
Eh apa maksudnya? Lara seketika jadi bingung dan tidak tau harus menjawab apa sekarang. "Kak Eiji ke- kenapa kau—"
"Lara, mungkin aku tidak tepat mengatakan hal ini padamu sekarang, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku, aku sudah menyukaimu sejak lama." Akhirnya Eiji mengungkapkan perasaannya kepada Lara.
Lara jadi semakin bingung dibuatnya saat ini. Dirinya sendiri memang menyukai Eiji tapi bukan suka yang seperti Eiji pikirkan. Lara menyukai Eiji karena kagum dan hormat mengingat pria itu sudah begitu baik padanya selama ini.
"Kak Eiji sebenarnya aku—"
"Kau tidak perlu menjawabnya langsung, aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja padamu, dan jangan terlalu dipikirkan ya." Eiji tersenyum dan mengusap kepala Lara dengan lembut.
**
Tiga hari kemudian saat ada Miranda berada di ruangannya, Lara tiba-tiba saja mengatakan kepada Mira tentang rencana dirinya yang akan pergi pindah tinggal ke Kanada.
Mendengar itu Mira pun sampai syok dibuatnya. "Kenapa kau mendadak sekali memutuskannya? Bagaimana dengan pekerjaanmu di Miracle?"
"Soal itu aku sudah memikirkan semuanya. Sebenarnya sudah sebulan lalu aku berpikir untuk pergi dari kota ini. Awalnya aku berpikir hanya pindah kota saja, tapi seketika aku merasa pindah keluar negeri akan lebih bagus, mengingat semakin jauh aku dari kota ini maka akan semakin mudah bagiku melupakan semua hal pahit yang kualami di kota ini," ungkap Lara.
Mira menghela nafas panjang. Dirinya ingin sekali menahan Lara untuk tidak pergi karena ia pasti akan merindukannya. Tapi jika hal itu adalah salah satu cara Lara untuk melupakan kesedihannya ia tidak mau menghalanginya. Karena bagaimana pun sebagai sahabat Mira ingin melihat Lara hidup dengan tenang dan bahagia.
"Kau tau, ini berat bagiku karena aku sudah menganggapmu adalah keluarga. Tapi sebagai sahabat yang baik aku ingin melihatmu lebih baik menjalani hidup, dan jika ini yang terbaik maka aku akan mendukungmu Lara."
"Terima kasih Mira," Lara memeluk Miranda dengan erat, "Aku sungguh bersyukur karena memiliki teman sebaik dirimu."
**
Setelah memutuskan untuk pindah ke luar negeri Lara pun mulai berkemas dan mengurus semua surat-surat kepindahannya. Lara juga sudah membuat surat pengunduran dirinya dari Miracle yang akan segera ia serahkan kepada Jeden selaku CEO di perusahaan yang kini bukan sepenuhnya milik keluarga Hazel. Lara mungkin salah karena tidak tetap bertahan di perusahaan ini, tapi dengan keadaannya saat ini, bagi Lara yang terpenting adalah anak dikandungannya. Jika tetap berada di ZR hanya membuatnya terus teringat hal-hal yang menyakitkan, maka jalan terbaik untuk itu adalah menenangkan diri ke tempat yang jauh.
__ADS_1
Setelah selesai membuat surat pengunduran diri, Lara pun segera pergi ke ruangan Jeden dan menyerahkan surat itu kepadanya.
Saat tau Lara memutuskan mengundurkan diri dan akan pindah ke luar negeri Jeden langsung syok dan tidak rela.
"Apa-apaan ini?! Lara kau tidak boleh pergi! Perusahaan ini membutuhkanmu!"
Saking tidak relanya, Jeden bahkan sampai rela memohon agar Lara tidak pergi. Namun semua itu percuma saja, karena Lara sudah sangat yakin dengan keputusannya itu.
"Tuan Jeden mulai hari ini aku bukan lagi direktur pemasaran di Miracle dan aku juga bukan lagi bawahanmu jadi jangan memohon padaku. Aku berterima kasih atas semuanya, walau aku tau hubungan kerja kita tidak terlalu baik, tapi bagaimanapun kau tetap teman masa kecilku yang berharga buatku. Dengan ini aku Lara Hazel pamit mengundurkan diri, permisi selamat tinggal Jed." Lara memberikan penghormatan terakhirnya kepada Jeden lalu pergi.
Kali ini Jeden hanya bisa meratapi kepergian Lara, ia memang tidak ingin Lara pergi dari kota ini, tapi disisi lain dirinya juga tidak tega melihat wanita yang ia sayangi selalu terlihat sedih dan merana kalau terus berada tinggal di kota ini.
**
Setelah semua urusan di Miracle selesai, Lara pun bersiap berkemas di apartemennya. Dengan dibantu Gavin dan Mira Lara menyiapkan segala macam barang-barang yang akan dibawanya nanti ke Kanada.
