
Lara memiringkan kepalanya memadang ke arah pria yang kini tengah berjalan ke arahnya. Pria itu bertubuh tinggi hampir setinggi Vander, wajahnya tampan dan ia mengenakan setelah jas semi formal. Melihat pria itu entah kenapa Lara seolah sama sekali tidak takut, malah cenderung penasaran ingin tau siapa pria yang tengah menghampirinya itu.
"Hai Lara, sudah lama ya kita tidak bertemu." Sapa pria itu diikuti senyuman hangat.
Lara langsung mengerutkan alisnya dan berpikir, siapa pria ini sebenarnya?
"Lara, kau lupa padaku ya? Aku Eiji Hartman kau ingat kan?"
Seketika ingatan masa lalu Lara pun terbuka, ia akhirnya ingat siapa pria yang ada dihadapannya saat ini. Dia adalah Eiji Hartman, atau biasa Lara memanggilnya kak Eiji. Pria itu dulu pernah menjadi guru private Lara saat masih jadi murid sekolah menengah pertama.
"Kak Eiji...?" Lara seperti tak menyangka dirinya akan bertemu lagi dengan kenalan masa kecilnya itu.
"Akhirnya kau ingat padaku, jadi bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kau sendiri?"
"Aku juga baik, dan— kau jadi semakin cantik saja."
Lara tersipu malu. "Apa kak Eiji habis berziarah ya?"
"Iya, kau juga kan?"
Lara mengangguk.
"Oh iya apa kau mau pulang? Kalau iya biar aku antar saja," Eiji bermaksud mengantar Lara namun sayang Lara sudah ditunggu oleh Gavin.
"Ah sayang sekali ternyata kau sudah dijemput. Tapi kapan-kapan bisakan kita ketemuan, aku sungguh ingin sekali lebih banyak mengobrol denganmu."
Lara mengangguk, "Tentu saja."
Dan setelah saling bertukar nomor ponsel mereka pun berpisah.
Eiji yang masih berdiri disana terus memandangi kepergian Lara dan tersenyum. Pria itu tak menyangka kalau akan bertemu dengan gadis yang ia suka sejak lama. "Kau benar-benar sudah tumbuh mekar menjadi bunga yang sangat cantik. Kali ini, aku boleh mendekatimu sebagai seorang pria kan Lara Hazel?"
**
Di ruangannya Lara terlihat tengah berbalas pesan. Ternyata ia sedang berbalas pesan dengan pria kenalan masa kecilnya.
Kak Eiji :
Lara, bisakah besok kita bertemu? Aku akan menjemputmu kalau kau mau.
^^^Lara :^^^
^^^Aku bisa, kalau begitu kau jemput aku di kantorku besok saat jam makan siang.^^^
Kak Eiji :
Baiklah, aku menantikan besok.
^^^Lara^^^
^^^Sampai jumpa.^^^
__ADS_1
Eiji :
Sampai ketemu besok
Eiji yang tengah berada di kafe Oliver pun tampak tersenyum bahagia mengetahui ajakannya disambut dengan baik oleh Lara.
**
Tak lama kemudian datanglah Mira menemui Lara di ruangannya.
"Ah kau sudah datang ya Mira, silakan duduk."
Mira lalu duduk menghadap Lara, dan bertanya ada apa sebenarnya maksud Lara memanggil dirinya ke sini.
"Mira, sebenarnya aku mau tau pendapatmu tentang rencanaku ini."
"Rencana apa?" Mira mengernyitkan dahinya penasaran dengan rencana apa yang dimaksud oleh Lara.
"Aku sudah memutuskan untuk menjual tiga puluh persen sahamku."
"Apa?! Kenapa tiba-tiba kau—"
Sebenarnya sudah cukup lama Lara memikirkan hal tersebut, mengingat ia ingin lebih fokus mengelola uangnya untuk depositonya dibanding bertaruh di bursa saham. Dan kebetulan saham Miracle kini berjalan cukup stabil jadi ia berencana akan menjual saham miliknya itu.
"Tapi apa kau yakin dengan keputusanmu ini Lara?"
Lara menghela nafas dan mengangguk yakin. "Ya, aku sudah memutuskannya dengan sangat yakin."
Melihat Mira yang selalu ada mendukungnya, Lara pun jadi lega dan merasa beruntung memiliki teman yang baik seperti Mira.
"Oh iya Mira kau tau tidak, tadi aku bertemu siapa?"
"Siapa?" Mira penasaran.
"Eiji Hartman!"
"Eh Eiji yang dulu pernah jadi guru privatmu saat SMP itukan?" Miranda yang juga mengenal Eiji tidak menyangka setelah bertahun-tahun tidak ada kabar, tiba-tiba saja ada berita Eiji kembali ke kota ini. Sejak tujuh tahun lalu, Eiji memang pindah ke luar negeri untuk bersekolah dan tidak pernah kembali lagi. Tapi siapa sangka ternyata dia tiba-tiba kembali ke kota ini.
"Lalu kalian membicarakan apa saja?" Pungkas Mira penasaran.
