Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Hadiah spesial


__ADS_3

Di kafe Laizen, Lara yang sedang duduk sendirian terlihat asyik memandangi layar ponselnya sambil menunggu pesanan datang. Wanita cantik itu tampak senyum-senyum sendiri melihati foto-foto momen sang suami bersama putranya yang ia ambil saat Rey ada di kediaman Vander. Lara benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat hasil jepretan kamera di galeri ponselnya itu. "Uh, mereka berdua tampak sangat manis saat difoto," ungkap Lara sambil tersenyum girang.


"Wah sepertinya nona Lara sedang bahagia nih!" Celetuk Jeha yang tiba-tiba saja datang menghampiri Lara.


"Eh kak Jeha?" Lara yang takut fotonya ketahuan pun segera keluar dari galeri ponselnya dan bersikap santai.


"Kau kenapa? Kok kelihatannya senang sekali? Coba ceritakan padaku," tutur Jeha yang tampak sekali ingin tahu alasan kenapa Lara terlihat senang sekali tadi.


"Umβ€” itu, aku hanya sedangβ€”"


"Nona, ini milkshake strawberry pesanan anda," ucap nona pelayan yang datang mengantarkan pesanan Lara.


"Terima kasih," ucap Lara yang kemudian langsung meminum milkshake pesanannya tersebut.


"Eh kau belum jawab aku tadi kau senang sekali ada apa?" Tanya Jeha lagi.


Kupikir dia sudah lupa dengan pertanyaannya, ternyata tidak. "Oh itu, aku tadi senang karena dapat bonus banyak bulan ini. Soalnya aku mau beli baju baru hehehe," jawab Lara.


"Begitu ya," Jeha tampaknya percaya. "Oh iya hampir lupa, aku ingin tanya soal partisipasimu dalam seleksi pemilihan desainer Lavioletta bagaimana, apa kau terpilih?"


Soal itu Lara hampir saja lupa memberi tahu Jeha, untungnya wanita itu bertanya. "Soal itu aku diterima kak!" Tutur Lara agak malu-malu.


"Wah... selamat ya," ucap Jeha ikut senang mendengarnya. "Aku jadi semakin tidak sabar deh dengan event tahunan Lavioletta. Aku ingin sekali melihat hasil rancanganmu dipamerkan!"


"Terima kasih dukungannya kak, kebetulan lusa aku dan Nona Yuna sudah akan mulai mengerjakan rancangannya."


"Eh iya kalau tidak salah, nanti rancanganmu akan dikenakan oleh Emily Hasaki kan? Si model internasional yang kabarnya akan jadi global ambassador Lavioletta."


"Iyakah?" Lara tampak tidak tahu apa-apa soal hal itu, mengingat dirinya memang dari awal hanya fokus pada rancangan buatannya, soal model Lara tidak mempermasalahkan.


"Gosipnya sih, Emily Hasaki akan tiba di negara ini lusa. Aku penasaran, kali ini wanita itu akan digosipkan dengan siapa lagi ya?"


"Eh maksudmu apa? Memangnya Emily Hasaki itu ada berita apa?" Tanya Lara yang sudah lama tidak terlalu mengikuti berita artis ibukota.


"Ya ampun, sepertinya kau jarang baca gosip ya Lara? Begini, di forum diskusi netizen aku pernah baca sebuah thread yang mengatakan kalau, Emily itu adalah simpanan pria kaya yang sudah punya istri."


"Masa sih? Aku baru dengar, bukankah banyak yang mengidolakan dia karena kerja kerasnya?"


"Ah kau ini seperti tidak paham dunia hiburan saja, jelas-jelas dia sampai ke puncak bukan murni hasil kerja kerasnya. Bayangkan saja, Emily yang baru terjun jadi model saat usia dua puluh dua, tiba-tiba saja selama kurang dari satu tahun dia langsung bisa melejit jadi model papan atas, padahal menurutku saat diatas panggung runaway Emily tidak se-wow itu. Satahuku, dia itu mulai terkenal kan karena banyak gosipnya, dan juga wajah cantiknya yang hasil oprasi plastik itu. Ah tidak cuma wajah, tapi dia juga melakukan suntik untuk memperbesar bokongnya."


