Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Wanita jahat harus dihukum


__ADS_3

Semuanya pun langsung terkesiap kaget melihat ada polisi datang menyergap, terutama Karina dia yang wajahnya paling pucat saat ini.


"Itu sebabnya jangan sekalipun menggunakan trik murahan pada seekor srigala pemburu," Ucap Vander yang langsung tersenyum jumawa di depan Karina.


"Sial!" Karina tidak terima ini semua. Ia pun langsung menyuruh anak buahnya menembak Lara. Sadar akan dilukai, sebelum ditodong pistol Lara pun lebih dulu menggigit tangan anak buah Karina itu hingga kesakitan dan menjatuhkan pistolnya.


"Dasar wanita sialan!" Pria itu bermaksud mencekik Lara, untungnya Vander dengan cepat datang menendang pria itu sekeras mungkin dan melepaskan ikatan Lara.


"Kau tidak apa-apa?" Ucap Vander yang kemudian langsung memeluk istrinya itu dengan sangat erat.


"Vander...?" Lara tercengang melihat suaminya seerat itu memeluknya.


"Kau tau, aku tadi itu takut sekali tidak bisa menyelamatkanmu," ungkap Vander ketakutan.


"Aku sudah baik-baik saja karena kau menyelamatkanku."


Melihat para anak buahnya sudah diborgol, Karina pun merasa terjebak. Ia pun mencoba untuk melarikan diri, namun siapa sangka ia malah dihadang oleh Gavin dan Miranda.


"Mau kemana kau betina licik?" Pungkas Gavin.


"Coba saja kabur, tapi ingat diluar sana sudah banyak wartawan yang siap mengambil fotomu dan merundungmu dengan banyak pertanyaan," imbuh Karina.


"Sialan kalian semua!" Maki Karina.


Lara yang sudah bebas pun menghampiri Karina dan langsung menamparnya dengan keras.


"Itu untuk balasan karena kau sudah berani menamparku!"


PLAK! Tampar Lara sekali lagi. "Dan itu untuk dirimu yang sudah dengan tidak tau malu meminta suamiku menciumu!"


Lara meminta polisi menangkap Karina. "Polisi silakan bawa Nona Karina Foster, bagaimanapun wanita jahat ini dan orang-orangnya harus mendapatkan hukuman yang setimpal!" Ucap Lara murka.


"Nona Karina Foster kami menangkap anda atas kasus penculikan berencana!"


"Lara beraninya kau! Tidak lepaskan aku! Aku tidak mau masuk penjara! Lepaskan aku!"


Polisi akhirnya mengamankan Karina beserta anak buahnya. Mereka semua dibawa pihak kepolisian untuk di bawa ke kantor dan diperiksa.


"Sukurlah kau selamat!" Ungkap Miranda bersyukur melihat Lara baik-baik saja.


"Ya, terima kasih ini semua berkat kalian," ungkap Lara.


"Sebenarnya ini semua rencana suamimu," ungkap Miranda.


"Benarkah?" Lara terkesan bangga.


"Kak Vander memberitahu agar aku dan Miranda melacaknya saat ke tempat ini. Dan beruntungnya si Karina itu agak bodoh, karena hanya pakai bodyguard biasa yang menjaga pintu luar. Alhasil aku dan Miranda bisa menyusup dengan berpura-pura menjadi pengantar makanan yang tersesat. Dan saat itu kami sudah bekerjasama dengan tim kepolisian sehingga polisi bisa dengan mudah langsung ke TKP."


"Untungnya semua tepat waktu kalau tidak aku sudah jadi janda sekarang," sindir Lara.


"Janda?" Mira dan Gavin bingung.


"Hei! Kenapa bicara begitu?" Vander tak terima.

__ADS_1


"Karina tadi memberi syarat pada Vander, kalau ingin aku selamat ia harus menceraikanku," jelas Lara.


"Tapi kau seharusnya tau, aku tidak akan pernah melakukan itu!"


"Siapa yang tahu? Buktinya tadi saja kau mau disuruh mencium Karina, pasti kalau polisi tidak segera datang kau sudah..."


"Gadis bodoh," Van menyentil kening Lara.


"Owh sakit!"


"Kau pikir suamimu ini bodoh, aku hampir mati karena takut kelihanganmu malah kau berpikir begitu. Lagipula kalaupun polisi tidak datang, aku tetap tidak akan menceraikanmu! Jadi jangan pernah kau meragukan cinta suamimu ini!" ucap Vander serius.


"Iya iya, maaf...," ucap Lara menyesal. "Eh iya, tapi kenapa di luar ada banyak awak media juga ya?" Tanya Lara melihat ada kerumunan media.


"Um— kalau itu aku yang bawa hehe..." Gavin tertawa malu.


"Aku sengaja minta media datang, soalnya sayang kalau video penangkapan wanita jahat itu tidak viral di media sosial. Aku kan senang melihat dia dihujat netizen," pungkas Gavin.


"Ya, tapi tetap saja bagiku yang terpenting adalah, Karina sudah ditangkap dan akan segera diberi hukuman. Setidaknya sementara waktu dia tidak akan bisa lagi mengganggu hidupku," ucap Lara.


"Tuan, kami sudah amankan Nona Karina berserta anak buahnya. Untuk proses selanjutnya kemungkinan kami akan minta kalian terutama anda Nona Hazel untuk dimintai keterangan," ucap polisi menghampiri.


Lara mengangguk paham. "Tentu pak polisi, aku siap kapanpun diminta datang memberi keterangan."


