Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Dicintainya selama bertahun-tahun


__ADS_3

Di apartemen, Lara terlihat sedang memasak makan siang untuk suaminya. Karena kebetulan ia baru mulai kerja di Lavioletta lusa jadinya beberapa hari ini ia selalu menyempatkan diri memasak buat suaminya. Terlebih sejak pulang liburan, Lara dan anaknya kini sudah satu tempat tinggal dengan Vander. Hal itu tentu jadi memudahkan Lara untuk mengurus anak dan suaminya. Ditambah saat ini Vander masih masa pemulihan lukanya, jadi sebagai istri yang baik ia ingin merawat suaminya dengan memberikannya makanan-makanan sehat dan bersih.


"Wah nyonya sudah selesai memasak semuanya. Apa ada yang lain lagi yang aku bisa bantu?" Tanya Frida.


"Aku sudah menyusun semua makananya ditempat makan dan tinggal membawanya ke kantor. Bibi sisanya tolong bersihkan ya, aku mau dandan dan siap-siap lalu ke kantornya Vander."


"Baik nyonya."


...🍁🍁🍁...


Di ruangannya Vander yang tengah sibuk menganalisa peluang pasar global tiba-tiba saja malah diganggu oleh panggilan dari Dominic.


Vander : Apa apa?


Dominic : Aku dengar dari Robert kau habis bertarung dengan serigala ya, hebat!


Vander : Iya, kenapa? Kau mau bertarung denganku juga?


Dominic : Kalau bertarung fisik, aku menyerah duluan deh bisa-bisa aku meninggal sebelum bisa memukulmu.


Vander : Jadi ada apa?


Dominic : Aku hanya ingin beritahu padamu kalau, penguji cobaan serum pada dirimu terpaksa aku undur dua minggu lagi sampai kau pulih betul. Aku tidak mau uji cobaku terhambat karena kau masih dalam penyembuhan.


Vander : Baik kau atur saja.


Dominic : Oh iya Van, aku ingin tanya. Dari penyelidikanmu waktu itu kau bilang, Gauren kini dibantu dokter wanita bernama Rena bukan?


Vander : Iya, kenapa kau kenal dokter itu?


Dominic : Iya aku kenal, dia seangakatan denganku saat kami sekolah kedokteran.


Vander : Bagus.


Dominic : Apanya bagus? Kau ini aneh!


Vander : Bagus karena setidaknya kau kenal dengan salah satu anak buahnya Gauren. Jadi ada kemungkinan untuk mengulik lewat dirinya


Dominic : Ah kau ini. Yasudahlah cepat sembuh sana!


Vander : Oke!


Vander pun langsung menyudahi panggilannya.


Dan tidak lama kemudian, tiba-tiba Lara muncul di ruangan Vander. Memakai dress warna pastel diatas lutut dengan model lengan panjang dan heels. wanita cantik itu berjalanan sambil membawa tas kecil dan tentengan berisi bekal makan siang.


Dengan senyumannya yang merekah wanitia itu menghampiri sang suami yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Hai suamiku," ucap Lara langsung mencium pipi Vander


"Aku bawa makan siang buatmu nih. Kau pasti lapar kan?" Lara kemudian meletakan kotak bekal itu diatas meja untuk ia siapakan. "Lihat, aku sudah buatkan makan siang yang paling enak dengan bumbu cinta. Kau mau makan sekarang atauβ€”eh!"


Tiba-tiba saja Vander menarik tubuh istrinya dan membawanya duduk diatas pangkuannya. "Kau kemari agak lebih cepat, aku jadi senang. Tapi kau belum menciumku."


"Tadi kan sudah."


"Tadi bukan cium, ini baru yang namanya cium." Vander langsung mencium bibir istrinya dengan intens sampai Lara yang awalnya ingin segera menyiapkan makan siang malah terbuai dalam kecupan manis suaminya.


"Kau harus makan siang dulu suamiku," ucap Lara sambil terengah-engah.


"Okey aku akan menurut padamu."


Vander akhirnya memakan bekal buatan istrinya. Sementara Lara yang duduk disebelahnya terus saja memandangi sang suami dengan kagum sambil senyum-senyum.


"Kalau kau memandangiku terus, yang ada aku jadi lebih mau memakanmu dibanding makan bekalku," ujar Vander.


"Habisnya aku suka lihat dirimu makan, kau tampak gemas pipimu jadi mirip roti bulat baru matang. Imut sekali..."


"Aku imut?" Vander mengernyitkan keningnya.


"Iya kau imut. Oh iya masakanku enak tidak?"


"Seperti biasa, apapun yang kau masak selalu enak. Orang lain juga selalu bilang masakanmu enak kan? Kenapa tanya lagi?"


