Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Berada dipihakku


__ADS_3

Malam harinya saat tengah pergi berdua keluar berkeliling kota menaiki mobil. Lara meminta suaminya itu agar menepi ditepi ladang ilalang yang membentang.


Vander yang akhirnya menghentikan laju mobilnya dan menepi dipinggir ladang tersebut pun bertanya, "Kenapa tiba-tiba minta berhenti?"


"Aku ingin bicara sesuatu padamu."


"Tentang apa?"


Lara kemudian menghela nafas dan mengatakan soal tawaran kerja menjadi desainer di Lavioletta pada sang suami.


"Jadi kau ingin berhenti bekerja denganku?"


"Vander, kau tahu cita-citaku sejak sekolah adalah ingin sekali menjadi desainer. Ditambah salah satu mimpiku yaitu jadi desainer si Lavioletta. Jujur saja aku sangat menantikan momen ini," ungkap wanita itu.


Vander menatap Lara yang duduk disebelahnya dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Kau itu pemilik Laizen grup, termasuk Lavioletta itu milikmu sendiri. Jadi sebenarnya kalau kau mau berbuat apapun pada perusahaanmu itu tidak masalah."


"Aku tahu, " Lara menatap balik wajah sang suami lalu membelai pipinya. "Aku memang pemilik perusahaan, tapi bagaimanapun kau suami dan CEOnya jadi aku harus menghormatimu. Aku tidak ingin seenaknya, lagipula aku ingin bekerja karena usaha dan karyaku bukan hanya karena aku pemilik perusahaan."


Vander tersenyum lalu mengecup bibir sang istri. "Terima kasih sudah menjadi istri dan pegawai yang baik. Untuk itu aku izinkan kau berhenti jadi sekretarisku tapi dengan syarat, dalam dua minggu temukan penggantinya yang mirip denganmu."


"Mirip denganku? Ma- maksudmu apa?!" Lara seketika merasa tidak senang, karena berpikir suaminya itu ingin sekretaris yang cantik dan masih muda untuk menggantikannya.


"Ya ampun sayang, kau jangan cemburu dulu. Mirip maksudku yang kerjanya bisa sepertimu, cepat, teliti dan bisa mengimbangi ritme kerjaku."


"Oh, jadi kalau tidak cantik dan muda tidak apa-apa kan?"


"Tidak masalah, lagipula mereka tidak akan satu ruangan denganku."


"Tunggu, jadi maksudmu mejaku yang sekarang ini satu ruangan dengamu, tidak akan ada lagi setelah aku keluar?"


Vander tersenyum mengiyakan."Itu meja istriku, jadi mana boleh orang lain menempatinya."


Lara tersenyum lalu memuji Vander. "Kau memang yang terbaik Vander."


"Karena aku terbaik, mana hadiahnya?"


Lara mencium pipi sang suami. Seketika senyuman Vander berubah jadi seringai licik. "Lara hadiah begitu mana cukup."


Vander pun langsung menarik tubuh sang istriΒ dan mendudukannya diatas dipangkuannya. "


"Vander jangan bilang kauβ€” Ah...!"


Belum selesai bicara, pria itu sudah lebih dulu berhasil menurunkan pakaian Lara sampai ke pinggang dan menciumi leher dan dadanya yang mulus.


"Euhm, Van- der kita masih dimobil ja- jangan..."


"Tenang saja tidak akan ada orang disini, lebih baik kau fokus padaku saat ini..."


Malam panjang pun terjadi disebuah mobil sedan warna hitam.


...🍁🍁🍁...


Pagi harinya saat Emily baru selesai mandi, datang seorang kurir yang mengantarkan paket. Berhubung manajernya Naomi sedang keluar cari makan, terpaksa Emily harus menerima sendiri paket itu.


"Nona Emily Hasaki ini ada paket untuk anda," ucap si kurir yang kemudian menyerahkan kotak berwarna hitam bertuliskan dari penggemar kepada Emily.


"Dari siapa ini?" Tanya Emily penasaran.


"Aku tidak tahu nona, aku hanya pengantar."


Setelah tanda terima ditanda tangani, kurir itu pun pamit pergi dan Emily pun masuk kembali ke apartemennya.


Ia kemudian meletakan kotak itu diatas meja makan dan memandanginya. "Penggemar? Biasanya kalau ada fans kirim hadiah, mereka akan kirim ke gedung agensi, tumben sekali langsung kesini? Apa ini dari pengemar spesialku?"


Emily yang penasaran dengan isinya pun tanpa berlama-lama langsung membuka bungkus kotak itu, dan kemudian membukanya perlahan.


