama Vander sambil berlari menghampirinya.
"Vander kau tidak apa-apa kan?!" Pekik Lara menghampiri sang suami.
Tiba-tiba saja Vander malah muncul dari air dan mengagetkan Lara sambil tertawa.
"Kau ini gila! Aku sudah takut sekali ternyata kau malah pura-pura!"
"Nona marah?"
"Kau pikir saja sendiri!"
"Yasudah maaf! Tapi sepertinya tanganku sakit," keluh Vander
"Dasar konyol! Sudah sini aku bantu."
"Akhirnya Lara membantu Vander berjalan ke pinggir pantai."
Dan hasilnya Eiji yang menang, namun wajah Eiji sama sekali tidak senang dibuatnya melihat Lara membantu Vander. Disitu ia justru malah merasa seperti pecundang yang kalah telak.
Vander yang sudah agak lebih baik pun tiba-tiba menghampiri Eiji, dan memberi selamat serta memujinya. "Kau hebat, kau benar-benar juara satu!"
"Terima kasih tuan Vander!"
"Sayangnya dalam persaingan ini, yang sebenarnya menang itu aku kan!" Bisik Vander bernada provokasi.
Eiji tersentak dengan ucapan Vander barusan. Tapi kenyataannya memang seperti yang dikatakan Vander, tujuan lomba tadi adalah untuk membuat Lara kagum dan mendapat perhatiannya. Dan kenyataannya, yang berhasil mendapatkan perhatian Lara adalah Vander bukan Eiji.
"See? Sudah kubilang, aku tidak pernah kalah kalau bersaing," ucap Vander sambil tersenyum jumawa lalu pergi.
Eiji pun hanya bisa tersenyum getir dan memaki. "Aku memang bodoh! Sejak awal Vander memang tidak berniat menang, dia hanya ingin dapat perhatian Lara, dan aku tidak sadar itu."
...πππ...
Hari semakin sore, Robert dan Vander tampak membawa ikan-ikan laut segar hasil buruan mereka. Semuanya pun jadi sepakat untuk makan ikan bakar segar tersebut. Melihat ikan segar, Lara pun ingat dulu Eiji pernah membuatkannya ikan bakar yang sangat lezat saat di Kanada. Alhasil ia pun langsung meminta Eiji untuk membuatkannya ikan bakar untuknua dan yang lain.
Tentu saja pria itu langsung sumringah dibuatnya, karena diminta langsung oleh wanita pujaannya membuatkan makanan. Semua tim dari Laizen dan Revoir tampak tidak sabar mencicipi ikan bakar buatan Eiji. Namun ada satu pria yang justru malah merengut kesal dibuatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan tuan Vander yang sejak tadi sudah ngambek bak seorang anak kecil yang tidak diberi mainan. Vander yang tidak suka melihat Lara memuji-muji Eiji pun malah sibuk mematahkan ranting-ranting kering sambil menggerutu. "Cuma ikan bakar aku juga bisa buat, memang apa enaknya buatnya si arsitek itu? Wanita itu juga, beraninya dia memuji pria lain di dekatku! Awas saja aku adukan pada Rey!"
Eiji terlihat mulai membakar ikan-ikan tersebut, dari baunya saja sudah terbanyak betapa lezat ikan bakar itu.
"Apa-apaan mereka seperti tidak pernah makan ikan saja! Kalau mau aku bisa berikan sepabrik sekaligus laut ikannya sekalian!" Gerutu Vander.
"Tuan Vander kenapa anda disini? Kenapa tidak bergabung saja dengan yang lain?" Tanya Robert menghampiri tuannya.
"Eh a- aku mana berani tuan menghianati anda."
"Itu buktinya! Kau sejak tadi disana menunggu ikan bakar buatan si arsitek sok elegan itu! Kalau kau mau ikan bakar, aku juga bisa buatkan kok!" Gerutu Vander yang terlihat seperti anak kecil yang sedang cemburu.
"Ta-Β tapi anda itukan buruk sekali dalam mengolah makanan."
"Eh apa kau bilang? Kau ragu dengan makanan buatanku?!"
"Tapi anda sendiri saja tidak pernah memasak tuan!"
"Berisik!" Vander yang kesal pun tiba-tiba saja menghampiri Eiji, dan merebut satu ikan darinya lalu langsung dibakarnya ke api bulat-bulat."
