Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pasangan Serasi


__ADS_3

"Kenapa kau berkata begitu, aku kan tidak bertanya?"


"Aku cuma mau berkata jujur."


"Kalau begitu jujur, soal yang semalam aku lakukan itu— um.. Soal aku men-ciumu itu bagaimana?" Tanya Lara malu-malu, ia bahkan tak berani menatap Van langsung.


Van menyeringai. "Semalam itu aku senang kok."


Lara kaget dan kembali menatap Vander. "Eh apa maksudnya?"


"Bagiku tidak masalah dengan apapun yang Nona lakukan, karena apapun yang kau lakukan asal itu memang kemauan Nona sendiri aku tidak akan protes dan men, karena jika kau senang maka aku juga akan senang."


"Termasuk jika aku memintamu melakukan hal gila seperti menghabisi orang"


"Apapun keinginanmu adalah perintah yang tak bisa aku tolak," jawab Vander dengan nada serius.


Perasaan Lara semakin membuncah, kupu-kupu diperutnya seolah berterbangan hingga membuatnya senang dan ingin berteriak. Setiap perkataan yang dilontarkan pria ini membuatku seolah dibawa terbang. Membuatku merasa dipuja layaknya seorang ratu. Tapi kalau begini aku juga jadi takut. Aku takut dibuatnya terbang terlalu tinggi, dan suatu hari tiba-tiba aku jatuh, itu pasti akan sangat sakit.


"Emm.. Van, kau jangan terlalu menurut padaku begitu, memangnya kau tidak takut aku jadi akan semena-mena padamu?"


"Aku tau Nonaku seperti apa. Dia tidak akan seperti itu."


Lara tersenyum kecil.


"Tapi Nona, bolehkah aku minta satu hal padamu?"


"Apa itu?"


"Aku minta Nona jangan pernah lagi minum dengan pria manapun."


"Kalau minum denganmu?" Tanya Lara iseng.


"Ka- kalau itu boleh," jawab Vander malu-malu.


Melihat Van agak malu-malu begitu Lara jadi merasa gemas dibuatnya. "Baiklah kalau begitu aku berjanji. Aku tidak akan minum bersama pria manapun kecuali dengan tuan Vander Liuzen."


Van senang mendengarnya. "Oh iya Nona ada satu lagi."


"Apa lagi?"


"Bisakah Nona kalau merasa aku telah melakukan sesuatu yang tidak membuatmu senang langsung katakan saja. Jangan seperti kemarin kau tiba-tiba marah dan mengabaikanku. Jujur saja aku ini tidak peka, jadi kalau kau tiba-tiba marah padaku begitu aku kan jadi bingung harus apa."


Lara malah tertawa geli.


"Apa ucapanku lucu?" Tanya Van.


Sebenarnya Lara tertawa karena melihat ekspresi wajah Vander yang jadi lucu saat bicara tadi.


"Baiklah kalau itu yang kau mau, mulai sekarang aku akan katakan apapun padamu. Tapi kau juga harus janji padaku."


"Janji apa?"


"Janji untuk— pertama, kau tidak boleh suka pada Karina, kedua jangan genit sama perempuan lain, tiga jangan pernah memuji perempuan lain di depanku. Keempat jangan pernah menggendong wanita lain, ralat gendong boleh kalau memang sudah mendesak. Dan terakhir, tolong jangan pernah berbohong kepadaku. Kau bisa kan?"


Aku bisa menuruti semua janji itu kecuali nomor lima, aku tidak bisa janji untuk tidak berbohong.

__ADS_1


"Van janji ya?" Ucap Lara meyakinkannya.


Van pun mengangguk kecil.


Lara pun langsung berjinjit dan mengecup pipi Vander. "Good boy!"


Vander lagi-lagi dibuat terkesiap dengan yang dilakukan Lara barusan.


"Itu hadiah karena kau sudah mau janji padaku."


"Kenapa bukan dibibir saja hadiahnya?" Goda Vander.


"Huh, dasar genit! Sudah aku mau bersiap dulu, kau siapakan mobil!" Tukas Lara yang malu lalu pergi ke kamar.


Aku berjanji akan melakukan apapun asal kau bahagia Nona Lara


**


Van dan Lara akhirnya keluar bersama. Keduanya memutuskan untuk makan siang dulu di sebuah restoran di pusat kota.


"Hari ini apa boleh, aku yang bayar makan siangnya?" Tanya Vander tiba-tiba.


"Eh kenapa? Bukankah aku sudah janji mau mentraktirmu?" Lara penasaran kenapa Van tiba-tiba ingin membayar makan siang ini.


"Soal semalam, Nona kan yang sudah melunasi ganti rugi kerusakan di hollyfree?"


"Iya," jawab Lara sambil terus menikmati menu makan siangnya.


Setelah tau kalau Lara yang melunasi ganti rugi untuknya pada hollyfree. Vander jadi merasa banyak berhutang pada Lara. Hal itu membuat Van mulai berpikir, sebagai seorang pria yang masih punya harga diri mestinya ia tidak boleh menggantungkan diri pada seorang wanita sekalipun Lara adalah bosnya.


Lara sebenarnya tidak tahu alasan kenapa tiba-tiba Vander ingin membayar makanannya, tapi melihatnya bersikeras ingin melakukan itu membuat Lara tidak bisa menolak, toh dirinya juga tidak dirugikan sama sekali. "Yasudah kalau kau mau bayar silakan, tapi kalau aku tambah pesan dessert boleh kan?" Ujar Lara.


"Tentu saja boleh," balas Vander terlihat senang.


Aneh! Kenapa dia malah terlihat senang aku membuatnya keluar uang lebih banyak? Sebenarnya dia sedang kenapa sih? Lara tak mau terlalu ambil pusing akhirnya ia pun meneruskan makan siangnya.