Lara yang mendengarkan Jeha pun sampai melongo dibuatnya, ia tidak menyangka kalau ternyata temannya itu tahu banyak gosip dunia hiburan. "Lalu setelah itu ada berita apalagi soal Emily Hasaki? Aku pribadi hanya tau kalau sebagian orang banyak menyebut Emily sebagai trendsetter dalam berbusana, aku pribadi sih agak kurang tertarik dengan selera fashionnya tapi dia cukup keren kok!"


"Dia itu kabarnya juga suka pura-pura, alias di depan kamera ramah dan murah senyum, nyatanya dibelakang dia itu sombong, suka memerintah, menyebalkan ya begitulahβ€” aku jadi penasaran dengan sifat aslinya," ungkap Jeha.


"Wah kak Jeha up to date sekali, aku sudah lama tidak ikuti gosip selebriti," balas Lara yang memang sejak punya anak mana ada waktu untuk menyimak gosip.


"Aku belum baca berita baru lagi nih, tapi nanti kalau aku ada bahan baru lagi kita bergosip ya," bisik Jeha sambil tertawa.


...🍁🍁🍁...


Di kelasnya, Rey yang sedang asyik menggambar bersama temannya yang lain, lagi-lagi malah diganggu oleh Leo dan dua orang dayang-dayangnya.


"Leo kau mau apa lagi? Kenapa terus menganggu Rey!" Tegur Jeny kesal.


"Diam kau Jeny, dasar cerewet! Aku menghampiri Rey karena mau memastikan kalau dia tidak bohong soal ucapannya tentang papanya waktu itu!" Leo menatap Rey sinis dan berkata, "Hei Rey! Kalau kau benar tidak suka bohong, coba sekarang kau buktikan pada kami kalau kau punya seorang papa!"


"Leo sudah, kau dan temanmu pergi saja, Rey sedang tidak mau diganggu," sahut Haru membela Rey.


"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum Rey pembohong ini membuktikannya!"


"Cerewet!" Ucap Rey yang tiba-tiba langsung berdiri menghadap Leo. "Kau mau bukti aku punya papa? Ini lihat saja!" Rey kemudian memperlihatkan selembar foto dirinya saat bersama Lara dan Vander beberapa hari yang lalu di taman.


Sontak, Leo yang melihat foto itupun seolah tidak punya kalimat lagi untuk menyerang Rey.


"Ah aku juga mau lihat papanya Rey!" Ucap kawan Rey yang lain ikut penasaran.

__ADS_1


"Wah...! Papanya Rey tampan sekali."


"Iya, pantas Rey sangat tampan ternyata papanya tampan sekali."


"Mama Rey juga sangat cantik ya, wah Rey beruntung sekali mama papanya sangat keren."


Mendengar teman-teman lain memuji orang tua Rey, Leo pun merasa iri dan tidak senang. Ia pun malah kembali membuat provokasi dengan berkata, "Ah kalau cuma foto bisa saja kan itu bohong. Kalau memang orang itu papamu, coba kau ajak dia ke sekolah! Berani tidak!?"


"Leo maumu itu apa sih! Rey sudah menunjukan foto papanya kau masih saja begitu!" Seru Jeny.


"Terserah aku, yang pasti aku belum percaya, bagiku si Rey itu hanya anak yang suka mengarang kebohongan!" Ejek Leo.


Sementara Rey tidak menjawab apa-apa, pria kecil itu hanya merundukan kepalanya dan mengepal tangannya kuat-kuat sambil mengatupkan gigi gerahamnya. Kalau bukan karena aku takut mamaku kena masalah, sudah ku hajar dari tadi kau Leo!


...🍁🍁🍁...


Di kantor Revoir, Eiji yang tengah duduk di ruangannya terlihat terus saja memandangi sebuah tempat perhiasan berwarna merah yang berisi gelang. Pria itu raut wajahnya tampak gusar dan bimbang saat ini, karena merasa ragu ingin memberikan hadiah gelang itu untuk wanita yang ia cintai yakni Lara. Sejak kemarin Eiji memang ingin sekali memberikan gelang hadiah itu untuk Lara, sayangnya ia belum ada waktu yang tepat untuk memberikannya. Karena tidak mau lagi terus menunda-nunda untuk memberikannya, Eiji pun akhirnya memutuskan untuk menelepon Lara dan mengajaknya ketemuan.