"Soalnya aku ingin dipuji suamiku, karena kalau dipuji Vander rasanya seribu kali lebih senang," jawab Lara dengan polosnya.


"Oh begitu, mau dipuji apalagi olehku supaya nona Lara senang?" Tanya Vander seraya menggoda sang istri.


"Coba puji aku supaya aku senang."


"Lara istriku yang paling cantik, menawan, dan paling pintar, kau selalu ada dibenakku setiap saat," bisik Vander


Alhasil Lara malah malu sendiri. "Sudah jangan menggoda aku, habiskan dulu makanmu, setelah itu minum obat."


"Kau yang minta dipuji kau juga yang minta berhenti."


Akhirnya makan siang Vander pun habis dilahapnya. "Terima kasih sudah bawakan aku makanan enak setiap hari sayang," ucap Vander


"Sama-sama. Oh iya, beberapa hari kerja bagaimana Naomi dia bagus kan kerjanya?"


"Sejauh ini oke, tapi tetap saja aku jauh lebih suka dirimu," tandas pria itu menarik sang istri menempel ke tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa begitu?"


"Karena kau istriku yang paling segalanya."


Lara tersenyum lalu mengecup bibir suaminya.


Di ruangannya. Naomi yang agak terburu-buru ingin menemui Vander untuk minta tanda tangan. Tak sengaja malah masuk tanpa mengetuk dulu, alhasil ia malah harus menyaksikan Vander dan Lara yang tengah bermesraan di ruangan bosnya.


Karena takut mengganggu, dengan segera Naomi pun kembali menutup pintu ruangan tersebut dan tidak jadi masuk.


Wajah Naomi seketika memerah saat itu. "Ya ampun, tadi itu membuat jiwa manusia tanpa pasangan sepertiku meronta-ronta. Tuan dan Nona Lara tadi berciumannya sampai begitu, ya ampun aku malu sekali..."


Karena malu sendiri, Naomi pun memutuskan turun ke kantin untuk makan siang. Tapi sebelum ke kantin, Naomi tiba-tiba saja kebelet ingin buang air.


...----------------...


Setelah selesai buang air, Naomi yang kemudian sedang mencuci tangannya tiba-tiba saja mendengar dua pegawai wanita membicarakan Lara dan Vander.


Hei kau tahu kan si Lara itu sudah tidak bekerja disini lagi, tapi kenapa dia masih saja ke kantor ini?


Aku juga heran, kenapa ya? Apa gosip yang katanya dia ada main dengan tuan Vander itu benar?


*Bisa jadi sih, apalagi harus diakui Lara itu selain cantik juga menarik. Sudah pasti pria normal tidak akan menolak digoda dia.


Aku kalau jadi si Lara itu juga pasti akan memanfaatkan kecantikanku menggoda bos sekelas Vander Liuzen*.


"Ehem! Kalian sedang bicara apa?" Tandas Naomi tiba-tiba menghampiri kedua orang wanita itu.


"Eh- k- ka-kami tidak bilang apa-apa kok! Permisi." Kedua wanita tadi pun gelagapan dan langsung buru-buru pergi.


"Dasar tukang gosip!" Gumam Naomi yang sebenarnya juga berpikir. Mau bagaimana pun disembunyikan, hubungan Lara dan Vander pasti pada akhirnya akan ketahuan juga. "Lagipula memang kenapa sih tidak dipublish saja? Dua-duanya cocok kok, pasti yang mendukung mereka banyak."


...🍁🍁🍁...


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Eiji yang sudah ditunggu oleh Vander sejak tadi di Caliente Restaurant datang juga. Pria yang mengenakan jas coklat itu tampak agak berkeringat menghampiri Vander.


"Tuan Vander maaf aku terlambat, tadi ada urusan pribadi yang aku harus urus dulu sebentar."


"Its okey!" Ucap Vander yang duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya. Untungnya mood pria itu hari ini sedang bagus, jadi dirinya tidak akan marah. "Silakan duduk tuan Eiji."


"Terima kasih." Eiji lalu duduk dan segera di tawari mau pesan apa oleh Vander. "Anda mau minum apa tuan Eiji? Biar aku pesankan."


"Apa saja."


"Pelayan!" Vander lalu memanggil pelayan dan meminta pelayan itu membuatkan satu ice coffee untuk tuan Eiji.


"Baik tuan tunggu sebentar."


Setelah duduk, Eiji pun langsung mengelurkan dokumen dan memulai membahas soal pembangunan resort yang sekitar sebulan lagi akan rampung.


"Iya, dan ini beberapa hasil gambar resort yang sudah mau jadi itu, bagaimana menurut anda?" Tanya Eiji sambil memperlihatkan gambar-gambar itu. Vander melihat satu persatu potret resort itu dan dari wajahnya nampak dirinya cukup puas.