"Tidak banyak, karena kami hanya bertemu sebentar tadi."
"Lalu, dia sekarang bagaimana? Makin tampan pasti ya...? Aku jadi ingat kau dulu kan selalu sering bilang 'kak Eiji sangat tampan' " Mira menggoda Lara sambil tertawa.
"Mira... itukan dulu saat aku masih sekolah, sudahlah jangan goda aku bagitu." Lara sedikit tersipu malu jadinya.
Keesokan harinya, Lara dan Eiji akhirnya bertemu di kafe oliver. Keduanya memang sudah berjanji untuk ketemuan makan siang bersama disana. Mereka tampak asyik mengobrol sambil menikmati santap siang mereka.
"Oh jadi kakak kesini hanya sebentar?"
"Ya, aku kemari hanya untuk mengurus beberapa dokumen penting." Eiji sendiri adalah seorang arsitek yang kini bekerja disalah satu perusahaan rekonstruksi berskala internasional di luar negeri. Ia datang kemari untuk memperpanjang visa miliknya dan setelah itu kembali ke kanada, untuk melanjutkan ke jenjang doktor.
"Oh ya Lara— secara pribadi aku turut berduka atas meninggalnya kakek dan nenekmu, serta musibah kebakaran yang kau alami beberapa waktu lalu aku juga turut prihatin mengetahuinya. Aku— benar-benar minta maaf karena tidak tau akan hal itu."
__ADS_1
"Sudah tidak masalah, toh itu bukan salahmu kan. Dan— bagaimana pun itu sudah terjadi jadi aku pun sudah merelakannya," ucap Lara lalu menyuap garpu berlilitkan spagetti itu ke mulutnya.
Sementara Eiji sendiri malah jadi fokus memandangi Lara yang sedang sibuk menyantap makan siangnya. Bagi Eiji sendiri, Lara adalah gadis di masa mudanya yang tidak bisa ia lupakan sampai saat ini. Terlebih lagi, melihat Lara yang kini sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik membuat pria itu jadi semakin yakin untuk mendekatinya dengan lebih serius.
"Um— Lara."
"Ya, ada apa kak?"
"Aku ingin bertanya apa kau— sudah..."
"Tunggu sebentar Kak!" Ponsel Lara tiba-tiba berdering, ia pun segera mengangkatnya. Saat Lara tengah mengangkat telepon Eiji seketika dibuat terperangai saat ia baru sadar kalau Lara mengenakan cincin dijari manisnya.
Tidak, apa mungkin Lara sudah...? Eiji yang baru saja berniat ingin mengutarakan perasaannya, seolah langsung seperti ditampar kenyataan saat dirinya melihat cincin di jari manis Lara.
"Oh iya, tadi kakak mau tanya apa padaku?" Ucap Lara kembali mengungkit ucapan Eiji yang sempat terpotong tadi.
"Um- itu aku hanya mau bertanya, kira-kira apa saja perubahan besar di kota ini semenjak aku tinggal di luar negeri?"
"Oh kalau itu sih—"
Perasaan Eiji sebenarnya sangat kecewa saat ini, . Dulu Lara masih terlalu muda untuk ia dekati dengan serius, dan sekarang saat ia sudah dewasa lagi-lagi ia harus menelan kenyataan pahit, mengetahui sepertinya Lara sudah memiliki orang spesial dihatinya. Ia merasa semesta seolah tak mendukung dirinya dengan Lara.
**
Setelah selesai makan siang bersama akhirnya Eiji mengantar Lara kembali ke kantornya, sementara dirinya harus kembali ke apartemen miliknya untuk menyiapkan semua berkas yang ia butuhkan.
"Kak Eiji terima kasih traktiran makan siangnya hari ini, kalau begitu aku duluan ya."
"Lara tunggu!" Eiji memegangi tangan Lara, menahannya keluar mobil.
Sontak wanita itu pun langsung menatap Eiji dengan heran. "Ada apa kak?"
"Lara, bagimu aku ini apa?"
"Huh?" Dengan tampang polosnya Lara menatap Eiji
"Jawab aku, menurutmu aku ini bagimu seperti apa?"
Gadis itu berpikir sejenak, lalu dengan wajah sedikit tersipu Lara berkata, "Bagiku— kak Eiji adalah pria yang sangat baik, lembut, serta perhatian, dan aku kagum dengan dirimu."
Eiji tersenyum datar. "Begitu ya?"
"Eh, memang kenapa bertanya begitu?"
"Tidak apa-apa, hanya iseng saja ingin tahu."
"Hem, kukira ada apa. Yasudah aku pergi ya kak. Sampai jumpa." Lara melambaikan tangannya lalu keluar dari mobil Eiji.
Sementara Eiji tampak kecewa setelah mendapati jawaban Lara tadi, seolah secara tidak langsung dirinya seperti telah ditolak sebelum menyatakan cintanya. "Jadi hanya sebatas kagum ya?" Eiji tersenyum sedih.
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE, COMMENT, DAN JUGA DI SHARE YA.... KASIH GIFTNYA JUGA JANGAN VELIT-VELIT 😉
__ADS_1