Lara : Halo...


Eji : Um maaf, apa aku mengganggumu telepon jam segini?


Lara : Tidak kok, memang ada apa kak?


Eiji : Begini, Lara aku sebenarnya menelepon karena ingin mengajakmu ketemuan. Apa kau bisa?


Lara :... Kapan?


Eiji : Aku sih berniat mengajakmu besok, tapi kalau tidak bisa mungkin lusa juga boleh.


Lara : Kalau besok sepertinya tidak bisa, mungkin lusa saat istirahat jam makan siang?


Eiji : Ah baiklah, lusa jam satu siang di kafe Oliver. apa kau mau ku jemput sekalian?


Lara : Oh tidak usah, kita langsung ketemuan saja.


Lara : Sampai ketemu, bye.


Eiji : Bye, Lara...


"Huft! Akhirnya aku bisa juga ketemuan dengannya," ungkap Eiji merasa senang dan sudah lebih lega.


...🍁🍁🍁...


Lara menghela nafas lalu kembali lagi menatap layar laptopnya untuk membuat proyeksi yang akan ditampilkan di meeting minggu depan. Tak lama kemudian, datanglah Vander yang baru saja selesai dari meetingnya.


"Oh kau sudah kembali ya," ucap Lara berdiri seraya menyambut kedatangan bos sekaligus suaminya itu.


Pria berjas abu-abu dengan kemeja hitam itu dengan wajah datarnya langsung berjalan menghampiri sang istri.


Setelah itu tiba-tiba saja ia mengeluarkan kotak wadah perhiasan berwarna hitam dari dalam jasnya dan memberikannya kepada Lara.


"Eh apa ini?" Tanya Lara yang penasaran melihat suaminya itu tiba-tiba memberikannya sebuah tempat perhiasan berbentuk hati tersebut.


"Kau buka saja dan lihat," ucap Vander.


Akhirnya Lara pun membuka kotak itu, wajahnya seketika dibuat takjub saat melihat isi tempat perhiasan itu. Di dalam tempat perhiasan itu ternayata berisi sebuah kalung intan, dengan behiaskan liontin berlian berwarna merah jambu yang berbentuk seperti bunga mawar.


"Wow, ini cantik sekali! Apa ini untukku?" Tanya Lara yang masih terpukau melihat kalung cantik tersebut.


"Sini biar aku pakaikan di lehermu," ucap Vander yang kemudian mengambil kalung tersebut dan mengalungkannya di leher sang istri.


"Kau suka?" Bisik Vander ditelinga istrinya.


"Iya aku suka sekali, ini sangat cantik!" Ucap Lara tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kau suka. Aku memang meminta khusus pada rekanku yang juga pemilik perusahaan perhiasan nomor satu di dunia untuk merancang kalung itu untukmu," jelas Vander. Itu tandanya kalung yang dipakai Lara saat ini hanya ada satu di dunia. Dan jika dilihat dari desain dan juga berlian merah jambunya, harga kalung itu hampir seharga satu buah mobil lamborghin aventador.


"Terima kasih ya sayang," ucap Lara yang kemudian langsung mencium bibir suaminya dan memeluknya.


Bagi Vander apapun akan ia lakukan demi istrinya.


"Kau sangat baik dan memanjakanku, apa kau tidak takut nanti pegawaimu yang lain iri?" Ucap Lara tiba-tiba.


"Aku tidak peduli, bagiku kebahagiaanmu diatas segalanya."


"Manis sekali, gombalanmu sejak dulu memang mengerikan ya tuan Vander," balas Lara. "Aku jadi curiga, jangan-jangan ada banyak wanita lain yang kau gombali begitu? Tidak heran sih, mengingat hampir semua karyawan wanitamu banyak yang berkhayal jadi kekasihmu," ungkap Lara langsung melepaskan pelukannya seolah cemburu.


Vander mendekati Lara lalu menggengam kedua tangannya dan menciumnya. "Dengar, aku hanya tergila-gila dan mengatakan semua itu padamu." ucap Vander menatap Lara dengan tatapannya yang lembut.


"Benarkah?"


