Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kembali ke tempat itu?


__ADS_3

Lara dan Miranda terkejut mendengarnya.


"Untuk apa mereka melakukan demonstrasi itu?" Miranda tampak kesal.


"Yang aku dengar mereka marah karena mereka pikir perusahaan akan memotong gaji mereka, dan melakukan PHK besar-besaran untuk menutupi kerugian Miracle."


Lara kaget bukan main mendengarnya. Pasalnya dirinya sebagai pemimpin justru belum pernah mengiyakan kebijakan seperti itu di waktu dekat ini.


"Darimana isu itu beredar?" Miranda penasaran.


"Aku juga tidak tahu Nona," kata Ana yang masih terlihat panik.


Bagaimana ini? Ini pertama kalinya terjadi di sepanjang karir Lara menjadi CEO. Tidak, ini bahkan pertama kalinya ada kejadian begini di Miracle.


"Nona Lara, anda harus menemui mereka agar suasana tidak semakin kacau. Bagaimanapun mereka masih tanggung jawabmu," ucap Mira menyarankan.


Lara mengangguk paham. Ia pun ditemani Mira segera turun kebawah untuk menemui para pegawai yang tengah melakukan demonstrasi.


Setibannya dibawah Lara bisa mendengar suara para pendemonstrasi yang berteriak dan memanggil nama Lara dan mengatakan keberatan.


Aku takut melihat mereka marah tapi bagaimanapun aku harus menemui mereka dan mendengar langsung apa yang mereka keluhkan sebenarnya. Lara mengatur nafas dan melangkah pasti menemui puluhan pegawainya yang sedang marah itu.


Akhirnya Lara muncul dihadapan para pegawai yang berdemo itu. Ia langsung mencoba mengkondusifkan para karyawannya itu, dan meminta salah satu perwakilan dari mereka untuk bicara terkait apa yang mereka inginkan.


Lewat pengeras suara salah satu perwakilan pegawai pun mengutarakan isi kepala mereka. "Kami ingin keadilan, kami tidak terima jika perusahaan harus memotong gaji kami hingga lima puluh persen. Mau makan apa anak istri kami? Dan soal PHK, bagaimana mungkin selama empat puluh tahun Miracle berdiri tiba-tiba ada PHK secara masif! Kami tidak terima itu!"


Dengan setenang dan sebijak mungkin Lara menjawab, "Semuanya... soal wancana pemotongan gaji dan PHK, itu hanya salah satu opsi terakhir jika perusahaan ini tidak bisa lagi diselamatkan. Tapi aku sedang berusaha menstabilkan kondisi keuangan Miracle jadi kalian jangan termakan isu yang belum valid."


"Tapi nyatanya perusahaan ini terus menurun!"


"Kami butuh kepastian! Nona Lara anda tidak bisa hanya mengumbar janji!"


"Tolong beri kepastian, kami tidak ingin diPHK!"


"Iya Nona Lara!"


"Pikirkan kami yang hanya karyawan biasa! Tunjukan kompetensi anda!"


"Kalau Nona tidak mampu memimpin perusahaan turun saja!"


Alhasil para demonstran kembali tidak kondusif. Sepertinya para pegawai sudah terlanjur termakan isu hingga mengalami krisis kepercayaan pada kepemimpinan Lara.


Ditengah ributnya pegawai yang berdemo, tiba-tiba saja muncul Jeden. Pria itu muncul seolah pahlawan kala itu, ia dengan seolah tanggap langsung menenangkan para pegawai dan mencoba berdialog dengan mereka. Dan siapa sangka, setelah berdialog dengan Jeden para pegawai yang marah itu jadi tenang dan mau mengerti dengan keadaan perusahaan saat ini.


Sampai-sampai Lara dan Miranda pun tak menyangka melihat Jeden bisa menenangkan para demonstran.


"Jadi semuanya aku mohon, bekerjalan dulu  dengan baik. Soal gaji PHK, semuanya kalian percayakan saja pada kami petinggi Miracle. Sementara aku pribadi pun sudah bisa memastikan tidak akan ada PHK," ucap Jeden.


Para pegawai pun percaya dengan ucaapn Jeden dan mereka saling bersorak meneriakan namanya.


Hidup tuan Jeden Lee!


Hidup Tuan Jeden!


Hidup tuan Jeden!


