Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kejutan dan Hadiah


__ADS_3

Di dalam mobil Lara dan suaminya itu terus menerus saling menatap dan bergenggaman tangan. Sesekali mereka juga saling berciuman mesra, sampai-sampai Robert yang tengah mengemudi pun agak tersipu malu melihat kedua bosnya itu tak hentinya beradegan mesra di dalam mobil.


Hingga pada akhirnya, mereka tiba juga disebuah restoran mewah milik Vander yang hari ini khusus ia minta agar dikosongkan untuk dirinya dan sang istri. Vander menggandeng tangan istrinya keluar mobil, dan membawanya masuk kedalam restoran.


Setibanya di dalam restoran, mereka langsung disambut oleh para pelayan layaknya raja dan ratu yang baru saja tiba.


"Tuan dan Nyonya silakan duduk disini," ucap si pelayan mengantar Vander dan Lara duduk di meja yang sudah disediakan khusus untuk mereka. Disana mereka berdua langsung disajikan makanan pembuka spesial. Diselimuti suasana romantis dan iringan musik yang indah. Sepasang suami istri itu tampak menikmati makan malam mereka dengan penuh suka cita dan kebahagiaan. Keduanya pun saling melempar senyum dan canda gurau. Sampai tak terasa semua hidangan spesial yang disajikan pun sudah habis disantap.


"Mari bersulang untuk malam ini," ajak Vander pada istrinya sambil mengangkat gelas winenya.


Sayangnya Lara malah dibuat tertawa melihat Vander mengajaknya bersulang. "Kau mengajak bersulang sementara aku hanya bisa minum susu bukan wine..." Tandas Lara sambil agak tertawa. Karena sedang hamil Lara tentu daja tidak diperbolehkan minum alkohol, alhasil ia malah minum susu hamil.


"Its oke. Temani aku minum saja sudah cukup." Pada akhirnya mereka pun saling bersulang dan meminum minuman mereka sampai habis.


Selang beberapa menit, Vander mengajak Lara untuk berdansa. Namun hal itu langsung ditolak oleh sang istri dengan alasan, ia sedang hamil besar jadi pasti akan sulit untuk berdansa.


"Tidak masalah, kita pelan-pelan saja. Aku sudah lama tidak berdansa dengan istriku, jadi kumohon mau ya sayang," bujuk Vander yang pada akhirnya berbuah manis. Lara akhirnya mau diajak berdansa.


Diiringi musik klasik yang terdengar romantis, keduanya berdansa mengikuti iringan musik yang mengalun dengan indahnya.


"Vander maaf aku tak bisa selincah biasanya karena sedang hamil."


"Tidak masalah, asal bisa berdansa sambil terus menatap wajahmu yang menawan sudah cukup."


Lara tersenyum, "Terima kasih untuk semuanya suamiku tercinta."


"Sama-sama."


Mereka pun lalu berciuman.


...🍁🍁🍁...


Selesai makan dan berdansa di restoran mewah. Vander pun membawa sang istri berjalan-jalan sebelum mereka pulang. Kali ini Vander menyetir sendiri mobilnya, sementara Robert sudah ia suruh pulang duluan dengan mobil lain.


Dan setelah berkendara beberapa kilometer, Vander tiba-tiba saja membawa mobilnya menepi ke pinggir jalan, yang mana didepannya ada sebuah ladang ilalang yang membentang luas sejauh mata memandang.


"Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Lara dengan wajah bingung.


Vander hanya tersenyum lalu membukakan sabuk pengaman istrinya dan mengajaknya turun dari mobil. Tak lupa ia memberikan jasnya kepada Lara untuk menutupi pundaknya yang terbuka agar tak kedinginan. Maklum saja, meski musim semi tapi kalau malam suhunya tetap saja lumayan dingin. Vander menggandeng sang istri dan mengajaknya memandangi ladang ilalang itu di malam hari.


"Padahal sudah sangat malam, tapi langit disini tetap tampak cantik,"" ungkap Lara menikmati suasana saat itu.


"Kau ingat tempat ini?" Tanya Vander.