"Yes, my goddess, you're the one and only." Vander langsung mencium kedua tangan Lara.


Perasaan hati Lara seketika berubah serasa dipadang bunga yang indah. Diperutnya pun terasa banyak kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Pria ini meski tidak ingat kenangan kami, tapi caranya memperlakukanku tidak berubah, ia selalu memujaku, menjadikanku sebagai dewinya. Vander, kau ini kenapa membuatku lagi-lagi terperangkap dalam jeratanmu?


Seketika Lara menyentuh wajah sang suami dengan kedua tangannya lalu menatapnya lamat-lamat dengan kedua matanya yang berbinar. "Dengar Vander, kau berhutang padaku, banyak waktu kita yang hilang saat itu, jadi kau harus menebusnya."


"Maafkan aku Lara..."


"Aku tentu memaafkanmu, asal kau janji apapun alasannya jangan lagi pergi dariku apalagi lupa padaku. Karena jika itu terjadi lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


"Ya aku berjanji."


"Good boy!" Ucap Lara lalu tersenyum manis.


"Aku kan sudah buatmu senang. Apa nyonya Vander tidak ingin memberiku hadiah?" bisik Vander dengan nada menggoda.


Lara yang sudah paham maksud ucapan suaminya itupun langsung mengecup bibir sang suami dan memberikannya ciuman panas. Setelah beberapa saat Lara pun melepaskan tautan bibirnya yang basah berbisik ditelinga Vander, "Apa hadiahnya masih kurang, tuanku sayang...?"


"Kau tahu, aku tidak akan pernah puas hanya dengan sebuah ciuman panas, jadi... aku ingin memakanmu," ucap Vander yang tanganya sudah sejak tadi menyusup masuk ke dalam pakaian Lara dan merabanya.


Lara kembali berbisik dengan suaranya yang menggoda. "Kalau begitu, lakukan apapun yang kau mau lakukan padaku, sua-mi-ku."


Gejolak hasrat Vander pun sudah tak terbendung lagi. Pria itupun langsung kembali melahap bibir Lara dan menggendongnya, membawanya ke sofa dan duduk di datas pankuannya. Tangannya yang besar dan lihai, seolah dengan mudah melepaskan seluruh pakaian Lara. Sampai pada saatnya Vander ingin mulai melahap milik Lara, wanita itu malah bertanya dengan dengan wajah agak tersipu, "Apa pintunya sudah dikunci?"


"Ya, lalu?"


"Lanjutkan!" Titahnya dengan tatapan matanya yang lembut.


Mereka pun akhirnya kembali bercinta di di dalam ruangan kantor setelah sekian lama.


Setelah selesai memenuhi hasrat mereka dengan penuh cinta, Vander yang kemejanya belum terkancing semua nampak sedang merebahkan kepalanya dipangkuan Lara sambil memandangi wajahnya.


"Kau sangat cantik Lara," ucap pria itu seraya mengaguminya. "Bagaimana bisa aku memutuskan melupakan kenangan bersama makhluk seindah dirimu," ucapnya penuh penyesalan.


Lara mendunduk dan mencium kening suaminya lalu berkata, "Kau penggombal yang mengerikan."


"Aku tidak menggombal."


"Oh iya kau tahu, emβ€” ini sedikit memalukan untuk kukatakan tapi kenyataannya sejak kita resmi menjadi kekasih, kita memang sering melakukannya di ruanganku dulu. Dan setelah itu kau seringkali terkena noda lipstikku."


"Oh ya? Ah saat-saat itu pasti sangat indah dan luar biasa, sayangnya aku tidak bisa ingat momen-momen itu, tapi aku yakin rasanya sama seperti saat ini. Rasanya seperti sedang berada disurga bersama seorang bidadari bernama Lara," ucapnya.


"Kau memang sangat pandai merayu tuanku," ucap Lara tersenyum dan mengecup bibir suaminya. Vander pun seketika bangun dan memeluk Lara, pria itu memeluk erat sambil mengatakan, "Aku mencintaimu Lara, sangat mencintaimu."


"Ya, aku juga mencintaimu Vander."


..."Karena cinta yang tulus dari hati tidak akan mudah berganti meskipun pikiranmu mencoba mempengaruhi"...


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2