
Di salah satu bar pusat kota, Eiji yang tengah berada disana tampak duduk di depan meja bar sambil menghabiskan minuman hingga bergelas-gelas. Pria yang hampir mabuk itu tampak seolah tak punya semangat hidup, disana ia hanya terus minum sambil sesekali tertawa sedih mengigat Lara.
"Kenapa kau tega sekali padaku Lara...?" Ucapnya lalu minta tambah minum lagi. Untuk pertama kalinya, Eiji merasakan patah hati yang sedalam ini. Hal itu terlihat jelas, mengingat Eiji yang jarang sekali minum banyak tiba-tiba jadi minum banyak sekali.
Saat ia hampir mabuk, seketika seorang wanita dengan pakaian sangat terbuka menghampirinya lalu menggodanya. Eiji yang hampir setengah mabuk pun menatap kedua wanita itu sambil tertawa.
"Kau siapa? Mau mengajakku berkencan?" Ucapnya dengan nada menyeret dan tubuh terhuyung.
Seolah diberi peluang, tentu saja wanita itu langsung beraksi menggoda sang pria. Eiji yang mengira dilihatannya adalah Lara pun langsung bergelendot manja dipundak wanita itu dan berceloteh tak karuan.
"Lara aku mencintaimu... Tapi kenapa kau malah memilih pria itu?"
"Lara siapa? Kau sedang patah hati ya tuan, tenang saja akan aku temani dirimu malam," ucap si wanita itu sambil menggoda dan membelai wajah Eiji
Namun sayangnya hal itu tak berlangsung lama, seketika Eiji yang menyium aroma parfum tajam wanita itu malah langsung sadar kalau dua wanita itu bukanlah Lara yang ia cintai. Dan EijiΒ yang setengah mabuk pun langsung mendorong wanita itu laly mengejeknya. "Kau siapa? Kau itu bukan Laraku, Laraku tidak mungkin datang ke tempat ini! Diaβ dia pasti sedang bersama si pria brengsek itu..."
Tidak terima di dorong, wanita itu pun berbalik marah pada Eiji dan terjadilah cekcok diantara keduanya. Eiji yang setengah sadar tentu saja malah bicara ngelantur sambil memaki wanita itu.
Sementara itu Gavin yang baru saja masuk ke bar melihat ribut-ribut disana pun langsung menghampirinya.
"Eh- itukan Eiji Hartman yang tinggal disebelah rumahku? Ada apa dia ribut begitu?"
Melihat Eiji yang saat itu sedang mabuk, Gavin yang takut terjadi sesuatu yang makin fatal pun akhirnya melerai dan membawa Eiji menyingkir.
"Semuanya maaf ini temanku, maaf ya..." Gavin langsung membawa Eiji keluar dan memberikannya sebotol air lemon untuk meredakan pengaruh alkoholnya.
Kedua pria itu duduk berdampingan di kursi umum yang ada di dekat area itu.
"Hei, kau ini kenapa?" Tandas Gavin langsung penasaran dengan apa yang terjadi pada Eiji.
Pria itu malah tertawa dan bertanya balik, "Kau pernah patah hati tidak?"
"Huh? Patah Hati?" Gavin terheran-heran dengan pertanyaan pria itu. "Kau itu kenapa sih!"
"Kau tahu rasanya luka perih habis disayat-sayat, lalu ditaburi garam? Ya, seperti itu rasanya hatiku saat ini," ucapnya terdengar pilu.
"Jadi kau sedang patah hati?" Gavin menghela nafas, sungguh dirinya tidak menyangka Eiji jadi seperti saat ini karena patah hati. Tapi tunggu, apa mungkin dia patah hati karena kak Lara? Aku jadi penasaran.
"Hei tuan Eiji, apa kau patah hati karena kak Lara?"
Lagi-lagi pria disebelah Gavin tertawa miris. "Ternyata kau tahu. Aku jadi malu sekali rasanya, ditambah kau itu kanβ" Eiji tak menyelesaikan perkataannya. "Sudahlah, lagipula itu bukan urusanmu. Oh ya terima kasih atas bantuanmu hari ini." Eiji bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Eh kau mau kemana?" Tanya Gavin.
"Pulang."
"Tapi kan kau masih mabuk?"
"Aku sudah lebih baik, berkat air lemon yang kau berikan.'
"Ba- baiklah jika kau merasa begitu." Gavin tak bisa memaksanya.
"Kalau begitu aku duluan tuan Gavin, permisi..." Tandas Eiji lalu melenggang pergi meninggalkan Gavin.
"Huft, pria yang malang. Padahal dia tampan dan mapan juga, sayangnya saingannya adalah kak Vander ya mana ada kesempatan," ucap Gavin.
...πππ...