Namun tiba-tiba saja tatapan mata Lara berubah sedih bercampur marah, saat ia membuka pintu lemari yang di dalamnya berisi tumpukan baju-baju suaminya. Disana kemeja dan kaos yang biasa Vander kenakan tampak masih terususun rapi di lemari. Memang, meski Vander tidak kembali pulang, namun sampai beberapa yang hari lalu Lara masih sering membereskan lemari pakaian Vander. Dam kali ini Lara memutuskan untuk membuang semua pakaian itu, mengingat harapan Lara kalau Van akan segera kembali seolah sudah pupus. Dan tak sengaja Lara juga menemukan dasi berwarna navy milik Van, dimana dasi itu adalah hadiah pertama Lara untuk sang suami. Ia memandangi dasi itu dan berkata lirih, "Bahkan dia belum sempat mengenakan dasi pemberianku ini."
Lara lagi-lagi menitikan air matanya, jujur dari lubuk hatinya yang terdalam rasa cintanya pada Vander jelas masih ada. Namun sayang, rasa kecewa Lara yang terlalu besar membuat dirinya tidak sanggup lagi jika masih harus terus menunggu suaminya yang tidak ada kepastian.
Biarlah aku memiliki jalanku sendiri
Entah akan bagaimana kedepannya, aku tidak tahu. Yang Lara tahu saat ini hanyalah dirinya harus hidup dengan bahagia bersama anak yang ada di dalam kandungannya. Lara menyentuh perutnya dan berkata, "Sayang kau tenang saja, meski papamu tidak ada, saat kau lahir nanti Mama akan berusaha membuatmu selalu bahagia kedepannya, jadi jangan takut."
**
Hari keberangkatan Lara pun tiba, Lara yang berangkat bersama Eiji pun berpamitan dengan Miranda dan Gavin di bandara sebelum ia memasuki terminal keberangkatan.
__ADS_1
Sebelum pergi Mira berpesan kepada Lara agar dirinya menjaga diri baik-baik. "Kau ingat, sekarang bukan hanya kau yang harus kau jaga, tapi ada anak di perutmu yang juga harus kau perhatikan."
Lara mengangguk dan langsung memeluk Miranda sambil menangis sedih. "Kau juga Mira, jaga diri baik-baik dan jangan lupakan aku. Aku berjanji kita pasti akan bertemu lagi nanti."
"Iya, sudah jangan menangis terus. Kalau kau menangis begini aku malah jadi tidak bisa merelakanmu pergi."
Sementara itu, Gavin yang dari tadi berdiri disebelah Mira hanya memasang tampang sedih dan tidak semangat. Melihat raut wajah Gavin seperti itu, Lara pun jadi merasa tidak tega dan langsung menyemangatinya.
"Gavin kau harus semangat, dan jadilah pria yang bertanggung jawab yang selalu bisa menjaga Miranda. Kau jangan terlalu sering bertengkar dengan Miranda, sayangi dia terus. Karena meski Mira diluar terlihat galak dan kaku sejatinya dia adalah wanita yang sensitif dan lembut. Jadi tolong jaga dia ya Gavin."
Gavin akhirnya malah menangis. "Iya kak Lara, aku janji aku akan jadi pria yang bertanggung jawab dan tidak akan mengecewakanmu. Hiks! Kak Lara juga jaga diri ya, aku pasti akan rindu sekali padamu. Aku akan rindu masakan buatanmu, rindu kau yang sering mengusap lembut kepalaku, hu.. huu..."
Lara kemudian mengusap kepala Gavin dan berkata, "Sudah jangan menangis, aku tau kau anak laki-laki yang baik Gavin, aku mohon jangan pernah berubah ya?"
"Iya kak, kau jaga diri baik-baik. Dan kau Tuan," Gavin langsung menatap Eiji. "Kau harus jaga Kak Lara baik-baik! Dan jangan macam-macam padanya!"
"Tentu saja, tidak perlu kau ingatkan."
"Baiklah kalau begitu, sudah saatnya aku harus pergi. Kalian berdua disini bahagia selalu. Aku pamit, sampai jumpa..." Lara akhirnya melangkah pergi menuju terminal keberangkatannya.
"Hubungi aku sering-sering ya Lara... Eiji jaga Lara, sampai bertemu lagi...!"
"Selamat jalan kak Lara...!"
Sampai jumpa Mira, Gavin, dan sampai jumpa lagi ZR, kota yang telah memberiku banyak pelajaran dan memori kehidupan. Sampai kapanpun kota ini adalah kota yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Tapi kali ini biarkan aku pergi dulu sementara waktu. Hingga suatu hari nanti saat aku kembali lagi ke kota ini, aku harap semuanya sudah kembali baik-baik saja. Terima kasih atas segalanya, hari ini aku pamit pergi...
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