
"Kenapa kaget begitu melihatku? Justru harusnya aku yang kaget dan bertanya, kenapa kau bisa ada disini?" Balas Emily yang ternyata juga baru pindah ke Caelestis Garden hari ini.
"Jadi kau tinggal disini?" Lara kaget tak menyangka, terlebih mereka sama-sama penghuni unit di lantai yang sama.
"Astaga! Bisa-bisanya wanita sepertimu tinggal di apartemen semewah ini," ujar Emily seolah meremehkan Lara.
"Tunggu, apa maksudmu bicara begitu? Kau pikir cuma kau yang bisa tinggal disini?"
"Habisnya kau itu kan cuma desainer magang yang penghasilannya minim, bisa-bisamya tinggal di Caelestis Garden yang biaya sewa pertahunnya saja sampai satu juta dollar. Jangan-jangan kau punya sugar daddy yang membiayai hidupmu ya?"
"Nona Emily jaga ucapanmu!"
Wanita ini, kalau saja dia tahu siapa pemilik apartemen ini, pasti dia akan menyesal telah merendahkanku. Sayangnya Lara tak bisa pakai privilegednya untuk melawan Emily.
"Aku tidak menyangka, ternyata model sekelas Emily Hasaki sukanya merendahkan orang lain, aku jadi penasaran kalau fans mu tahu, apa reaksi mereka ya?"
"Tentu saja mereka tidak tahu, mereka tau apa! Dan lagi, kau itu jangan bertingkah sok cantik didepanku, itu menyebalkan kau tahu!"
"Sok cantik?" Lara tergelitik. "Nona Emily apa kau sedang merasa tidak percaya diri? Dari nada bicaramu sepertinya kau itu takut kalah saing denganmu yang bukan model. Iya kan?"
"Kalah saing? Jangan mimpi! Aku model kelas atas sementara kau? Hanya desainer magang, level kita berbeda!"
"Begitu ya? Kok aku tidak percaya ya, lagipula aku sadar kalau aku memang cantik, dan yang pasti apa yang ada di diriku itu, anugrah sejak aku lahir bukan hasil dokter."
"Kau menuduhku melakukan operasi?"
"Aku tidak bilang operasi loh..."
"Dasar j@lang!" Seketika Emika kehabisan kata, mengingat jejak digitalnya yang menyatakan dirinya melakukan operasi pada bagian tubuh, dan wajahnya itu mulai banyak tersebar.
Karena emosi, akhirnya Emily memilih untuk keluar lift duluan meninggalkan Lara yang masih harus turun dua lantai lagi. Akan tetapi, kemunculan Emily sesungguhnya membuatnya jadi agak khawatir, mengingat Emily adalah Global Ambassador Lavioletta saat ini. "Bisa gawat kalau dia tahu aku ini sebenarnya istrinya Vander. Sepertinya aku harus beritahu Vander secepatnya."
...πππ...
Malamnya Lara bersama putranya terlihat tengah menikmati makan malam di ruang makan. Disana Rey sejak tadi memperhatikan mamanya beberapa kali terlihat bengong, karena khawatir sang mama ada masalah, Rey pun langsung saja bertanya apa yang sedang dipikirkan sang mama?
"Eh tidak itu,Mama hanya sedang berpikir, untuk ulang tahunmu nanti, kau mau dihadiahi apa?" Kebetulan tiga hari lagi Reynder akan berulang tahun yang ke-empat.
Rey sendiri sebenarnya tidak terlalu ingin hadiah berupa barang, yang diinginkan pria kecil itu sebenarnya hanya hal yang sederhana, yakni waktu bersama papa dan mamanya. "Di hari ulang tahunku, aku cuma ingin mama buatkan aku kue coklat kesukaanku, setelah itu aku, mama, dan papa Vander kita mengabiskan waktu bertiga merayakannya. Selain itu, aku tidak minta yang lainnya lagi."
Mendengar keinginan putranya seperti itu membuat Lara terharu sekaligus bangga pada putranya. Lara tidak menyangka, disaat ia bisa saja meminta mainan apapun saat berulang tahu, Rey malah hanya minta perayaan sederhana. Rey kecilku ternyata semakin dewasa, aku jadi semakin bangga padanya. "Baik, kalau memang itu keinginanmu di hari ulang tahun nanti, mama janji akan kabulkan," ucap Lara berjanji.
...πππ...
Vander terlihat berdiri di atas atap gedung Laizen tower sambil menghisap sebatang rokok. Pria itu seolah tengah santai sejenak memikirkan semua beban yang ada dipikirkannya, sambil memandangi langit membentang luas tak berujung. Ya memang tidak ada salahnya sejenak merenung sendirian, ditambah hari ini ia tampak sibuk sekali menghadiri meeting penting dan peresmian di banyak tempat. Ditambah Lara yang hari ini hanya masuk setengah hari karena harus mengurus kepindahannya ke Caelestis Garden, alhasil Vander agak keteteran jadwalnya.
