
Di tempat lain Rey dan Mira yang kini berada di vila milik Vander di kota ZR tampak sedang berada di ruang tengah. Keduanya terlihat tenang meski aslinya sama-sama sedang mengkhawatirkan keluarga mereka. Melihat hal itu, Robert yang di tugaskan Vander untuk menjaga mereka pun membawakan secangkir coklat hangat untuk mereka berdua.
"Nona Miranda, dan Tuan kecil silakan minum coklat hangat ini dulu agar kalian lebih rileks." Robert meletakan nampan berisi coklat itu atas meja yang ada di depanΒ mereka.
"Terima kasih Robert." Miranda mengambil cangkir berisi coklat panas lalu meminumnya. Sebaliknya Rey saat itu tidak menjawab apapun, pria kecil itu hanya diam dan tak menyentuh coklatnya sama sekali. Tatapan matanya juga sendu, sepertinya ia benar-benar sedang merasa sedih dan kalut saat ini.
"Tuan kecil kenapa tidak minum coklatnya? Apa kau ingin aku buatkan minuman lain?" Tanya Robert.
"Tidak paman, akuβ aku tidak ingin minum atau apapun. Saat ini aku hanya ingin melihat mamaku... Aku rindu padanya, apa dia sudah makan? Apa dia baik-baik saja?Β Sudah seminggu lebih aku tak melihatnya, aku rindu sekali padanya..." Rey merengek merindukan mamanya. Tentu saja itu bukan hal yang aneh, karena meskipun Rey anak yang kuat dan jarang sekali menangis, tapi sejatinya tetap saja dia hanyalah seorang anak kecil berusia empat tahun yang masih butuh sekali belaian ibunya.
Miranda yang sedikit banyak tahu perasaan Rey saat ini pun mencoba menenangkannya. Ia memeluk pria kecil itu lalu mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan Lara pasti akan segera ditemukan dan kembali pada kita.
"Kau percaya pada papamu kan?"
"Iya bibi, aku percaya padanya..."
"Kalau begitu jangan menangis, dan mari kita tunggu mereka kembali menjemput kita disini."
"Bibi tidak khawatir dengan paman Gavin?"
Dengan senyum dan suara tenang Miranda menjawab, "Tentu saja khawatir, mana ada istri yang tidak cemas mengetahui suaminya sedang berjuang. Tapi yang bisa aku lakukan sebagai istri saat ini hanyalah mendoakan dan percaya padanya." Miranda mengusap perutnya. "Karena janin diperutku ini juga pasti rindu papanya."
Rey agak terkejut mengetahui kalau ternyata bibi Mirandanya itu juga tengah hamil. Rey lalu memegang perut Mira dan seraya berkata kepada janin diperut Mira, "Hei adik kecil, aku juga menunggu papa dan adikku yang ada di perut mama. Kalau begitu mari sama-sama kita menunggu mereka pulang dengan sabar oke!"
"Kakak Rey memang anak hebat, terima kasih semangatnya," ucap Miranda seraya bangga.
Melihat tuan kecilnya sudah lebih baik, Robert pun sedikit lebih lega. Dan sisanya ia percaya kalau tuannya pasti bisa menyelesaikan semua kekacauan ini dan membawa nyonya Lara pulang bersamanya.
...πππ...
Di labnya Dominic akhirnya bisa mengerjakan serum penangkal dengan lebih cepat, setelah Gavin berhasil membawakan rancun buatan Gauren yang ia curi dari labnya. Ia pun berterima kasih pada Gavin yang saat ini tengah diobati lukanya oleh Rena.
"Dokter, kapan sekiranya serum penangkalmu bisa besar-besaran di produksi? Karena aku sungguh kasihan pada orang-orang yang jadi kelinci percobaan sinting pak tua Gauren," ungkap Gavin.
"Mungkin tiga atau paling lama lima hari, semua tergantung keadaan."
"Lalu orang-orang korban penculikan yang dievakuasi dari laboratoriumnya Gauren, bagaimana mereka sekarang?" Gavin ingin tahu persis keadaan orang-orang tersebut.
"Mereka sudah baik-baik saja, para aparat kepolisian sungguh membantu pekerjaanku."
Mereka yang hanya diculik dan belum disutikan obat oleh Gauren, sejatinya hanya perlu melakukan pemeriksaan berkala, dan jika tubuh mereka dinyatakan baik-baik saja, mereka akan diantarkan langsung oleh aparet polisi kembali ke keluarga mereka.
"Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana dengan manusia-manusia zombie ciptaan Gauren lain?" Tanya Gavin lagi.
__ADS_1
"Mereka sudah dimasukan ke ruang isolasi, dan saat ini masih dalam pengaruh gas tidur. Setelah sadar nanti aku dan timku akan segera menyembuhkan mereka dengan serum buatanku."
"Ehem, aku sudah selesai mengobati luka diwajahmu," ucap Rena yang akhirnya buka suara.
"Wah terima kasih ya dokter, kauβ pacarnya dokter Dominic kan? Akhirnya kau kembali ke jalan yang benar dan tak membantu Gauren lagi."
