Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Identitas


__ADS_3

Pagi-pagi, Dominic yang sudah sejak kemarin tiba di ZR datang ke Laizen tower menemui Vander di ruangannya. Vander memang sudah membuat janji pertemuan dengan Dominic hari ini. Jadi melihat pria itu langsung menyelonong masuk ke ruangannya, dia sudah tidak kaget lagi.


"Bos jangan marah ya kalau aku langsung masuk ke ruanganmu," ujar Dominic setibanya di ruangan Vander.


Vander tak menanggapi dan langsung tanya ke intinya. "Jadi info apa yang akan kau bicaran dokter Dominic?"


"Kau yakin kita bicara disini?"


Vander lalu mengajak Dominic untuk bicara di atas rooftop sekalian dia mau merokok.


"Jadi ada apa?" Tanya Vander sambil menyalakan rokok dimulutnya.


"Van, kau pasti sudah tau kan dalang dibalikΒ  hilangnya orang-orang secara misterius di kota ini?"


"Iya aku sudah tahu.".


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Gauren melakukan ini secara terang-terangan untuk membuatku kelimpungan. Oleh karena itu, saat ini yang aku fokuskan adalah mencari tahu dimana markasnya berada."


"Kau sudah menemukannya?"


"Lokasi pastinya belum ketemu, tapi yang jelas ada di wilayah ujung barat daya kota ini. Bagaimana pun info tentang Gauren sangat terbatas, mengingat ia orang yang tahu betul bagaimana cara bersembunyi selama bertahun-tahun."


"Kau bisa suruh anak buahmu di Crux untuk mengintai di seluruh kota."


"Sudah, tapi seperti yang kubilang, Gauren bukan orang bodoh. Dia tahu cara berkamuflase dengan baik." Vander menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Vander, aku rasa kita harus buat penawar untuk serum Gauren. Karena aku yakin, orang-orang yang hilang serta kelompok misterius yang menyerang aparat itu adalah orang-orang dibawah kendali dan perintah pria tua itu."


"Jika itu baik, lakukan. Aku akan danai semuanya," ucap Vander meyakinkan.


"Baik kalau kau setuju. Laboratoriumku berpusat di timur laut kota ZR, aku akan ada disana untuk fokus memproduksi serum penangkalnya."


Kita lihat, siapa yang akan mengalahkan siapa? Aku, atau si tua bangka itu!?


...🍁🍁🍁...


Di kedai kopinya, Miranda sejak tadi terlihat terus menerus menatap Reki yang saat itu duduk di sudut dekat pintu keluar. Gavin yang kebetulan sedang ada di kedai membantu istrinya pun menyadari hal itu, segera ia langsung menghampiri sang istri dan bertanya kenapa ia terus menatap pria itu dengan nada cemburu.


"Sttt!" Mira menyuruh suaminya diam.


"Kenapa malah suruh diam, kenapa? Kau jatuh cinta dengan pria itu? Apa karena dia tampan?"


"Gavin kau bisa diam sebentar tidak sih! Kau tahu kan pria itu siapa?"


"Tahu, dia Reki Helian pria yang lumayan sering datang ke kedai ini dan dia tinggal di Caelestis Garden."


"Bukan itu maksudku, sebenarnya..." dengan suara pelan Miranda menjelaskan ke suaminya kalau akhir-akhir ini ia merasa curiga dengan pria itu. Beberapa kali Mira pernah memergoki Reki sedang menelepon seseorang dengan menyebut nama Lara. Dan saat Mira coba tanya, pria itu malah langsung menghindar.


"Wah kalau benar begitu, aku harus segera memberitahu kak Vander."


"Ya, aku rasa kau harus segera memberitahunya."


Gavin pun segera menelepon kakak angkatnya tersebut untuk memberitahu soal Reki.


...🍁🍁🍁...


Di sebuah toko buku di pusat kota, saat tengah mencari buku tentang medis tak sengaja Dominic bertemu dengan Rena yang juga saat itu tengah mencari buku yang sama. Menyadari kalau Dominic melihatnya, wanita itu pun langsung segera melarikan diri. Namun oleh Dominic langsung dikejar dan ditariknya lengan dokter wanita itu.


"Lepasakan aku!" Seru Rena berusaha melepaskan diri dari pria itu.


"Tidak, kita harus bicara Rena."


"Bicara apa? Hubungan kita sudah selesai sejak hari dimana kau mencampakanku!"


"Oke aku minta maaf soal itu, tapi kau harus dengar penjelasanku Rena..."


"Aku tidak butuh penjelasan darimu, lepaskan aku atau aku teriak?"