Saambil bermonolong pria itu memandang ke langit.
Aku sudah dapatkan keluargaku, tapi kenapa hidupku belum tenang? Apa karena aku belum mampu mengingat semua masa laluku dengan Lara? Tapi bukankah sudah cukup, jika aku kini mencintainya tanpa perlu mengintat masa lalu? Terkadang lelah juga, sejujurnya aku hanya ingin menghabiskan hidupku dengan bahagia bersama keluargaku, tapi sayangnya itu sulit untuk saat ini, di depan sana masih banyak musuh yang harus aku musnahkan.
Pada akhirnya tujuan akhir manusia mau dia jahat ataupun baik, semuanya adalah demi kedamaian hatinya masing-masing.
"Tuan anda disini ternyata," ujar Robert yang datang menghampiri tuannya.
"Ada apa?"
"Tuan, Nona Lara bilang tolong anda segera lihat ponsel anda," terang Robert.
Ada apa? Vander mengerutkan keningnya merasa penasaran. Ia pun langsung melihat layar ponselnya yang sejak tadi mode sunyi. Ternyata sejak tadi Lara meneleponnya. Merasa bersalah, Vander pun langsung menelepon balik istrinya tersebut.
Vander : Halo sayang, maaf aku tidak tahu kau menelepon
Lara : Iya, aku tahu kau hari ini sangat sibuk. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.
Vander : Apa.
Lara : Vander, kau tahu ternyata Emily Hasaki model yang kau jadikan GA untuk Lavioletta, dia kini juga tinggal di Caelestis Garden sejak hari ini. Jujur aku jadi khawatir dengan hubungan kita. Sepertinya kita tidak bisa lagi sering bertemu di apartemen.
Vander : Kalau begitu biar aku usir saja wanita itu, bagaimana?
Lara : Tidak Van, kau tidak bisa asal mengusir penyewa apartemenmu. Yang ada hal itu justru bisa membuat orang-orang berpikir kalau Caelestis Garden sangat buruk
Vander : Ya kau benar juga.
Lara : Huft, sepertinya kita memang harus menjalani hubungan sembunyi-sembunyi lagi.
Vander : Maaf sudah membuatmu jadi sulit.
Lara : Jangan minta maaf terus, bagaimanapun kita adalah suami istri, jadi sudah sewajarnya menjalani susah dan senang bersama.
Vander : Terima kasih kau memang istri terbaik, kalau begini terus cintaku padamu setiap detik bisa bqertambah.
Lara : Huh mulai lagi menggombal, tapi aku suka mendengarnya.
__ADS_1
Vander : Oh iya aku punya ide...
Lara : Apa itu?
Vander pun menjelaskan idenya pada sang istri.
Lara : Oh benar juga, kalau begitu kan kita jadi tak terlalu perlu sembunyi-sembunyi kalau bertemu. Kau memang pintar suamiku.
Vander : Terima kasih pujiannya, tapi dibanding pujian aku lebih suka kau beri aku kecupan basah.
Lara : Vander... kau jangan bicara begitu di telepon, tubuhku jadi panas.
Vander : Aku suka membayangkan dirimu saat ini.
Lara : Ah sudahlah, selamat malam!
Lara langsung teleponnya.
"Selamat malam istriku..."
...πππ...
Keesokan harinya, di kafe Oliver terlihat sosok Jeden yang tengah berada disana sedang bertemu dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Cindy, pegawai Laizen Grup sekaligus wanita yang tidak suka pada Lara.
"Jadi Cindy, kau bekerja di Laizen sudah dua tahun lamanya?"
"Ya."
"Lalu kenapa kau mau memberiku informasi soal Lara Hazel?"
"Aku tidak suka wanita itu, dia sangat membuatku muak!"
Jeden bisa melihat aura kecemburuan Cindy terhadap Lara begitu besar.
"Kenapa kau harus membencinya, apa kau benci karena kalah saing dengannya?" Ledek Jeden.
"Bukan urusan anda tuan! Sekarang lebih baik katakan apa yang bisa kubantu, dan segera berikan aku cek lima ratus ribu dollar yang kau janjikan itu!"
"Baiklah..." Karena Cindy bukan orang yang sabaran, Jeden jadi tak perlu lagi basa-basi.
Akhirnya wanita itupun menceritakan semua tentang Lara semejak berkerja di Laizen. Dari ceritanya, Jeden bisa melihat jelas wanita itu menaruh rasa iri dan dendam pada Lara.
