
Di ruangannya, Lara yang terlihat baru saja selesai melakukan pekerjaannya, tiba-tiba saja merasa Lapar. Dan karena sudah masuk jam istirahat, ia pun meminta izin kepada bosnya itu untuk pergi makan siang.
"Silakan, kau boleh istirahat," ucap Vander yang terlihat masih sibuk mempelajari berkas dengan pena emasnya.
Dia sendiri tidak makan siang kah? Lara bertanya-tanya, mengingat sejak bekerja di Laizen, ia tidak pernah sekalipun melihat bosnya itu makan sama sekali.
"Kau bilang mau pergi makan siang, kenapa masih disini?" tegas Vander.
"Ohโ i- iya ini aku baru mau pergi, kalau begitu aku izin pergi dulu, permisi."
Lara pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara Vander, dirinya masih sibuk dengan segala urusan pribadinya selain soal perusahaan. Tak lama ponsel Vander berdering, dan ia langsung mengangkatnya.
"Halo!"
...
"Kalau begitu segera selidiki tempatnya, dan segera laporkan padaku segera!"
Vander pun langsung menutup ponselnya, dan sesaat kemudian datanglah Robert ke ruangan Vander dan berkata, "Tuan maaf aku menganggu, aku hanya ingin ingatkan kalau minggu depan adalah jadwal anda pergi ke pulau Crux."
"Aku tau!"
"Dan Tuan, selain ituโ selama hampir sebulan bekerja untukmu, apa anda ada keluhan dengan cara kerja Nona Lara?"
"Tidak." Vander menatap Robert yang masih berdiri disana seolah masih ingin mengatakan sesuatu. "Ada lagi Robert?"
"Oh, tidak ada Tuan, kalau begitu aku permisi."
...๐๐๐...
Di kantin Lara akhirnya memutuskan untuk memesan bento biasa untuk makan sianganya. Mengingat meski kantin Laizen Group itu menjual banyak sekali makanan enak, tapi harganya cukup mahal, alhasil Lara yang berniat hemat memilih membeli bento yang harganya terjangkau dan rasanya pun enak.
Setelah memasan ia pun mencari meja kosong untuk duduk. Tiba-tiba saja ada yang memanggilnya dari belakang, Lara pun menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Jeha dan Olga, dua wanita dari divisi HRD yang seminggu terakhir ini baru ia kenal baik. Lara sendiri memang belum terlalu banyak teman di kantor, tapi kedua wanita itu sangat baik pada Lara sehingga ia pun jadi akrab dan bisa berteman baik dengan mereka.
Mereka bertiga pun akhirnya makan bersama di satu meja makan. Ketiganya tampak akrab dan saling berbincang selama makan siang.
"Oh iya Lara kau tahu, kau sangat populer loh di divisi kami," ungkap Olga.
"Benarkah?" Lara seraya tidak percaya.
"Olga benar, terutama dikalangan pegawai pria yang masih single, mereka ingin sekali kenal denganmu katanya," imbuh Jeha sambil mengunyah.
Lara hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Jeha itu.
"Lara kenapa diam saja, kau tidak tertarik ya dengan pria-pria itu? Atau karena sebenarnya kau sudah punya pasangan makanya diam?"
"Um, aku hanya tidak tau mau jawab apa." Sebenarnya alasan Lara tidak menanggapi Jeha adalah, karena kenyataannya dirinya saat ini sudah menikah bahkan punya anak. Jadi untuk meladeni pria lain adalah hal yang tidak mungkin baginya.
"Lara memangnya kau punya pacar?" Tanya Olga lagi.
"Soal ituโ aku..."
"Hei Lara, kau ini kan sangat cantik, dan masih muda juga, kenapa kau tidak ambil kesempatan saja untuk menggoda Tuan Vander," sambar Jeha.
"Apa?" Lara langsung tercengang mendengar Jeha berkata begitu. Lagipula menggoda bagaimana? Lihat aura marah di wajah Vander saja rasanya sudah merinding duluan, pikir Lara.
"Lara cepat jawab, kau punya pacar tidak?" Desak Jeha penasaran.
"Heh Jeha, sudah jangan ganggu Lara terus! Lagipula daripada kau mengurusi jodoh orang, kenapa tidak kau urus saja dirimu kini yang sudah kepala tiga tapi masih saja belum punya pacar!" Singgung Olga.
"Eh kenapa jadi aku, aku kan bicara begini niatnya baik. Dengan Lara mendekati Tuan Vander, maka si Cindy sok cantik itu pasti akan sangat frustasi."
"Kenapa frustasi?" Lara penasaran.
"Karena Cindy kan sangat terobsesi dengan tuan Vander, makanya tidak heran kalau dia sangat tidak suka pada Lara," terangnya Olga.