"Ahhh.... Tidak! Menjijikan!" Emily yang berteriak ketakutan, wajahnya terlihat sangat pucat saat mengetahui kalau isi kotak itu ternyata sekawanan kecoa yang mana itu adalah hewan yang sangat ditakuti oleh Emily. Wanita itu meringsek mundur kebelakang dan naik ke atas kursi sambil ketakutan. "Menjijikan! Siapa orang sialan yang sudah berani mengirimiku para kecoa menjijikan ini!" Murka Emily yang kini tubuhnya merinding geli karena saking takutnya.


...🍁🍁🍁...


Di kedai Miracle, Lara yang tengah menikmati Caramel Machiato tampak tertawa sambil senyum-senyum kecil. Melihatnya, Miranda pun jadi heran dan penasaran. "Lara kau ini kenapa tertawa sendiri?"


"Oh tidak, aku hanya sedang membayangkan seseorang kini tengah berteriak ketakutan diserang sekawanan kecoa."


"Huh, apa maksudmu Lara?" Miranda bingung dibuatnya.


"Sini kuberitahu," Lara membisikan rencanannya memberi pelajaran pada Emily kepada Mira.


"Apa? Jadi kau mau membalas Emily?" Miranda seraya terkejut.


"Kau tahu, aku bukan lagi Lara yang naif seperti dulu, sekarang aku adalah istri dan seorang ibu. Aku harus beritahu orang jahat yang mau menghancurkan keluargaku, kalau aku tidak akan tinggal diam atas perbuatannya."


"Jujur aku tidak menyangka kau akan lakukan hal itu, tapi itu keren! Kau memang harus tegas pada wanita jahat macam Emily," ucap Miranda mendukung. "Kau tenang saja aku akan mendukungmu kok!"


"Terima kasih ya Mira kau memang sahabat terbaikku."

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Emily akhirnya bisa cukup tenang setelah sekumpulan kecoa itu disingkirkan oleh petugas.


"Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini padamu?" Tanya Naomi.


"Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas dia pasti orang yang tidak suka padaku!"


"Siapa? Kan yang tidak suka padamu banyak?" Celetuk Naomi.


"Naomi jaga bicaramu!" Tegur Emily tidak terima


"Aku hanya mencoba mengingatkanmu saja. Kau itu terlalu banyak memusuhi orang lain makanya jadi banyak sekali musuh. Oleh karena itu sadarlah Emily, berhenti memaksakan kehendakmu pada orang lain," ucap Naomi yang semakin tidak tahan dengan sikap Emily yang menyebalkan.


"Oh sudah berani kau padaku huh!" Emily mendorong Naomi sampai jatuh. "Dengar ya Naomi, kau itu cuma wanita miskin yang aku angkat jadi manajerku jadi harusnya kau tahu diri!"


Naomi bangkit dan melawan."Iya aku memang miskin, tapi ingat, kalau bukan aku yang mendaftarkanmu sebagai model kau mana bisaβ€”"


PLAK! Emily menampa Naomi.


"Kau semakin berani saja ya! Dengar, aku tidak suka kalau orangku itu berani melawanku! Malam ini kau tinggal diluar!"


"Ka- kau mengusirku Emily?"


"Iya, sebab semakin hari kau jadi semakin berani saja padaku. Kau pikir kau siapa?! Kalau bukan karena aku, mungkin ibumu sudah mati waktu itu!"


"Emily kau tidak bisa mengusirku begitu saja...!"


"Siapa bilang? Hari ini juga kau kuusir dari sini, dan aku tidak mau lagi di manajeri olehmu! Kita putus kontrak! Dan satu lagi, kau harus melunasi hutangmu padaku, atau kalau tidak, akan aku tuntut dirimu!" Ujar Emily yang kemudian dengan tidak pedulinya langsung masuk ke dalam apartemen dan menelantarkan Naomi di luar.


"Emily, nona Emily ku mohon jangan! Kumohon maafkan aku... Nona kumohon..."


Naomi yang masih bersimpuh memohon sambil menangis di depan pintu apartemen Emily. Tiba-tiba dihampiri seorang wanita.


"Untuk apa kau masih memohon pada wanita jahat seperti dia?" ucap wanita itu.


"No- nona Lara?" Ujarnya agak terkejut saat melihat Lara di hadapannya.


"Bangunlah dan hapus air matamu," titah Lara.


Naomi pun bangun dan menghapus air matanya. "Nona, apa yang anda lakukan disini?"


"Aku tadi tidak sengaja melihatmu diusir oleh Emily. Dan aku rasa wanita seperti dia tidak perlu kau harapkan, dia itu egois dan jahat bahkan pada manajernya sendiri. Sudahlah lupakan dia dan cari model baru yang bisa kau urus," ucap Lara sambil melipat tangannya diperut.