Dan tak lama para pegawai itupun bubar. Disana Lara memandangi Jeden dengan tatapan curiga.


"Nona Lara kenapa melihatku begitu? Bukankah seharusnya kau mengucapkan terima kasih karena aku sudah membantumu membubarkan mereka?"


"Apa ini ulahmu?" Tanya Lara tidak percaya dengan yang dilakukan Jeden. Melihat pria itu datang tiba-tiba bak seorang pahlawan seolah membuat Lara curiga kalau Jeden ada dibalik ini terjadinya ini semua.


"Oh ayolah Lara, kau mencurigaiku? Apa kau sudah benar-benar berubah jadi wanita kejam yang tidak tau berterima kasih?"


"Aku berterima kasih karena kau sudah membantu membubarkan semuanya, tapi bukan berarti aku percaya sepenuhnya padamu." Lara masih memiliki keyakinan kalau Jeden pasti memiliki maksud lain dibelakangnya.


Pria itu tertawa kecil seraya menertawakan Lara. "Yasudah kalau kau tidak percaya aku tidak peduli, yang jelas kau berhutang padaku kali ini Lara," ucap Jeden dengan jumawa lalu pergi meninggalkan Lara dan Miranda.


Diruangannya Lara tampak kelimpungan kali ini. Kenapa disaat begini? Kenapa disaat dirinya yang tengah berusaha menstabilkan perusahaan malah tiba-tiba hal semacam ini terjadi?


"Aku tidak mengerti kenapa bisa isu semacam itu merebak luas?" Ungkap Lara tak habis pikir dibuatnya.


"Kau duduk dan tenanglah dulu," pinta Miranda yang juga sebenarnya baru kali ini mengalami peristiwa seperti ini selama bekerja di Miracle.


Lara duduk bersandar di kursinya menenangkan diri sambil memijat pelipisnya agar tidak tegang.


"Astaga! Jadi ini semua ulah Tara dan Dona!" Ujar Mira dengan nada kaget.

__ADS_1


"Ada apa Miranda?"


Mira menjelaskan ke Lara kalau isu yang beredar soal PHK dan gaji itu, ternyata berawal dari statement Dona dan Tara di media sosial terkait pemecatannya beberapa waktu lalu.


"Jadi mereka sengaja memfitnahku karena sakit hati karema aku pecat?" Pungkas Lara kesal.


"Mungkin, dan..." Wajah Miranda kembali kaget dibuatnya melihat profile media sosial milik Dona. "Dona dan Tara, ternyata mereka sekarang bekerja untuk Appletree," ungkap Miranda tak menyangka.


"Apa?!" Lara yang tadinya bersandar rileks langsung berubah duduk tegap terkesiap dan mengerutkan alisnya. "Jadi sekarang mereka bekerja untuk Karina?" Jika mereka bekerja untuk Karina sudah pasti jelas-jelas mereka akan memusuhin Lara, mengingat mereka dan Karina sama-sama tak menyukai dirinya.


Aku harus bagaimana ini? Dengan Dona dan Tara yang mantan pegawai Miracle yang dipecat langsung oleh Lara bukan tidak mungkin kedua wanita itu akan membocorkan isu-isu yang ada di dalam kantor saat ini. Huft! Lara menghela nafas dan memijit kepalanya yang penat memikirkan ini semua.


"Nona kau tidak apa-apa?" Tanya Mira khawatir.


"Ya Mira, i'm okey!"


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang Nona?"


"Entahlah Mira, tapi...bisakah kau tinggalkan aku sendirian dulu saat ini? Aku butuh ruang untuk sendiri dulu," pinta Lara.


Miranda memakluminya, ia pun kemudian pamit pergi dan meninggalkan Lara sendirian untuk menenangkan dirinya. Gadis itu mengambil air putih lalu meminumnya agar merasa lebih baik. Tak lama kemudian Vander masuk ke ruangan Lara dengan raut wajah cemas. Pria itu pun langsung menghampiri sang kekasih yang tengah duduk sendirian di sofa dengan perasaan kacau.


"Nona kau baik-baik saja kan? Aku tadi langsung kemari saat mengetahui ada berita demo di kantormu. Kau tidak terluka atau sakit kan?" Ucap Vander yang khawatir sambil memeluk Lara.