"Kalau begitu kami dari kepolisian minta izin agar kalian segera meninggalkan tempat ini, karena akan segera dipasang police line."


"Baiklah sepertinya kita memang sudah harus pergi sekarang!" Ajak Miranda.


***


"Karina apa dia sudah gila! Pantas saja dia tidak mau mengatakan rencananya tadi padaku, jadi rencananya itu menculik Lara!" Jeden yang merasa khawatir dengan Lara pun mencoba menghubungi gadis itu namun sayang ponsel Lara tidak aktif.


"Sial! Aku harus memastikan kalau Lara baik-baik saja sekarang!" Jeden yang merasa khawatir pun memutuskan untuk pergi dan menemui Lara secara langsung.


***


Di apartemen setelah selesai bersih-bersih Vander membuatkan teh kamomil kesukaan istrinya yang kini sedang duduk si sofa ruang utama.


"Kau minumlah ini agar lebih tenang," ucap Vander memberikan secangkir teh buatannya itu untuk sang istri.


"Terima kasih." Lara meminum teh itu.


"Bagaimana? Kau masih ketakutan?"


"Jujur, karena sudah sering berhadapan dengan penjahat, ditangkap penjahat beberapa kali, dan berkali-kali dihadang penjahat, aku rasanya jadi agak terbiasa dengan ini semua," ungkap Lara.


"Kau tidak takut?"


"Takut pasti ada, hanya saja jadi merasa terbiasa dengan hal macam itu."


"Bagitu ya?" Vander ingin mencium Lara namun Lara malah menghalaunya dengan telapak tangannya.


"Apa kau sudah menggosok gigimu dan mencuci bibirmu dengan pembersih?" ucap Lara.

__ADS_1


"Aku sudah lakukan berkali-kali seperti perintahmu sayang," pungkas Vander pasrah tidak tau lagi harus apa melihat istrinya yang masih kesal mengingat dirinya mencium pipi Karina tadi. "Lagipula aku kan hanya mencium pipinya, itu juga karena terpaksa kenaoa marahmu lama sekali? Ayolah Lara kumohon jangan ngambek lagi..." Dengan tatapa memelas Vander memohon maaf didepan istrinya.


Ya ampun kenapa sih, dia malah manampakan wajah polos imut begitu didepanku? Aku kan tidak bisa marah jadinya. Lagipula kalau dipikir lagi hal itu memang tidak sepenuhnya salah Vander.


Lara menghela nafas. "Hem, baiklah aku maafkan kali ini!"


"Wah terima kasih istriku..!" Vander kegirangan dan langsung memeluk istrinya itu.


"Kalau begitu Lara istriku mau aku lakukan apa, supaya kau senang? Aku janji akan lakukan apapun," pungkas Vander berusaha mengambil hati Lara lagi-lagi dengan memasang tampang polosnya.


Dia ini kalau marah gahar sekali, tapi kenapa kadang bisa jadi semanis dan sepolos ini tatapannya kalau sedang membujuku?


"Aku mau dipijat karena aku lelah," ucap Lara.


"Baik tuan putri hamba akan memijat anda."


Vander lalu memijat Lara mulai dari kakinya. "Kaki istriku cantik sekali, dan baunya juga harum," puji pria itu lalu menciumnya.


"Hei aku minta kau memijatnya bukan menciumnya!"


Vander memiringkan kepalanya dan menatap bak anak anjing malang."Memang aku masih tidak boleh menciumu ya?"


"Kau ini kenapa sih malah menampakan wajah polos tak berdosa begitu, sengaja ya?" gumam Lara yang tidak bisa menolak Vander kalau sudah mode menggemasakan seperti saat ini.


"Jadi aku tidak boleh cium?" Vander memelas lagi.


Dengan malu-malu Lara menjawab, "Ten- tentu saja boleh, semua yang ada di diriku boleh disentuh dan dicium oleh suamiku, hanya saja—"


Belum selesai Lara bicara Vander sudah langsung kegirangan dan menerkam istrinya.


"Vander kau licik kau pura-pura memelas kan tadi!"


"Siapa peduli, yang pasti kau sudah bilang boleh!" Vander langsung mencium lembut tiap bagian tubuh istrinya dengan perlahan.


"Aku suka bau tubuh istriku, baunya harum, manis, dan segar. Aku benar-benar menyukaimu semua yang ada pada dirimu Lara," ungkap Vander.


"Dibanding semua wanita dimasa lalumu?"


"Siapa peduli dengan masa lalu, aku hanya suka dan peduli tetang istriku!"


Vander lalu menarik tubuh Lara kedalam pelukannya. Tangannya yang lihai mulai melepaskan ikatan tipis pada gaun tidur istrinya yang terikat di lehenya yang jenjang. Sayangnya saat gaun tidur itu akhirnya sudah terlepas, tiba-tiba saja bel apartemen mereka malah berbunyi.


"Terkutuklah tamu yang datang!" Maki Vander yang kesal bukan main karena aktivitasnya diganggu.


Sementara Lara malah tertawa kecil dan menyuruh Vander agar membukanya.


"Tidak bisakah kita pura-pura tidak tau dan melanjutkan kegiatan kita?" ucap Vander.


"Tidak sayang, kau harus buka pintunya dulu bisa jadi itu tamu penting," jelas Lara membujuk suaminya. Meski jengkel Vander pun pada akhirnya bangkit, pria yang hanya mengenakan celana dan bertelanjang dada itu pun membuka pintu.


Vander pun lansung memicingkan matanya melihat sosok yang kini datang ke apartemennya.


"Kau?"

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜


__ADS_2