Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menikahlah denganku.


__ADS_3

Di prosesi pemakaman Anthony dan Meira Hazel. Area pemakaman terlihat ramai oleh para pelayat berpakaian serba hitam tanda berkabung. Kerabat, karyawan, kolega, hingga awak media saling berdatangan untuk mengantarkan pasangan itu ke tempat peristirahatannya yang kekal. Lara yang mengenakan dress hitam dan stocking hitam, tampak berada di depan menyaksikan prosesi pemakaman kakek dan neneknya yang petinya akan segera dikuburkan tepat disebelah makam kedua orang tua Lara dimakamkan.


Gadis itu tak berhenti menangis sambil memegangi bingkai foto mendiang kakek dan neneknya.  Entah sudah sebanyak apa air mata yang jatuh dipelupuk mata gadis manis itu. Hari yang ia pikir adalah hari dimana ia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya justru berubah menjadi hari penuh duka, dimana seolah langit runtuh seketika.


~


Dan akhirnya prosesi pemakaman pun selesai, Lara yang terlihat masih belum rela meninggalkan kedua makam yang masih basah itu terus menangis disana.


Tak lama Jeden datang menghampiri Lara untuk mengucapkan bela sungkawa. "Lara aku turut berduka atas meninggalnya kakek dan nenekmu, aku sungguh berduka."


"Terima kasih Jed... Sekarang aku sebatang kara, aku... Aku tidak punya keluarga lagi," ungkap Lara sambil menangis. Melihat Lara rapuh seperti ini Jeden pun seketika memberikan pundaknya untuk bersandar dan menguatkan Lara.


Dari jauh pria berjas serba hitam itu hanya bisa memandangi orang terkasihnya bersandar di pundak pria lain.


"Seharusnya aku yang bersamamu, memelukmu bukan pria itu," ucap Vander yang merasa tidak berguna saat ini karena tidak bisa terang-terangan memeluk Lara. Ia mengepalkan kedua tangannya melampiasakan kesal dan rasa tak bergunanya sebagai seorang pria.


Tiba-tiba saja ponsel Vander berdering, ia pun langsung mengangkat ponselnya.


Van : Ya Gavin?


Gavin : Kak, menurut penyelidikan polisi memang ledakan di mobil kakek dan nenek kak Lara itu adalah bom rakitan yang diletakan dibawah mobilnya.


Van : Sial! Jadi benar mereka dibunuh bukan kecelakaan semata.


Gavin : Ya!


Van : Oke, akan aku hubungi lagi kau nanti.


"Sial, siapa orang yang berani melakukan hal ini? Eva? Karina? Jeden?" Vander bertanya-tanya siapa dibalik kematian kakek dan nenek Lara. "Lara saat ini benar-benar dalam bahaya!" Vander mengatupkan gerahamnya, urat ditangannya mengeras bersamaan tangannya yang mengepal kuat.


"Tidak bisa, aku tidak bisa diam saja begini! Aku harus mencaritahu dan segera mejauhkan Lara dari orang-orang yang saat ini diam-diam berencana menghancurkannya."


**


Di kediamannya, Lara yang setelah pulang dari pemakaman terpantau hanya berdiam diri di kamar berjam-jam hingga jam makan malam tiba. Para pelayan, bibi Molly, hingga Miranda yang khawatir pun terus membujuk Lara untuk keluar kamar, namun sayang Lara sama sekali tak kunjung membuka pintu kamarnya.


"Aku takut Nona sakit, dia bahkan belum makan apapun sejak pagi tadi," ungkap bibi Molly.

__ADS_1


"Ada apa?" Pungkas Vander yang kemudian muncul tiba-tiba menghampiri Miranda dan bibi Molly yang ada didepan kamar Lara.


"Lara tidak mau keluar kamar, padahal dia belum makan apapun sejak tadi pagi sedangkan ini sudah masuk jam makan malam," jelas Miranda.


Vander pun berinisiatif membujuk Lara. Ia mengetuk pintu kamar kekasihnya itu dan memintanya agar membukakan pintunya.


"Nona ini aku, aku mohon bukalah pintunya...! Nona Lara..."


Setelah berjuang membujuk Lara, gadis itupun akhirnya membuka pintu kamarnya dan muncul dengan mata sembab dan wajah layu. Ia menatap Vander lalu menyuruh semuanya pergi kecuali pria yang ada dihadapannya itu. Tanpa protes semuanya pun pergi seperti yang diminta Lara kecual Van, Lara mengajak pria masuk ke dalam kamarnya.


