Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Berharap Pertolongan


__ADS_3

Di apartemennya, Vander yang sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai dan semi formal, tampak mengumpulkan orang-orang kepercayaannya. Disana anak buahnya melaporkan kalau Lara saat ini kemungkinan besar disandera di sebuah persembunyian rahasia yang hanya diketahui Gauren.


"Kami sudah menelusuri kota tapi sama sekali tak ada tanda-tanda dimana nyonya berada," ungkap anak buahnya.


"Termasuk di markas Gauren?"


"Di Markas Gauren juga tidak ada kak, aku sudah pastikan. Tempat itu khusus digunakan Gauren sebagai tempat penelitiannya. Dan berita buruknya lagi, saat ini orang-orang yang sudah dijadikan percobaan Gauren kini semakin banyak. Bahkan beberapa aparat pun juga sudah ada yang ia jadikan mangsanya," jelas Gavin.


Tiba-tiba anak buah Vander datang menemuinya dengan tergesa-gesa.


"Kenapa kau tergesa-gesa begitu?" tanya Robert.


"Tuan gawat!" Anak buah Vander tersebut memberitahukan kalau, telah terjadi penyerangan mendadak secara brutal oleh orang-orangnya Gauren ditempat-tempat umum di ZR, terutama di tempat-tempat ramai seperti mall, dan taman hiburan. Dan tempat yang mereka serang semuanya adalah tempat yang berada dibawah aliansi Laizen Group.


"Dan sebagian pengunjung kini disendera tidak boleh keluar gedung, bahkan kepolisian pun dibuat kerepotan menghadapi mereka. Karena mereka mengancam akan membakar pusat perbelanjaan jika polisi nekat menerobos masuk."


"Gauren dan orang-orangnya benar-benar sudah tidak waras!" Ujar Gavin.


Tak lama Vander mendapat telepon dari petinggi kepolisan pusat keamanan kota. Komandan polisi pusat meminta Vander berkerja sama dengannya untuk urusan ini, karena mau tidak mau kota ZR saat ini sudah masuk siaga satu.


"Baik, aku akan bekerjasama dengan kepolisian. Tapi tolong rahasiakan orang-orangku, anggap saja Crux bekerja secara tak terlihat membantu kalian para polisi."


....


"Baik jika kau setuju, kita bertemu di markas rahasia kepolisian. Aku dan anak buahku akan menemui kalian disana."


....


"Jadi bagaimana kak?" Tanya Gavin.


Vander menghela nafas. "Kita tidak ada pilihan, bertarung melawan mereka adalah cara terbaik. Setidaknya tahan sampai Dominic menyelesaikan serum penangkal para manusia-manusia percobaan Gauren."


Kegilaan Gauren sepertinya semakin menjadi-jadi saja. Obsesinya mengambil alih kota itu memang bukan khayalan.


"Semuanya aku harap kalian semua siap secara fisik, mental. Bagaimanapun nyawa banyak orang dipertaruhkan saat ini. Aku minta kerjasama kalian."


"Baik Tuan, jadi sekarang bagaimana rencana selanjutnya?" tandas anak buahnya.


Vander kemudian menginstruksikan rencana dan memberikan perintah kepada masing-masing anak buahnya itu.


"Kalian sudah paham?"


"Paham tuan," jawab anak buahnya yang sebagian telah ditugaskan untuk mensterilkan area kota yang masih aman.


Sementara itu, Vander memerintahkan Robert dan Tori, serta beberapa anak buahnya untuk membawa pergi Rey, Mira, dan bibi Frida, ke tempat yang lebih aman yakni ke kota RK. Karena disana akan jauh lebih aman untuk mereka.


Sehabis berkata begitu, Vander langsung menepuk pundak Gavin, karena melihatnya tiba-tiba murung karena harus berpisah dari istrinya. "Hei kau tenang saja, Tori dan Robert akan menjaga mereka. Lagipula Miranda juga sedamg hamil kan? Kau harus pikirkan anakmu yang ada diperutnya."


"Iya kak, aku percaya pada rencanamu."


"Bagus. Kalau begitu semua bersiap!"


"Baik tuan!"


...🍁🍁🍁...


Setelah memberikan semua instruksinya, Vander bersama Gavin bersiap untuk berangkat ke markas komandan kepolisian pusat. Namun sebelum itu, baik Vander maupun Gavin, mereka terlebih dahulu berpamitan pada anak dan istri mereka.


"Mira aku minta maaf tidak bisa menemanimu untuk beberapa waktu ini. Tapi kau tenang saja, aku akan selalu menjagamu dari jauh," ucap Gavin yang sejatinya agak berat meninggalkan sang istri yang kini tengah hamil muda.


