Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Niat Terselubung


__ADS_3

Malam itu di apartemennya, Vander terlihat sedang duduk diruang kerjanya, disana ia kemudian memanggil Robert untuk menemuinya.


Tak lama Robert pun datang dan mengetuk pintuΒ ruangan Vander.


"Permisi tuan, ada apa anda memanggilku malam-malam begini?" Tanya Robert yang datang dengan memakai piyama.


"Robert, tadi siang saat Tori menjemputku dia mengatakan kalau akhir-akhir ini, istriku suka mengobrol dengan pria bernama Reki Helian apa itu benar?"


"Jadi tuan sudah tahu soal pria itu ya?"


"Siapa dia sebenarnya?"


Robert pun menjelaskan kepada tuannya tentang Reki sejauh yang ia ketahui.


"Jadi dia baru mau dua minggu pindah ke apartemen ini?"


"Benar tuan, dia tinggal di unit lantai dua puluh lima."


"Kau sudah selidiki tentangnya? Latar belakangnya, pendidikan serta pekerjaannya saat ini?"


"Aku belum selesai menyelidikinya, tapi aku sudah dapat beberapa info tentang pria itu. Namanya Reki Helian, usianya dua puluh sembilan tahun. Dia lulusan universitas di luar negeri, dan dia adalah seorang konsultan dan investor bisnis, kantornya ada di kota ini dan masih dalam tahap renovasi."


Robert menjelaskan kalau sejauh belum ada terlihat tindak tanduk mencurigakan selama Lara bicara dengan Reki. "Hanya saja aku merasa ada hal yang aneh saat melihat pria itu."


"Hal aneh apa?"


"Entah tuan, aku sendiri tidak tahu cara menjelaskannya. Sepertinya tuan akan bisa menilainya sendiri kalau sudah melihat, atau bertemu langsung dengannya nanti."


"Lalu, apa kau pernah lihat dia menggoda istriku?"


"Umβ€” soal itu aku tidak terlalu tahu tuan, tapi nona sejauh yang kulihat terlihat biasa saja, ya selayaknya bicara dengan orang lain pada umumnya."


Sebenarnya Vander ingin lebih banyak tahu soal pria bernama Reki itu, tapi Robert sepertinya belum selesai menyelidikinya.


"Suamiku... Eh, Robert kau disini?" Tandas Lara yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, sambil membawa segelas susu.


"Nona Lara, maaf tadi aku diminta tuan datang ke ruangan ini."


"Oh... pantas saja. Aku kesini membawakan susu untuk suamiku."


Melihat istrinya datang, Vander pun langsung meminta Robert agar pergi meninggalkan dirinya dan sang istri berdua saja.


"Baik tuan, nona, kalau begitu aku permisi. Selamat malam."


"Malam Robert, selamat istirahat," sahut Lara yang kemudian masuk menemui Vander dan menyuruhnya minum susu yang sudah ia bawa.


"Lara, kau tahu kan aku tidak terlalu suka minum susu, tapi kalau susu yangβ€”"


"Hei matamu lihat apa!" Tegurnya sambil mendekap dadanya.


"Sudah jangan mesum, cepat minum ini. Aku tahu kau pasti lelah dan kurang tidur kan, sejak diluar negeri sampai hari ini?"


"Bagaimana kau tahu sayangku, padahal aku tidak beritahu dirimu?"


"Aku selalu tau soal suamiku. Sudah minum ini."


Setelah dipaksa, akhirnya Vander pun pasrah dan minum susu yang dibawakan oleh Lara.


"Sudah habis, boleh tambah susu yang punyamu tidak?"


"No! Kau sudah minum banyak tadi, ka- kau itu suamiku, bukan anakku!" Ujar Lara dengan raut wajah merah padam karena malu.


"Kalau begitu aku jadi suami sekaligus anakmu saja."


"Mana bisa begitu?"


"Tentu saja bisa. Sudahlah, sini duduk." Vander meminta Lara duduk dipangkuannya.


Duduk dipangku sambil bersandar di tubuh suaminya. Ia dan suaminya pun sama-sama meraba perutnya yang buncit dan mulai membicarakan tentang kehamilannya.


"Vander, kalau anak kita lahir nanti. Kau mau beri nama siapa?"


"Siapa ya? Bagaimana kalau Vander junior?"


"Namanya tidak kreatif, ada yang lain?"