Selesai makan siang, Lara yang baru saja selesai cuci tangan, tiba-tiba saja malah harus bertemu dengan Cindy, wanita yang terang-terangan tidak senang padanya di kantor ini. Cindy merasa iri kepada Lara karena bisa menjabat sebagai sekretaris Vander, sementara dirinya yang sudah beberapa kali mencoba agar bisa direkrut jadi sekretaris Vander malah tidak pernah berhasil sama sekali.
Tidak mau ribut, Lara pun sebisa mungkin mengabaikan wanita tersebut. Namun sebaliknya, Cindy malah dengan sengaja cari gara-gara dengan Lara dengan cara menyindirnya.
"Aku heran, selain fisik apa sih sebenarnya kelebihanmu sampai bisa terpilih jadi sekretaris CEO sekelas tuan Vander, apa kau jual diri padanya?"
Meski tersinggung dengan ucapannya, Lara tetap mencoba untuk mengabaikan ocehan Cindy. Sayangnya wanita itu bukannya diam menyerah, malah makin kurang ajar dengan ucapannya. "Kalau kau cuma mau jual diri pada pria kaya, kenapa harus pura-pura jadi sekretaris segala sih, kenapa tidak ke tempat pelacuran sahja dan jual diri disana, bikin malu saja!" Ujar Cindy.
Sebenarnya Lara malas sekali meladeni wanita menyebalkan itu. Tapi mendengar dirinya direndahkan berulang kali begitu, Lara pun tak bisa diam, ia pun balik menatap wanita itu sambil tersenyum miring seraya meremehkan.
__ADS_1
"Eh, apa maksudmu melihatku dengan ekspresi wajah begitu?" Pungkas Cindy tidak terima.
"Aku hanya kasihan saja melihatmu, kau itu sangat terobsesi dengan Tuan Vander yang bahkan dia melirik dirimu saja tidak pernah," balas Lara.
"Kurang ajar! Beraninya kau bicara padaku begitu!" Cindy langsung emosi jadinya.
Lara tertawa singkat, ia seolah mengejek Cindy lalu berkata, "Dengar ya Cindy, kalau kau pikir kau pantas jadi sekretarisnya tuan Vander, aku rasa tidak.
Soalnya dari yang kulihat, kau itu sama sekali bukan seleranya tuan Vander."
"Sialan! Kau pikir kau pantas huh?!" Pekik Cindy geram
"Oh tentu saja, aku kan lebih cantik dan lebih muda, jadi sudah pasti aku jauh lebih pantas daripada kau!" Ujar Lara dengan percaya dirinya.
"Kau! Dasar wanita murahan!" Cindy mau menampar Lara, dan untungya tidak jadi karena Lara langsung mengahalaunya.
"Dengar ya, selama ini aku diam bukan berarti takut padamu. Aku banyak diam karena aku hanya tidak mau sampai membuat keributan disini. Tapi kedepannya kalau kau masih saja berani menghinaku, aku pastikan aku akan membalasnya, paham!"
Lara pun pergi meninggalkan Cindy yang kehabisan kata-kata.
Argh! Dasar betina murahan!" pekik Cindy
...๐๐๐...
Sementara di sekolah saat sedang pelajaran menggambar, Rey dan teman-teman di kelasnya diminta oleh Bu guru untuk menggambar seluruh anggota keluarganya. Tentu saja semua murid tampak senang mengerjakannya, kecuali Rey. Anak itu terlihat tidak sesenang anak lainnya saat menggambar.
"Rey coba Ibu guru lihat hasil gambarmu," ucap bu guru ingin melihat hasil gambar buatan Reynder.
Reynder pun memperlihatkan gambarnya itu pada gurunya.
"Wah gambarnya bagus sekali," puji sang guru melihat gambar Rey yang nyatanya memang sangat bagus untuk seusia taman kanak-kanak.
"Bu guru, gambar Rey bagus, tapi keluraganya aneh karena tidak lengkap! Masa gambarnya hanya ada dirinya dan mamanya, kan harusnya ada papa seperti punyaku ini!" Ucap salah seorang murid bernama Leo sambil memamerkan gambarnya. Leo sendiri memang sejak awal sekolah tampak agak kurang suka dengan Rey.
Mendengar Leo bicara begitu, alhasil anak lainnya pun jadi ikut mengatakan hal aneh tentang keluarga Reynder. Merasa tidak terima, Reynder pun langsung menghampiri Leo dan merobek gambar temannya tersebut hingga membuatnya menangis.
Melihat hal itu, bu Guru pun mencoba memberi pengertian kepada semua murid-muridnya tentang gambar keluarga Rey, sayangnya saat bu guru mencoba memberi pengertian Rey sendiri malah terlihat marah, dan lebih memilih pergi keluar meninggalkan kelas.