"Jadi sekarang Lara adalah sekretarisnya Vander?"
"Apa dia dekat sekali dengan Vander?"
"Em... Tidak juga sih, aku lihat sih ya seperti sekretaris pada umumnya. Hanya saja sebagian karyawan suka menjodoh-jodohkan mereka."
"Jodoh bukankah Lara..." Seingatku Lara sudah menikah dengan Vander, tapi kenapa? Ada apa sebenarnya diatara mereka.
"Ya begitulah Lara, wanita itu seolah merasa jadi pegawai paling spesial karena terkadang sering menemani tuan pergi bisnis. Lagipula apa sih bagusnya dia, sampai dikantor banyak yang suka padanya! Paling hanya karena fisiknya saja."
"Lara memang sangat cantik dan menarik, ditambah dia cerdas dan hasil kerjanya rapi, tidak heran kalau banyak pria menaruh hati padanya. Nona Cindy apa kau iri pada Lara...?" Tanya Jeden mengejek. "Sejujurnya Lara memang wanita idaman banyak kaum adam, oleh karenanya tidak heran kalau sebagian wanita seringkali iri padanya, termasuk kau."
Cindy menatap garang ke arah Jeden, "Tuan, kau butuh aku tapi terus mengejekku! Kalau begitu lebih baik aku pergi saja."
"Tunggu Nona Cindy, kau ini sensitif sekali, aku kan hanya bicara fakta sambil bercanda. Oke baiklah... intinya aku memintamu jadi mata-mataku di Laizen, dan tugasmu adalah memantau Lara serta Vander. Dan juga satu hal, kau jangan macam-macam pada Lara. Karena jika kau berani, aku sendiri yang akan menghabisimu."
Cih! Kenapa semua pria tergila-gila pada wanita itu sih! "Iya aku paham!"
"Baiklah ini cek milikmu, lakukan sebaik mungkin!"
"Tentu, kalau ada uang semua beres!" Cindy pun langsung mengambil cek itu lalu pergi.
...πππ...
Di ruang kerjanya, tiba-tiba saja Lara yang baru selesai membuat pembaharuan agenda jadwal bosnya medapati telepon dari Eiji. Tanpa banyak kata, Lara pun langsung mengangkatnya.
Eiji : Halo Lara.
Lara : Iya, ada apa kak?
Eiji : Sebelumnya maaf tidak memberitahu dulu, tapi aku baru saja dari apartemenmu semalam. Dan pemilik apartemennya bilang kau sudah tidak tinggal disana lagi. Apa kau sudah pindah?
Lara :.... Ya, aku sudah pindah kak.
Eiji : Benarkah? Dimana?
Lara : Caelestis Garden.
Eiji : Apa? Ka- kau tinggal di apartemen mewah itu sekarang?
Lara : Iyaβ um entah kenapa, tiba-tiba saja pihak Laizen grup memberi fasilitas ini padaku.
__ADS_1
Eiji : Oh....
Lara : Halo? Kak kenapa diam?
Eiji : Tidak apa-apa aku hanya cukup senang kau tinggal ditempat yang lebih bagus. Ditambah cluster rumahku tidak terlalu jauh dari Caelestis Garden, jadi aku bisa lebih dekat kalau mau berkunjung menemuimu.
Lara : Aku juga senang mendengarnya.
Eiji : Yasudah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa.
Lara : Ya, sampai jumpa.
Baru selesai angkat telepon, tiba-tiba saja Vander muncul dan langsung bertanya pada sang istri habis telepon siapa?
"Dari kak Eiji, dia bertanya tentang diriku yang kini sudah pindah tempat tinggal."
"Lalu, kau memberitahunya?"
Lara seketika tersenyum lalu beranjak dari kursinya dan langsung memeluk manja sanga suami. "Kau tidak perlu cemburu sayang, kalaupun Eiji datang menemuiku, aku tetap tidak akan berpaling darimu kok!"
Vander merunduk menempelkan keningnya ke kening Lara. "Aku tahu kau tidak akan menghianatiku, tapi aku tidak percaya dengan laki-laki itu. Aku tahu persis tabiat para pria bajΒ‘ngan itu."
Lara tertawa. "Bukanya kau juga begitu?'
"Aku memang bajΒ‘ngan yang brengsek makanya aku paham tabiat pria, tapi aku sudah bukan lagi si brengsel itu semenjak kau muncul dan menjeratku sekuat ini."
"Aku tidak menjeratmu, kau yang datang sendiri dan menyerahkan dirimu padaku."
"Baiklah apapun itu, kau pemilik hatiku satu-satunya Nona Lara sampai kapanpun."
