Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Ikut bersamaku


__ADS_3

Akhirnya Eiji membawa Lara berjalan-jalan naik mobil. Sejak tadi Eiji sungguh tak bisa melepaskan perhatiannya pada wanita disampingnya itu, terlebih setelah ia mendengar sendiri cerita dari Lara kalau suaminya itu tiba-tiba saja pergi meninggalkannya entah kemana. Eiji tidak bisa bayangkan betapa merananya hidup Lara saat ini. Ia tidak hanya dicampakan tiba-tiba oleh suaminya, tapi ia juga harus menanggung anak yang dikandungnya sendirian tanpa sosok pendamping disisinya. Eiji sungguh ingin sekali marah dan menghajar suami Lara saat ini.


Sebenarnya baj¡ngan macam apa suamimu itu Lara, kenapa dia bisa setega ini padamu?


Di dalam mobil, sejak tadi Lara hanya diam saja melamun sambil memandangi keluar kaca jendela.


Eiji sendiri juga tidak tau sebenarnya mau pergi kemana. Dirinya mengajak Lara keluar bermaksud untuk membantunya menenangkan pikiran agar tidak terlalu larut dalam nestapa, mengingat apa yang sudah suami brengseknya itu lakukan padanya.


"Kak Eiji, kita ke pantai dekat sini ya," ucap Lara tiba-tiba.


"Baiklah..." Eiji pun langsung mengarahkan mobilnya ke pantai yang dimaksud Lara.


Setibanya dipantai, Lara langsung keluar dari dalam mobil. Dengan sigap Eiji memberikan kain syal kepada Lara agar tidak kedinginan, mengingat Lara sejak awal memang tidak mengenakan pakaian tebal.


"Kenapa kau mengajak kesini? Ini kan musim dingin, pantai tidak indah di musim dingin," ujar Eiji mengikuti Lara yang terus saja berjalan menyisiri tepian pantai.


Tak lama Lara pun berhenti melangkah dan malah memandangi lautan. Lara ingat, pantai yang ia datangi saat ini adalah pantai yang sama yang ia datangi bersama Vander beberapa bulan yang lalu. Pantai ini juga tempat dimana Lara dan Vander saling mengakui perasaan mereka satu sama lain.


Lara tampak begitu sedih menatap ke arah lautan. Sorot mata yang memancarkan harapan dan kesedihan, seolah tengah menunggu sebuah ketidakpastian yang datang bersama desiran ombak.


"Lara... Disini dingin, kita kembali saja ya?" Eiji merasa tidak tega melihat Lara tampak sesedih itu, apalagi dirinya kini tengah hamil muda.


"Aku imasih ingin disini dulu. Kalau mau, kakak bisa menungguku dimobil saja," pungkas Lara yang bersikukuh tetap berada disana.


Tidak bisa memaksa, Eiji pun memutuskan memberi Lara waktu untuk berada sendirian disana, sementara ia memutuskan untuk memperhatikannya dari jauh.


Di pantai ini Lara mengingat semua kejadian yang dirinya dan Vander lalui. Lara ingat, disini dulu Vander pernah berjanji, kalau ia akan selalu menjaga Lara dan menjadikannya satu-satunya wanita paling berharga di hidupnya.


Tapi sayang, semua ucapan itu kenyataannya hanya sebuah kebohongan pahit yang dirancang dengan sangat manis oleh Vander, hingga akhirnya dirusak begitu saja. Semua yang diucapkan Vander, tak ayalnya seperti istana pasir yang dibangun di pinggir pantai, yang hanya sesaat tampak indah karena pada akhirnya akan hancur ditelan ombak.


Air mata Lara seketika menetes dari pelupuk matanya, kedua tangannya mengepal menahan emosi yang pada akhirnya tidak bisa ia tahan lagi.


"Dasar pembohong, aku benci padamu Vander!"


Lara berteriak sekeras mungkin ke arah laut. Tangis Lara pecah sejadi-jadinya, Dia yang sudah tidak mampu lagi menahan pedih, akhirnya meluapkan segala luapan emosi dihatinya.


"Untuk apa kau janjikan aku istana indah jika pada akhirnya kaulah yang malah menghancurkannya. Kau kejam Vander! Kau manusia paling kejam yang pernah aku kenal, kau jahat, jahat... Aku sungguh membencimu dasar brengsek!"


Wanita itu pada akhirnya lelah dan terduduk di tepi pantai, sambil terus menangis meratapi nasibnya. Eiji yang sudah tidak kuat lagi melihat wanita yang disayanginya seperti itu pun, akhirnya datang menghampiri Lara dan langsung memeluknya. "Sudah Lara kumohon sudah jangan seperti ini. Hatiku sakit melihatmu seperti ini, pria itu, dia tidak pantas untuk kau tangisi. Kumohon berhentilah menangis..."


**

__ADS_1


Dikantor Miranda yang baru mau bersiap pulang, tiba-tiba saja malah mendapati telepon dari nomor tak dikenal.


"Halo, siapa ini?"


....


"Eiji ini kau, ada apa meneleponku?"


....


"Oh begitu? Baiklah aku akan segera kesana menemuimu."


Setelah mengangkat panggilan dari Eiji, Miranda langsung bergegas mengajak kekasihnya Gavin yang sudah menunggu di depan ruangannya untuk ikut.


"Mira kenapa jalanmu terburu-buru sekali, memang kita mau kemana sih?"


"Sudah ikut saja!" Mira menarik tangan kekasihnya itu.


"Mira bagaimana dengan kak Lara, kita tidak boleh meninggalkannya."


"Justru itu, kita harus segera pergi untuk menemui Lara!"