Lara mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat hal penting terjadi di tempat ia berdiri saat ini. "Tempat ini— sepertinya tidak asing tapi... Oh iya aku ingat!" Lara akhirnya ingat, kalau tempat ini adalah tempat dimana dirinya dan Vander pertama kali saling berkenalan nama.


"Kau benar," ungkap Vander lalu tersenyum manis menatap Lara.


"Tu- tunggu, Vander ka- kau sudah ingat kembali semua memorimu yang dulu tentang kita?"


Vander hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"Jadi kau sungguh sudah dapatkan kembali ingatanmu yang lama, ingatan tentang kita?" Lara begitu semangat dengan hal ini.


"Iya aku sudah ingat jelas semuanya."

__ADS_1


Seketika mata Lara tampak berkaca-kaca lalu ia pun memeluk Vander. "Aku senang sekali kak, akhirnya... Akhirnya kau seutuhnya kembali padaku Vander.... Orang yang kucintai akhirnya sudah sepenuhnya kembali."


Vander mengusap air mata sang istri lalu mencium keningnya. "Jangan menangis, ingatanku sudah seutuhnya kembali harusnya kau beri aku ciuman selamat datang kembali."


Tanpa aba-aba Lara langsung menarik wajah suaminya kedekat wajahnya dan memberikan ciuman hangat. "Selamat datang kembali pengawalku yang tampan."


"Pengawal?"


"Ya, di tempat ini kan aku pertama kali memintamu jadi pengawal pribadiku. Dan kau ingat tidak? Sebelum kau jadi pengawalku kita kan saling tidak suka, karena saat itu kau sangat menyebalkan dan bau. Kau juga bilang kalau aku ini cerewet dan merepotkan," ungkap Lara mengingat masa lalunya dengan Vander.


Mendengar hal-hal itu Vander pun hanya bisa tersenyum sambil mengingatnya. Tapi semua ini memang tak pernah diduga sama sekali. Karena siapa yang mengira, seorang pria gelandangan aneh yang tidak sengaja jadi penolong seorang wanita kaya raya, malah jadi pengawal pribadinya hingga keduanya akhirnya jatuh cinta, dan berakhir menjadi sepasang suamu istri yang kini sudah mau dikaruniai dua orang anak.


"Kisah kita benar-benar seperti kisah di romansa fiksi. Seorang gelandangan lusuh yang tak sengaja menjadi penolong sang putri, akhirnya malah menjadi pemilik hati sang putri itu sendiri," ungkap Lara sambil senyum-senyum.


"Kau tidak menyesal menikah dengan pengawal yang mantan gelandangan ini?"


"Tentu saja tidak, bagiku kau adalah gelandangan paling spesial di dunia. Kau pengawalku yang sangat hebat, dan pastinya kau adalah suamiku yang paling kucintai."


Keduanya saling melempar tatapan penuh cinta dan senyuman. Sampai tiba akhirnya arloji Vander menunjukan pukul 12, Vander langsung mengecup bibir sang istri dan berkata. "Selamat ulang tahun istriku tersayang, semoga kau sehat dan bahagia selalu bersamaku."


Vander lalu mengeluarkan. Sebuah cincin permata limited edition. Dimana dimata cincin itu berhiaskan permata yang terbuat dari permata merah api yang sangat legendaris. Ia pun memakaikannya di jari manis sang istri. Meski sudah pernah diberi cincin saat dilamar dulu, Lara tetap saja senang sekali melihatnya diberi cincin.


"Ini cantik sekali."


"Kau suka Lara?"


"Ya, suka sekali! Vander ini ulang tahun terbaiku bersamamu," ungkap Lara kemudian mengecup bibir suaminya. "Terima kasih Vander..."


"Sama-sama, oh iya Lara sebenarnya ada hadiah lain lagi."


"Sebenarnya ini bukan hadiah dariku, tapi dari orang lain," ungkap Vander yang kemudian memberikan kotak hadiah yang diberikan Eiji tadi padanya di kantor.


"Ini— dari siapa?"


