
Hari itu akhirnya Lara dan Eiji bertemu dan makan siang bersama di kafe Oliver. Saat makan siang berlangsung, suasana diantara mereka masih agak sedikit canggung, alhasil mereka berdua hanya diam saja tak mengobrol.
Hal itu pun benar-benar membuat Lara tidak nyaman. Dirinya yang biasanya selalu akrab saat mengobrol dengan Eiji kini malah jadi canggung begini.
Uh... ini sungguh menyebalkan! Ujar Lara dalam pikirannya.
Tidak lama kemudian, akhirnya Eiji membuka topik pembicaraan. Pria itu dengan wajah yang menunjukan rasa gengsi pun tiba-tiba minta maaf kepada Lara soal kejadian tempo hari. Dirinya mengaku salah karena seharusnya tidak berbicara begitu waktu itu. "Jadi Lara, sekali lagi maaafkan aku," ucap Eiji tampak menyesal.
Melihat tampang Eiji begitu, Lara sungguh tidak tega juga rasanya. "Umβ sudahlah kak. Aku juga sudah melupakannya kok, lagipula mungkin waktu itu kau hanya sedang terlalu mengkhawatirkanku saja, makanya bicara begitu. Aku sendiri juga minta maaf karena langsung pergi saja waktu itu."
"Jadi kita sudah baikan kan?" Pungkas Eiji.
"Oh ayolah, aku tidak pernah sungguhan marah padamu. Lagipula kau terlalu baik untuk dijauhi," ungkap Lara yang terlihat sudah tidak terlalu canggung lagi saat ini.
Tapi meskipun hubungan mereka sudah kembali membaik, namun baik Lara maupun Eiji kini sudah tidak bisa selelas dulu mengingat ada tembok pembatas diantara mereka yang tak terlihat, yakni perasaan cinta Eiji kepada Lara yang lebih dari sekedar teman. Tapi meski begitu Eiji cukup bersukur setidaknya hubungannya dengan Lara sudah kembali membaik.
Setelah makan siang, Lara dan Eiji pun tampak sedikit mengobrol di dekat taman parkir sebelum akhirnya mereka berpisah. Saat itu tiba-tiba saja Lara mengatakan kepada Eiji, dirinya minta maaf karena tidak bisa membalas perasaan Eiji melebihi perasaan seorang teman baik.
"Aku sungguh menghargaimu kak, dan aku berhutang banyak hal padamu dihidupku. Tapi untuk perasaan aku tidak bisa, aku sudah terlalu menganggapmu seperti saudaraku sendiri," ucap Lara merasa tidak enak.
Eiji lalu tersenyum kecil dan membelai wajah wanita dihadapannya itu. "Dengar, kau tidak perlu minta maaf. Aku sendiri sadar, yang namanya perasaan manusia memang tidak akan bisa dipaksakan. Jadi jangan merasa bersalah."
"Kau pria yang baik, aku hanya bisa berdoa semoga kau selalu diberkati kebahagiaan."
"Amin." Eiji tiba-tiba saja menarik tubuh Lara dan memeluknya.
Sontak Lara pun jadi syok dibuatnya.
"Kali ini saja, biarkan aku memelukmu. Terserah kau ingin menganggapku apa. Yang jelas izinkan aku tetap mencintaimu meskipun aku tahu kau tidak akan membalasnya."
"Kenapa kau harus sejauh ini Kak...?" lirih Lara yang merasa tak tega dibuatnya.
Sementara itu, di sisi lain area taman parkir nampak sebuah mobil porsche berwana merah, yang mana itu adalah mobil milik Emily yang baru saja terpakir. Di dalam mobil Emily yang menyaksikan Lara sedang dipeluk oleh Eiji pun langsung cepat-cepat menurunkan kaca mobilnya dan mengabadikan momen itu lewat kamera ponselnya.
Tak lama Lara pun segera melepaskan diri dari pelukan Eiji. "Maaf kak, tapi kita tidak bisa begini lama-lama, karena aku takut kalau ada orang yang mengenali kita melihat kita seperti tadi, mereka akan berpikir aneh-aneh."