Untungnya, sebagai istri Miranda termasuk istri yang sangat pengertian. Ia terlihat tak terlalu keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya tersebut, toh apa yang dilakukan oleh Gavin adalah demi menolong banyak orang termasuk dirinya sendiri. "Sudahlah, kau jangan terlalu berdrama, nanti malah aku yang jadi sedih. Aku paham dirimu dan aku bangga padamu, setidaknya berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja dan pulang dengan selamat."


"Pasti, aku pasti akan pulang dengan selamat dan menemuimu serta calon bayi kita." Gavin mengusap perut istrinya, lalu mereka pun saling berpelukan erat sebelum akhirnya mereka berpisah untuk sementara.


Tak jauh berbeda dengan Gavin dan Mira. Pasangan ayah dan anak antara Vander dan Reynder pun tampak saling berpamitan sebelum akhirnya mereka akan berpisah untuk beberapa waktu.


Vander berjongkok menghadap putranya dan berkata, "Rey, kau jaga diri baik-baik. Maaf aku harus pergi dulu meninggalkanmu. Dan maaf aku belum bisa menemukan Lara."


"Papa tenang saja, aku kan bukan bayi lagi. Lagipula aku tahu dirimu melakukan semua ini demi menolong banyak orang, dan yang perlu papa lakukan untukku hanya satu yaitu, tolong bawa mamaku kembali bersama calon adikku dengan selamat. Janji?"

__ADS_1


"Ya, aku janji!" Jawab Vander menyanggupi.


Rey langsung memeluk papanya. "Kalau begitu jaga dirimu Pa... Aku sayang padamu."


"Aku juga sayang padamu Rey..."


Mereka pun akhirnya berpisah, Rey bersama yang lainnya pergi meninggalkan kota ZR sementara Vander dan Gavin yang tinggal bersiap untuk pergi ke markas komandan kepolisian untuk berunding.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu, di lab tempatnya memproduksi serum, Dominic tampak sibuk sekali hari ini. Untungnya kali ini ia tidak sendiri, disana dirinya dibantu oleh seorang dokter juga.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Dominic yang merasa lega sekaligus puas karena telah berhasil membuat serum yang bisa mengehentikan kecanduan obat orang-orang yang dibuat oleh Gauren.


"Karja bagus!" Ujar dokter yang membantu Dominic di lab. Dokter itu kemudian membuka masker dan penutup kepalanya. Dan siapa sangka, dokter yang membantu Dominic adalah dokter Rena. Dokter yang selama ini ikut membantu Gauren. Rena mendekati Dominic dan mengatakan agar segera menguji serum itu, karena bagaimanapun waktu mereka terbatas jadi harus dikerjakan segera. Ditambah keadaan kota semakin kacau saja akibat perbuatan orang-orang dibawah kendali Gauren.


"Kau benar Rena, tapi aku sudah sempat mengujinya ditubuh Vander beberapa waktu lalu, memang sih belum terlalu sempurna waktu itu."


"Yasudah kau uji lagi, kebetulan aku membawa sampel serum ciptaan Gauren yang kuambil langsung dari Proax."


"Apa! Kau mengambilnya? Apa kau tidak takut ketahuan?" Dominic kaget mengetahui Rena berbuat senekat itu.


"Mau bagaimana lagi, ini jalan tercepat untukku bisa membantumu. Dan lagi, izin cutiku hanya satu minggu sisanya aku serahkan semua padamu Dom."


Dominic tersenyum dan berterima kasih kepada Rena karena ia sudah mau mengambil resiko untuk membantunya.


"Kau jangan senang dulu, aku melakukan ini semua bukan karena kau, tapi karena aku ingat sumpahku sebagai dokter untuk menyembuhkan orang-orang. Kalau diantara kau dan aku, aku sudah tak peduli lagi dengan masa lalu kita,"balas Rena dengan nada cuek.


"Aku tahu tapi..." Dominic seketika mencium bibir Rena hingga membuat Rena kaget dibuatnya. "Kau ini apa-apaan!"


"Terima kasih ya Rena. Aku janji setelah ini semua berakhir aku akan kembali mengejarmu lagi."


"Jangan terlalu banyak omong kosong Dominic, waktu kita terbatas!" Sahut Rena malu-malu.


"Baik dokter!"


...🍁🍁🍁...


Dan di markas kepolisian, Vander yang sudah berunding dengan komandan utama tim kepolisian pusat akhirnya sepakat. Tim kepolisian akan berbaur bersama para anggota Crux, dimana sebagian anggota polisi dan beberapa anak buah Vander akan bertugas untuk melakukan pemantauan dan penyergapan di markas Gauren.