"Tuan Vander kau mau apa? Kau tidak bisa membakar ikan dengan cara begitu nanti ikannya jadi pahit rasanya," pungkas Lara melihat kelakuan suaminya yang membakar ikan layaknya membakar sampah.
"Cerewet! Lebih baik Nona Lara diam dan lihat saja!"
Tak lama akhirnya ikan bakar buatan Eiji pun matang, semuanya pun tampak puas dengan rasanya. Terutama Lara dia terus menerus memuji teman masa kecilnya tersebut. Sementara itu, Vander yang gengsi makan ikan bakar buatan Eiji malah memilih makan ikan bakar buatannya sendiri yang gosong.
"Tuan lebih baik anda buang saja ikan itu, itu tidak layak dimakan oleh anda," ucap Robert.
"Kau pikir ikanku ini racun! Lagipula aku sudah biasa makan tanpa merasakan enak atau tidak sejak kecil, jadi makanan gosong pun tetap enak saja."
Lara yang melihat suaminya sejak tadi bersikap kekanak-kanakan pun menghampirinya, dan mengajaknya bergabung bersama yang lainnya untuk makan ikan bersama.
"Aku tidak mau, kau saja kesana sama teman kecilmu yang pandai bikin ikan itu!" Seru Vander terlihat ngambek.
Lara pun jadi tertawa geli melihat sang suami ngambek seperti anak kecil. "Tuan Vander, jangan jadi anak nakal yang suka ngambek ya, ayo cepat makan! Kau pasti lapar kan?"
"Tidak!" KRRRRYYKKK!
Lara langsung tertawa mendengar bunyi suara perut Vander yang lapar.
"Benar kan, kau lapar? Sudahlah stop gengsimu dan ayo makan! Nanti aku suapi kalau kau tidak mau makan sendiri."
Dibilang mau disuapi Vander pun langsung seketika berubah pikiran dan menurut pada Lara..
__ADS_1
Akhirnya pria itupun mau makan ikan buatan Eiji meski dengan syarat, makanya harus disuapi oleh Lara.
Disana Vander tampak manja sekali pada Lara didepan timnya. Entah ia sadar atau tidak, untungnya semua tim yang ikut termasuk karyawan yang tidak suka bergosip dan loyal padanya jadi cukup aman dari gosip. Ditambah tadi Vander sudah bohong kalau tangannya sakit akibat jatuh dari jetski, membuat yang lain maklum melihat Vander kalau makannya disuapi.
"Aduh Tuan Vander dan Nona Lara manis sekali sih! Aku jadi mau juga disuapi nona Lara," goda salah satu pegawai.
"Nona Lara kalau fansnya tuan Vander lihat, pasti mereka akan memburumu!" Seru yang lainnya.
"Tapi kalian serasi, tuan bos apa tidak mau pacaran saja dengan sekretaris anda?" Goda pegawai lain.
Para pegawai Vander yang loyal itu tampak terus. menerus menggoda bos dan sekretarisnya tersebut, alhasil wajah Lara pun jadi malu dibuatnya.
Sementara Eiji, ia memilih menjauh karena tidak sanggup melihat kedekatan Lara dan Vander saat ini.
...πππ...
Malam menjelang, semuanya pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Sementara itu, Lara yang baru selesai bersih-bersih malah terlihat diluar sendirian memandangi laut dimalam hari. Tiba-tiba saja Eiji yang tak sengaja melihatnya pun langsung menghampiri Lara.
"Kenapa kau disini sendirian Lara?" Tanya Eiji.
"Oh kak Eiji, tidak apa, aku hanya senang saja melihat dimalam hari. Kau sendiri kenapa belum ke kamar?"
"Aku tadi habis terima telepon. Oh iya Lara boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Sebenarnya kauβ maksudku hubunganmu dan Vander itu sedekat apa? Maaf tapi aku lihat kalian sangat dekat, bahkan para bawahan Vander sepertinya terlihat menjodohkan kalian."
"Akuβ" Bagaimana ini? Aku belum bisa memberitahu siapapun kalau aku ini s sebenarnya istrinya Vander.
"Apa kau menyukai tuan Vander?"
