
Dengan langkah santai Jeden berjalan menuju ruangan Lara. Disana ia melihat sosok Van yang tengah berdiri di depan pintu ruangan Lara.
"Cih kenapa aku harus melihat pengawal tengik ini terus!" Raut wajah Jaden langsung berubah sinis.
Jeden mau menyelonong masuk ke ruangan Lara namun oleh Van langsung dihadang dengan satu tangannya. "Apa Nona Lara meminta anda bertemu dengannya Tuan Jeden?"
Jeden menatap Van dengan sinis, "Aku mau menemui Lara itu bukan urusan pegawai rendahan sepertimu!"
"Maaf aku hanya menjalakan tugasku."
"Cih!" Jeden tersenyum seolah tengah merendahkan Van. "Kau pikir kau itu spesial? Ingat, kau itu hanya gelandangan busuk yang di pungut oleh Lara."
"Aku tau itu."
"Bagus kalau kau paham. Sekarang singkirkan tangan kotormu itu karena aku mau masuk menemui Lara!" Tegas Jeden.
Vander pun menurunkan tangannya. Geraham Van yang mengatup menandakan ia tengah menahan emosinya saat ini.
**
Di dalam Jeden langsung menghadap Lara dan duduk meski belum dipersilakan.
"Ada apa?" Tanya Lara sambil sibuk menatap layar laptopnya.
"Aku dengar kau dan Karina Foster dari Appletree sudah setuju untuk bekerjasama. Apa itu benar?"
"Ya!"
Sial! Dari tadi gadis ini bicara padaku tapi tidak mau memandangku! "Ehem, Nona Lara Hazel sebagai keturunan Hazel bukakah sopan santun sangat dijunjung tinggi dikeluargamu?"
"Iya itu benar."
"Lalu kenapa kau tidak melihat ke arah lawan bicaramu? Atau seringnya dekat dengan gelandangan rendahan membuatmu jadi lupa sopan santun?" Sindir Jeden.
Lara akhirnya memperhatikan Jeden. "Jadi apa lagi yang ingin tuan Jeden tanyakan padaku?"
"Akhirnya aku dapat perhatian Nona Lara."
"Cepat katakan saja aku tidak banyak waktu!" Desak Lara malas basa basi dengan Jeden.
Jeden bertanya kepada Lara kenapa ia tidak ikut dilibatkan dalam kerjasama antara Miracle dan Appletree, padahal secara struktural dirinya juga punya peran penting di perusahaan Miracle.
"Aku rasa tanpa kau harus terlalu dilibatkan pun kerjasama Miracle dan Appletree berjalan dengan lancar. Jadi untuk apa aku melibatkanmu, lagipula kau sudah punya tanggung jawab di divisimu sendiri bukan?"
"Nona Lara apa kau sedang meremehkanku?"
"Kau merasa?" Balas Lara santai.
"Lara jaga ucapanmu!" Jeden tidak tahan lagi, ia pun kesal dan emosi.
"Kalau tuan Jeden hanya mau marah-marah lebih baik pergi saja, aku tidak punya waktu untuk melihatmu marah-marah dan—"
Brak! Jeden menggeprak meja Lara. "Lara Hazel kau jangan lupa, aku juga pemilik dua puluh lima persen saham Miracle jadi kau tidak besa seenaknya padaku!"
"Aku tidak lupa, tapi kau juga harus ingat kalau pemegang saham terbesar di Miracle!"
__ADS_1
"Oh ya?" Jeden tersenyum licik. "Sepertinya kau lupa satu hal."
"Apa maksudmu?!%
"Lara biar aku beritahu, saham milikmu memang terbesar tapi tidak lebih dari lima puluh persen, saham milikmu hanya empat puluh enam persen. Itu artinya jika suatu hari nanti diantara para pemegang saham ada yang bisa mengakuisisi saham lain hingga lima puluh satu persen, maka dia yang otomatis memiliki otoritas terbesar di Miracle. Dan itu artinya aku mungkin bisa saja menggeser posisimu saat ini!"
Lara langsung dibuat tercengang dengan penjabaran Jeden. Apa yang dikatakan Jeden memang benar, setiap tahun akan ada dewan komisaris yang ditunjuk untuk mengawasi kinerja pimpinan Miracle. Dan bukan tidak mungkin baik Lara, Jeden atau pemegang saham lain untuk saling mengakuisisi saham. Dan jika Jeden bisa mengakuisisi saham setidaknya lima puluh satu persen maka otoritas sudah pasti akan jatuh ditangannya. Bagaimana aku tidak kepikiran akan hal itu?
"Kenapa sayang? Apa kau ketakutan hingga diam membisu begitu?" Ejek Jeden.
Pria itu mendekati Lara.
"Sudah aku bilang kan, kau itu masih terlalu awam untuk mengalahkanku di dunia bisnis yang kejam ini." Jeden megangkat dagu Lara dan berkata, "Tapi aku bisa berikan segala yang kau mau asal, kau menikah denganku."
"Lepas!" Lara menyingkirkan tangan Jeden di dagunya. "Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan orang sepertimu!"
Jeden mencengkeram pergelangan tangan Lara.
"Jeden lepaskan atau—"
"Atau apa? Kau mau memanggil pengawal gembelmu itu untuk mematahkan tanganku lagi?"
Lara terdiam dan hanya terus menatap Jeden dengan tatapan marah dan kecewa. "Kau sudah berubah Jed, kau bukan Jeden yang dulu kecil aku kenal!"