__ADS_1


Tidak mau membuat keributan Dominic akhirnya menyerah dan melepaskan wanita itu. Namun saat Rena keluar dari toko buku, Dominic langsung mengejarnya lagi.


"Rena tunggu dulu!"


"Apalagi? Antara kau dan aku sudah tidak ada hubungan lagi, jadi jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Urus saja penelitianmu sana!" Rena marah dan terlihat menunjukan rasa kecewanya pada mantan tunangannya itu.


"Rena tunggu dulu!"


"Lepas!" Rena menarik tangannya dari cengkraman Dominic. "Kau sudah meninggalkan, untuk apa lagi menjelaskan! Semua sudah selesai Dom!" Ucap Rena dengan nada penuh kekecewaan.


"Aku minta maaf tentang kejadian sepuluh tahun lalu. Aku memang brengsek, aku salah meninggalkanmu dan aku tidak tahu saat itu kau sedang mengandung anak kita."


"Sudahlah, aku tak mau ingat itu lagi. Pergilah..." Rena melangkah pergi dengan perasaan sedih.


"Rena... kau bekerjasama dengan Gauren?"


Rena tersentak kaget. "Bukan urusanmu!"


"Itu urusanku karena Gauren itu jahat, kau seharusnya tak membantunya."


Rena memilih tetap melangkah pergi.


"Jadi kau sudah berubah, janjimu sebagai dokter untuk menyembuhkan orang malah sebaliknya? Iya Rena?"


Rena mengepalkan tangannya lalu menarik kerah baju Lara. "Apa pedulimu, kenapa tiba-tiba peduli? Bukankah semua penelitianmu lebih penting dari apapun?!"


Dominic memeluk erat Rena yang malah menangis dipelukannya sambil mengungkapan kekecewaannya pada sang mantan tunangan.


"Aku minta maaf Rena, aku minta maaf... tapi kumohon jangan berjalan di atas jurang hitam bersama Gauren..."


...🍁🍁🍁...


Robert datang menemui tuannya di ruangannya, disana pria baruh baya itu melaporkan tentang penyelidikannya tentang Reki Helian.


"Jadi kau menemukan kejanggalan pada catatan riwayat hidup Reki?"


"Iya tuan." Robert memberitahu kalau ia menemukan kejanggalan pada riwayat kelahiran Reki, dimana jika di runut dari tanggal lahir identitasnya saat ini, sama sekali pada bulan dan tahun itu tak ada catatannya kelahiran atas nama Reki Helian, bahkan di catatan kewarganergaraan ganda pun tak ada.


"Tuan, menurut anda siapa Reki sebenarnya?"


"Aku masih tidak tahu, tapi jika dia bekerja untuk Gauren sudah pasti dia adalah orang yang berbahaya." Tadi Gavin juga meneleponnya dan memberitahukan kalau Reki kepergok menelepon seseorang sambil menyebut nama Lara sebagai wanitanya. Apa mungkin dia kenal Lara? Tunggu, apa mungkin?


"Tuan Vander?"


"Oh Robert, kalau begitu kau silakan pergi dan terus selidiki Reki. Jagan lupa terus pantau gerak geriknya, karena aku yakin sekali dia sangat berbahaya."


"Baik tuan, kalau begitu aku permisi."


Selang beberapa menti setelah kepergian Robert dari ruangannya, Vander mendapati telepon dari Dominic.


Vander : Halo?


Dominic : Vander, aku sudah tahu dimana markas Gauren saat ini berada.


Vander : Dimana?


Dominic : Barat daya kota ZR di ruang bawah tanah yang tersembuyi dekat pangkalan kapal tua.


Vander : Baik!


Vander pun langsung menelepon Gavin dan memintanya untuk segera mengintai daerah yang disinyalir markas Gauren saat ini berada.


"Ini semakin jelas. Sepertinya memang sudah tak bisa lagi bersantai. Sudah saatnya aku juga harus mengerahkan semua anak buahku dan bekerja sama dengan aparat sipil."


...🍁🍁🍁...


Di ruang santai, Lara yang saat itu ditemani Miranda tampak sedang asyik mengobrol sambil menikmati cemilan. Namun seketika obrolan mereka terhenti tatkala muncul breaking newsz, yang lagi-lagi memberitakan tentang kasus hilang orang-orang secara misterius yang kini rawan terjadi di kota ZR. Bahkan berita itu kini mulai jadi topik nasional dan beberapa media internasional pun ikut menyoroti. "Ya Tuhan, padahal sudah mau sebulan, tapiΒ  kasus ini bukannya semakin reda malah semakin parah," komentar Lara yang tampak semakin khawatir dibuatnya.