"Dia bukan pacarku, tapi aku akan jadikan dia istriku segera," sahut Dominic.
"Bicara apa kau dasar dokter tukang tipu, sudah lebih baik fokus kerjakan serum ini, waktu kita terbatas," omel Rena.
"Iya- iya..."
Gavin tertawa kecil, melihat Dominic dan Rena yang beradu mulut seperti ini mengingatkannya pada sang istri yang saat tengah berada dikota lain. Ia menghela nafas panjang, "Andai istriku disini..."
"Huh? Kauβ punya istri? Kukira kau ini masih anak kuliahan," celetuk Rena yang sejak tadi salah mengira.
Dominic tertawa geli. "Rena, wajah Gavin memang imut tapi usianya sudah diatas dua puluh lima, dia sudah menikah dan sebentar lagi dia akan jadi ayah."
"Apa? Wah hebat juga kau, istrimu pasti bangga. Apa istrimu dia seusia denganmu?"
"Istriku sedikit lebih tua dariku, dan ya aku sudah mau jadi ayah. Aku senang sekali!"
Mendengar cerita Gavin, Rena langsung teringat akan janinnya yang keguguran sepuluh tahun lalu. Ia yakin kalau saja saat itu dirinya dan Dominic tidak memutuskan pertunangan mereka, saat ini pasti ia sudah jadi istri dan seorang ibu.
"Dominic sudah lanjutkan kerja kita, jangan buang-buang waktu!" Tandas Rena yang sudah tahu pasti Dominic akan membahas masa lalu mereka.
Menyaksikan bagaimana sikap kedua dokter itu satu sama lain, Gavin yakin mereka pasti punya masalah yang belum selesai dimasa lalu. Semoga aku dan Mira bisa menyelesaikan masalah rumah tangga dengan damai, walau aku yang harus lebih sabar dengan tempramen Mira yang kadang suka meledak-ledak.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Moyes yang bertugas menjaga lab diluar datang dengan tergesa-gesa menemui mereka, ia mengatakan kalau lab akan diserang oleh kelompok bersenjata yang sudah pasti anak buah Gauren.
"Apa?"
...πππ...
Sementara itu, Vander yang masih terus mencari Lara di area sekitar tampak semakin kesal, karena sudah hampir semua sudut semak disekitar ia cari, namun sampai detik ini ia sama sekali tak melihat tanda-tanda Laea berada saat ini.
"Lara kau dimana?!" Vander berteriak memanggil-manggil nama sang istri namun tak juga ada jawaban.
"Apa dia sudah pergi jauh dari sini? Tapi dia sedang hamil apa mungkin bisa melarikan diri secepat itu? Arggh sial! Kenapa aku tidak berguna sekali saat ini!" Vander marah karena terlampau khawatir pada sang istri. Ia sungguh tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jikalau sampai, terjadi hal buruk pada istri dan anak yang ada dikandungan istrinya. "Lara dimana?" Ucapnya dengan nada sedih.
Tiba-tiba saja ponsel Vander berdering, ternyata panggilan dari Gavin.
Vander : Ada apa?
__ADS_1
Gavin : Kak gawat! Lab mau diserang anak buahnya Gauren!
Vander : Lalu bagaimana pertahanan disana?
Gavin : Untuk sementara masih seimbang, tapi kami takut mengingat senjata para anak buah Gauren saat ini lebih canggih.
Vander : Kalau begitu kau segera minta komandan polisi mengirim bantuan lewat udara sebanyak mungkin.
Gavin : Baik kak aku mengerti, dan kak apa kau sudah menemukan kak Lara?
Vander : Belum, sudahlah lakukan apa yang ku perintahkan tadi.
Gavin : I- iya kak!
Vander menghela nafas panjang. "Rasanya separuh kekuatanku seperti lumpuh mengingat kau tak berada disisiku saat ini.
Disaat yang sama tiba-tiba saja Vander mendapat panggilan telepon dari Gauren.
Vander : Halo!
Gaurean : Sekarang juga kita bertemu. Aku sudah kirimkanmu lokasi tempat bertemu.
Vander : Punya rencana apa kau kali ini.
Gauren : Terserah kau berpikir apa, tapi kalau kau ingin tahu kabar istrimu sekarang maka datanglah segera.
Vander : Apa? Lara ada bersamamu?! Halo Gauren!
Tut... Tut...
"Tua bangka busuk! Beraninya dia mengancamku!" Tak ada pilihan lain, Vander pun segera pergi menuju ke lokasi yang diminta Gauren.
...πππ...
Gauren ada di sebuah mansion dekat bukit, disana pria itu terlihat tersenyum tenang mendengar berita bertebaran tentang betapa kacaunya kota ZR saat ini. "Semua sudah sesuai rencana." Gauren berdiri mengambil mantel hitamnya dan memakainya.
"Tuan anda mau kemana?" Tandas seorang pelayan wanita menghampiri Gauren.
"Aku ada urusan penting, tolong kau awasi terus keadaan wanita itu dan pastikan dia hidup dan dapat penangan dengan benar."
"Baik tuan."
...πππ...
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, COMMENT DAN LIKE YA... π