Lara tersenyum hambar. "Tuan Vander dia baik sekali padaku, apa ada alasan untuk tidak suka padanya?"
"Begitu ya? Kalau aku, apa aku tak cukup baik untukmu?"
DEGH! Ditanya begitu Lara seketika langsung gelagapan hingga hampir terpeleset. Untungnya Eiji dengan sigap langsung menahan tubuhnya dengan memeluknya. Eiji terlihat tidak segera melepaskan rankulannya dan malah terus menatap Lara, hingga hampir saja lepas kendali ingin menciumnya. Untungnya Lara yang segera sadar langsung melepaskan dirinya. "Oh iya kak, ini sudah malam jadi aku kembali ke kamar dulu yaβ dan terima kasih sudah menolongku sehingga aku tidak jadi terpeleset jatuh. Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu, selamat malam," ucap Lara langsung buru-buru pergi.
"Selamat malam Lara." Eiji mengepalkan kedua tangannya meratapi kepergian Lara dengan tatapan matanya yang sayu. "Sampai kapan? Sampai kapan aku menunggumu melihatku sebagai seorang pria sungguhan Lara?"
...πππ...
Saat kembali ke kamarnya, Lara melihat ada Vander yang sudah berdiri bersandar di depan pintu masuk kamarnya dengan posisi kedua tangan dilipat didada.
"Vander kau sedang apa-eh!"
Pria itu tiba-tiba langsung menarik tubuh Lara dan menciumi bibir dan lehernya dengan liar.
Vander kenapa? Apa dia sedang marah? Kenapa dia tidak selembut biasanya?
"Vander jangan disini, nanti ada yang lihat, eugh!" Ucap Lara mengetahui tangan suaminya itu sudah mulai membuka pakaiannya. "Vander kumohon bawa aku masuk dulu," pintanya seraya memohon sambil menahan desah suaranya.
Pria itu pun langsung menggedong istrinya dan membawanya masuk ke kamar Lara. Tanpa melepaskan ciumannya, pria itu melepaskan gaun yang dikenakan Lara dengan agak kasar.
Lara mencoba melepaskan ciumannya, namun pria itu seolah tak memberikannya sama sekali jeda kesempatan. Karena tak bisa lepas, pada akhirnya Lara menggigit bibir Vander dan berkata. "Kau kenapa? Kenapa kau seperti marah?" Tanya Lara yang kini berada dibawah tubuh sang suami.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, aku melihatmu tadi berduaan dengan Eiji bahkan dia sempat merangkul tubuhmu, aku tidak suka itu! Dan sekarang aku ingin memakanmu sampai dahaga serta amarahku hilang."
"Eiji hanya menolongku agar tidak jatuh," Lara mencoba menjelaskan. Kemudian ia membelai wajah suaminya dan memberitahunya perlahan sampai suaminya itu tenang. "Aku dan Eiji tidak ada hubungan apapun. Sekarang aku minta kau berbaringlah di ranjang."
Seketika Vander pun langsung menuruti permintaan sang istri dengan berbaring di ranjang dengan tenang. Karena Vander sejak beberapa tahun terakhir memiliki trauman dan masalah pengendalian emosinal yang serius. Terpaksa Lara harus lebih sabar dan setenang mungkin tidak melawan Vander dengan emosi yang meledak-ledak.
Wanita itu melepaskan semua pakaiannya dan duduk diatas perut suaminya. Ia menatap wajah tampan yang ada dihadapannya itu dengan tatap lembut dan menggoda.
Lara mencium bibir Vander dengan intens.
"Lara aku tidak tahan lagi, aku ingin segera memasukimu," ucap Vander seraya tak bisa lagi menahan gejolak hasratnya.
"Tentu saja, semua yang ada didiriku adalah milikmu. Asalkan kau tenang dan bersikap lembut aku akan berikan."
"Lara... aku akan lembut padamu," tuturnya dengan lembut dan mata sayu bak anak anjing.
"Good boy! Sekarang kau diam dan berbaringlah tuanku, biarkan aku yang akan memuaskanmu."
"Lara aku sangat mencintaimu... kau milikku, jangan benci aku..."
"Aku tahu aku juga mencintaimu sayang, uggghh!"
Dan mereka pun menyatu menghabiskan malam yang masih sangat panjang.
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π