"Oh iya kau benar, maaf."
"Umβ yasudah, kalau begitu kita pulang yuk! Kebetulan waktu istirahat makan siangnya kan sudah mau lewat."
Melihat interaksi Eiji dan Lara dari dalam mobilnya, Emily pun spontan langsung mengejekΒ Lara. "Dasar j@lang! Sekali murahan tetap saja murahan. Lihat saja, akan kukirim fotonya saat berpelukan tadi kepada Vander, biar dia tahu seberapa murahan pacar gelapnya itu!"
...πππ...
Di sekolah, Reynder yang tengah bermain bersama teman-temannya tiba-tiba saja dihampiri Leo. Sudah lama anak itu berhenti menganggu Rey kali ini apa dia kembali mau mengganggunya lagi?
"Leo, kau mau coba ganggu Rey lagi ya?!" Seru Jeny.
"Siapa yang mau menganggunya, aku kesini hanya mau tanya pada Rey. Papa Rey yang saat ini apa benar papa kandungnya?"
Seketika semua anak diasana, termasuk Rey sendiri langsung terkesiap mendengar pernyataan Leo barusan.
"Maksudmu apa bertanya begitu? Tentu saja itu papa kandungnya, buktinya saja mereka sama-sama tampan," ucap Haru membela Rey.
"Ya aku kan tidak tahu, soalnya aku pernah dengar mamaku menonton TV katanya papanya Rey yang namanya paman Vander itu punya pacar lain namaya Emily, jadinya..."
"Berisik!" Pekik Rey emosi. "Papa Vander itu papaku, dia hanya cinta pada mamaku dan yang ada di berita itu semuanya bohong! Kalian semua tidak tahu apa-apa soal papaku jadi diam saja!" Ucap Rey dengan wajah marah kemudian pergi.
Rey melarikan diri ke tempat yang sepi di area sekolah, disana ia merenung dan tampak sedih memikirkan perkataan Leo. "Papa Vander dia memang papaku, meskipun bukan papa kandungku tapi dia sangat sayang padaku dan mama!" Rey yang belum tahu kalau kenyataannya ia putra kandung Vander pun jadi merasa gelisah, dirinya jadi takut kalau suatu hari nanti Vander akan meninggalkannya karena ia bukan anak kandungnya.
Saat Rey tengah merenung sendirian, tiba-tiba saja dari luar gerbang sekolahnya ada seorang paman tua yang malambai-lambai ke arahnya. Karena tidak ada orang lain selain Rey disini sudah pasti paman tua itu melambai padanya. Curiga paman itu jahat, Rey pun memilih untuk pergi dan mengabaikannya. Namun saat mau pergi Rey malah medengar paman itu berseru minta tolong padanya. Rey yang awalnya ragu akhirnya berbalik mendekati paman itu perlahan dan bertanya, "Paman kau mau minta tolong apa? Paman ini tidak jahat kan?" Ujar Rey.
"Tidak nak, aku hanya ingin minta tolong padamu untuk mengambilkan mainan anjingku yang tersangkut di pohon itu," ucap sang paman.
Rey lalu menoleh ke arah pohon yang ada di dekatnya. Dan ternyata benar, disana memang ada frisbee yang tersangkut. Karena merasa kalau paman itu tidak punya niat jahat, Rey akhirnya bersedia mengambilkan frisbee itu dan menyerahkanya kepada paman tua yang berada diluar gerbang.
"Ini paman frisbee milikmu."
"Terima kasih ya nak, kau sungguh baik sekali, tapi..."
"Ich!" Rey seketika mengejang saat paman itu tiba-tiba saja mencabut helai rambutnya.
"Paman kenapa kau cabut rambutku?!"
"Ah maaf tadi itu aku pikir ada serangga di rambutmu."
"Oh..."
