Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Keluarga Bahagia.


__ADS_3

Setelah ditangani serius oleh dokter spesialis yang dipanggil khusus oleh Robert. Akhirnya luka ditubuh Vander sudah selesai di jahit dan diperban. Di ranjangnya Vander yang masih dipasang alat infus di tangannya belum juga siuman. Lara yang dengan setia menemani suaminya pun bertanya kepada dokter tentang keadaan Vander setelah ini.


"Nyonya tenang saja, suami anda akan segara baik-baik saja. Tubuhnya memang mengalami luka robek dibagian otot belikatnya tapi untungnya tidak fatal. Aku juga sudah menjahitnya dengan sempurna, dan beruntungnya daya tahan suami anda itu luar biasa jadi aku rasa tidak akan terjadi masalah serius setelah ini," jelas dokter. "Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu. Jangan lupa beri tuan minum obat dan vitamin yang sudah aku berikan itu dengan teratur. Kalau ada apa-apa tolong hubungi aku segera."


"Baik, terima kasih dokter," ucap Lara yang terus memandangi suaminya dengan sendu sambil berharap agar ia segera sadar.


Vander kau harus sadar, kau tidak boleh lama-lama tidur.


Robert yang baru saja keluar untuk mengantar dokter pulang, melihat Rey dan yang lainnya menunggu diluar ruangan tampak sangat sedih, terutama Reynder. Pria kecil itu pun langsung bertanya tentang keadaan sang papa saat ini


"Papamu sudah baik-baik saja nak, sebentar lagi pasti dia akan siuman," jelas dokter.


"Benarkah kakak sudah ditangani!?" Tandas Gavin yang juga mengkhawatirkan kakak angkatnya itu.


"Ya, beruntungnya tuan Vander punya fisik dan antibodi yang lebih baik dari kebanyakan orang. Jadi dia punya daya survive lebih besar saat melewati masa kritisnya."


Syukurlah kalau begitu semuanya bisa merasa sedikit lega mendengarnya.


Sebelum keburu pergi mengantar dokter pulang, Rey bertanya kepada dokter dan paman Robert apakah dirinya boleh masuk?


"Tentu saja, silakan lihat papamu. Untuk yang lainnya kalau mau melihat tuan harus tunggu sampai beliau siuman sepenuhnya dulu."


Rey kemudian segera masuk ke ruangan tempat papanya berada tak sadarkan diri saat ini. Dari ambang pintu masuk, ia bisa melihat sang mama yang terus saja berada disisi suaminya, menunggunya sadar dengan wajah penuh kekhawatiran. Rey yang tak kalah khawatir pun langsung berjalan mendekati tempat tidur papanya dan seketika menangis sambil minta maaf. "Maafkan aku... Gara-gara aku, papa seperti ini... Huhu... Mama maafkan aku ma..."


Rey terlihat sangat merasa bersalah dan takut. Tidak ingin anaknya larut dalam rasa takut dan bersalah, sebagai ibu Lara segera memeluk pria kecil itu dan menenangkannya. "Tidak sayang, ini bukan salahmu atau siapapun. Tolong jangan salahkan dirimu begitu, aku tidak kuat melihatmu menangis sedih begitu."


"Tapi kalau aku tidak ceroboh, pasti papa tidak akan begini ma..." Ujarnya sambil terus menangis.


"Jangan bicara begitu. Kau itu putranya Vander, sudah pasti orang tua manapun akan menyelamatkan anaknya meskipun nyawa taruhannya. Tolong berhentilah menyalahkan diri sendiri, aku jadi semakin sedih jika kau terus berkata begitu."


Setelah itu Rey pun berusaha berhenti menangis dan mendengarkan kata-kata sang mama. Rey yang berada dipangkuan mamanya tak hentinya berdoa supaya papanya cepat sadarkan diri. Aku tidak akan minta aneh-aneh lagi Tuhan... tapi tolong sembuhka papaku segera.

__ADS_1


"Mama aku salah, ternyata papaku memang yang terbaik. Papa Vander, aku— aku senang karena dia ternyata adalah papa kandungku," ungkap Rey.