"Permisi ini kopi anda tuan," ucap pelayan mengantarkan segelas es kopi untuk Eiji.


"Terima kasih," balas Eiji pada pelayan itu. "Jadi bagaimana tuan Vander?" Tanya Eiji lagi.


"Memuaskan, aku suka sekali dengan kerja anda dan tim, tuan Eiji."


"Syukurlah aku senang mendengarnya," tandas Eiji lalu meminum minumannya.


...🍁🍁🍁...


Di Lavioletta, Lara yang akhirnya bergabung sebagai desainer kreatif disana. Terlihat baru saja selesai rapat pertama kali membahas rancangan baru untuk kampanye Lavioletta musim depan. Di rapat tadi Lara menjelaskan konsep desain barunya di depan jajaran direksi. Dan para jajaran Lavioletta pun tadi nampak puas dengan idenya. Lara pun senang karena konsep pertamanya sebagai Creative Designer diterima dengan baik.


"Selamat ya, desainmu bagus," puji Yuna.


"Terima kasih nona Yuna."


"Oh iya setelah pulang kantor, bagaimana kalau kita makan diluar," ajak Yuna.


Sejujurnya Lara ingin, tapi sayangnya ia sudah punya janji dengan orang lain jadi tidak bisa. "Nona Yuna maaf ya.."


"Sudahlah santai saja, aku mengerti kok.Yasudah kalau begitu aku duluan ya, bye.."


Lara membalas lambaian tangan Yuna, setelah itu menelepon sang suami menanyakan apakah hari ini jadi mengajak makan malam berdua.


Lara : Lama sekali angkatnya.


Vander : Maaf tadi harus tanda tangan dahulu.


Lara : Oh, jadi bagaimana? Hari ini jadi kan makan malam berdua?


Vander : Tentu saja, mau makan dimana?


Lara : Aku mau makan di kedai ramen yang ada di pusat pasar pinggaran kota itu. Disana ramennya enak sekali.


Vander : Oke, nanti aku jemput dirimu ya...


Lara : Iya, kalau begitu selamat kerja lagi dan sampai ketemu.


Vander : Kau juga, i love you.

__ADS_1


Lara : Love you too..


Lata tersenyum senang.


...----------------...


Sementara Vander yang masih sibuk dengan urusannya bersama Eiji pun kembali duduk menghampirinya setelah selesai angkat telepon.


"Maaf tadi aku habis angkat telepon," tandas Vander lalu kembali membahas pekerjaan.


Melihat raut wajah Vander yang senang setelah angkat telepon, Eiji jadi curiga kalau yang barusan meneleponnya adalah Lara. Karena penasaran dengan dugaannya, Eiji pun seketika berceletuk, "Wajah tuan Vander tampak sangat senang sehabis menerima telepon. Apa telepon dari orang spesial?"


Vander menyeringai kecil. "Menurut tuan Eiji?"


"Menurutku iya."


"Bagus, jawabanmu tepat. Tapi Aku tidak perlu memberitahu dirimu kan, siapa orang yang meneleponku tadi?" Ucap Vander seraya memprovokasi Eiji.


"Ya, tidak perlu."


"Good, kau memang pandai tuan."


Setelah pertemuan pembahasan pekerjaan selesai, Eiji pun pamit pergi.


"Terima kasih sudah datang kesini tuan Eiji, sekali lagi senang berkerjasama dengan anda," ucap Vander.


"Sama-sama, aku permisi," pungkas Eiji lalu pergi.


Vander tertawa kecil. "Pria yang profesional, meskipun aku tahu dia akan sangat cemburu kalau tahu aku dan Lara..."


"Tuan Vander, " panggil Robert yang tiba-tiba saja muncul memberitahukan, mobil yang ia minta untuk menjemput sang istri sudah siap.


"Oke, terima kasih Robert. Hari ini aku akan jemput istriku sendiri, jadi kau pulang duluan saja. Dan tolong beritahukan putraku kalau papa dan mamanya akan makan malam berdua hari ini diluar jadi akan pulang telat."


"Baik tuan. Kalau begitu ini kunci mobilnya." Robert langsung menyerahkan kunci mobil itu ke tuannya.


...----------------...


Di taman gedung Lavioletta. Lara yang baru saja pulang kerja tampak sedang menunggu suaminya menjemput. Disana dirinya agak celingak celinguk karena takut ada karyawan lain yang lihat. Tapi untungnya kali ini aman karena karyawan lain, nampaknya sudah pulang. Tak perlu lama-lama menunggu, akhirnya mobil Land rover warna hitam milik Vander pun tiba. Mengetahui hal itu, Lara segera menghampiri mobil suaminya itu dan masuk ke dalam sesegera mungkin agar tidak ada yang lihat.