Tidak lama kemudian terdengar suara ibu guru yang memanggil mencari Rey. Karena tidak ingin membuat ibu gurunya cemas, Rey pun segera bergegas untuk kembali ke kelas.
"Paman sudah dulu ya, aku harus segera kembali, bye!"
__ADS_1
"Bye anak kecil..."
Setelah Rey pergi, pria itu terlihat mengeluarkan kantung kecil dari sakunya dan memasukan helai rambut Rey yang tadi ia cabut. Setelahnya ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi seseorang.
"Halo tuan Gauren, aku sudah berhasil mengambil helai rambut anak itu."
.....
"Baik tuan aku akan segera membawakannya padamu."
...πππ...
Malam harinya Emily terlihat berada di night desire, salah satu club malam paling hits di kota ZR. Seperti biasa wanita itu hampir seminggu tiga kali rutin berkunjung kesana guna menghabiskan malam sambil minum dan pesta dengan kenalan-kenalan sosialitanya. Night Desire sendiri adalah kelab malam yang juga berada dibawah naungan Laizen grup di bidang usaha entertainment dan lifestyle. Club itu biasanya banyak di isi oleh DJ kelas dunia, jadi tidak heran jika masyarakat modern tiap malamnya hobi menghamburkan uang untuk berpesta disana.
"Hai Emily-chan, akhirnya kau kesini lagi. Apa kau bawa pacarmu si CEO Laizen grup yang tampan itu?" ujar teman-teman clubbing Emily yang datang menghampirinya.
"Dia sibuk."
"Masa sih sibuk? Atau jangan-jangan kau itu sudah dicampakan begitu saja olehnya ya," ledek wanita-wanita berpakaian super ketat dan terbuka itu.
"Diam kalian, kalian itu tidak tahu apa-apa tentangku!" Sahut Emily sewot.
"Emily lebih baik kau lupakan tuan itu dan bersenang-senanglah denganku. Aku ini juga tampan dan banyak uang kok," celetuk seorang pria teman Emily yang sudah setengah mabuk"
"Cih kau bukan levelku sana pergi, sudahlah aku mau pesan minum saja, bicara dengan kalian hanya bisa buat pusing!" Emily lalu pergi menuju bar area. Disana wanita bergaun ungu pendek tanpa lengan itu duduk di depan meja bar dan memesan segelas koktail.
Saat itu Emily tiba-tiba saja membuka galeri ponselnya dan melihat kembali hasil foto tangkapannya tadi siang. "Hemβ aku kirim foto ini ke Vander sekarang atau besok ya?"
Lara tertawa lalu memutuskan untuk mengirimkannya ke Vander sekarang juga.
Emily kemudian mengetik keterangan foto tersebut sebelum dikirimkannya ke Vander.
Lihat foto ini, apa itu pacar baru Lara?
Setelah itu ia kirim.
"Setelah ini pasti Vander akan berpikir kalau Lara yang ia puja-puja itu tak ada bedanya dengan wanita murahan pada umumnya." Emily yang merasa senang langsung menikmati koktail pesanannya. Dan ketika tengah menikmati koktailnya, tiba-tiba saja Emily menoleh kesamping, dirinya seolah mengenali seorang pria yang ada duduk diujung sana sedang menikmati minuman. "Itukan pria yang tadi berpelukan dengan Lara? Kalau tidak salah namanya Eiji, dan seingatku dia juga datang ke fashion week waktu itu kan?"
Merasa penasaran Emily pun langsung menghampiri Eiji dan menyapanya. "Hai, kau tuan Eiji Hartman kan?"
Eiji yang sedang menikmati segelas wine pun langsung menoleh menatap Emily dengan tatapan heran. "Kau iniβ bukannya Emily Hasaki yang model itu?"
"Benar aku Emily, senang bertemu denganmu."
"Tidak ada maksud sih, hanya saja aku tahu perasaanmu saat ini."
Eiji memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Sudalah, aku tahu kok, kau itu sebenarnya menyukai Lara kan?"
