
Di toilet mulut Lara tiba-tiba dibekap dan tangannya disandera dari belakang oleh orang tak dikenal. Lara yang panik lansung meronta mencoba melepaskan diri. Namun sayang, tangan orang yang mencengkeram kedua pergelangan tangannya terlalu kuat.
Siapa mereka ini, kenapa mereka menyerangku? Van kau dimana? Tolong aku! Rintihan hati Lara seraya menggambarkan betapa ketakutan dirinya saat ini. Di keadaan gelap ia disergap, kedua pergelangan tangannya yang kurus dicengkeram dengan kasar, mulutnya dibekam dengan tangan menjijikan pria yang tidak ia kenal.
Aku harus segera lari dari sini! Pikir Lara. Akhirnya ia pun menginjak kaki si penculik dengan keras hingga kesakitan dan akhirnya reflek melepaskan tangan Lara.
"Argh! Dasar wanita sialan beraninya kau menginjakku!" Pekik pria yang kakinya diinjak Lara barusan.
Tak lama lampu pun akhirnya menyala. Lara langsung sesegera mungkin melarikan diri tapi sialnya penculik tadi ternyata tidak sendiri, ada satu lagi pria muda berotot yang mencegatnya di depan pintu toilet. "Mau kemana kau, jangan kabur!"
Aduh bagaimana ini?! Lara terjebak, ia bingung dan panik karena satu-satunya jalan untuknya melarikan diri malah dihadang.
"Tidak, jangan mendekat atau aku pukul kau!" Pekik Lara mengancam penjahat itu.
Teman penjahat itu dengan cepat langsung menyergap Lara dan mencengkeram kedua tangannya ke belakang. Sungguh malang, Lara yang baru saja bisa lolos malah harus kembali disergap oleh teman pria dari penculik yang membekapnya tadi.
"Lepaskan aku! Hmm! Hm....!" Mulut Lara kembali dibekap dengan rapat oleh penjahat itu.
Bagaimana ini? Aku tidak mau diculik! Lara mencoba terus beteriak meski tak ada gunanya karena mulutnya dibekap. Ia terus berontak mencoba melepaskan diri. Namun apa daya kekuatannya yang tak seberapa seolah sia-sia melawan cengkraman penjahat itu. Ingin sekali rasanya Lara melarikan dari dari para penjahat sialan ini. Tapi bagaimana caranya?
Mata Lara tiba-tiba dibuat terbelalak lebar saat merasa tangan salah satu penjahat itu mengusap lehernya.
"Nona, kulitmu sangat halus dan wajahmu juga sangat cantik!" Ucap pria bejat itu sambil mengusap lengan Lara.
Menjijikan singkirkan tangan hinamu dariku! Lara merasa terhina melihat penjahat itu seraya memandanginya dengan tatapan menjijikan.
"Hei, Bos Eva memang menyuruh kita untuk membawa gadis ini. Tapi melihat wanita semenarik ini kalau dibawa langsung ke markas sayang juga, kenapa kita tidak ajak main saja dulu Nona yang manis ini!" Ucap pria tersebut.
"Kalau begitu jangan lakukan disini, kita bisa ketahuan," ucap penjahat satunya yang menyekap Lara.
"Tenang, aku mau menyentuhnya dulu sebentar," ucap penjahat itu dengan nada yang terdengar sangat menjijikan bagi Lara.
__ADS_1
Tidak mau! Mata Lara membulat lebar, ia langsung kembali meronta memberontak sekuat mungkin untuk bisa lepas. Aku mohon! Aku tidak mau dibawa mereka! Aku tidak mau! Aku tidak mau! Batin Lara terus merintih berteriak panik dan ketakutan. Suara jeritannya yang hanya sampai kerongkongan terus menerus ia keluarkan, tenggorokan Lara pun jadi kering dan sakit akibat suaranya tak keluar karena terhalang oleh tangan pria yang membekapnya saat ini.
Bagaimana ini? Aku takut, benar-benar takut! Van kau dimana, kumohon selamatkan aku...! Lara terus memohon dan merintih di dalam hati hingga tanpa sadar air matanya sudah mengalir. Saat ini ia seolah tengah dipaksa untuk pasrah karena tidak tau lagi harus bagaimana untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Lara hanya bisa berharap ada penyelamat yang datang untuknya.
Jangan sentuh aku!
Penjahat itu menarik keatas gaun Lara dan berusaha menyentuh dan meraba-raba pahanya yang halus. Lara terus memberontakkan kakinya berusaha menghalangi agar tangan baj!ngan itu sulit untuk menyentuhnya.