"Memang kenapa? Memang nama Vander itu jelek?"

__ADS_1


"Bukan begitu, kalau namanya sama nanti aku jadi bingung harus panggil dirimu dan anak kita bagaimana?"


"Panggil aku sayang, cinta, honey, suami kan bisa?"


"Kau ini bercanda terus, mungkin lebih baik aku tanya saja nama anak laki-laki yang bagus ke kak Eiji, dia biasanya pandai dalam memberi nama."


"Tidak boleh!" Protes Vander langsung melarang keras.


"Kenapa memangnya?"


"Karena ini anakku bukan anak Eiji, yang beri nama tentu saja harus orang tuanya sendiri. Iya kan anakku?" Ucap Vander seraya mengajak bicara anak diperut Lara sambil mengelusnya. "Hei, dia barusan bergerak, itu tandanya dia setuju kalau tidak mau diberi nama orang lain selain papa dan mamanya," ungkap Vander dengan riangnya.


"Baiklah, kalau begitu nanti kita sama-sama cari nama yang bagus untuk anak kedua kita okey?"


"Okey," jawab Vander lalu mencium kening sang istri, lalu memeluk dan mencium leher Lara yang saat ini duduk dipangku membelakanginya. Dan saat itu Lara tiba-tiba saja bertanya soal misinya kemarin di Bogota.


"Kenapa kau ingin tahu itu tiba-tiba?"


"Karena aku istrimu jadi berhak tahu apapun tentangmu."


Vander pun menjelaskan kalau ternyata Gauren sudah tidak di kolombia lagi, dan saat ini tengah melancarkan misinya di negara ini. Oleh karena itu, Vander ingin agar Lara hati-hati dan jangan pernah pergi kemanapun sendirian.


"Kenapa saat kita sedang baik-baik saja malah ada saja orang yang ingin mengusik kita," Ucap Lara terdengar khawatir dan sedih.


Vander membelai wajah Lara dan menenangkannya. "Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu dan anak-anak kita."


"Kau harus janji melindungiku dan anak-anak."


"Tentu, dan Lara..."


"Ya?"


"Untuk ulang tahunmu lusa, kau mau apa dariku?"


"Eh?" Lara sendiri lupa kalau lusa adalah ulang tahunnya.


"Sejujurnya aku tidak ingin benda apapun."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin kau selalu ada untukku dan menemaniku saat aku melahirkan nanti."


"Tentu saja, karena aku sudah punya segalanya. Kau jangan lupa Vander, akulah pemilik Laizen Grup sesungguhnya."


"Ya... aku tidak mungkin lupa."


...🍁🍁🍁...


Keesokan paginya, Lara terlihat berjalan bersama Vander di lobi lantai dasar. Disana ia terlihat berjalan sambil memeluk lengan Vander dengan manja mengantarnya menuju pintu keluar apartemen.


"Vander kau pulang jam berapa hari ini? Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Rey minta padaku supaya kau tidak pulang terlalu malam."


"Rey yang minta atau mamanya?"


"Tepatnya kami berdua. Pokoknya kau harus pulang sore supaya kita bisa makan malam bersama. Aku punya resep masakan baru, jadi kau harus coba."


"Baiklah aku akan pulang cepat."


Lara lalu merapikan jas dan dasi suaminya sebelum ia benar-benar berangkat.


"Apa aku sudah tampan?"


"Suamiku selalu jadi paling tampan bukan?"


Keduanya bergurau sejenak sambil menunggu Robert mengeluarkan mobil diparkiran. Saat itu tiba-tiba saja muncul Reki yang kemudian menyapa Lara.


"Lara selamat pagi..."


Vander yang saat itu baru pertama kali melihat Reki langsung memberikan tatapan tajam ke arahnya. Siapa pria ini? Apa dia yang namanya Reki itu?


"Hai Reki, oh iya kenalkan ini suamiku." Lara memperkenalkan Vander pada Reki.


"Halo tuan, aku Reki Helian salam kenal." Reki memperkenalkan dirinya.


"Aku Vander Liuzen, aku suaminya Lara," jelas Vander seolah menegaskan statusnya sebagai suami Lara.


"Oh jadi anda tuan Vander Liuzen yang terkenal itu, tapiβ€” bukankah diberita anda itu diketahui belum menikah?"