Seketika pria itu tersentak mendengar Emily menyebut nama Lara. "Apa urusanmu dengan hal itu?"
"Tentu saja ada urusannya. Kau tahu kan, kalau Lara itu sekretarisnya tuan Vander, dan kau juga tahu lewat berita kalau aku dan Vander itu dekat, jadi kenapa kita tidak kerjasama saja? Kau menjauhkan Lara dari Vander aku menjauhkan Vander dari Lara, bagaimana?"
Eiji tergelitik. "Sebelumnya maaf, tapi dari caramu bicara kau ini sepertinya wanita yang penuh tipu daya. Aku rasa aku tidak cocok untuk kerjasama denganmu."
"Cih, munafik! Aku bisa lihat dari sorot matamu kalau kau sangat mencintai Lara. Sayangnya kau munafik dan tidak berani melangkah lebih jauh untuk mengejarnya, kau itu pasif dan payah!"
Eiji langsung menghabiskan wine pesananya dan kemudian membayarnya. "Maaf Nona tapi aku tetap tidak tertarik bekerjasama denganmu. Dan soal perasaanku kau itu tidak tahu apa-apa jadi jangan sok tahu, permisi!" Eiji pun akhirnya melenggang pergi.
"Cih, sombong sekali! Lihat saja nanti, aku yakin kau pasti akan menyesal telah menolak tawaranku!"
...πππ...
Lara yang baru selesai membuat list jadwal suaminya seminggu kedepan, terlihat keluar kamar lalu mengecek Rey dikamarnya, untuk memastikan kalau putranya itu sudah tidur. Meski jam sudah menunjukan pukul 11.20 malam Lara nyantanya belum mengantuk dan tiba-tiba merasa agak lapar. Ia kemudian ke dapur untuk mencari makanan yang bisa ia makan. Kebetulan ia melihat masih ada beberapa persediaan mie instan, berserta telur dan udang yang ada dikulkas. Ia pun memutuskan untuk membuat mie instan spesial kesukaanya.
Saat tengah sibuk memasak, tiba-tiba saja Lara dikagetkan dengan kemunculan Vander yang entah sejak kapan masuknya.
"Astaga, Vander kau ini dari dulu sudah kubilang kan, kalau jalan buatlah langkah yang agak bersuara supaya tidak mengagetkanku!"
"Dari dulu juga kan aku kalau jalan ya begini," jawabnya kemudian duduk di kursi meja dapur. "Oh iya Lara kau sedang masak apa?"
"Masak mie instan spesial, kau mau kubuatkan juga?"
"Boleh."
Setelah sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya mienya pun selesai dimasak. Sepasang suami istri itu tampak menikmati betul menyeruput mie berkuah hangat di malam hari.
"Enak kan?" Tanya Lara.
"Tentu saja, apapun masakan istriku pasti jadi enak."
__ADS_1
Lara tersenyum mendengarnya. "Oh iya Vander apa kau baru pulang kerja selarut ini?" Tanya Lara melihat suaminya masih pakai kemeja yang tadi pagi.
"Aku sudah pulang dari tadi, dan baru saja selesai mempelajari proposal kerjasama dengan salah satu multimedia raksasa dunia untuk peluncuran produk pakaian dan sepatu."
"Woah pantas saja mau selalu sibuk, ternyata bisnismu sebesar itu. Kau benar-benar pekerja keras ya tuan CEO?"
"Tentu saja, oleh karena itu kau harus naikan gajiku ya ibu bos," ucap Vander kemudian kembali meyeruput mienya.
"Kau bisa naik gaji setiap hari asal mengikuti tiga perturanku."
"Apa saja?"
"Pertama selalu setia padaku, kedua menyayangiku, dan ketiga selalu memanjakanku."
"Itu sih gampang sekali," tandas Vander.
"Baiklah ada tambahan, jangan genit pada wanita lain, jangan memuji wanita lain berlebihan, dan jangan suka tebar pesona."
Vander tertawa geli. "Sepertinya istriku ini takut sekali aku punya hubungan dengan wanita lain ya?"