Hari itu di kedai Miracle, tampak Lara yang sedang mampir untuk sekedar mengisi istirahat sianganya. Disana ia terlihat mengobrol cukup intens dengan sahabatnya Miranda membicarakan tentang dirinya yang ingin memberikan kejutan ulang tahun, untuk sang suami yang sebentar lagi akan berulang tahun.
"Jadi kau ingin beri suami kaya rayamu itu hadiah apa?"
"Justru itu aku ingin tanyakan padamu. Enaknya diberi apa ya? Tidak mungkin aku hadiahkan mobil, dia mobilnya kan sudah banyak."
"Hobi suamiku itu mengoleksi hal-hal berbahaya. Seperti senjata, pedang, yang begitu-begitu."
"Ehβ hobinya seram juga ya," celetuk Mira ngeri mendengarnya. "Oh atau kau hadiahkan saja benda yang tidak perlu mahal tapi akan sangat berguna. Misalnya syal yang kau rajut sendiri mungkin?"
"Ah iya, kau benar Miranda! Kebetulan sudah musim gugur dan sebentar lagi musim dingin, pasti akan sangat berguna sekali... Terima kasih sarannya Miranda kau terbaik," ujar merasa Lara senang.
"Sama-sama," Miranda lalu seketika bengong terdiam. Lara yang menyadari hal itu pun spontan bertanya ada apa sebenarnya dipikirkan sahabatanya itu.
"Tidak, aku hanya kepikiran tentang yang dibilang dokter kandungan waktu itu saat di rumah sakit."
"Eh, memang apa yang dokter kandungan itu katakan padamu?"
Miranda cerita kalau saat ia berkunjung ke dokter kandungan, dokter mengatakan kalau Miranda akan sedikit sulit hamil kalau terlalu banyak kerja dan kelelahan. Mengingat dirinya saat ini hampir setiap hari bekerja di kedai kopi miliknya sebagai manajer.
"Dokter bilang kalau aku mau cepat hamil aku harus mengurangi aktifitasku. Tapi masalahnya aku ini manajer, dan aku suka pekerjaanku," ungkap Miranda bingung.
"Miranda, kalau menurutku kau harus tau mana prioritasmu saat ini. Kalau kau memang ingin sekali punya anak, maka aku rasa tidak masalah kalau harus sedikit mengurangi waktu kerjamu."
"Iya sih, tapi Lara aku sungguh suka bekerja dan ingin hamil..."
__ADS_1
"Lebih baik kau bicarakan hal itu dengan Gavin secara serius, supaya kalian sama-sama menemukan solusinya."
"Begitu ya? Baiklah aku nanti akan bicarakan dengan Gavin dulu."
Lara seketika melihat ke arah jam di kedai, ternyata waktu istirahatnya sudah mau selesai. Ia pun terpaksa harus segera kembali ke Lavioletta. "Yasudah kalau begitu Mira, aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih atas saran kadonya."
"Tentu."
"Bye Miranda."
"Bye."
...----------------...
Lara kemudian meninggalkan kedai. Namun saat ia menunggu dijemput oleh Tori, tiba-tiba saja Tori meneleponya dan mengatakan, kalau ada kendala di mesin mobilnya saat itu, sehingga mau tak mau Lara pun harus kembali ke Lavioletta naik taksi.
Beruntungnya saat Lara tengah menunggu taksi datang, muncul mobil Eiji yang kemudian berhenti di depannya.
"Lara kau sedang apa disini?" Ujar pria itu lewat kaca jendelanya yang sudah terbuka.
"Aku sedang menunggu taksi, aku mau ke Lavioletta."
"Yasudah biar aku antar saja."
"Benarkah? Ah baiklah kalau begitu." Tanpa pikir panjang, Lara pun langsung menerima tawaran temannya itu dan masuk ke dalam mobil Eiji.
Di perjalanan, Lara tampak baik-baik saja dan ceria seperti biasanya. Berbeda halnya dengan Eiji yang justru nampak penuh tekanan dan pertanyaan. Dirinya yang waktu itu sempat melihat Lara berciuman dengan Vander membuat pria itu ingin sekali bertanya pada Lara, apa sebenarnya status hubungannya dengan Vander saat ini?
Dan dengan segala keberaniannya, Eiji pun memutuskan untuk bertanya saat itu juga.
"Umβ Lara bolehkah aku tanya apa sebβ Lara ka- kau kenapa?" Tiba-tiba Eiji panik melihat Lara tiba-tiba saja nampak pucat dan memegangi kepalanya.
"Kak Eiji tiba-tiba aku pusing sekali..." Keluhnya.
"Yasudah kita ke rumah sakit, oke!" Eiji yang khawatir pun akhirnya langsung menuju ke rumah sakit, dan lupa dengan tujuannya.
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
OH IYA SELAMAT TAHUN BARU YA SEMUA...
__ADS_1