"Aku juga kalau tidak terpaksa tidak akan lakukan itu nona, sayangnya aku harus," ungkap mantan manajer Emily tersebut. Bagi Naomi yang memiliki hutang dengan Emilyntentu tidak akan semudah itu keluar dan lepas dari jeratannya.


Naomi mengangguk. "Iya nona, aku punya sisa hutang sebanyak satu juta dollar yang masih harus aku bayar padanya." Naomi bercerita kalau ia punya hutang sebanyak itu pada Emily saat ibunya sakit keras, dan saat itu Emily datang kepada Naomi dan memintannya agar jadi manajernya secara cuma-cuma untuk membayar biaya pengobatan sang ibu.


"Aku tidak ada pilihan lain selain selalu saja mengikuti maunya yang seenaknya itu, huhu... Aku tidak tahu lagi harus bagaimana nona...," ucap wanita itu sambil menangis pasrah di hadapan Lara.


Melihat Naomi saat ini Lara jadi merasa kasihan sekaligus memiliki sebuah ide untuk membalas Emily.


"Begini saja, aku ada tawaran untukmu."


"Ta- tawaran apa nona?"


Lara tersenyum kecil. "Aku akan membantu melunasi semua sisa hutangmu pada Emily, dengan syarat kau harus mau bekerjasama denganku."


"Eh, kerjasama seperti apa?"


"Nanti kau akan tahu, yang jelas kau bersedia atau tidak?"


Naomi tampaknya agak ragu dan bimbang, mungkin ia takut kalau Lara seperti Emily yang mau menolongnya hanya karena ingin memanfaatkannya saja.


"Aku tahu kau pasti trauma dan berpikir kalau nantinya akan aku akan seperti Emily. Jujur itu semua terserah padamu, kau mau atau tidak terima tawaranku aku tidak akan memaksamu."


Sepertinya Naomi masih belum bisa percaya pada orang lain. Padahal aku memang sungguhan kasihan padanya, tapi kalau aku terlalu terlihat baik pada orang yang tidak dekat itu akan repot.


"Jadi..."


"Baik, aku terima bantuan Nona."


"Oke, deal!" Ucap Lara tersenyum dan mengajaknya bersalaman. "Kalau begitu besok setelah jam makan siang, kita bertemu di kedai Miracle, bisa kan?"


"I- iya bisa Nona Lara."


"Bagus, yasudah kalau begitu aku harus kembali karena anakku pasti mencariku, bye!" Tandas Lara lalu melenggang pergi.


"Kelihatannya nona Lara memang orang yang baik dan tulus," gumam Naomi setelah bicara dengan Lara.


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya, Lara yang sudah berada di kedai Miracle terlihat mengobrol bersama Miranda sambil menunggu Naomi datang.


"Sebenarnya kau itu menunggu siapa sih?" Tanya Mira penasaran dengan orang yang ditunggu sahabatnya itu.

__ADS_1


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Lara tidak mau langsung memberitahu.


Tidak lama kemudian, dari arah pintu masuk muncul Naomi yang baru saja datang dan segera menghampiri Lara.


"Nona Lara maaf membuatmu menunggu," ucap Naomi merasa tidak enak.


"Oh tidak apa kok, aku juga belum terlalu lama disini. Silakan duduk."


Miranda yang mengetahui kalau Naomi adalah manajer Emily pun tampak kaget melihat kehadirannya saat ini. "Lara, jadi orang yang kau tunggu itu dia?" Miranda menatap Naomi dengan tatapan waspada.


"Iya dia orangnya, Naomi ini kenalkan Miranda pemilik kedai ini. Kau pasti sudah pernah lihat dia kan saat di equestrian waktu itu?"


"Iya aku tahu, halo nona Miranda."


"Ha- hai!"


Miranda yang masih tidak percaya dengan Naomi pun berbisik ke telinga Lara. "Hei, wanita ini kan orangnya si penyihir jahat Emily, kenapa kau bawa dia kemari?"


"Sudahlah Mira kau tenang saja, ini semua adalah rencanaku. Dan aku jamin dia ada dipihakku saat ini. Kau tidak usah takut, sekarang lebih baik kau buatkan secangkir latte saja untuknya," jelas Lara pelan.


Meski belum yakin, tapi karena Lara sudah menjelaskan seperti itu, Miranda akhirnya mencoba paham dan percaya. "Baik nona Naomi, aku akan buatkan latte untukmu."


"Oh nona Miranda baik sekali, tapi tidak perlu repot-repot."


"Tidak repot sama sekali kok, sementara aku mau buat latte kalian lanjutkan saja pembicaraannya," ujar Mira lalu pergi untuk membuat latte.


"Umβ€” nona Lara soal penawaranmu..."


"Oh iya, ini untukmu," Lara seketika mengeluarkan cek senilai satu juta dollar dan memberikannya kepada Naomi.