...๐๐๐...
Selesai makan siang, Lara pun kembali ke ruangannya. Namun setibanya diruangan ia malah dibuat terkejut, melihat Vander yang ternyata masih berada dikursi kerjanya seolah tak beranjak sama sekali sejak dirinya keluar tadi. Melihat hal itu, Lara jadi penasaran apakah bosnya itu sudah makan siang? Merasa khawatir dengan kesehatab Vander, Lara pun spontan bertanya langsung kepada Vander, apakah dirinya sudah makan siang atau belum?
"Kau tidak mau mendengar perintahku?" Pungkas Vander tampak tidak senang melihat Lara berani menolak perintahnya.
"Aku akan ambilkan tuan kopi lagi, tapi sebelum itu kau harus makan siang dulu," jawabnya.
Dia mengancamku? Pikir Vander melihat Lara yang kini tampak sangat serius. "Aku akan makan nanti, sekarang ambilkan aku kopi dulu!"
"Tidak! Tuan Vander, apa anda tidak tau kalau mengkonsumsi kopi terlalu banyak dengan perut kosong itu tidak baik untuk pencernaan. Jika kau membiarkan hal itu terjadi lambungmu bisa infeksi dan kau akan sakit, kalau kau sakit lalu siapa yang akan gantikan pekerjaanmu, kalau kau tidak kerja, lalu bagaimana nasib perusaan ini dan belasan ribu karyawanmu?" Ucap Lara.
Tidak kuat mendengar ocehan Lara yang panjang kali lebar,, akhirnya Vander pun menyerah dan akhirnya mau makan siang.
"Yasudah sekarang Tuan mau makan apa?" Tanya Lara.
"Apa saja yang penting kau berhenti menceramahiku pangjang lebar," pungkas Vander.
"Baiklah kalau begitu, biar aku belikan makanan untukmu di kantin sebentar."
"Tidak usah!"
"Loh kenapa?" Lara yang baru saja mau pergi malah ditahan.
"Kau disini saja, biar Robert yang belikan makanan untukku," jelas Vander.
Karena sudah bilang begitu, Lara pun menurut saja akhirya. Bagi Lara yang penting akhirnya Vander mau makan.
Tak lama kemudian, datanglah Robert dengan membawa paper bag berisi makanan untuk untuk Vander.
"Tuan ini makanan untuk anda."
"Taruh saja di meja sana."
Robert lalu meletakan makanan itu diatas meja dekat sofa yang ada di ruangannya.
Selang beberapa menit sejak makanan itu datang, Vander tak kunjung memakannya juga. Alhasil Lara pun kembali meminta bosnya itu agar segera memakan makanannya.
"Iya, aku akan makan nanti!"
__ADS_1
"Tuan Vander cepat makan, kau harus segera makan makanannya selagi masih hangat!" Ujar Lara layaknya seorang ibu menyuruh anaknya untuk makan.
"Kenapa kau cerewet sekali sih!"
"Aku cerewet kan karena memikirkan kesehatan anda. Sudahlah jangan kebanyakan protes dan alasan, ayo cepat makan ini Tuan!"
Melihat Lara berani memarahinya begitu, Vander pun berpikir, apa dia sungguh sepeduli itu pada kesehatanku?
Seketika Vander malah mengulum seringai kecil dibibirnya. "Baiklah Nona Lara, karena kau terus memaksaku makan, maka aku akan makan." Vander menyuruh Lara membawakan makanan itu ke hadapannya saat ini juga.
Setelah dibawa kemeja Vander dan sudah disiapkannya, Lara pun mempersilakan bosnya itu untuk segera makan. Sayangnya Vander sama sekali tidak menyentuh sumpit yang ada dihadapannya itu dan malah menatap Lara.
"Tu- tuan kenapa tidak makan dan malah menatapku begitu?" Tanya Lara agak salah tingkah.
"Ini aku menunggu diberi makan?"
"Diberiโ makan apa maksudnya?"
"Nona Lara harus menyuapiku."
"Eh apa?" Lara kaget, ke- kenapa malah begini?
"Kedua tanganku sibuk kerja, dan kau menyuruhku makan jadi kau harus menyuapiku, kalau tidak mau yasudah aku tidak akan makan sampai pekerjaanku selesai," pungkas Vander yang meski bernada santai tapi jelas itu adalah sebuah pengancaman buat Lara.
Bagaimana ini? Padahal dulu aku suka sekali menyuapi Vander tapi kenapa sekarang rasanya aneh diminta menyuapinya. Tapi baiklah, aku akan menyuapi bayi besar menyebalkan ini!
