Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Seribu kali lebih sakit


__ADS_3

Di ruang rawat inap VIP, Lara yang tengah beristirahat sendirian sambil membaca buku tampak mulai bosan karena hanya terus di atas ranjang. Ia ingin sekali berjalan-jalan rasanya, tapi sayangnya kakinya masih belum boleh banyak berjalan.


"Huft...! Vander kenapa belum kembali juga? Apa dia ada mampir buang air dulu?"


Lara ingin menghubungi suaminya tapi ia baru ingat kalau, ponsel sang suami ditinggal di tempatnya saat ini.


"Ya ampun aku bosan sekali deh rasanya," Keluh Lara yang sejujurnya rindu ingin pulang ke kediamannya berkumpul bersama putra dan kerabatnya.


Tak lama kemudian, Vander akhirnya kembali. Pria itu datang dengan raut wajah sumringah menatap Lara. Melihat hal itu Lara jadi penasaran apa sebenarnya yang membuat Vander sesenang itu?


"Kenapa kau lama sekali kembalinya, dari mana saja?"


Vander mencium kening istrinya dan minta maaf. "Maaf aku meninggalkanmu agak lama, tadi aku ada urusan sebentar dengan pihak rumah sakit."


"Urusan apa?"


"Hanya tentang investasi rumah sakit."


"Oh... Lalu kau kenapa terlihat senang?"


Vander tak menjawab dan malah merogoh saku blazernya mengeluarkan setangkai mawar merah untuk Lara.


"Jadi kau keluar hanya untuk membeli bunga ini untukku?"


"Kau suka?"


"Tentu saja aku suka, kau juga tahu kan kalau aku suka sekali bunga mawar." Lara terlihat senang sekali menerima setangkai mawar dari suaminya.


Vander kemudian bercerita kalau saat hari dimana Lara diculik, ia sebenarnya sempat membeli buket mawar merah untuk Lara sebagai tanda permintaan maaf karena sudah membentaknya. "Sayangnya saat dijalan untuk menemuimu, aku malah mendengar kabar kau dibawa pergi orang. Dan karena saat itu aku sangat marah mengetahui kau diculik, hingga tanpa sadar aku malah meremukan buket bunga ditanganku."


Lara tampak agak menyesal mengingat hari itu. "Hari itu aku juga dapat mawar merah jambu, kupikir itu darimu. Karena saking senangnya aku jadi tidak kepikiran sama sekali kalau itu jebakan yang dibuat Reki. Vander, sekali lagi maafkan aku yang tidak menurut padamu.


Vander tersenyum dan mengecup pipi istrinya. "Sudahlah, lupakan hari itu. Anggap semua itu ujian dihubungan kita."


"Ya, kau benar," balas Lara tersenyum.


"Oh iya selain itu, ada kejutan lagi buatmu."


"Huh? Kejutan apa?" Lara langsung tampak penasaran dengan kejutan yang dimaksud sang suami.


"Sebentar lagi kau akan tahu," ucap Vander dengan santainya.


Dan tak lama tiba-tiba pintu kamar Lara dirawat terbuka. Dari tempat tidurnya ia melihat beberapa orang yang dikenalnya datang. Seorang pria kecil nan manis masuk tergesa-gesa menghampirinya sambil berteriak, "Mama..."


Pria kecil itu langsung menatap Lara dengan kedua matanya yang bening.


"Mama, akuβ€” aku rindu mama..." Tangis haru Rey pecah saat mengatakan hal itu. Lara pun langsung memeluknya erat. Sama dengan Rey ia juga sangat merindukan putranya itu.


"Mama akhirnya aku bisa lihat dirimu lagi. Tolong jangan lagi tinggalkan aku, aku janji akan menjaga mama..."


"Tidak sayang, mama tidak akan meninggalkanmu lagi. Maaf sudah membuatmu khawatir."


Lara kemudian menghapus air mata Reynder. "Sudah ya jangan menangis lagi. Mama kan sudah disini."


Selain putranya, disana juga ada Miranda, Tori, Robert, dan juga Gavin yang datang menemui Lara. Mereka semua tampak senang sekali melihat Lara sudah kembali ketengah-tengah mereka.


"Lara, ra- rambutmu kenapa?" Akhirnya Miranda menyadari rambut Lara kini dipontong pendek.


"Aku juga ingin tahu, kenapa rambut mama jadi pendek sekali?"


Aku tidak mungkin ceritakan hal buruk yang kualami pada mereka terutama pada Rey. "Oh ini, aku tiba-tiba merasa bosan dengan rambut panjang makanya aku minta tolong Vander untuk memotongnya."


Mira memicingkan matanya, ia seolah tidak percaya dengan ucapan Lara. Mengingat ia tahu betul kalau sahabatnya itu sejak kecil paling tidak suka berambut pendek. Sepertinya Lara menyembunyikan sesuatu, tapi saat ini aku tidak mau mencecarnya.