"Eiji!" Jawab Vander datar.


Seketika Lara heran karena, tumben sekali suaminya ini mengizinkan pria lain memberikan hadiah secara pribadi untuknya.


"Kau jangan salah sangka, aku menerimanya karena aku pikir, Eiji sudah banyak membantumu dan Rey saat aku tidak ada waktu itu. Jadi tidak ada salahnya membiarkan dia memberimu hadiah."


Tanpa berlama-lama, Lara membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah koin emas. Dimana itu dulu adalah koin keberuntungan yang pernah diberikan Lara untuk Eiji saat ia mau berangkat sekolah di luar negeri. Lara merasa teharu dan tak menyangka kalau Eiji masih menyimpannya dengan sangat baik. Selain koin, didalam kotak itu juga ada sepucuk surat yang mana ada tulisan tangan Eiji tertulis disana. Lara pun dengan perlahan membaca isi surat yang bertuliskan ;


ᴛᴇʀᴜɴᴛᴜᴋ ʟᴀʀᴀ ᴡᴀɴɪᴛᴀ yᴀɴɢ ᴩᴀʟɪɴɢ ᴀᴋᴜ ꜱᴀyᴀɴɢɪ, ʜᴀʀɪ ɪɴɪ ᴛᴇᴩᴀᴛ ᴅɪ ᴜꜱɪᴀᴍᴜ yᴀɴɢ ᴋᴇ-26 ᴀᴋᴜ ᴋᴇᴍʙᴀʟɪᴋᴀɴ ᴋᴏɪɴ ᴋᴇʙᴇʀᴜɴᴛᴜɴɢᴀɴ yᴀɴɢ ᴩᴇʀɴᴀʜ ᴋᴀᴜ ʙᴇʀɪᴋᴀɴ ᴅᴜᴀ ʙᴇʟᴀꜱ ᴛᴀʜᴜɴ ʟᴀʟᴜ. ꜱᴇᴊᴜᴊᴜʀɴyᴀ ᴀᴋᴜ ɪɴɢɪɴ ᴍᴇɴɢᴇᴍʙᴀʟɪᴋᴀɴ ᴋᴏɪɴ ɪᴛᴜ ꜱᴀᴀᴛ ᴀᴋᴜ ꜱᴜᴅᴀʜ ᴍᴇɴᴅᴀᴩᴀᴛᴋᴀʙ ᴄɪɴᴛᴀᴍᴜ. ꜱᴀyᴀɴɢɴyᴀ ᴛᴀᴋᴅɪʀ ʙᴇʀᴋᴀᴛᴀ ʟᴀɪɴ, ᴋᴇɴyᴀᴛᴀᴀɴɴyᴀ ᴍᴇꜱᴋɪ ᴀᴋᴜ ᴍᴇɴɢᴇɴᴀʟᴍᴜ ʟᴇʙɪʜ ᴅᴜʟᴜ, ᴋᴀᴜ ᴛᴇᴛᴀᴩ ꜱᴀᴊᴀ ᴍᴇᴍɪʟɪʜ ᴩʀɪᴀ ʟᴀɪɴ. ꜱᴇᴛᴇʟᴀʜ ᴍᴇᴍʙᴀᴄᴀ ꜱᴜʀᴀᴛ ɪɴɪ ᴛᴏʟᴏɴɢ ᴊᴀɴɢᴀɴ ᴋᴀꜱɪʜᴀɴ ᴩᴀᴅᴀᴋᴜ, ᴀᴋᴜ ᴅᴀʟᴀᴍ ᴋᴇᴀᴅᴀᴀɴ ꜱᴀᴅᴀʀ ꜱᴀᴀᴛ ᴍᴇɴᴜʟɪꜱ ꜱᴜʀᴀᴛ ɪɴɪ. ᴀᴋᴜ ᴍᴇɴᴜʟɪꜱ ɪɴɪ ᴋᴀʀᴇɴᴀ ᴀᴋᴜ ᴛᴇʀʟᴀʟᴜ ᴍᴀʟᴜ ᴜɴᴛᴜᴋ ʙᴇʀᴋᴀᴛᴀ ʟᴀɴɢꜱᴜɴɢ ᴩᴀᴅᴀᴍᴜ. ᴊᴀᴅɪ ʟᴀʀᴀ-ᴋᴜ yᴀɴɢ ᴩᴀʟɪɴɢ ᴍᴀɴɪꜱ, ꜱᴇʟᴀᴍᴀᴛ ᴜʟᴀɴɢ ᴛᴀʜᴜɴ, ᴛᴇʀᴜꜱʟᴀʜ ʜɪᴅᴜᴩ ʙᴀʜᴀɢɪᴀ ᴅᴇɴɢᴀɴ ꜱᴇᴍᴜᴀ ᴩɪʟɪʜᴀɴ yᴀɴɢ ᴋᴀᴜ ᴀᴍʙɪʟ.