"Jangan coba melawanku!" Bentak penjahat muda bertubuh tinggi kurus itu. "Kalau kau melawan, aku jadi semakin ingin menyentuhmu," ucapnya seraya mengancam.
Tapi Lara terus berusaha sekuat mungkin memberontak meski tangannya dicengkram dan mulutnya dibekap. Aku lebih baik mati daripada harus berakhir dilecehkan oleh pria baj*ngan sepertinya!
Namun tiba-tiba saja, penjahat yang saat itu menyandera Lara seketika melepaskan cengkramannya dari tangan gadis itu.
"Siapa kau!" Ujar penjahat yang tengah berusaha melecehkan Lara.
Sorot mata penjahat itu tampak melihat ke arah orang dibelakang Lara. Gadis itu pun reflek menoleh kebelakang untuk memastikan kenapa tiba-tiba para penjahat itu melepaskannya.
Van menatap Lara dengan matanya yang tajam dan memintanya pergi.
"Ta- tapi Vanโ"
"Aku bilang pergi!" Tegas Vander dengan raut wajah penuh kemarahan.
Melihat Van begitu Lara jadi merasa ngeri, ia pun akhirnya menurut dan pergi seperti yang diminta sang kekasih.
"Jangan kabur!" Pekik pria satunya yang mau mengejar Lara namun langsung dihentikan oleh Van dengan cara menendang perutnya.
Van langsung menghajar pria yang telah membekap Lara tadi dengan brutal dan tanpa ampun.
Pergelutan 2 lawan 1 di toilet pun terjadi. Vander yang begitu murka setelah melihat wanitanya disentuh, langsung menghajar kedua orang itu tanpa belas kasihan sama sekali.
__ADS_1
"Kau sudah berani menyakiti Nonaku, itu artinya kau harus mati!" Van menarik kepala salah satu penjahat itu tanpa belas kasih, menghatamkannya ke sisi wastafel berkali-kali hingga darah segar dari kepalanya mengucur dengan sangat deras.
Setelah menghabisi satu orang, Van langsung menatap tajam penuh amarah ke penjahat yang ia lihat mencoba melecehkan wanitanya tadi.
"Kau!"
Pria itu tampak begitu ketakutan menghadapi Van sendirian. Apalagi melihat temannya mati mengenaskan ditangan pria buas dihadapannya saat ini. Pria ini sungguh tidak waras! "Tuan Vander aku hanya disuruh oleh Nona Eva menculiknya, aku tidak tau kalau dia pacarmu ampuni aku!" Penjahat itu memohon.
Sayangnya tidak ada ampun untuk siapapun yang berani menyentuh Lara. Vander langsung mencekik leher pria itu dengan satu tangannya. Pria itu mencoba menyingkirkan tangan Vander yang mencekiknya sayangnya ia tidak bisa. Tubuhnya yang mulai kekurangan oksigen malah semakin lemah.
"Kau pantas mati!" Ujar Vander dengan mata tajamnya yang seolah tak berkedip menerkam musuhnya.
Penjahat itu semakin kehilangan oksigen, wajahnya pun mulai membiru.
Efek obat membuat Van semakin tidak bisa berpikir rasional, dan akhirnya tanpa ragu ia mengangkat pria itu dan melemparnya ke dalam toilet. Tidak sampai disitu Van langsung dengan brutal menghantam kepala penjahat itu dengan daun pintu berkali-kali hingga pria itu tewas dengan wajah bersimbah darah.
Sementara itu, Lara yang menunggu diluar dengan was was merasa ketakutan dan khawatir, karena beberapa kali mendengar suara hantaman dan erangan kesakitan dari dalam toilet.
"Aku ingin memastikannya!" Lara bermaksud mengintip, namun tidak jadi karena melihat Vander keburu keluar dari sana.
Dengan keadaan bajunya yang berantakan dan banyak terdapat noda darah, Van berjalan dengan agak terhuyung menghampiri Lara.
"Vander kau tidak apa-apa?" Lara yang khawatir langsung mendekati Van yang tengah menahan efek dari obat yang diminumnya tadi.
Lara menyentuh wajah Van yang berkeringat. "Van bajumu banyak darah, dan kenapa tubuhmu panas, apa kau...?"
GREP! Vander tiba-tiba mencengkram kedua pergelangan tangan Lara dengan kuat, dan menatapnya dengan tatapan seperti srigala yang tengah mencari mangsa.
"Va- Vander, ka- kau kenapa?" Tanya Lara ketakutan.
Bersambung...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH ๐