"Aku baik-baik saja Vander kau tidak perlu panik, tidak ada kekerasan sama sekali hanya saja..." Lara kemudian menceritakan kepada Van detail kejadian saat demo berlangsung hingga selesai. "Aku tidak tau perasaanku benar atau salah, tapi aku merasa curiga dengan Jeden."


Lara lalu menghela nafas dan berkata, "Kenapa ya Van, padahal aku tengah berusaha menaikan kepercayaan pegawai, dengan melakukan kerja sama dengan para pemilik kebun di RK tapi malah hal seperti ini terjadi, seolah memang semesta tidak memberkatiku?"


Dengan lembut Van membelai wajah Lara dengan lembut dan mengecup bibirnya singkat." Sudah, kau jangan terlalu keras memikirkannya, aku tidak ingin kau sakit. Lebih baik sekarang kau tenangkan diri dulu setelah itu kita pikirkan semua ini. Dan soal Jeden, sebenarnya aku pun sepemikiran dengamu," ungkap Vander


Lara menyentuh punggung tangan Vander yang menyentuh pipinya yang kemerahan.


"Ayo!" Van tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya seraya mengajak Lara ikut dengannya.


"Mau kemana?" Tanya Lara penasaran.


"Sudah ikut saja," pungkas Vander meyakinkan gadisnya.


Dan akhirnya Lara pun meraih uluran tangan Vander dan ikut kemanapun sang pria berjalan menuntunnya.


*


"Motor siapa ini?" Tanya Lara.


"Milikku, cepat pakai helmnya!" Titah Vander.


"Um— kita mau kemana Van?"


Van langsung memakaikan Lara helm sambil berujar, "Sudah jangan banyak tanya, kau ikuti saja oke...!"


Tanpa banyak protes gadis itupun mengikuti apa yang dikatakan oleh Van. Mereka pun pergi berboncengan mengendarai motor.


Entah kemana Vander akan membawaku? Tapi naik motor memeluk dan menyandarkan diri di punggungnya yang lebar terasa begitu nyaman. Setidaknya membuat Lara tenang.


Setelah hampir satu jam berkendara, Vander tiba-tiba memberhentikan motornya disebuah kawasan pantai. Keduanya turun dari motor melepas alas kaki mereka dan menentengnya sambil berjalan dipinggir pantai menikmati sayup angin yang menyeruak kulit.


"Ah ke pantai di bulan ini, bukankah salah? Ini mau masuk musim dingin," pungkas Lara sambil mengusap-usap lengannya yang kedinginan tertiup angin. Untungnya hari ini Lara mengenakan setelan celana dengan atasan berlengan, namun tetap saja dinginnya angin bisa menembus kulitnya yang putih.


"Pakai ini!" Vander langsung memberikan jasnya untuk dikenakan Lara.


"Kau sendiri bagaimana?" Melihat Van hanya mengenakan kemeja, dirinya jadi khawatir Vander kena flu.


"Aku terbiasa dengan dingin dan panas jadi aku tidak masalah dengan keduanya," jelas Van yang sepertinya memang terlihat tidak masalah sama sekali dengan dinginnya angin yang berhembus.


Mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan-jalan diatas pasir pantai yang putih bersih. Vander memang sengaja mengajak Lara agar gadisnya itu tidak terlalu stress memikirkan masalah dikantornya saat ini.


"Kenapa kau mengajakku kemari?" Tanya Lara.


"Aku tidak ingin melihatmu stres, lagipula kau ingatkan tempat ini?"


Wanita berambut panjang setengah bergelombang itu tersenyum manis. "Iya aku ingat, ini tempat dimana kau menyatakan perasaanmu padaku."


"Ehem, bukannya kau duluan yang bilang suka padaku?" Goda Vander hingga wajah Lara memerah dibuatnya karena malu, mengingat memang dirinyalah yang pertama mengutarakan perasaannya.


"Ya aku memang yang bilang duluan," ucapnya malu-malu mengakui.


"Tapi aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu," pungkas Vander yang kemudian menghadap Lara dan menatapnya sambil membelai rambut indahnya.

__ADS_1


Lara membelai mesra wajah Vander lalu berjinjit menciumnya mesra. "Aku mencintaimu Vander."


"Aku juga mencintaimu, kali ini saja tolong sejenak lupakan hal lain dan fokus pada kita berdua," balas Vander kemudian memeluk Lara dan mengecupnya dengan lembut.


Bibir Vander yang lembut menempel dibibirnya. Mereka berciuman mesra hingga sejenak Lara seolah sedikit lupa dengan masalahnya.


