Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Senyum-senyum sendiri


__ADS_3

Di apartemennya Lara baru saja selesai memasak menu makan malam. Ikan panggang pedas manis, nasi wijen hangat, ditambah acar sayuran, sungguh kombinasi yang pas untuk disantap di saat makan malam.


Dengan wajah penuh keceriaan, Lara menata menu masakan buatannya itu diatas meja makan sambil menunggu Vander selesai mandi.


"Sudah siap semua, Van apa dia belum selesai juga?" Pungkas Lara.


"Aku sudah selesai kok Nona," bisik Vander yang tiba-tiba muncul sambil memeluk Lara dari belakang.


Sontak Lara langsung membalikan tubuhnya menghadap Van.


"Kau mengaketkanku tau! Dasar usil!" Ucap Lara lalu mencubit hidung Van yang tinggi dan mancung.


"Masakan Nona seperti biasa terlihat sangat menggodaku," ujar Van melihat makan malam sudah tersaji dengan rapi diatas meja.


"Yasudah kalau begitu ayo kita segera makan malam," ajak Lara.


"Nona tunggu!"


"... Eh ada apa?"


Van medekatkan bibirnya ke telinga Lara lalu berbisik, "Kau tau hal apa yang jauh lebih menggoda perhatianku daripada masakanmu?"


"A- apa itu?"


"Dirimu," bisik Van.


Sontak wajah dan telinga Lara pun langsung memerah. Ia pun mendorong Van dan memarahinya, "Dasar mesum! Bagaimana bisa kau bicara begitu di saat waktu kita mau makan!"


Omelan manja Lara itu pun hanya ditanggapi Van dengan tawanya yang renyah.


Lara jadi mencebikkan bibirnya.


"Nona Lara jangan ngambek begitu, aku jadi gemas dan ingin sungguhan memakanmu loh kalau wajahmu begini...," Goda Vander sambil mencubit gemas pipi Lara.


"Vander Lepaskan pipiku!" Seru Lara.


..."Aku hanya berharap kebahagiaan, tawa, dan segala kehangatan ini akan bertahan selamanya. Pria yang mencintaiku dan aku cintai, bisakah kami menua bersama selamanya?"...


...-Lara Hazel-...


**


Di ruangan kerjanya Lara terlihat melamun dan senyum-senyum sendiri. Gadis muda itu masih aganyak tidak menyangka kalau dirinya saat ini sudah resmi jadi kekasih Vander.


Saking asiknya melamun, Lara sampai-sampai ia tidak sadar dengan kehadiran Miranda yang baru saja masuk ke ruangannya.


Miranda pun jadi dibuat bertanya-tanya ada apa dengan Lara saat ini? Ia pun mencoba membuyarkan lamunannya, dengan memanggil-manggil Lara, tapi tetap saja Lara bergeming tak merespon.


"Nona Lara!" Seru asistennya tersebut lagi dengan suara keras.


"... Eh? Mi- Miranda kapan kau masuk?" Ujar Lara kaget dan jadi salah tingkah serta malu sendiri dibuatnya.


"Bagaimana Nona lihat. Aku sudah tiga kali menekan bel ruangan Nona, tapi tidak ada respon. Yasudah aku masuk saja. Saat aku masuk ternyata Nona malah sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri. Memangnya ada apa sih?" Mira jadi ingin tau alasan Lara bisa sampai senyum-senyum seperti itu. Selama ini Miranda bekerja bersama Lara belum pernah ia melihat bosnya sampai seperti itu.


"Aku..." Lara sebenarnya ingin menceritakan soal hungannya dengan Van kepada Mira. Tapi untuk saat ini ia masih merasa belum siap cerita pada siapapun pada asistennya tersebut. Untuk saat ini biar saja hanya aku dan Van yang tau, tapi bagaimanapun aku pasti akan bilang ke Miranda nanti.