"Aku ingin polisi melindungi Gavin karena dia yang akan pemimpin tim dibagian penyerbuan markas."


"Apa? Aku?" Gavin langsung kaget mendengar dirinya tiba-tiba ditunjuk jadi pemimpin regu tim.


"Kenapa, kau takut?"


"Eh, si- siapa yang takut, aku tentu saja siap, kau jangan remehkan aku kak, ingat aku yang paling tahu denah markas di Proax."


"Dan komandan, anda sebagai kepala keamanan kota aku minta agar memantau semuanya dari sini. Dan pastikan semua bawahan anda menyebar diseluruh kota untuk menangkap orang-orangnya Gauren yang sudah dipengaruhi obat. Apapun itu bawa mereka yang teridentifikasi ke lab dimana Dominic berada, mereka semua akan dikarantina disana dan disembuhkan. Selain itu aku juga minta agar kau melakukan kerjasama dengan para dokter di kota ini."


"Aku paham tuan Vander, dan lalu Gauren?" Tanya komandan.


"Aku sendiri yang akan menemuinya. Bagaimanapun semua masalah ini berawal dari konflik antara aku dan dia."


"Kau menemuinya sendiri bukankah itu berbahaya, bisa jadi dia akan menjebakmu. Ingat, Gauren itu sangat licik."


Vander tersenyum kecil, "Tidak ada yang lebih tau dia kecuali aku. Lagipula ada satu orang lagi yang harus ditangani, yakni Reki Helian. Aku yakin sekali dia tahu dimana istriku berada sekarang." Pria itu bisa jadi lebih berbahaya dibanding Gauren."


Vander yakin sekali kalau Lara disembunyikan Reki. Untungnya ia sudah meminta bantuan pada Eiji juga untuk menyelidiki dimana Lara berada saat ini.


"Baiklah karena semua rencana sudah di instruksikan dengan jelas, maka aku sebagai komandan kepolisian pusat menyatakan misi dimulai."


Dan akhirnya semua pun bergerak sesuai misi dan tugas mereka masing-masing.


...🍁🍁🍁...


Di tempatnya disekap Lara yang sedang menggambar desain pakaian di atas kertas dengan pulpen seadanya, tiba-tiba langsung terlihat ketakutan saat melihat Reki masuk.


Lara yang langsung memegangi perutnya seketika beregerak ke belakang, seolah memperingatkan Reki agar jangan medekatinya. Sayangnya Reki yang tak peduli akan gestur yang Lara tunjukan tetap saja berjalan medekatinya. Dengan senyumnya yang seolah menghina, pria itu duduk mendekati Lara.

__ADS_1


"Mau apa kau? Mau menamparku lagi? Atau mau mencekikku lagi? Dengar Reki, sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menikah denganmu!" ungkap Lara penuh emosi.


Reki tergelak, "Kau pikir aku peduli dengan ucapanmu? Tidak sayang..." Reki memegang dagu Lara dan mendongakannya, "Aku akan tetap menikahimu dengan atau tanpa persetujuanmu. Dan..." Reki menatap ke perut buncit Lara yang sejak tadi dipeganginya.


Melihat Reki menatap ke arah perutnya dengan senyuman yang penuh intrik perasaan Lara seketika langsung tidak enak, "Kau lihat apa? Apa yang sedang kau pikirkan?!" Jangan bilang dia ingin melakukan sesutu pada anak diperutku? Lara menatap ketakutan.


"Kau tahu, melihatmu kini tengah mengandung benih bajingan itu membuatku jijik! Aku hanya sedang berpikir, bagaimana kalau kau segera keluarkan saja anak diperutmu itu lalu setelah itu kita menikah dan buat anak kita sendiri?"


Mata Lara seketika terbelalak lebar, tenggorokanya seolah tercekik mendengar ucapan Reki barusan. "Kau tidak waras Reki! Dengar, sampai kapanpun tidak akan kubiarkan siapapun berani menghancurkan hidup anak yang ku kandung saat ini! Aku bisa membunuhmu jika kau berani berbuat macam-macam pada anakku!"


"Wow berani sekali kau mengancamku."


"Bahkan aku bisa lebih kejam darimu jika kau berani macam-macam pada anak diperutku!"


"Cih! Seberharga itukah anak dari pria busuk yang sampai hari ini bahkan peduli padamu saja tidak! Apa kau sudah dibutakan oleh pria itu Lara!" Tandas Reki dengan tatapan merendahkan.


"Diam! Kau tidak berhak berkomentar apapun tentangku ataupun Vander. Dan anak diperutku ini, dia adalah anakku, darah dagingku jadi tidak akan kubiarkan siapapun mengusiknya kau paham!"