"Kata-kata manismu memang mengerikan Vander. Bisa gawat kalau kau katakan hal semacam itu pada wanita lain. Ingat kau hanya boleh mengatakan hal seperti itu padaku, okey?"
"Okey..." Vander mecium kening Lara dan memeluknya erat kedalam dekapannya.
Dan saat keduanya saling berpelukan, seketika Lara ingat pembicaraannya dengan Rey kemarin malam. Lalu ia pun bercerita kepada sang suami tentang keinginan Reynder tersebut di hari ulang tahunnya. Namun saat mendengar itu, Vander bukannya tampak sumringah melainkan malah jadi terlihat sedih dan merasa bersalah.
"Kau kenapa Van? Kau tidak mau ya merayakan ulang tahun Rey?"
"No! Aku hanya merasa marah dan kecewa pada diriku sendiri, karena setelah bertahun-tahun Rey lahir, aku baru sempat merayakan ulang tahunnya kali ini, bahkan aku baru tahu tanggal hari ulang tahunnya. Lara... aku ayah yang buruk! Aku sudah menelantarkan anaku sejak lahir, tidak bahkan sejak dikandungan. Maafkan aku...," ungkap Vander sangat menyesalinya.
Tentu saja hal itu menyakitkan bagi Vander, mengingat ia juga tahu bagaimana rasanya ditelantarkan ayah kandungnya sendiri. Vander takut, jika Rey suatu hari nanti tahu kalau dia sungguhan ayah kandungnya, ia akan benci pada dirinya. "Bagaimana jika dia membenciku karena tahu aku tidak pernah ada untuknya sejak lahir. Aku takut Lara..."
Melihat sang suami seperti itu, Lara pun langsung mencoba menenangkannya. Ia membelai wajah Vander dan menatapnya dengan lembut. "Vander, dengarkan aku. Rey tidak mungkin membencimu, dia sangat mengidolakanmu. Oleh karena itu tolong jangan berpikir seperti itu." Bagi Lara meski agak terlambat, Vander masih bisa membuktikan padanya dan Rey, kalau ia adalah suami dan ayah yang hebat. Ini saatnya Vander menebus waktu yang terbuang selama empat tahun lebih.
"Dan asal kau tahu, aku memilih berjuang melahirkan dan merawat anak kita itu karena aku yakin, kau bisa menjadi ayah yang hebat untuk anak-anakku kelak. Jadi jangan jadi pengecut, Vanderku adalah pria yang tidak pernah takut menghadapi apapun."
"Lara..."Vander terharu dan memeluk erat sang istri. "Sekali lagi terima kasih, aku janji aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik. Meskipun aku tak bisa memberikan segalanya di dunia ini, tapi aku akan lakukan segalanya demi membuatmu dan anak kita bahagia."
"Ya, aku percaya padamu."
...πππ...
Di apartemennya Rey yang baru saja pulang sekolah tiba-tiba saja berpapasan dengan Emily di lobi bawah.
Huh? Bibi ini kan bibi jahat yang kemarin itu? Kok dia di apartemennya papa? Rey menatap Emily dengan penuh rasa tidak suka.
Anak ini baru kulihat sebentar saja langsung terlihat sekali aura menyebalkannya.
"Hai! Kau ini Rey kan, masih ingat tidak dengan kakak?" Pungkas Emily berpura-pura ramah.
"Ingat, kau bibi jahat kemarin kan?" Balas Rey.
Sial! Kalau bukan demi tuan Vander, sudah ku sumpal mulut kecilnya yang tajam itu!
"Eh- i- itu kan aku sudah minta maaf, masa kau tidak mau maafkan aku sih? Lagipula tidak baik kita bermusuhan kan?"
Apa sih! Dasar bibi wajah palsu! Dia kira aku tidak tahu kalau ia mengincar papaku? "Kata mamaku memaafkan itu baik jadi aku maafkan."
"Oh terima kasih Rey, kau baik sekali eh?" Emily tadinya mau memeluk Rey, namun pria kecil itu langsung menghindarinya.
"Bibi galak aku tidak boleh dipeluk orang asing."
"Namaku Emily bukan bibi galak, dan aku bukan orang asing kan kita sudah kenal."
"Maaf ya tapi bagiku masih asing tuh! Sudahnya bibi... Emily yang galak, aku mau pulang jadi jangan halangi aku. Paman Tori ayo!"
"Baik tuan kecil," sahut Tori mengikuti Reynder masuk lift.
Seperginya Rey, Emily langsung kesal dan memaki Rey dengan kasar, "Anak sialan itu, rasanya aku benar-benar ingin merobek mulutnya!"
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1