Mendengar pengakuan Rey barusan, Lara benar-benar merasa lega. Akhirnya putranya bisa menerima Vander sebagai ayah kandungnya. Ia lalu membelai Rey yang duduk di pangkuannya dan berkata, "Aku senang kau sudah menerima Vander. Baik kau dan Vander, sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya mungkin hatimu saat itu masih belum bisa menerima keadaan saja. Tapi sekarang aku lega karena kau sudah bisa menerimannya."


"Aku memang sangat marah karena papa pernah meninggalkan kita. Aku sangat sedih mengingatnya, aku berpikir kalau papa dulu pergi karena benci aku, makanya aku berkata benci padanya. Tapi melihat apa yang telah papa lakukan untukku sampai harini, aku sadar kalau papa memang sayang padaku."


"Vander punya alasan saat meninggalkan kita, terlebih sebenarnya watu itu dia tidak tahu kalau aku tengah mengandung dirimu."


Selang beberapa waktu, akhirnya tubuh Vander mengalami pergerakan dan matanya pun akhirnya perlahan terbuka. Samar-samar pria itu pun melihat wajah cantik sang istri bersama putranya berada disisinya.


"Lara... Rey..." ucapnya pelan.


Baik Lara maupun Rey, keduannya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia mereka melihat Vander sudah sadarkan diri. Kedunya pun menangis bahagia dan memeluk Vander.


"Vander akhirnya kau bangun sayang...!"


"Papa, akhirnya kau sadar, aku takut sekali..."


"Terima kasih sudah menyambutku saat aku sadar. Tapi Lara kau memelukku terlalu kuat lukaku jadi agak nyeri," ucap Vander merasa lukanya ditekan terlalu keras.


Lara pun langsung melepas pelukannya. "Ma-maafkan aku."


"Tidak apa-apa, aku tahu kau gembira menyambut suamimu bangun makanya lupa."


Sementara Rey dirinya tampak malu-malu ingin memeluk sang papa. Vander lalu tersenyum dan bertanya pada putranya apa dia baik-baik saja?


Rey tak kuasa menahan tangis ia pun memeluk Vander dan meminta maaf serta terima kasih. "Kalau papa tidak melindungiku, pasti aku sudah mati huhu..."


"Hei sudahlah, yang penting kau selamat dan aku baik-baik saja kan?"


Rey seketika menghapus air matanya dan berkata. "Papa aku sayang papa..."

__ADS_1


"Aku juga menyayangimu Rey."


Sepasang anak dan ayah itupun berpelukan. Melihat pemandangan ayah dan anak itu, Lara jadi terharu sampai menitikan air. Ia senang akhirnya semua keluarganya berkumpul saat ini menjadi keluarga yang utuh dan saling menyayangi.


Karena bagi Lara Vander dan Reynder adalah hidunya. Hartanya yang paling berharga dimuka bumi.


"Istriku apa kau menangis karena tidak aku peluk?"


"Bukan begitu, aku terharu melihat kalian. Kalian harus tahu, aku sangat mencintai kalian berdua."


"Kami juga sangat mencintaimu," jawab Rey dan Vander bersamaan.


Mereka pun saling berpelukan sebagai keluarga utuh dan bahagia.


...🍁🍁🍁...


Anak buah Gauren yang bernama Mez tiba-tiba saja melaporkan kepada pria itu tentang keadaan Vander saat ini.


"Jadi Vander menyelamatkan anaknya yang hampir di serang serigala?"


"Benar Tuan, aku menyaksikan lewat drone Vander bahkan melawan para serigala itu akhirnya dengan tanpa senjata."


Gauren tersenyum seolah paham. "Vander tidak akan mati hanya karena srigala. Dia punya kekuatan fisik diatas rata-rata orang kebanyakan. Ditambah sejak muda dia sudah kulatih menghadapi hewan buas dengan keadaan semendesak. Tapi disini yang harus di garis bawahi adalah, dia sangat menyayangi keluarganya. Itu benar-benar bisa jadi senjata kita untuk menyerangnya."


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan Gauren?"


"Untuk sekarang-sekarang ini kita main aman saja. Kita lakukan hal-hal kecil saja dulu, sekaligus memberi aku waktu untuk mempersiapkan seseorang yang sudah kesiapkan untuk melawannya," ucap Gauren tersenyum penuh licik.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏

__ADS_1


__ADS_2