Di kamar Lara hanya duduk terdiam kaku diatas ranjangnya yang cukup besar. Ini pertama kalinya Van masuk ke kamar pribadi Lara, kamarnya tampak cantik dan beraroma bunga dan buah-buahan segar yang memang identik dengan bau tubuh gadis itu.


Van kemudian duduk disebelah Lara. Gadis itupun langsung menyandarkan kepalanya dipundak Vander.


"Van... Apa aku ini pembawa sial?" ucap Lara tiba-tiba.


Van yang tak terima ucapan Lara barusan langsung menengadakan wajahnya dan mencium keningnya. "Kau bukan pembawa sial, kau adalah anugerah untuk untuk keluargamu!"


"Tapi kenapa- hal sepuluh tahun harus terulang lagi! Dan keduanya harus meninggal disaat perjalanan untuk bertemu denganku!" Lara merasa seolah dirinya adalah pembawa petaka


"Kau janji tidak akan meninggalkanku?" Ucap Lara khawatir Van juga akan pergi darinya.


"Ya, aku berjanji. Dan Nona..."


Van tiba-tiba merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah cincin permata dan berkata didepan Lara langsung. "Aku tau mungkin ini saat yang tidak tepat, tapi aku sudah memutuskannya dengan sangat yakin untuk pertama kalinya dalam hidupku."


Lara belum paham dengan ucapan Vander.


"Nona Lara menikahlah denganku..." ucap Vander.


Seketika Lara membulatkan matanya. Bibirnya seolah kelu tak tau ingin berkata apa. Ia sedih tapi dilamar tiba-tiba begini oleh Vander?


"Mungkin aku terlihat seperti tidak tau diri, pria sepertiku melamar seorang putri kaya raya tapi apapun itu aku ingin kau jadi milikku seorang bukan pria lain, aku tidak mau pria lain memilikimu. Dan ini juga salah satu bukti kesungguhanku mencintaimu. Jadi Nona maukah kau menerimaku sebagai calon suamimu?"


Lara diam saja matanya malah berkaca-kaca.


Sepertinya aku benar-benar melamar disaat yang salah! Pikir Van takut sekali ditolak oleh Lara.

__ADS_1


"Aku tidak mau menerimanya!"


Sontak wajah Van langsung syok dan kemudian pasrah.


Sebaliknya Lara malah tersenyum kecil. "Hei, aku tidak mau menerimamu kalau kau tidak pasangkan cincin itu dijariku!" Pungkas Lara.


"Eh ja- jadi maksudmu?" Van terlihat bingung.


"Ya, aku mau dan mengizinkanmu menikahiku pegawalku yang tampan," ucap Lara.


Vander pun seketika senyum sumringah dan langsung memasangkan cincin permata yang ia beli di tempat Aron kemarin di jari manis Lara.


Lara pun tersenyum manis memandangi jari manisnya yang dilingkari oleh cincin dari Vander tersebut.


"Maaf itu bukan cincin berlian yang sangat mewah. Tapi..."


"Stt..."Lara menghentikan ucapan Vander dengan meletakan jemarinya di bibirnya.


"Kau sudah berani melamarku itu sudah lebih dari cukup, dan yang terpenting sekrang adalah kau harus mencintaiku dan selalu bersamaku, paham?"


"Paham Nona—"


"Dan Vander, tolong selain dikantor jangan memanggilku Nona. Bagaimanapun kau calon suamiku jadi belajarlah memandangku sebagai seorang istri bukan bosmu, kau paham?"


Van mengangguk. "Iya istriku," ucap Vander yang langsung membuat pipi Lara memerah. "Kenapa sekarang kau yang jadi malu?"


"Aku malu kau menyebutku istri, kita kan belum resmi menikah jadi—"


Van langsung mencium bibir Lara. "Aku paham, tapi cepat atau lambat kau akan menjadi istriku!" Ucapnya tegas. "Kalau begitu sekarang kau makan dulu ya, semua orang khawatir karena kau belum makan."


"Baiklah, aku akan minta pelayan bawakan makan malam untuk kita disini," ucap Lara.


Dan ternyata, dihari dimana duniaku seolah telah dipenuhi kabut awan mendung, tiba-tiba saja seseorang membawakn secercah pelangi kecil untukku. Keluargaku telah pergi, dan siapa sangka disaat yang sama seseorang yang bukan keluargaku dia malah menjanjikanku sebuah keluarga baru bersamanya. Apakah itu yang disebut roda kehidupan? Ketika ada yang pergi dihidup kita maka akan ada pula yang datang untuk kita.


......🌿🌿🌿......


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2