
Saat sedang ke rumah sakit untuk cek kesehatan, tidak sengaja Eiji melihat Reki di rumah sakit yang sama tempatnya berada saat ini. Disana Reki tampak terburu-buru setelah dari meja resepsionis. Karena penasaran dengan apa yang dilakukan Reki, Eiji pun berinisiatif untuk menghampirinya.
"Tuan Reki!" Seru Eiji mengejar Reki yang sudah melangkah duluan.
Reki pun menoleh kebelakang dengan tampang setenang mungkin meskipun aslinya gugup. "Oh tuan Eiji, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku sedang cek kesehatan bulanan saja. Kau sendiri sedang apa disini? Sepertinya sedang buru-buru sekali?"
"Oh, akuβ hanya sedang habis menebus vitamin saja."
"Begitu ya, lalu apa yang kau pegang itu?" Eiji yang melihat amplop berkas yang ada ditangan Reki pun penasaran dengan itu. Sayangnya Reki tak mau memberitahunya, dan malah beralasan kalau ia sedang agak buru-buru ada urusan saat ini.
"Maaf, karena aku ada urusan lain aku harus segera pergi. Kalau begitu aku permisi duluan, sampai jumpa." Reki pun pergi, sementara Eiji disana masih merasa kalau tingkah Reki tadi tampak aneh, ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. "Ya, semoga ini hanya prasangka jelekku saja."
Reki menoleh kebelakang dan melihat Eiji sudah tak lagi memperhatikannya. Ia pun membuang nafas lega. "Sial! Semoga Eiji tidak curiga denganku." Reki merasa beruntung, karena Eiji tidak berhasil melihat isi map yang dibawanya. Karena kalau sampai dia melihatnya bisa bahaya, sebab di dalam amplop yang dipegangnya saat ini adalah berkas daftar dokter yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan serum terlarang tuan Gauren.
"Aku harus lebih waspada lagi melakukan tindakan apapun kedepannya," Tandas Reki lalu pergi.
...πππ...
Di ruangannya Vander terlihat tengah duduk mengobrol dengan asisten kepercayaannya Robert. Disana selain membicarakan soal pekerjaan dan performa perusahaan, tiba-tiba saja Robert membahas tentang berita yang minggu ini sedang ramai dibicarakan di televisi maupun media sosial.
"Jadi penyebab orang-orang yang tiba-tiba hilang di kota ini, masih belum ditemukan?"
"Belum tuan, dan anehnya semua pola hilangnya orang-orang itu sama. Dan rata-rata yang diculik adalah orang-orang yang punya background yang bagus."
"Tentu saja itu karena, dalang dibalik hilangnya orang-orang itu adalah orang yang sama. Dan aku yakin dia bukan orang sembarangan." Karena jika dia hanya penculik biasa mana mungkin bisa menghilangkan jejak sebersih ini.
Ding!
"Masuk!" Seru Vander
"Permisi tuan, maaf mengganggu anda," ucap Naomi yang tiba-tiba saja datang memberitahukan kalau di luar ada tuan Eiji Hartman yang ingin bertemu dengannya.
Eiji? Ada apa dia kemari? "Oh ya suruh dia masuk."
"Baik tuan."
Mengetahui ada tamu lain yang ingin menemui tuannya, Robert pun izin untuk kembali bekerja. "Kalau begitu aku permisi tuan Vander."
"Silakan."
Robert pun sempat menyapa saat berpapasan dengan Eiji saat ingin keluar ruangan tersebut.
"Tuan Eiji, silakan duduk," ucap Vander mempersilakan tamunya itu.
"Mau minum apa?"
"Oh tidak usah repot-repot tuan Vander, aku kemari tidak terlalu lama, jadi santai saja."
Karena sudah dibilang begitu, Vander pun tidak jadi memanggil Naomi untuk membawakan minuman, dan langsung bertanya tujuan Eiji datang. "Jadi ada apa tiba-tiba seorang Eiji Hartman mengunjungiku?"
"Sebenarnya ini bukan soal pekerjaan sama sekali."
"Lalu?" Vander menatap dengan serius, dan terlihat antusias dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Eiji.
"Sebenarnya tadi aku..." Eiji menceritakan kepada Vander tentang pertemuannya tadi di rumah sakit dengan Reki, serta gelagat Reki yang baginya aneh. "Kau pasti sudah bertemu pria bernama Reki itu kan?" Tanya Eiji kepada Vander
"Ya."
"Jadi bagaimana pria itu menurutmu tuan Vander? Apa kau berpikiran sama denganku?"
"Ya sedikit, kita sama-sama memiliki kecurigaan pada pria itu karena satu hal, yaitu kita berdua mengkhawatirkan wanita yang sama. Begitu kan?"