^^^ᴅᴀʀɪ yᴀɴɢ ꜱᴇʟᴀʟᴜ ᴍᴇɴᴄɪɴᴛᴀɪᴍᴜ^^^


^^^ᴇɪᴊɪ ʜᴀʀᴛᴍᴀɴ^^^


Lara tersenyum penuh haru setelah membacanya, ia bahkan sampai menitikan air mata. Vander penasaran kenapa isi surat itu sampai bisa membuat Lara teharu, alhasil ia pun membaca suratnya juga. Dan setelah membacanya, mau tak mau Vander pun terpaksa mengakuinya kalau, Eiji benar-benar pria paling tulus yang pernah ia tahu di dunia ini.


"Eiji pria yang sangat baik," ucap Vander.


"Ya, dia pria yang tulus dan sangat baik. Dia berhak mendapatkan banyak cinta yang tulus dari seseorang yang tulus juga."


"Kau benar," Vander tiba-tiba menggenggam tangan Lara dan menatapnya. "Tapi sayangnya sebaik dan setulus apapun pria itu, aku tidak akan biarkan dia mengambilmu dariku. Karena sampai kapanpun kau hanya milikku."

__ADS_1


Lara tersenyum, "Ya, aku tahu... Aku senang mendengarnya."


Karena sudah semakin malam dan dingin, Vander pun mengajak Lara pulang.


...🍁🍁🍁...


Dan sepulangnya dari luar, saat sampai di apartemennya, tanpa tahu apa-apa Lara ternyata kembali dapat kejutan dari orang-orang terkasihnya.


"Kejutan...! Selamat ulang tahun!"


Ternyata putranya bersama dengan teman serta kerabat Lara, datang ke apartemenya memberikan kejutan ulang tahun untuknya. Melihat itu Lara pun senang sekali, ia bahkan hampir tidak bisa berhenti tersenyum hari ini. Bagaimana tidak? Setelah semua hadiah dari suaminya tercinta, Lara masih dapat lagi kejutan dari putra dan para kerabatnya.


Sungguh hari ini adalah ulang tahun terbaik yang pernah aku rayakan. Aku hanya bisa berharap dan berdoa pada Tuhan, agar selalu bisa merayakan ulang tahun dengan suka cita bersama orang-orang terkasihnya setiap tahun.


...🍁🍁🍁...


Di Proax laboratorium, orang-orang yang sudah disuntikan serum oleh Gauren, kini sudah berhasil ia kendalikan. Disana semua orang-orang dewasa itu seolah seperti manusia baru yang sudah disetting sistem kerja otaknya, agar hanya mau dan menuruti perintah Gauren. Dan kalau mereka patuh, mereka tidak akan dapatkan obat penenangnya. Sama seperti zat adiktif lain, orang-orang yang sudah diberi suntikan oleh Gauren akan mengalami ketergantungan pada obat penenang lain, dan untuk mendapatkan obat penenang itu, semua orang itu harus menuruti apapun yang diperintahkan oleh Gauren. Karena jika tidak, tubuh mereka akan merasa sakit luar biasa dan tersiksa hingga perlahan mati.