"Ya kalau kau siap jadi gelandangan lagi silakan saja selingkuh," ungkap Lara seraya mengancam.
"Iya iya..."
"Aku hanya terlalu menyayangimu makanya aku berlebihan begini," ucap Lara malu-malu.
"Tidak apa-apa, aku senang kau begitu. Lagipula hanya kau satu-satunya pemilik tahta ratu di hidupku."
"Kalau begitu kau juga satu-satunya raja bagiku."
Setelah selesai makan mie dan mencuci piring, Lara kembali duduk dimeja dapur yang mirip bar mini itu. Disana Vander terlihat membuatkan teh kamomil kesukaan Lara.
"Kenapa cuma buat satu, kau tidak buat juga?"
"Tidak, aku sudah minum kopi tadi."
"Kau itu jangan terlalu banyak minum kopi, nanti lambungmu bisa sakit. Aku tidak mau suamiku sampai sakit," ucap Lara khawatir.
"Oke aku akan sedikit menguranginya. Oh iya Lara, tadi siang apa kau makan siang bersama Eiji?"
"Huh? Darimana kau tahu?" Lara heran karena dirinya tidak memberitahu suaminya kalau tadi siang habis makan siang dengan Eiji.
Vander tiba-tiba menggengam erat tangan Lara dan bertanya, "Lara, kau tidak akan meninggalkanku kan?"
Lara seketika heran kenapa suaminya tiba-tiba tanya begitu. "Vander kenapa kauβ"
"Lara aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu, jadi kumohon jangan berpaling padaku meski sedetik saja," ujar Vander yang kini tampak gusar dan cemas.
Melihat suaminya begitu, Lara yang takut mental Vander kembali bermasalah pun segera menenangkannya. Setelah tenang Lara pun bertanya, "Sebenarnya ada apa Vander? Ceritakan padaku."
"Seseorang tadi mengirimiku foto saat kau berpelukan dengan Eiji," ungkap Vander.
Lara pun syok saat itu juga. "Si- siapa yang mengirimimu foto itu?"
"Itu tidak penting, yang aku ingin tanyakan saat ini adalah kenapa kau...?"
"Van... kau salah paham, apa yang kau lihat difoto tidak seperti itu. Tapi aku tidak tahu bagaimana memberitahukanmu, yang jelas aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Eiji. Kami saat itu hanya makan siang biasa, setelah itu Eiji mencoba menyatakan perasaanya padaku dan aku menolaknya. Lalu dia memelukku tiba-tiba sebagai tanda ia menerima keputusanku. Aku sungguhβ"
Vander langsung mencium bibir sang istri dan berkata, "Aku percaya padamu, tapi aku masih kesal mengingat foto itu. Oleh karena itu kau harus meredakan kesalku." Vander lalu menggendong istrinya.
"Vander ka- kau mau apa? Turunkan aku, ini sudah malam!"
"Tidak, malam ini aku harus membersihkan tubuhmu yang sudah dipeluk oleh pria lain!" Pria itu langsung membawa sang istrimenuju ke kamar Lara.
"Tapi Vander malam ini aku lelah, jadi tolong turunkan aku, hei!"
"Lara jangan berisik nanti yang lainnya bangun, simpan saja suara teriakan dan rintihanmu nuntuk pertarungan kita diatas ranjang nanti."
"Vander mesum turunkan aku!"
"Tidak!"
Mereka berdua pun masuk kamar untuk menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai.
...πππ...
Di markasnya yang kini berada di Kolombia, Gauren yang akhirnya mendapatkan sampel rambut Reynder pun langsung menyuruh anak buahnya untuk dibawa ke lab, dan mencocokannya dengan milik Vander.
"Kalau benar DNA anak itu cocok dengan DNAnya Vander ini akan jadi semakin seru, anak dan ayah... aku bisa memanfaatkannya sekaligus."
Sebenarnya rencanan apa yang sedang dijalankan Gauren saat ini?
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π