__ADS_1


"Eh ak- aku cuma lagi teringat masa lalu saja makanya senyum-senyum sendiri," jawab Lara.


Miranda mengerutkan alisnya, seolah tidak yakin dengan perkataan Lara tersebut. Anak ini pasti sedang bohong, sorot matanya tidak mengatakan demikian, pikir Mira.


"Yasudah kalau Nona tidak mau bilang," balas Mira.


"Bu- bukan begitu, aku..."


"Sudahlah, aku juga tidak apa-apa jika Nona memang belum mau bilang. Yang penting kau senang." Bagi Mira saat ini memang melihat Lara sudah sehat dan kembali ceria lagi sudahlah cukup. "Tapi kalau boleh aku tebak pasti alasan kau sampai seperti itu karena pengawalmu itu iya kan?" Tebak Lara sambil memberikan lirikan mata usil ke arah Lara.


Sontak Lara yang pada dasarnya ekspresif pun langsung salah tingkah. "Eh, bu- bukan kok! Sudah jangan menggodaku begitu, lebih baik katakan ada apa kau kesini?"


Mira hampir saja lupa, tujuan awal datang menemui Lara adalah untuk menyerahkan laporan keuangan. Lara yang menerima laporan itu pun langsung membacanya.


"Oh iya tadi aku juga sudah baca laporan keuangan yang di tanda tangani tuan Lee dan..."


"Dan apa Miranda?"


"Nona maaf, tapi sepertinya Miracle saat ini memang bisa dikatakan tidak baik-baik saja," ungkap Mira.


Lara menghela nafas, sebenarnya dirinya sudah mengira sejak perkataan Karina di media kemarin dampaknya pasti akan sebesar ini. Tapi Lara sudah bertekad untuk tetap menghadapi apapun kesulitan demi mempertahankan perusahaan keluarganya tersebut.


"Nona kau tidak perlu terlalu stres memikirkannya, pelan-pelan saja. Kita akan hadapi kesulitan perusahaan ini bersama-sama," ucap Mira menguatkan.


"Ya, kau benar! Bagaimanapun aku harus bisa hadapi semua ini!" Aku tidak akan kalah semudah itu darimu Karina!


**


Vander yang baru saja habis dari toilet bermaksud menemui Lara, namun saat dirinya berjalan di koridor menuju ruangan Lara dirinya malah berpapasan dengan Jeden. Tentu saja hal itu langsung membuat atmosfer ketegangan diantara keduanya seolah kian terasa.


Sayangnya Van masih tidak peduli dan terus berjalan.


Sial dia mengabaikanku! Jeden kesal dan kembali meneriaki Vander dengan sebutan yang tak pantas. "Hei Vander, pria rendahan peliharaannya Lara!"


Van yang awalnya masih santai mendadak menghentikan langkahnya kala mendengar Jeden menyebutnya seperti itu. Vander pun langsung berbalik badan, dengan tatapan tajam dan dingin pria itu berjalan menghampiri Jeden.


Ah Jeden merasa agak ngeri melihat tatapan Van yang auranya sangat mengintimidasi. Tapi dirinya juga senang karena bisa menyulut emosi pria itu.


"Heh, kenapa? Kau marah aku sebut sebagai peliharaan Lara? Nyatanya memang benar kan, hidupmu semua ditanggung Lara. Kenapa kau tidak jadi simpanannya Lara saja sekalian?" Ejek Jeden.


SRREKK! Van langsung menarik kerah kemeja Jeden.


"Tutup mulutmu!" Van tak terima Jeden berkata begitu, karena seolah juga merendahkan Lara.


"Sebenarnya apa maumu Jeden!" Ucap Van tenang namun penuh kemarahan.


Jeden menyingkirkan tangan Van dari kerahnya. "Mauku hanya satu, jauhi Lara dan jangan pernah kau muncul dihadapannya!"