**


Karina dan Jeden terlihat bersama di bar, sepertinya keduanya memang sudah janjian. Disana mereka bedua tertawa lepas sambil menikmati minuman dan alunan musik yang dimainkan DJ.


"Cheers!" Keduanya pun bersulang, seraya merayakan sejauh keberhasilan rencana mereka menjatuhkan Lara.


"Kau lihat tuan Jeden, berita demonstrasi di Miracle sudah menyebar dimana-mana. Semua orang kini berpikir betapa tidak becus dan buruknya citra seorang Lara Hazel sebagai CEO," pungkas Karina  tertawa dan kembali meneguk minuman di gelasnya.


"Kau benar, sebenarnya aku kasihan melihat wanita kesayanganku itu. Tapi..." Jeden memicingkan matanya seolah kesal.


"Tapi apa?"


"Tapi dia lebih memilih si Vander busuk itu!" Ujar Jeden frustasi lalu menenggak habis minuman digelasnya.


Karina yang mulai agak mabuk tertawa. "Vander dia menolakku demi si jal*ng murahan Lara itu! Padahal aku kan tidak ada kurangnya dibanding Lara," ucapnya terlihat mulai mabuk.


"Sepertinya kita senasib nona Karina, tapi..." Jeden menatap Karina lalu bertaka, "Sayangnya kau bukan Lara jadi aku tidak tertarik padamu!"


Karina setengah tertawa mengejek dan membelas, "Kau juga bukan Vander! Vander lebih tampan dan bentuk tubuhnya jauh lebih atletis dibanding dirimu!"


"Cih! Dia hanya sampah dihadapanku!" Omel Jeden sambil menuang minuman.


"Kau cemburu pada Vander dari segi fisik kan? Hayo mengaku saja," Ledek Karina yang mulai ngelantur karena pengaruh alkohol.


"Omong kosong!"


"Ya ya ya... Intinya Vander dia tampan dan akan segera jadi milikku selamanya..," ungkapnya dengan nada suara menyeret.


Jeden kehabisan kata melihat Karina yang sudah mabuk saat ini. "Kau sudah mabuk Karina!"


"Ya aku mabuk! Mabuk cintanya Vander," pungkasnya seolah bersedih.


Dan siapa sangka pria yang duduk disebelah Jeden mengenakan topi adalah Aron. Sejak awal duduk memesan minuman, Aron ternyata sudah mendengar percakapan Karina dan Jeden. Ia pun membayar minumannya dan pergi dari sana.


**


Di luar saat Vander tengah menikmati sebatang rokok di luar sekitar apartemen, tiba-tiba saja dirinya ditelepon oleh Aron.


Aron : Halo Van


Van  : Ada apa?


Aron : Kau tau, aku saat ini ada dibar, dan aku melihat wanita bernama Karina dan pria yang bernama Jeden.


Van  : Mereka membicarakan apa?


Aron : Mereka bicara soal...(Aron menceritakan semua pembicaraan Jeden dan Karina yang ia dengar)


Van : Sial! Jadi dugaanku benar, mereka bersekongkol menjatuhkan Lara! (Terdengar mara)


Aron : Van, mereka bukan orang biasa. Mau tidak mau kau harus minta bantuan untuk mengatasi mereka. Karena meski kau kuat dan cerdas tetap saja kau butuh bantuan orang lain yang punya jabatan dan kewenangan.


Van : Aku tau itu.


Aron : Yasudah kalau begitu karena kau sudah tau, aku tutup teleponnya.


Van : Ya! Terima kasih.


Vander menutup panggilannya. Wajahnya yang tampak dingin seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin aku harus kembali tempat itu?" Vander memikirkan tentang Crux. "Tapi jika aku bersentuhan kembali dengan organisasi itu, bagaimana dengan Lara?"


Di tengah risaunya memikirkan dirinya dan Crux tempat Vander bernaung dulu, tak lama ponselnya kembali bergetar. Kali ini nomor itu tidak ada di kontak ponselnya.


"Nomor siapa?" Van penasaran dan langsung mengangkatnya.


"Halo...?"


Halo Vander kau masih inga aku kan...?


Suara ini? Garis mata Vander yang mengerut seolah mengisyaratkan sesuatu setelah mendengar suara wanita yang meneleponnya saat ini.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2