"Aku juga heran, dibuatnya. Bahkan beberapa yang hilang itu termasuk orang tedekat walikota. Ini sungguh gila! Parahnya lagi, aparat saja yang berjaga malam ikut jadi sasaran tembak mereka. Bagaimana mungkin kota terbesar dan termaju di negara ini lama sekali menangani kasus ini. Sungguh meresahkan masyarakat saja!" Ujar Miranda yang juga ikut cemas, mengingat kedainya berada di titik pusat wilayah rawan kejadian.

__ADS_1


"Miranda kau harus hati-hati saat berkendara sendiri. Atau kau minta jemput Gavin saja pulang dari sini," ungkap Lara tidak mau terjadi hal buruk pada temannya itu.


"Kau tenang saja aku akan berhati-hati. Justru kau yang juga harus hati-hati, kau itu istrinya Vander yang terkenal bisa jadi..."


"Mira kau jangan menakutiku!" Seru Lara panik.


"Iya maaf, maaf..."


Tak lama Rey pun pulang dari kursus renangnya. "Aku pulang..." Pria kecil itu langsung lepas sepatu dan menghampiri mamanya yang ada di ruang keluarga.


"Mama..., eh da bibi Miranda juga."


"Halo anak tampan."


"Halo bibi Mira yang cantik."


"Rey, cepat cuci tanganmu dulu, lalu istirahatlah setelah itu lekas mandi."


"Siap mam," ujar pria kecil itu menurut dan langsung bergegas melakukan apa yang diperintahkan mamanya.


"Anakmu semakin besar semakin tampan saja. Dia agak mirip mirip Vander, tapi rambutnya mirip dirimu, aku harap aku juga punya yang seperti Rey satu," ucap Miranda yang terlihat mengusap perutnya sendiri sambil agak senyum penuh arti. Melihat senyum Mira begitu Lara jadi curiga pada temannya tersebut.


"Mira jujur padaku, kau hamil ya?" Tebak Lara melihat gelagat Mira yang seperti orang hamil pertama kali. "Mira katakan iya tidak?" Desaknya


Dengan malu-malu Miranda menjawab, "Umβ€” sebenarnya aku sudah test pakai alat dan hasilnya positif dan dua hari lalu aku diam-diam periksa ke dokter kandungan. Dan benar aku hamil jalan tujuh minggu."


"What? Kau serius? Ya Tuhan Miranda... Aku senang sekali mendengarnya. Selamat ya... Oh iya bagaimana reaksi Gavin saat tau kau hamil?"


Miranda ternyata belum cerita ke Gavin, ia berniat ingin memberitahunya minggu depan tepat di hari perayaan pernikahan mereka yang pertama.


"Aku yakin Gavin pasti senang sekali mengetahui akan jadi ayah."


"Iya aku rasa juga begitu." Melihat ke arah jam digital dimeja yang sudah sangat sore, Miranda pun izin pamit pulang pada Lara.


"Kau sudah mau pulang?"


"Iya, Gavin pasti juga sudah mau pulang dari bengkelnya. Aku pamit ya, sampaikan salamku untuk suami dan anakmu."


"Umβ€” Mira tunggu, aku rasa lebih baik kau diantar Tori saja pulangnya."


"Eh aku bawa mobil sendiri, untuk apa minta Tori antar?"


"Melihat berita tadi aku takut terjadi sesuatu padamu, ditambah kau sedang hamil. Jadi biar Tori mengantarmu ya, atau biar Tori mengawalmu sampai rumah."


Yang dikatakan Lara ada benarnya juga, "Yasudah aku mau dikawal Tori."


"Baiklah aku akan segera suruh Tori." Lara memanggil Tori yang kebetulan saat ini sedang ada di dapurnya makan cemilan.


"Iya nyonya ada apa memanggilku?"


"Tori, aku minta tolong kau kawal Miranda sampai rumah oke?"


"Tapi disini tidak ada yang mengawal, kata tuan Vander aku harus selalu menjaga nyonya dan tuan kecil."


"Hanya sebentar saja kok, lagipula aku tidak kemana-mana."


Tori agak ragu, tapi mau bagaimana lagi Lara terus memaksanya. "Baiklah aku akan antar nona Mira sebentar, nyonya kumohon jangan kemana-mana sendirian ya..."


"Iya, sudah sana pergi kawal Mira."


"Lara aku pulang dulu, kau jaga dirimu dan anak dikandungamu."


"Kau juga."


"Sudah ya bye..."


"Bye Miranda."


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2