Van tertawa geli mendengar ucapan Jeden. "Jauhi Nona Lara kau bilang, kau pikir kau siapa? Dengar tuan Jeden, antara aku dan Nona tidak ada hubungannya denganmu. Kalaupun aku harus menjauhi Nona Lara, yang berhak memutuskan hanya Nona Lara bukan kau atau bahkan aku sekalipun!"


Jeden muak mendengar perkataan Van yang seolah sombong baginya. "Hei gelandangan, kau itu hanya akan menyusahkan Lara saja! Asal kau tau, sejak Lara dekat denganmu selalu saja ada masalah menghampirinya! Selalu ada teror dan lain hal, kau pikir itu yang disebut melindungi?!"


"Kau tidak tau apa-apa!" Balas Vander.


"Aku tau semua, bahkan apa yang dilakukan Karina di media itu juga semua karena kau kan! Kau seharusnya sadar akan hal itu!" Pekik Jeden.

__ADS_1


Van sejenak berpikir, kalau yang dikatakan Jeden memang ada benarnya tapi...


"Tuan Jeden, lebih baik kau berhenti terlalu ikut campur urusanku dan Nona Lara," pungkas Vander.


"Berani sekali kau bicara begitu!"


"Aku tidak peduli padamu, karena aku akan tetap berada disisi Nona Lara selama dia masih memintaku," ungkap Vander.


Jeden tersenyum geli. "Ah ya aku tau, kau tidak mau meninggalkan Lara karena kau menyukai bosmu itu kan!"


Van terdiam tanpa ekspresi.


"Dari ekspresimu sudah bisa ditebak, kau pada dasarnya bukan sekedar pengawalnya, tapi kau memang memiliki perasaan lebih pada Lara. Cih! Bukahkah kau seharusnya tau diri, kau dan Lara bagai kerak bumi dan langit, bagaimana bisa kau menyukainya apalagi mencintainya!"


"Itu bukan urusanmu!" Bagaimanapun saat ini Lara adalah kekasih sekaligus bos bagi Vander, jadi tidak mungkin Van akan menjauhi Lara.


Jeden kian emosi dibuatnya, kini giliran Jeden yang menarik kerah baju Van dan mengancamnya. "Dengar kau gelandangan! Apapun itu kau harus jauhi Lara sebelum kau akhirnya akan menyesal!"


"Aku tidak takut pada ancamanmu!" Jawab Vander dengan raut wajah datar. "Sekarang singkirkan tanganmu!" Van menepis tangan Jeden dari kerah kemejanya, lalu ia pun pergi.


"Cih sombong sekali! Lihat saja akan aku buat kau dengan sendirinya dicampakkan oleh Lara!" Geram Jeden.


**


Van pun kembali berjalan menuju ruangan Lara. Dan lagi-lagi ia harus diganggu karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Van : Ada apa Ron!


Aron : Van semalam aku sudah bertemu langsung dengan Eva.


Van : Lalu?


Aron : Kau harus tau Eva sepertinya memang diminta oleh tuan Gauren untuk membawamu kembali ke Crux.


Van :......


Aron : Dan satu lagi


Van : Apa?


Aron : Kau harus hati-hati juga pada Eva karena, selain tugas dari tuan Gauren. Sepertinya dia juga punya tujuan lain terhadapmu dan orang-orang disekitarmu, termasuk Nona Lara.


[Ekspresi wajah Van langsung jadi serius mendengar nama Lara disebut]


Van : Oke Ron, terima kasih infonya!


Van langsung memutus percakapannya.


"Saat ini memang sudah benar, hubunganku dengan Lara memang lebih baik hanya kami saja yang tau."


Sejujurnya mendengar peringatan dari Aron barusan, cukup membuat Van merasa was was. Ia takut kalau sampai Lara jadi ikut terlibat didalam permasalahannya dengan Eva.


Bersambung...


TEMAN-TEMAN TOLONG BANGET JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2