"I- ini... Buatku? Maksudku ini..."


Lara mengangguk. "Iya, kita kan sudah sepakat kemarin. Jadi ini cek sudah sah milikmu dan segeralah bayarkan hutangmu pada Emily."


"Nona anda benar-benar sudah membantuku, aku- aku harus apa untuk membalas jasa anda."


"Sederhana, kau hanya perlu menjauh dari Emily dan berada dipihakku. Aku merasa sepertinya kau bukan orang jahat, jadi ya aku rasa membantumu adalah hal yang benar."


Mata Naomi berkaca-kaca. "Nona, anda sungguh orang yang sangat baik, aku jadi sangat merasa bersalah karena selama ini abai melihat Emily yang seringkali berusaha menjatuhkan anda, maafkan aku nona..."


"Sudahlah, yang penting sekarang kau sudah mengerti kan?"


"Heh? Ada apa ini, kenapa kau menangis Naomi?" Tandas Miranda yang baru saja datang membawakan secangkir Latte untuk wanita itu.


"Tidak nona Mira, aku hanya sedih dan menyesal karena baru sadar kalau selama ini aku salah tidak membela nona Lara," ujar wanita itu sambil menyeka air matanya.


"Sudah minum dulu ini, supaya tenang."


Naomi lalu meminum Latte itu dan memujinya. "Ini enak sekali,"


"Terima kasih..."


Lagi-lagi mata Naomi bekaca-kaca, ia terharu karena tidak menyangka setelah dibuang seperti sampah oleh Emily, dirinya malah ditolong oleh orang yang dimusuhi mantan bosnya. "Kalian sungguh orang-orang baik, terutama kau nona Lara, kau sudah sangat baik padaku padahal aku mantan manajer wanita yang menjahatimu. Aku janji akan selalu setia dipihakmu dan membantumu."


"Terima kasih, sekarang kau habisi lattenya sambil ceritakan padaku apapun yang kau tahu tentang Emily."


...🍁🍁🍁...


Di ruangannya Emily yang tengah berdandan untuk pemotretan seketika jadi repot sendiri karena tidak ada Naomi yang biasa ia perintah. "Sial, tidak ada manajer itu aku jadi repot juga. Huh, aku harus cari manajer baru sepertinya! Tapi, manajer baru apa akan sebaik kerja si Naomi. Ya meskipun dia cerewat dan menyebalkan, tapi secara pekerjaan dia sangat bagus dan rapi menyusun jadwalku."


TOK TOK! Suara pintu ruangan Emily diketuk.


"Masuklah..."


Saat pintu pun terbuka seketika Emily terkejut karena melihat yang masuk adalah mantan manajernya yang kemarin ia pecat.


Dengan jumawanya Emily berkata kepada Naomi, "Kenapa? Kau datang kemari ingin memohon agar bisa kembali diterima kerja olehku, iya?"


Naomi berjalan mengharmpiri Emily yang saat itu duduk didepan meja riasnya. "Sayangnya kau salah nona Emily, justru sebaliknya aku ingin berterima kasih karena sudah dipecat olehmu."


"Cih! Semakin sombong saja bicaramu Naomi, apa kau lupa masih berhutang padaku?"


"Tentu saja tidak, malah aku kemari sekalian ingin melunasi hutangku kepadamu, ini!" Naomi menyerahkan selembar cek senilai satu juta dollar yang diberikan Lara kepada Emily.


Melihat Naomi memiliki cek senilai itu Emily pun curiga. "Dari mana kau dapatkan uang sebanyak itu dalam sehari? Apa kau menghalalkan segala cara seperti jual diri, tapi jual diri pun dengan fisikmu yang sangat biasa-biasa saja mana mungkin ditawar semahal itu."


Naomi tertawa meledek. "Sayangnya aku bukan wanita murahan seperti yang anda tuduhkan. Dan satu lagi, sepertinya yang suka menghalalkan segala cara untuk dapatkan apapun itu anda deh. Jadi jangan asal menuduh."


"Kau berani sekali!" Emily mau menampar Naomi namun tidak jadi karena ia tau ruangan ini ada cctvnya.


"Kau memang tidak akan pernah berubah, sifat licik, sombong, dan egoismu akan selalu melekat padamu Emily. Tapi terserah, karena itu bukan urusanku lagi. Yang jelas mulai hari ini, aku Naomi sudah melunasi hutangku padamu, jadi kita tidak ada hubungannya lagi. Permisi!" Akhirnya Naomi pergi dengan kepala terangkat.


Sementara Emily semakin kepanasan dan emosi sendiri. "Brengsek! Kurang ajar kau Naomi, beraninya kau berbuat ini padaku! Sialan!" Ujar Emily sambil merems cek ditanganya itu.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS


__ADS_2