**


Tidak! Aku ingin menyentuhnya sedikit saja.


Eiji pada akhirnya memberanikan diri membelai pipi wanita yang dicintainya itu.


"Kau pantas bahagia Lara. Kumohon jangan lagi menangis untuk pria yang tidak pantas menerima air matamu yang berharga itu."


Dan tidak lama, mobil yang dinaiki Mira dan Gavin akhirnya tiba dipantai tempat Lara dan Eiji berada. Disana Mira dan Gavin langsung keluar dan menghampiri Eiji yang sudah berada diluar mobilnya.


"Dimana Lara?" Pungkas Mira khawatir.


"Di dalam mobilku sedang tidur, dia sepertinya sangat kelelahan setelah menangis dan menumpahkan segala emosinya tadi."


Sementara Gavin, ia menatap Eiji degan tatapan sedikit tidak suka. Ia berpikir kalau pria bernama Eiji itu berniat ingin merebut Lara dari Vander.


"Miranda, soal suaminya Lara dia—"


"Ya,  dia si brengsek sialan yang tidak pantas untuk Lara. Aku jadi merasa kasihan dengan Lara. Dia wanita yang baik tapi nasibnya malang karena harus bertemu laki-laki macam suaminya itu."

__ADS_1


"Miranda, kau tidak boleh bicara begitu. Kak Vander bisa jadi punya alasan lain kenapa tiba-tiba pergi!" Gavin yang sudah lebih lama mengenal Vander merasa agak tidak terima, mendengar Mira berbicara begitu tentangnya.


"Alasan apa? Alasan mempermainkan hati wanita lalu membuatnya jatuh cinta dan meninggalkannya begitu saja, begitu alasannya? Kau ini berhentilah membela baj¡ngan itu! Kau sendiri saja tidak taukan dimana pria brengsek itu sekarang!" Mira emosi melihat Gavin yang malah membela Vander dan mengabaikan penderitaan Lara.


Sejatinya Gavin tidak bermaksud membenarkan sikap Vander, tapi disisi lain ia yakin Vander tidak mungkin dengan sengaja meninggalkan Lara kalau bukan karena ada alasannya.


"Bisakah kalian jangan bertengkar? Aku meminta kalian kemari bukan untuk melihat kalian ribut, tapi untuk membawa Lara bersama kalian," terang Eiji.


Gavin dan Miranda pun langsung terdiam seketika menyadari kalau mereka salah.


**


Seminggu kemudian tiba-tiba saja Eiji datang ke kantor Miracle. Entah ada urusan apa, tapi yang jelas dirinya pasti ingin bertemu dengan Lara.


"Tuan Eiji Hartman, aku sudah beritahu Nona Lara kalau kau datang kemari, dan Nona bilang agar kau tunggu saja dilobi karena sebentar lagi Nona Lara akan turun menemui anda," jelas Nona resepsionis itu.


Eiji pun menunggu di lobi bawah sambil membaca buku. Saat itu ia pun dengan tidak sengaja melihat sosok Jeden yang tengah berjalan dengan para kliennya.


Bukankah itu Jeden Lee? Eiji kebetulan juga mengenal Jeden meski tidak kenal baik, mengingat dulu Eiji pernah hampir berkelahi dengannya karena sebuah kesalah pahaman.


Tak lama kemudian, Lara pun muncul dari balik pintu lift dan langsung menghampiri Eiji. Disaat bersamaan Jeden yang tengah berjalan bersama koleganya juga melihat Lara yang berjalan ke arah Eiji. Tatapan Jeden pun langsung berubah sinis menatap pria yang kini tengah bersama Lara itu.


**


Hari ini Eiji berniat mengajak Lara untuk jalan-jalan keliling kota ZR, mengingat dirinya dua minggu lagi sudah harus kembali ke Kanada.


Di mobil Lara dan Eiji tampak asyik menikmati berkeliling kota menghampiri tempat-tempat yang seru dan menarik. Tidak lupa mereka juga mampir ke kedai-kedai yang menjajakan makanan lezat khas kota tersebut.


Setelah puas berkeliling kota mereka berdua pun akhirnya memilih untuk duduk bersantai sejenak di tepi danau sambil menikmati segelas coklat hangat. Lara menyesap coklat panas yang ada ditangannya tersebut, dan seketika suhu tubuhnya pun jadi terasa hangat.


"Oh iya Lara aku sebenarnya sekalian mau bilang, kalau dua minggu lagi aku sudah harus kembali ke kanada," ungkap Eiji.


Mendengar hal itu, Entah kenapa perasaan Lara jadi mendadak agak sedihz mengingat akhir-akhir ini Eijilah yang sering menemaninya saat ia merasa bosan. Kalau Eiji pergi, pasti Lara akan merasa kesepian lagi nantinya. Tapi bagaimana pun Lara tidak boleh egois. Bagaimana pun Eiji punya mimpi yang ingin ia kejar di luar negeri.


"Kak Eiji, semangat kuliahnya ya!" Tidak mau tampak bersedih, Lara pun lebih memilih untuk memberi semangat kepada pria yang dia sudah anggap kakaknya sendiri.


Sayangnya Eiji sediri malah terlihat agak kecewa dibuatnya dengan ucapan Lara. Pria itu justru berharap kalau Lara akan bersedih dan menahannya pergi. Aku ingin sekali tetap bersamanya, tapi sepertinya Lara tidak terlalu mengharapkan hal itu.


Eiji menghela nafas.


Ia tiba-tiba saja meraih kedua tangan Lara dan berkata, "Lara, ikutlah bersamaku ke kanada, aku berjanji disana aku akan selalu menjagamu dan anak yang ada didalam perutmu."

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜


__ADS_2