
Karina yang kakinya diperban datang menggunakan kursi roda diantar pegawai dan penjaganya memasuki Miracle dan langsung menghampiri Van.
"Hai Van, hai Nona Miranda!" Sapa Karina.
"Nona Karina apa anda habis kecelakaan?" Tanya Mira melihat kaki Karina yang diperban dan menggunakan kursi roda.
"Van sebagai orang yang menolongku tolong kau jelaskan pada Nona Miranda kenapa kakiku bisa sampai begini," tukas Karina.
Van? apa hubungannya dengan dia?
"Ada apa sebenarnya, dan kenapa orang-orang dibelakangmu membawa banyak bingkisan?" Tanya Miranda lagi.
Karina pun akhirnya menjelaskan bahwa, kedatangannya hari ini adalah untuk bertemu Van dan memberikan hadiah-hadiah tersebut sebagai tanda terima kasih, karena kemarin sudah mau repot-repot menggendongnya ke rumah sakit.
Benarkah itu? Mira memicingkan matanya ke arah Van. Ia jadi semakin penasaran ada apa sebenarnya diantara Van dan Karina, dan apa Lara tau soal ini?
"Van hadiah-hadiah ini untukmu," ungkap Karina.
Van sendiri juga tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Menerima hadiah-hadiah itu? Tentu saja tidak, pasalnya ia merasa tidak pernah melakukan hal spesial untuk Karina, jadi untuk apa ia menerima hadiah-hadiah itu?
Sementara itu tanpa sadar, kehadiran Karina telah menarik perhatian orang-orang yang ada di lobby. Kebanyakan dari mereka sibuk merekam dengan ponsel dan sebagian lagi sibuk saling berkomentar ;
[Wah itu Nona Karina dari appletree, dia kenapa ya?]
[Kenapa dia memberi hadiah untuk pengawalnya Nona Lara?]
[Apa mereka saling kenal?]
[Pengawal Van begitu tampan dan mempesona tidak heran kalau sekelas Nona Karina sampai tertarik padanya.]
[Tapi bagaimana dengan Nona Lara? Dia lebih cantik dan menawan dibanding Nona Karina.]
[Tidak, Nona Karina juga cantik dan terlihat dewasa.]
__ADS_1
[Sepertinya akan ada kisah pria tampan direbutkan dua wanita cantik...]
Tak lama kemudian Lara bersama pimpinan divisi lain termasuk Jeden keluar dari dalam lift dan melihat kehebohan yang terjadi di lobby.
"Ada apa ini?" Tanya Lara, dan seketika mata gadis itu pun langsung tertuju pada sosok Van dan Karina. "Mau apa wanita itu datang kesini tiba-tiba?" Dengan raut wajah penuh tanya Lara menghampirinya untuk mencari tau.
"Ada apa ini, kenapa kantorku jadi tidak kondusif begini? Tolong jelaskan!" Lara melirik Vander.
Van punya firasat tidak enak melihat tatapan Lara padanya barusan.
"Nona Lara, aku kemari hanya ingin memberikan kado-kado ini untuk Tuan Van, karena aku tidak tau dimana rumahnya dan nomornya, jadi aku datang kemari untuk menemuinya," jelas Karina.
Lara mencoba menahan perasaannya yang sebenarnya ingin meledak.
"Sebelumnya maaf Nona Karina, tapi meskipun kita telah resmi bekerjasama tapi tetap saja kau tidak bisa seenaknya melakukan hal seperti ini di kantorku hingga menciptakan kehebohan. Jika kau memang ada urusan pribadi dengan orangku, bicarakanlah secara pribadi dengan yang bersangkutan."
Miranda melirik Lara, Nona sepertinya tidak suka dengan kehadiran Karina Foster menemui Van. Ditambah lagi, aku tau Nona kan suka pada pengawalnya sendiri. Ya ampun sebenarnya ini ada apa sih? Miranda yang tidak tau apa-apa jadi dibuat bingung sendiri.
Karina tersenyum dan mengiyakan perkataan Van. Meski dirinya terpaksa harus membawa semua hadiah itu kembali, tapi setidaknya tujuan Karina agar bisa mendapatkan nomor ponsel Van tercapai pada akhirnya.