"Lara aku baru tahu kau suka rambut pendek," ucap Miranda.


"Iya hehe... Tapi aku tetap cantik kan?"


"Mamaku sudah cantik sejak lahir, jadi pakai model rambut apapun pasti tetap cantik."


"Ah kau ini, ucapanmu persis Vander," tandas Lara diselingi tertawa kecil menutupi apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya.


Sebaliknya Vander saat ini sangat murka melihat istrinya yang terpaksa berbohong agar orang lain tidak khawatir padanya. Lara aku bersumpah, akan kubuat pria itu merasakan seribu kali lebih sakit dari apa yang kau rasakan!


Melihat semua tengah sibuk dengan Lara, Vander pun izin untuk pergi keluar dulu mengajak Robert dan Gavin.

__ADS_1


"Vander kau mau pergi kemana lagi?" Tanya Lara.


"Aku ingin keluar membicarakan soal kerugian bisnis akibat kekacauan di kota ini dengan Robert dan Gavin.


"Baiklah..."


"Tori aku pergi dulu, kau jaga mereka disini."


"Baik tuan."


...----------------...


Ketiga pria itu akhirnya pergi dan bicara di ruangan terbuka yang ada di rumah sakit. Disana Vander memberitahukan kepada Robert dan Gavin kalau ternyata dirinya adalah keponakan Gauren.


"Jadi, kakak yang sudah membunuh Gauren, pamanmu sendiri?"


"Ya, dan dia sekarang bisa hidup tenang."


"Kalau tuan keponakannya, lalu kenapa tuan Gauren sampai bisa setega dan sekejam itu padamu? Bukankah paman seharusnya menyayangi keponakannya?"


"Tapi kenyataannya tidak begitu Robert. Meskipun di akhir-akhir hayatnya ia berbuat baik padaku dan Lara."


"Apa kakak sudah memaafkan dia?"


"Memang apa lagi yang harus aku benci dari orang yang sudah mati?"


"Tuan, anda sudah terlalu sering menghadapi kesusahan. Kali ini anda berhak bahagia jadi aku rasa apa yang anda lakukan sudah benar. Terlebih anda sudah berjasa sekali membantu orang-orang di kota ini lepas dari pengaruh obat Gauren."


"Aku hanya melakukan apa yang aku bisa sebagai manusia."


"Kakak sungguh keren sekali," puji Gavin yang kagum sekaligus terharu dengan perjuangan hidup Vander.


"Kau jangan cengeng Gavin, ingat kau sudah mau jadi ayah," ledek Vander.


"Kalau begitu semua sudah selesai. Dokter Dominic sudah sampir selesai memberikan serum pada korban penculikan Gauren, dan sisanya tinggal pemulihan tempat-tempat umum yang rusak akibat dihancurkan oleh anak buah Gauren."


"Kau benar Robert, semua masalah dikota ini memang sudah selesai, kecuali satu hal... Aku belum selesai membuat perhitungan dengan pria bajΒ‘ngan itu." Tatapan mata Vander berubah bengis.


"Kak, apa yang ingin kau lakukan pada Reki?"


...🍁🍁🍁...


Di ruangan berukuran empat kali empat meter dengan bertembokan besi baja, Reki terlihat duduk disebuah kursi. Tangannya di borgol dan kakinya diikat rantai besi baja. Disana pria itu terlihat mengamuk dan terus berteriak menyerukan sumpah serapah tiada henti.


"Keluarkan aku dari tempat ini! Keluarkan!"


Ia memaki dan terus meneriaki nama Vander dengan umpatan-umpatan buruk.


"Keluarkan aku dari sini! Vander busuk kau sialan, dasar manusia sampah! Cepat keluarkan aku!"


"Jadi kau masih punya tenaga untuk berteriak memakiku?" Vander tiba-tiba datang. Mengenakan kemeja hitam digulung sampai siku dan celana berwarna senada ia berjalan mendekati Reki.


"Hah manusia sampah kau datang juga, lepaskan aku dari sini!"


Vander menyeringai kecil. "Melepaskanmu? apa kau bercanda?"


Brrkkk!


"Arggghhh!"


Vander menendang kepala Reki dengan kerasnya sampai hidungnya bercucuran darah. Ia menatap pria jahat itu dengan tatapan dingin sambil berkata, "Kau sudah berani menyakiti Lara, maka aku akan buat kau merasakan yang jauh lebih sakit lagi."


Brrkkk!


Vander kembali menendang kepala Reki hingga dirinya terjatuh bersama kursi yang ia duduki.


"Moyes, Lori!" Vander memanggil anak buahnya masuk.


"Siap tuan!"