Vander yang melihat Lara menikmati makan siangnya jadi merasa senang dan puas, mengingat ini pertama kalinya Van yang mentraktir Lara. Van pun bertekad, suatu hari nanti dirinya ingin bisa membelikan Lara hal yang jauh lebih wah dari sekedar makan siang.


***


Sementara itu Karina yang tengah berada di kamarnya, terlihat gelisah dan mondar mandir memikirkan cara agar dirinya bisa lebih dekat dengan Van.


"Bagaimanapun aku harus bisa dekat dengan Van, aku tidak mau kalau aku sampai kalah lagi dan lagi olehnya." Karina tentu saja tidak akan membiarkan Lara senang dan bahagia. Obsesinya mengalahkan Lara dari dulu masih saja ia tanam sampai saat ini. Terlebih lagi Karina merasa kalau diantara Lara dan Van ada hal yang tak biasa, ia bisa merasa hubungan Van dan Lara bukan sekedar Pengawal dan bosnya.


"Apa aku bayar orang saja untuk menyelidiki hubungan mereka? Tapi aku harus melakukannya dengan hati-hati


agar tidak ketahuan bahkan dicurigai. Hum... sepertinya aku harus membayar orang dari miracle agar tidak ketahuan. Tapi siapa yang bisa kusuruh? Yang jelas  bukan Jeden Lee, karena pria itu terlalu berbahaya jika diajak kerjasama."


Apa yang akan dilakukan Karina, apakah dia sungguh ingin membayar orang untuk menyelidiki hubungan Lara dan Vander?


**


Setelah selesai makan siang bukannya jalan-jalan, Lara malah mengajak Van ke sebuah toko pakaian. Entah apa yang ingin dibeli gadis itu disana.


"Ayo Van," ajak Lara sambil menarik lengan Van masuk ke dalam toko.

__ADS_1


"Selamat datang di toko kami," sambut para pelayan toko dengan ramah.


"Nona pelayan, tolong ambilkan aku dasi warna hitam dengan garis abu-abu disebelah sana," ucap Lara sambil menunjuk dasi yang terpampang di ujung toko.


Dasi? Untuk apa Nona Lara membeli sebuah dasi pria? Pikir Van.


"Oh dasi itu baik tunggu sebentar akan aku ambilkan untuk anda." Pelayan itu kemudian segera mengambilkannya untuk Lara.


Lara yang terlihat masih menggandeng lengan Van membuat para pegawai lainnya yang lihat jadi senyum-senyum membicarakan mereka.


Lihat deh pasangan itu mereka terlihat serasi sekali ya, tampan dan cantik aku jadi iri melihatnya.


Iya beruntung sekali nona itu.


Tentu saja tuan itu juga beruntung memiliki pacar yang sangat cantik.


Pasti hidup keduanya sangat diberkati tuhan makanya bisa dapat pasangan yang rupawan.


Lara ternyata menyadari kalau dirinya dan Van sedang dibicarakan oleh para pelayan itu. Vander tau tidak ya kalau kita sedang dibicarakan oleh para pelayan itu? Lara melirik Van untuk memastikan, nyatanya pengawalnya itu ekspresinya datar-datar saja. Sepertinya dia tidak dengar, sudahlah lebih baik aku pura-pura tidak dengar saja. Tapi... kalau dia dengar kira-kira Van keberatan tidak ya dibilang sebagai pasanganku?


Vander tiba-tiba menoleh dan memberikam tatapan tajam ke arah para pelayan yang tengah membicarakan dirinya dan Lara. Sepertinya Van tau juga kalau sedang dibicarakan. Sontak para pelayan itu pun gelagapan dan takut dibuatnya, dan akhirnya mereka tidak berani bicara ataupun melihat ke arah Van lagi.


Akhirnya pelayan yang mengambilkan dasi itu pun datang membawakan dasi yang diminta oleh Lara. "Nona ini dasi yang anda minta." Pelayan itu memberikannya pada Lara untuk dilihatnya.


"Pasti dasinya untuk Tuan yang disebelah nona ya," celetuk si pelayan toko seraya menggodanya.


Lara jadi tersipu malu dibuatnya.


Sebaliknya Van malah kebingungan.


"Baiklah kalau begitu aku ambil yang ini, tolong dibungkus," ucap Lara kemudian memberikan kartu kreditnya untuk membayar dasi tersebut.


"Kalau begitu tolong Nona tunggu sebentar aku akan membungkusnya."


Akhirnya Lara memutuskan membeli dasi tersebut. Vander yang masih keheranan pun bertanya sebenarnya dasi itu untuk siapa?


"Untukmu."


"Untukku? Ta- tapi untuk apa? Aku kan tidak mungkin pergi ke acara-acara yang mengenakan suit semacam itu."


"Suatu hari pasti kau butuh. Sudahlah kau terima saja, anggap ini hadiah tak terduga dariku," pungkas Lara.


"Baik Nona."


Padahal, daripada hadiah seperti benda atau sejenisnya, aku lebih suka hadiah langsung yang seperti semalam di mobil.


"Van kau sedang membayangkan apa?"


"Tidak kok Nona, tidak membayangkan apa-apa." Jangan sampai dia tau aku sedang mengingat ciuman semalem.


Tak lama, akhirnya dasi yang telah dibayar Lara dan sudah dibungkus rapi diserahkan padanya. Ia dan Vander pun memutuskan pergi meninggalkan toko tersebut. Dan saat mau keluar dari toko tanpa sengaja mereka berdua malah berpapasan dengan Jeden yang baru mau masuk toko.


"Jeden?"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, commentnya ya...


__ADS_2