"Baiklah aku akan pergi, tapi nanti aku akan menghubungimu tuan Van"
Karina melihat ke arah Lara. "Dan untukmu Nona Lara, maaf sudah membuat kekacauan, kalau begitu aku permisi." Akhirnya Karina bersama anak buahnya pergi meninggalkan Miracle.
Raut wajah Lara kali ini jelas berbeda, kali ini bukan perasaan marah yang ditunjukan melainkan rasa lelah dan kecewa. Gadis itu kemudian meminta semua pegawainya untuk kembali bekerja. Ia juga langsung meminta maaf kepada para kepala divisi lain, karena harus menunda pertemuan antar divisi kali ini dikarenakan ia tiba-tiba merasa kurang enak badan.
"Miranda, tolong kau ikut aku ke ruanganku!"
"Baik Nona," jawab Mira menurut.
Lara kali ini tidak mengatakan sepatah katapun kepada Van dan malah langsung pergi.
"Nona Lara aku—" Van ingin menjelaskan sesuatu namun, Lara sama sekali tidak menghiraukannya, ia bahkan tidak mau menatap pria itu sedikitpun dan malah memilih pergi melewati Van tanpa menoleh sama sekali.
__ADS_1
Seketika perasaan Van langsung terasa seperti diiris, "Nona apa kau sungguh marah kali ini?" Lirihnya.
Sebaliknya melihat Van diabaikan Lara, Jeden yang juga sejak tadi muncul bersama Lara malah mengejek dengan terkekeh geli, seraya puas melihat Vander saat ini.
"Sudah kuduga sejak awal, tanaman liar jika dipelihara hanya akan tumbuh jadi benalu untuk pemiliknya. Sama halnya dirimu, sampai kapanpun kau hanya akan jadi benalu untuk Lara, seharusnya kau tau itu gelandangan busuk!" Ujar Jeden lalu pergi.
Vander kali ini merasa bingung, diabaikan oleh Lara seperti tadi sungguh membuatnya ingin marah. Padahal ia tidak ada sama sekali hubungan dengan Karina, tapi
Vander berjalan menaiki anak tangga, dirinya merasa tidak tenang saat ini. Kedua tangannya mengepal kuat dan memukul pegangan tangga hingga penyok sambil berteriak, "Argh sial!"
***
Sementara itu ruangannya Lara hanya duduk terdiam di sofa saat ini perasaan Lara campur aduk hingga tak terbaca.
Melihat Lara begitu Miranda berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu saat ini. Apakah sedang marah, sedih, kesal, cemburu, atau kecewa?
"Nona Lara kau baik-baik saja kan?" Tanya Miranda akhirnya buka mulut.
"Miranda, apa perasaanku ini salah, atau malah yang aku lakukan salah?"
"Eh? Nona bicara apa?"
"Apa aku salah menyukai pria itu, apa aku salah jika punya rasa cemburu padanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku belum pernah merasakan hal seperti ini seumur hidupku, tapi aku lelah kalau harus pura-pura tidak masalah melihat Van dekat dengan wanita lain. Tapi disisi lain aku sadar aku tidak berhak cemburu, karena antara Van dan aku tidak ada hubungan lain selain hubungan bos dan pengawalnya. Mira... Aku harus apa sekarang," Lara akhirnya berkeluh kesah tentang isi hatinya kepada Mira.
Miranda langung mendekati Lara dan memeluknya. "Nona kau tidak salah,"
"Apakah aku harus seagresif Karina? Tapi kalau sampai aku begitu apa yang akan dikatakan orang-orang di kantor? Sampai saat ini Aku mencoba menjadi seelegan mungkin bersikap demi menjaga nama baik Miracle, tapi berpura-pura tenang saat sedang cemburu itu sungguh melelahkan, huhu..."
Wanita itu memang makhluk pencemburu tetapi mereka tidak ingin terlihat saat cemburu.
Bersambung...
LIKE, VOTE, COMMENT DAN FAVORITKAN 💜
__ADS_1