Tawa jumawa Gauren menggema di lab besar itu. "Kalian semua adalah budak yang harus mau melakukan semua perintahku! Karena kalau tidak kalian tidak akan dapatkan obat ini...!"


Semua orang hasil uji coba Gauren seperti anjing kelaparan melihat obat penenang ditangan Gauren. "Kalian mau obat ini?"


"Ya mau tuan kami mau!" Ucap mereka saling bersahutan.


"Oleh karena itu, turuti semua perintahku!"


"Baik tuan."


"Bagus!" Pria tua itu tersenyum penuh kemenangan. "Sebentar lagi kota ini akan bergantung padaku, dan Vander keponakanku, kau pasti tidak akan bisa menghentikanku lagi membuat tatanan kota yang baru. Yang ada ditanganku...! Dengan begitu aku bisa lakukan apapun semauku, hingga tidak akan ada lagi yang berani menginjakku." Tatapan Gauren penuh dengan rasa dendam dan amarah yang berbalut kesedihan.


Gauren mengingat kehidupan di masa lalu yang penuh penderitaan sejak kecil.


#Flashback on


Gauren dan adiknya sejak kecil harus dihidup dibawah garis kemiskinan. Sering dituduh sebagai pencuri, di hina dilecehkan, di pukuli sampai babak belur hanya karena mencuri sepotong roti dan susu untuk adiknya Anika yang kelaparan.


Bagi Gauren dan adiknya tidur tanpa alas sudah biasa, baginya bumi dan langit adalah lantai dan atap rumahnya. Tak ada tempat berlindung yang sesungguhnya, pria itu hanya tau cara bertahan hidup dengan cara melakukan apapun demi mendapatkan uang. Bahkan tak jarang meski sudah bekerja keras, Gauren tak juga dapat bayaran dikarenakan keserakahan orang-orang tak beperasaan yang memperkerjakannya tanpa belas kasihan. Jika tak dapat uang Gauren pun terpaksa mencuri di toko atau kedai demi mendapatkan makanan untuk adiknya yang masih berusia empat tahun saat itu.


"Anika makan ini," ucap Gauren berusia 10 tahun.


"Wah makan roti kering lagi, tapi kenapa cuma satu? Kakak makan apa?"


"Kakak sudah kenyang tadi makan dijalan," jawab Gauren terpaksa berbohong pada adiknya kalau ia sudah makan.


"Yasudah kalau begitu aku makan rotinya ya kak..."


Melihat Anika makan lahap Gauren pun bertekad dirinya akan menjadi kaya raya suatu hari nanti dan memiliki apapun yang ia mau.


Hingga suatu hari, seorang saudagar tiba-tiba mengadopsi Gauren dan Anika. Saat itu kedua anak itu benar-benar bahagia dibuatnya. Akhirnya bisa merasakan tidur diatas kasur dan tidak kehujanan lagi. Gauren saat itu sangat rajin membantu pedagang itu, hingga setelah beberapa tahun Anika sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Gauren tak sengaj mendengar percakapan pedagang itu yang mengatakan akan menjual Lara kepada pria tua kaya raya dengan harga mahal. Mengetahui hal itu, sebagai kakak Gauren tak terima dan langsung menyuruh Anika kabur dari kota tersebut diam-diam. Anika pun kabur entah kemana, sementara Gauren yang ketahuan telah membuat Anika kabur pun disiksa habis-habisan oleh pedagang dan orang-orang kaya itu. Ia ditindas di lecehka dan dihajar habis-habisan sampai pada akhirnya, hati Gauren benar-benar dipenuhi rasa dendam dan benci yang tak terbendung lagi. Pria ramah itu berubah jadi pria psikopat, jiwa dan mentalnya sudah rusak. Dan hari itu ia pun memutuskan untuk jadi rantai teratas tantanan manusia, membuat wilayah sendiri dengan ia sebagai penguasanya, agar tidak ada lagi yang bisa merendahkan apalagi menginjaknya.


#Flashback off


"Tidak akan ada yang bisa menghentikanku sekarang, sekalipun keponakanku sendiri..." Tawa gila Gauren terdengar menggema dil aboratorium itu.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2