"Berubah katamu? Cih! Bukankah kau yang sudah membuatku seperti ini Lara Hazel!" Jeden melepaskan cengkramannya. "Apa Nona Lara lupa, kau yang selalu menolakku sejak dulu, kau yang selalu ingin aku kejar dan aku gapai, tapi kau seolah memandangku tak layak mendampingimu hanya karena kau putri keluarga Hazel!"
"Jed aku sudah bilang padamu sejak awal, kalau aku hanya bisa menganggapmu sebagai saudara tidak lebih."
"Omong kosong!" Raut wajah Jeden menunjukan rasa sakit hatinya.
"Aku tidak peduli!" Jeden menatap Lara dengan penuh kemarahan. "Yang jelas aku akan membuatmu menyesal telah menolakku, ingat itu!" Ujar Jeden lalu pergi.
Lara terkulai lemas duduk di kursinya, ia merasa ucapan Jeden tadi seperti peringatan berbalut ancaman untuknya. "Apa yang harus aku lakukan? Jeden benar-benar sudah berubah, dan aku yakin dia punya rencana licik untuk mengambil alih Miracle suatu hari nanti..." Ditengah rasa pilu dan kecewa Lara saat ini ia merasa, apakah yang ia lakukan sudah benar?
**
Van melihat Jeden keluar dari ruangan Lara dengan wajah kesal.
Ada apa dengannya, apa telah terjadi sesuatu diantara Nona dan Jeden Lee?
Jeden tiba-tiba menarik kerah Van dan langsung memakinya. "Kau pengawal sialan, tidak akan aku biarkan Lara dekat dengamu lama-lama!"
Vander mencengkram kedua pergelangan tangan Jeden. "Tanganmu baru sembuh apa kau ingin aku mematahkannya lagi?" Ujar Van dengan raut wajah datar.
"Kau pria busuk!" Maki Jeden lalu melepaskan cengkeramannya dan pergi.
"Ada apa sebenarnya? Apa Nona baik-baik saja di dalam?" Takut ada hal yang tidak menyenangkan Vander pun memastikan sendiri ke ruangan Lara.
Dingdong!
"Masuklah...," tukas Lara.
"Maaf mengganggu Nona."
"Ada apa Vander?" Tanya Lara.
__ADS_1
"Nona kau baik-baik saja kan, Jeden Lee dia tidak—"
"Tidak, dia tidak melakukan apa-apa padaku. Hanya saja Van, aku ingin tanya padamu. Jika suatu saat nanti aku miskin apa kau akan tetap bersamaku?"
"Huh?" Van kaget dengan pertanyaan Lara.
**
Di tempat lain Karina terlihat tengah berada di salon kecantikan. Ia melakukan perawatan rambut hingga kuku, baginya kali ini ia harus tampil sesempurna mungkin karena ia tidak mau Vander melihatnya dengan penampilan yang buruk.
"Nona biasanya baru datang lusa kenapa hari ini sudah ke salon lagi?" Tanya pegawai khusus salon tersebut.
"Karena hari ini aku akan bertemu dengan orang spesial jadi aku harus perpenampilan dengan spesial juga," balas Karina.
"Wow, apa dia pria yang sangat tampan?"
"Tepatnya dia pria yang paling tampan dan luar biasa yang pernah aku temui seumur hidupku. Jadi tolong berikan perawatan terbaik padaku."
"Tentu saja Nona, aku yakin pria itu akan terpesona oleh penampilanmu nanti."
"Tentu saja," Karina tersenyum yakin.
Wow sepertinya sang penggoda akan mulai melakukan aksinya.
**
Di atas rooftop Van yang tengah merokok masih teringat dengan ucapan Lara tadi di ruangannya. Lara bertanya pada Van, apakah dirinya masih mau ikut dengannya jika gadis itu tiba-tiba miskin?
"Sebenarnya apa maksud Nona bertanya hal itu? Apa ada hubungannya dengan kemarahan Jeden tiba-tiba tadi?" Van penasaran hingga frustasi sendiri. "Argh sial! Aku tidak terlalu paham detail keadaan bisnis diperusahaan ini!" Van jadi agak menyesal karena saat dulu di crux dirinya pernah ikut mempelajari soal ekonomi dan bisnis tapi ia abaikan karena bosan, dan malah memilih ikut pembelajaran perakitan bom dan senjata perang. "Sekarang aku baru sadar kalau pengetahuan ekonomi dan bisnis itu ternyata sangat diperlukan di era global saat ini," sesalnya.
*Dripp.. drip... Ponsel Van yang ada di jasnya tiba-tiba bergetar.
Aron? Ada apa dia menelepon?
Vander : Halo!
Aron : Bisakah kita bertemu di bar nanti malam ada yang ingin aku beritahukan padamu.
Vander : Katakan saja di telepon!
Aron : Tidak bisa karena ini ada hubungannya dengan Crux. Jadi bisakah kita bertemu nanti malam?
Vander : Akan aku kabari lagi nanti.
Aron : Baiklah.
~
"Bertahun-tahun aku menjauhkan diri dari organisasi itu tapi kenapa seolah tak bisa lepas."
Sepertinya latar belakang pengawal tampan Nona Lara akan mulai terkuak sedikit demi sedikit.
Bersambung....
Jangan lupa di vote, like, comment 💜
__ADS_1