Reki tertawa geli dan langsung menjambak rambut Lara hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Kenapa, sakit? Ini belum seberapa Lara, aku bisa buatmu lebih tersiksa lagi kalau kau berani bicara kurang ajar padaku!"


"Sakit... Reki!" Lara meringis rambutnya ditarik kuat, hingga ia bisa merasakan helai rambutnya terlepas dari kulit kepalanya.


"Minta ampun padaku!"


"Lepaskan sakit Reki..." Lara menangis kesakitan.


"Sejak dulu kau terlalu sombong Lara, kali ini kau tidak bisa seenaknya padaku. Kau harus tahu dimana posisimu saat ini kau paham!" Reki melepaskan rambut Lara dengan kasar lalu mendorong Lara ke ranjang.


"Ka- kau mau apa? Jangan mendekat!" Lara yang masih kesakitan kini bertambah semakin takut melihat Reki yang tiba-tiba saja naik ke ranjang mendekatinya dengan tatapan melecehkan. "Aku bilang jangan mendekat! Jangan dekati aku jangan!"


SREKK!


Reki merobek pakaian Lara hingga membuatnya berteriak histeris. "Tidak! kumohon jangan!"


"Aku suka padamu Lara sejak dulu aku menginginkanmu..."


"Tidak Jeden..." Ia menangis ketakutan dan panik. Lara tahu apa yang akan dilakukan Reki padanya.


"Kumohon Reki jangan...," Lara memohon.


"Kau semakin cantik kalau memohon, aku jadi ingin tahu bagaimana ekspresi wajahmu saat aku membuatmu mendesah."


Tubuh Lara gemetar meringkuk ketakutan, matanya sudah berderai air. mata. Ia ingin berusaha lari tapi geraknya kini terbatas oleh kehamilannya, ditambah Reki yang seolah tak memberinya celah. Ya Tuhan... selamatkan aku dari manusia jahat ini...


Lara terus memberontak dari Reki yang ingin memperk*sanya. Dan untungnya Lara terselamatkan oleh dering ponsel Reki.


"Pria tua sialan! Mengganggu orang saja!"


Lara sungguh beruntung karena Reki pada akhirnya tak jadi melakukan hal menjijikan padanya setelah ia mendapati telepon dari Gauren. Pria itu mengangkat telepon dari Gauren lalu bersiap ingin pergi.


Sebelum Reki pergi ia pin mengatakan suatu hal pada Lara. "Dengar, besok aku pastikan kita menikah. Dan aku sudah memutuskan, jika kau tidak mau menikah denganku, maka anak sialan yang ada diperutmu itu, aku pastikan dia tidak akan lahir ke dunia."


Lara setika syok dan tercekak mendengar perkataan Reki barusan. Ia seketika lansung menangis dan memohon agar Reki tak melakukan apapun pada anaknya. Naasnya Reki yang sudah tak punya hati pun tak peduli, pria itu hatinya sudah terlanjur menghitam hingga tak punya lagi rasa kasihan.


"Reki kumohon jangan lakukan apapun pada anakku! Reki....! Aku mohon Reki...!" Lara memohon sambil menangis terisak-isak. Bahkan untuk pertama kalinya dalam hidup ia sampai rela berlutut memohon pada Reki.


"Kau memohon padaku sekarang, cih! Sayangnya aku tidak selunak dulu Lara. Saat ini justru aku semakin senang melihatmu tersiksa begini. Tapi aku punya tawaran menarik, jika kau bersedia menikah denganku, kau boleh melahirkannya tapi dengan syarat, kau harus melupakan Vander dan anak-anakmu!"


Lara terkesiap, bagaimana mungkin ada pilihan gila seperti itu. Bagaimana mungkin ia meninggalkan suami dan anaknya dan menikahi pria lain. Ini sungguh bukan pilihan.


"Bagaimana, tidak mau? Yasudah, aku beri waktu sampai besok. Dan jika kau tidak mau, maka aku pastikan jantung anak diperutmu akan berhenti berdetak!" Ujar Reki lalu pergi meninggalkan lagi Lara terkunci di dalam sendirian.


"Reki kau tidak bisa seperti ini! Reki kau iblis Biadab!" Lara pada akhirnya hanya bisa menangis tersedu-sedu meratapi nasib buruknya saat ini. Bagaimana ini? Aku tidak mau berpisah dengan suami dan anak-anakku. "Kenapa kau belum juga datang menolongku Vander...? Aku takut sekalii...?" Dalam tangisnya wanita malang itu mengharap pertolongan.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏

__ADS_1


__ADS_2