Eiji tersenyum hambar. "Apa kau cemburu karena aku mengkhawatirkan Lara?"
"Lumayan."
"Hahaha..." Eiji menertawai Vander. "Apa kau tidak percaya diri sampai cemburu padaku?"
__ADS_1
Tentu saja cemburu, mengingat Vander tahu betul sebanyak apa Eiji menolong dan melindungi Lara saat ia tidak disisi istrinya waktu itu. Hal itu membuat Vander berpikir kemungkinan Lara bisa luluh oleh Eiji sangat ada.
"Hem, aku jadi senang mengetahuinya," ucap Eiji lalu tersenyum
"Kenapa?"
"Karena kau berpikir kalau aku ini sainganmu dalam mendapatkan hati Lara."
"Ya, aku harus akui itu. Kau cukup lumayan untuk jadi sainganku, tapi tentu saja aku jauh lebih unggul darimu."
"Baiklah, aku rasa cukup bahas hal itu. Mari kembali ke pembicaraan awal. Menurutmu bagaimana Reki, aku lihat dia cukup akrab dengan Lara saat mereka mengobrol."
"Menurutku pria itu tidak bagus sama sekali," sahut Vander yang dari sorot matanya nampak tidak suka dengan Reki.
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Meminta Lara menjauhinya atau apa?"
Bagi Vander, Reki terlihat seperti pria yang manipulatif dan suka berpura-pura. Tentu saja ia harus menjaga istrinya dari orang semacam itu. "Memang gelagat apa yang kau rasakan dari Reki?" Tanya Vander.
"Aku tidak tahu pasti, tapi di rumah sakit tadi aku lihat ia terburu-buru dari sana, sambil memegang amplop dokumen yang mana sepertinya ia sangat menjaga dokumen itu."
Mendengarnya Vander jadi semakin waspada pada Reki.
"Lalu apa lagi?"
"Sebenarnya aku hanya ingin katakan hal itu padamu, mengingat kau adalahβ ya... kau tinggal dengan Lara, jadi lebih baik jika dirimu tahu hal itu. Karena aku tidak mau Lara dalam bahaya."
Vander menyeringai. "Kau tak mau menyebutku suami Lara, dan kau mengkhawatirkan istriku. Tuan Eiji kau pasti berusaha sangat keras menerima kenyataan kalau Lara sudah jadi milikku. Tapi terima kasih sudah mau repot-repot membantuku menjaga Lara."
"Hem, kau jangan senang dulu. Aku lakukan ini semua bukan berarti aku sudah menyerah. Aku menginfokan hal macam ini padamu, itu semua demi Lara bukan untukmu."
"Terserah katamu. Yang jelas aku secara pribadi ingin berterima kasih padamu karena telah perhatian, menjaga dan melindungi Lara saat aku tak ada bersamanya."
Eiji mengangguk paham. "Oh iya satu lagi sebelum aku pergi dari sini." Eiji terlihat merogoh saku dalam jasnya, dan mengerluarkan sebuah kotak berpita berukuran tak terlalu kecil namun tidak besar juga. Eiji menyerahkan kotak itu kepada Vander dan memintanya memberikan itu kepada Lara. "Besok Lara berulang tahun, jadi jika tak keberatan tolong berikan hadiahku itu padanya."
"Oke, aku akan berikan."
Eiji terkekeh. "Kupikir kau akan marah dan tak mau memberikannya pada Lara."
"Baguslah, kalau begitu sepertinya aku sudah harus pergi." Eiji bangkit dari kursinya lalu pamit meninggalkan ruangan Vander.
"Aku pergi dulu sampai jumpa..." Eiji pun pergi dengan perasaan tanpa beban.
Terima kasih Eiji Hartman. Ungkap Vander dalam hati sambil memandangi kotak hadiah dari Eiji tersebut.
...πππ...
Di apartemennya, Lara terlihat sedang menemani Rey bermain sambil menonton berita di televisi. Disana ia menonton siaran berita tentang fenomena orang hilang secara misterius di kota ZR, yang terjadi terus menerus selama seminggu ini. Hal itu tentu saja mematik rasa khawatir dan cemas untuk Lara.
"Nyonya ini teh anda..." Ucap Frida yang datang menyuguhkan secangkir teh jahe untuk Lara.
"Terima kasih bibi..." Tandas Lara sambil terus menyimak berita di televisi.
"Nyonya, apa anda khawatir dengan berita orang yang hilang secara misterius akhir-akhir ini?" Tanya Frida.
"Iya Bi, aku khawatir. Apalagi katanya sampai saat ini tanda-tanda penyebab, dan ciri penculiknya sama sekali belum diketahui. Ditambah malah ada korban dari aparat keamanan yang diserang oknum tak dikenal. Kenapa semakin hari perbuatan kriminal semakin mengerikan?" Ungkap Lara merasa ngeri.