"Maaf ya sayang, aku tidak bisa membukakan pintu mobil untukmu," ucap Vander.


"Tidak masalah, yang penting kau traktir aku makan hari ini."


"Aku lagi?"


"Tentu saja, kau kan suamiku jadi kau harus membiayaiku," ucap Lara yang sudah pakai sabuk pengaman.


"Baiklah..." Vander akhirnya tancap gas dan menuju ke kedai ramen yang mereka maksud.


...🍁🍁🍁...


Setibanya di pusat pasar pinggiran kota, Vander yang sudah memarkirkan mobilnya pun berjalan sambil menggandeng sang istri menuju ke kedai ramen tujuannya. Karena ini berada di pinggiran kota, Vander dan Lara pun jadi bisa lebih mesra lagi berjalan berduaan sambil bergandengan tangan ataupun merangkul.


Setibanya di kedai, Lara dan Vander langsung memesan ramen kesukaan mereka masing-masing. Disana keduanya tampak bahagia mengobrol seru sambil menikmati ramen sampai tak terasa kalau Lara sudah habis dua mangkuk mie ramen.


"Ah kenyang sekali..." Ucap Lara yang perutnya sudah terisi penuh.


"So, mau kemana lagi setelah ini?"


"Umβ€” ke toko perlengkapan. Aku mau beli beberapa wol untuk buat syal, kalau tidak salah di dekat sini ada toko yang menjual kain wol dengan kualitas terbaik."


Vander pun menyetujuinya.


"Pak tua semuanya jadi berapa?" Tanya Vander ingin membayar ramennya.


"Jadi seribu dua ratus dollar tuan.".


Vander lalu mengeluarkan lima ribu dollar dan memberikan semunya kepada penjual itu. "Ambil saja kembaliannya," tandas Vander lalu pergi.


"Terima kasih tuan dan nona sudah makan ditempatku, silakan datang kembali," pungkas pemilik kedai tampak bahagia sekali dapat uang lebih.


Sesampainya di pusat toko pasar malam, Lara dan Vander pun datang mengunjungi beberapa toko di kawasan itu. Dan terakhir mereka tampak sedang membeli beberapa gulung benang wol.


Dan siapa sangka, ternyata ada Eiji yang juga sedang berada diarea itu. Eiji yang tengah berburu pajangan antik tak sengaja melihat Lara dan Vander dari tempatnya berdiri. "Vander dan Lara? Kenapa mereka berdua ada disini?" Pria itu masih merasa tidak percaya dengan yang dilihatnya, sampai-sampai ia jadi lupa kalau dirinya tengah menawar barang.


"Tuan anda jadi beli tidak?" Tanya paman penjual guci antik itu.


"Umβ€” maaf tuan, sepertinya aku lain kali saja belinya," tandas Eiji yang kemudian langsung bergegas pergi mengikuti Lara dan Vander yang sudah pergi duluan.


Eiji ingin memastikan sendiri kalau itu tadi benar Lara dan Vander atau bukan. "Aku berharap bukan tapi, perasaanmu berkata kalau itu memang mereka." Sejatinya Eiji tak rela karena tadi ia melihat tadi Vander dan Lara nampak mesra sekali saat bersama. "Lara jika kau sungguh menjalin hubungan dengan Vander, jujur saja aku akan merasa patah hati sekali," ungkap Eiji takut. Tapi sayangnya, meski sudah kesana kesini mencari dua orang tadi hasilnya malah nihil. Eiji tak mampu menemukan mereka.


"Huft, mungkin memang hanya mirip saja. Tapi mana mungkin?" Akhirnya Eiji pun menyerah dan memutuskan untuk kembali ke parkiran dan pulang.


Dan tanpa disangka-sangka saat ia menuju ke area parkiran mobil, Eiji justru melihat Lara dan Vander yang juga tengah berada disana. "Jadi itu benar mereka?" ujar Eiji yang kemudian mau menghampiri kedua orang itu. Namun seketika langkah Eiji terhenti, kala dirinya dengan mata kepalanya sendiri melihat Lara dan Vander tiba-tiba saja berciuman begitu mesra di depan mobil Vander.


Tubuh Eiji seketika merasa lemas dan tak berdaya, hatinya pun tiba-tiba terasa seperti diiris perlahan-lahan melihat pemandangan saat ini.


Wanita yang telah dicintainya selama bertahun-tahun, nyatanya malah kini sedang asyik mengecup mesra bibir pria lain dengan sangat mesra. Dan pria lain itu tidak lain adalah bosnya sendiri.


"Kenapa Lara... Kenapa kau tega sekali? Apakah aku benar-benar tidak pernah di hatimu bahkan semenit pun?" Ucap Eiji sambil meratap sedih seolah hilang harapan.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2