"Berikan aku pisaunya."


"Ini tuan!"


Reki yang melihat ke arah Vander yang tengah berdiri memegang belati pun langsung terbelalak ketakutan. Ia tahu Vander pasti akan melakukan sesuatu padanya dengan benda itu.

__ADS_1


"Kenapa tuan Reki, apa kau takut? Bukankah kau seharusnya senang akhirnya dapat perhatianku?" Vander menginjak kepala Reki.


"Nnghhh! Le- lepas- kan aku!"


Pria itu tertawa meledek Reki. "Kau minta dilepaskan? Bahkan kau menahan tendanganku tak bisa. Kau itu lemah sekali ya... Aku heran bagaimana bisa pamanku mau membantumu yang tidak berguna ini!"


Vander mengangkat kakinya dari wajah Reki. Ia lalu menyuruh Moyes dan Lori membangunkan tubuh Reki.


"Kuberitahu, kau itu memang tidak waras. Tapi kau harus tau aku bisa lebih tidak waras lagi," ucap Vander di depan wajah Reki dan tersenyum.


"Ka- kau mau apa Vander?" Reki ketakutan hingga keringat dingin.


"Mau apa? Aku hanya mau membuatmu merasakan sakitnya istriku! Aku ingin..."


"Arghh...!"


Vander menyayat-nyayat kulit Reki.


"Lagi?"


"Arghh hentikan, sakit!"


"Ini lagi!"


"Sakit? Sepertinya kurang ya?" Vander lalu mendekatkan pisau itu ke wajah Reki dan menyayatnya dipipinya.


"Argghh sakit sekali sialan lepaskan aku...!"


"Hem, maaih kurang menderita. Sepertinya siksaan ini belum seberapa. Dulu aku lebih parah lagi saat disiksa pamanku. Dia bahkan meneteskan asam lemon diluka cambukanku."


Tidak aku tidak mau! "Aku tidak mau! Jangan!"


"Hei, ide bagus! Bawa kemari lemon perasnya!" Titah Vander. Ia lalu meneteskan air perasan itu ke luka sayatan yang ia buat di tubuh Reki. Pria itu langsung meraung kesakitan dan berteriak sambil menangis.


"Hentikan... kumohon... jangan lakukan..."


"Cih! Begitu caramu memohon? Menjijikan! Mati saja kau!" Vander lagi-lagi menendang wajah Reki berulang kali. Sampai pria itu pingsan, namun ia tak biarkan itu.


"Belum selesai Reki, aku belum puas melihatmu tersiksa!" Vander menyalakan sebatang rokoknya dan menyundutkannya kekulit Reki. Setelah ia itu mematahkan engsel kaki dan tangannya. Sampai saking tak kuat lagi menahan siksaan-siksaan itu, Reki seolah ingin cepat mati saja rasanya.


"Aku tidak peduli jika kau menghinaku, tapi kau sudah berani menyetuh keluargaku terutama Lara! Maka ini balasannya!"


Brrkk!


Reki terpelanting sambil muntah darah karena ditendang dadanya. Vander lalu mengambil pistolnya dan menodongkannya tepat ke kepala Reki.


"Bu- nuh a-aku... kumohon bunuh saja aku," Reki dengan sisa kekuatannya memohon pada Vander agar pria itu membunuhnya karena saking tak bisa lagi menahan siksaan yang sangat menyakitkan itu.


Sebaliknya Vander malah tak jadi menembak Reki, dan malah menyuruh anak buahnya mengurus pria itu.


"Sayangnya aku tidak akan membunuhmu, mati cepat hanya akan membuatmu cepat lepas dari penderitaan."


Reki sudah tak bisa berpikir apa-apa lagi. Ia rasanya tak kuat lagi bahkan sekedar mengutarakan dalam hati.


"Moyes Lori!"


"Ya tuan!"


"Bawa pria busuk ini ke ruang medis, setelah sembuh kurung dia diruang isolasi."


"Siap tuan!"


Aku sudah kirimkan berkas kejahatannya ke lembaga hukum, jika aku tidak salah, semua tindak kriminalnya memungkinkan dia dipenjara seumur hidup.


"Jadi Reki, aku putuskan akan membiarkanmu hidup dan membusuk sendirian dipenjara!"


Tanpa siapapun! Disana kau sendirian, kesepian, frustasi, tersiksa dan perlahan mati! "Itu balas setimpal untuk pria sepertimu! Selamat membusuk di penjara Jeden Lee!"


Vander pergi meninggalkan tempat itu sambil menyelakan rokok dimulutnya.


Hidup ini selalu bergerak dengan hukum aksi reaksi. Apa yang kau lakukan pada orang lain maka akan kau dapatkan balasan yang sama pula.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTE. OKE! πŸ™πŸπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2