__ADS_1


"Aku melakukannya karena ingin melindungi privasiku apa itu salah? Atau kau mau menjadi usil untuk menyebarkannya?" Sahut Vander dengan raut wajah dingin.


"Umβ€” tentu saja tidak, anda tenang saja aku masih tau batasan privasi orang kok!" Jawab Reki canggung.


"Umβ€” yasudah kalau begitu, Vander kau berangkatlah kerja." Sementara Lara akan naik kembali bersama bibi Frida yany sejak tadi berada dibelakang Lara dan Vander mengikuti.


"Ya."


"Reki aku duluan, bye..."


"Bye Lara."


Lara berbalik badan dan pergi untuk kembali ke apartemenya


"Sayang!" Vander tiba-tiba menghampiri Lara dan membalik tubuhnya lalu mencium bibirnya.


Hmmm...


No! Ini terlalu intens, bagi Lara ciuman Vander kali ini terlalu dalam untuk sekedar ciuman perpisahan pergi berangkat kerja. Vander kenapa dia?


Reki yang melihatnya pun hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Tenang aku tidak boleh menunjukan ekspresi yang terlalu impulsif, tapi b@jingan itu, dia sengaja melakukan hal itu untuk memprovokasiku! Sialan kau Vander!


"Vander? Ka- kau."


"Aku lupa jatah ciuman sebelum berangkat ke kantor."


"Umh, ya... aku juga lupa."


"Tunggu aku pulang ya," bisik pria itu ditelinga Lara.


"I- iya sudah sana berangkat," ucap Lara malu-malu lalu kembali berjalan bersama Frida.


Vander tersenyum penuh arti melirik Reki.


"Sepertinya tuan Vander sangat romantis dengan istrinya?" Singgung Reki.


"Oh tentu saja, aku dan Lara. Kami saling mencintai jadi aku harap kau tidak terganggu dengan kemesraan kami, tuan Reki Helian," balas Vander menatapnya penuh provokasi.


"Tentu saja tidak, melihat pasangan yang harmonis bukankah itu hal yang sangat menyengkan?"


"Benarkah? Baiklah, kalau begitu tuan Reki aku duluan...." Vander lalu pergi menuju mobil mercy yang dibawa Robert.


Dari tempatnya berdiri Reki hanya bisa memandangi Vander dari jauh sambil terus mengumpat dengan bebagai kutukan. "Ya, sekarang kau boleh senang Vander, tapi kau lupa aku ada disini untuk menghentikan kesenanganmu."


...🍁🍁🍁...


Di mobil, Vander memikirkan tentang Reki. Entah kenapa meski baru pertama kali bertemu, ia langsung merasa tidak senang dan curiga dengan aura kehadiran Reki.


"Tuan, ada apa?" Sahut Robert, melihat tuannya dari kaca spion seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku hanya sedang berpikir, kenapa aku merasa tidak suka dengan aura pria bernama Reki itu."


"Oh jadi tuan sudah bertemu dengannya?"


"Ya aku barusan sudah bertemu dengannya, dan aku merasa dia punya niat tidak baik. Robert kau cari dan selediki lebih dalam lagi soal pria itu."


"Baik Tuan."


Jika benar pria itu punya niat jahat, terutama pada Lara aku tidak akan tinggal diam. "Dan Robert, kau beritahu pada Tori, serta Frida untuk tidak membiarkan Lara sering-sering bicara dengan pria itu."


"Apa anda cemburu tuan?"


"Ini lebih dari cemburu, intuisiku berkata pria itu punya niat terselubung. Tolong bantu awasi istri dan anakku agar tidak terlalu sering berinteraksi dengan pria itu."


"Tentu saja tuan."


...🍁🍁🍁...


Di Proax tempat dimana Lab rahasia milik Gauren berada. Disana pria itu melihat orang-orang yang sudah berhasil diculik dan disuntikan serum terlarangnya.


"Jadi bagaimana?" Tanya Gauren pada dokter Rena yang jadi penanggung jawab lab.


"Orang-orang itu belum sadarkan diri, tapi kalau mereka bangun. Mereka akan jadi linglung dan agak menggila karena serum itu akan berefek pada stimulusnya kerja otak mereka. Saat itu kau bisa mempengaruhi mereka."


"Bagus!" Gauren tersenyum.


"Aku butuh orang-orang itu untuk menguasai semua sektor di kota ini," pungkas Gauren tersenyum puas.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2