"Baiklah, aku akan menyuapimu selagi kau bekerja!" Ucap Lara. Wanita itupun memegang sumpit dan mulai menyuapi makanan kedalam mulut bosnya tersebut.
"Cepat buka mulutmu," ucap Lara bersiap memasukan makanan ke mulut Vander.
Pria itu pun membuka mulutnya.
Akhirnya setelah lama tidak menyuapi Vander, Lara pun kembali menyuapinya.
Vander akhirnya mengunyah makanannya. Ia tampak lahap memakan tiap suapan dari tangan Lara sambil sibuk membaca dokumen dan menandatanganinya. Lara pun dibuat sedikit tersenyum senang, melihat akhirnya Vander mau makan meskipun dirinya agak lelah karena harus terus berdiri menyuapi bosnya itu.
Sadar melihat Lara yang sepertinya merasa pegal berdiri, Vander tiba-tiba saja langsung menarik tubuh Lara, dan membawanya duduk di pangkuannya.
Seketika Lara pun panik melihat dirinya kini berada duduk diatas pangkuan bosnya.
"Tuan kenapaโ" Lara mengangkat wajahnya yang kemudian terpaku karena melihat wajah Vander yang begitu dekat sedang menatapnya. Selama beberapa saat keduannya pun saling menatap tanpa bicara, sampai pada akhirnya Lara sadar dan berkata, "Tuan kenapa kau membuatku duduk dipangkuanmu?"
"Aku tau kakimu lelah, jadi akan lebih haik kau duduk saja dipangkuanku selama menyuapiku."
"Tapi..."
"Sudah suapi saja aku, karna aku masih lapar," pungkas Vander minta disuapi lagi.
Akhirnya Lara pun menyuapi pria itu sambil berada duduk diatas pangkuannya sampai akhir. Melihat situasinya begini, Lara seketika teringat kalau dulu dirinya juga sering duduk diatas pangkuan Vander, bahkan dirinya ingat sekali saat dulu pernah diatas pangkuan Vander memberinya makan buah anggur dengan mulut. Sontak wajah Lara pun jadi memerah akibat mengingat kejadian itu.
"Nona kenapa wajahmu memerah, apa kau sedang memikirkan hal yang memalukan?" Goda Vander.
"Um- ti- tidak kok! Oh iya karena makanannya sudah habis, sebaiknya aku segera kembaliโ" Lara yang berniat segera bangun dari pangkuan Vander malah ditahan oleh bosnya itu. Pria itu tiba-tiba malah melingkarkan lengannya yang panjang ke pinggang Lara hingga membuat wanita itu tidak bisa beranjak dari pangkuannya.
"Tuan lepaskan aku!" Pinta Lara.
"Aku tidak mau melepaskan, sebelum Nona Lara memberiku hadiah."
"Hadiah apa sih?!" Ujar Lara tidak mengerti ucapan bosnya, ia hanya ingin segera pergi.
"Aku minta hadiah berupโ" Vander langsung berhenti bicara, saat ia tau Lara mendaratkan sebuah ciuman dipipinya.
"Sudahkan hadiahnya?" Ucap Lara malu-malu. Entah kenapa diotak Lara hadiah yang dimaksud oleh Vander itu adalah sebuah ciuman, mengingat dulu suaminya selalu bilang 'minta hadiah' yang artinya minta dicium olehnya.
Vander pun tersenyum kecil. "Padahal bukan hadiah seperti itu yang kumaksud, tapi sepertinya hadiah yang seperti dipikiran Nona Lara jauh lebih bagus," ungkap Vander.
Eh, jadiโ aku salah sangka? Lara pun langsung menutupi wajahnya karena malu sekali sudah salah mengira. Dirinya baru sadar kalau Vander yang dihadapannya ini bukanlah Vander suaminya yang dulu. Ya Tuhan bagaiaman ini aku malu sekali!
"Sudah tidak usah malu begitu, aku suka kok hadiah dari Nona Lara." Vander yang masih belum puas menggoda sekretarisnya itu pun lalu berbisik ditelinga Lara, "Lain kali jangan cuma dipipiku ya, tapi dibibir, dan ditempat lain juga boleh."
"Diam!" Pekik Lara yang akhirnya berhasil lepas dari belenggu tangan Vander dan langsung melarikan diri.
Sementara Vander malah tertawa puas melihat ekspresi malu sekretarisnya yang baginya sangat lucu dan menggemaskan.
Vander lalu menyentuh pipinya yang habis dicium oleh Lara, ia pun tersenyum tipis lalu berkata, "Harusnya aku minta dibibir juga tadi."
...๐๐๐...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE SERTA GIFT YANG BANYAK, OKE! THANK YOU ๐