"Mama tidak usah takut, aku akan lindungi mama," ucap Rey yang tiba-tiba berusaha menenangkan mamanya yang sedang cemas akan berita diluar sana.
"Ah Rey anak hebat, tentu saja mama tau kau akan melindungiku."
"Um, dan mama jangan lupa. Mama punya papa yang sangat hebat, dia pasti akan melindungi kita, jadi jangan takut," tandasnya.
Lara tersenyum manis lalu membelai wajah putranya itu. "Tentu saja, aku yakin kau dan Vander pasti akan melindungiku."
Selang beberapa detik, tiba-tiba saja ponsel Lara yang ada diatas meja dihadapannya berdering. Ia pun langsung mengangkat panggilan yang tidak lain adalah dari suaminya tercinta.
Lara : Halo sayang, ada apa?
Vander : Istriku apa kau sudah dandan?
__ADS_1
Lara : Dandan untuk apa? Aku sedang tidak kemana-mana kok.
Vander : Aku ingin mengajakmu keluar nanti setelah aku pulang kerja, ini sebentar lagi aku sudah mau pulang. Kau pakai gaun yang cantik dan tunggu aku datang menjemputmu.
Lara : Mau ajak kemana?
Vander : Rahasia... Sudah hari ini dandan saja secantik mungkin.
Lara : Hari ini? Memang biasanya aku tidak cantik?
Vander : Kau selalu cantik, tapi hari ini jadilah lebih cantik lagi.
Lara : Okey...
Vander : Baiklah, kalau begitu tunggu aku pulang. I love you honey...
Lara : Love you too...
Lara langesung senyum-senyum setelah mendapati telepon dari suaminya itu.
"Mama, papa bilang apa? Sepertinya mama senang sekali?" Goda Reynder.
"Ya, papamu bilang mau mengajakku pergi hari ini."
"Wah... apa aku boleh ikut?" Pinta Reynder.
"Hum, bagaimana ya... dia hanya minta mama yang siap-siap, tandanya cuma aku."
"Huft, papa selalu saja pilih mama. Yasudahlah...," ucap Rey agak kecewa dirinya tak diajak.
"Oh ayolah Rey, kapan-kapan kita masih bisa pergi bersama kok," bujuk Lara.
"Oke... Mama selalu benar," Rey pasrah.
"Yasudah kalau begitu bibi Frida tolong bantu aku pilih gaun."
"Baik nyonya."
Lara langsung pergi ke ruang gantinya, untuk bersiap-siapa.
Setelah satu jam perjalanan, Vander akhirnya tiba di depan pintu masuk apartemen Caelestis Garden. Dari dalam mobil Vander langsung bisa melihat, ternyata sudah ada Lara menunggunya ditemani Frida dan Rey. Disana Lara yang berdiri tampak anggun dan cantik mengenakan gaun berwarna soft pink tanpa lengan.
Pria itu pun langsung turun dari mobil dan menghampiri Lara benar-benar tampak sangat cantik hari ini.
"Selamat malam nyonya Vander, anda luar biasa cantik sekali malam ini," ucap Vander lalu mengecup tangan istrinya.
"Terima kasih pujiannya tuan Vander. Kau juga selalu gagah dan tampan."
Melihat mama papanya mesra begitu, Rey yang awalnya iri ingin ikut pun berubah sebaliknya. Ia malah menyuruh agar orang tuannya itu lekas pergi kencan. "Papa mama cepat berangkat, kasihan paman Robert menunggu kalian di mobil."
"Hei, tadi kau merengek minta ikut. Sekarang kenapa ingin kami segera pergi?" Ucap Lara.
"Entah, tiba-tiba moodku berubah, sudah papa mama pergi saja. Biar aku nanti makan malamnya sama paman Tori."
Itu baru anakku! Vander mengedipkan satu matanya pada Rey tanda pujian untuk sikapnya.
"Yasudah kalau begitu kau jangan nakal, serta jangan lupa habiskan makan malamnya dan jangan sisakan sayurannya oke?"
"Nyonya tenang saja, aku akan pastikan tuan kecil memakan makan malamnya dengan baik."
"Thank you bibi Frida..."
"Baiklah kami pergi dulu," Lara mencium kening putranya lalu masuk ke mobil diantar suaminya. "Bye sayang..."
"Bye bye mama, papa... Bersenang-senanglah..." Tandas pria kecil itu senang melihat mama papanya harmonis.
Sementara Reki yang melihat pemandangan keluarga Lara dari sudut lobi yang jauh, terlihat menampakan rasa cemburu dan murka. "Lihat saja kau Vander, aku pastikan kebahagiaanmu dengan Lara akan usai sebentar lagi!"
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π