Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menahan diri darimu


__ADS_3

Di butik Lara terlihat sibuk memilih pakaian-pakain yang ingin ia beli. Sementara Vander, ia hanya bisa duduk dan menunggu dengan sabar Nonanya itu selesai berbelanja. "Huft..." Van akhirnya mengehela nafas. Sama halnya pria kebanyakan, Vander sepertinya juga tengah dilanda rasa bosan melihat Lara mondar mandir memilih pakaian. "Apa semua perempuan memilih pakaian selama ini?" Ucap Vander merasa bosan dan tidak tau harus melakukan apa di butik ini.


Setelah selesai memilih beberapa potong pakaian, Lara meminta pelayan untuk membungkusnya.


Lara kemudian menghampiri meja kasir untuk membayar.


"Total harga semua pakaiannya jadi lima belas ribu dolar Nona," ucap kasir yang melayani Lara.


"Oke," Lara kemudian memberikan kartu kreditnya untuk pembayaran.


Setelah selesai membayar, Lara menenteng belanjaan miliknya dan menghampiri Vander yang sudah terlihat semakin merasa bosan.


"Aku sudah selesai," ucap Lara pada Vander.


"Oh Nona sudah selesai?"


Vander Melihat kedua tangan Lara menenteng banyak tas belanjaan, ia pun berinisiatif untuk membawakannya. "Sini biar aku saja yang bawakan."


Lara pun langsung memberikan semua tentengan belanjaannya itu kepada Vander.


"Yasudah kalau begitu setelah kita taruh belanjaan ini di bagasi mobil, baru kita langsung ke supermarket untuk belanja bahan masakan," ucap Lara.


**


Seetelah menaruh tentengan belanjaan pakaian tadi ke mobil, Van dan Lara langsung ke suparmarket. Van yang tengah mendorong troli kemudian bertanya kepada Lara mau makan apa.


"Um... Aku bingung mau makan apa, yang penting kita beli saja beberapa sayuran dan buah-buahan serta berbagai bumbu dapur. Oh iya jangan lupa dagingnya," ucap Lara.


Sepertinya Nona Lara mau makan kari daging dan sayuran, pikir Vander.


Keduanya pun berjalan beriringan. Lara yang berada disebelah Van tidak sengaja memperhatikan Van yang mendorong troli tersebut. Kalau dipikir-pikir berbelanja berdua begini kita jadi kelihatan seperti pasangan pengantin baru, ungkap Lara sambil senyam-senyum sendiri. Rasanya Lara jadi ingin sekali merangkul lengan Van yang berotot itu.


Astaga! Apa yang aku pikirkan sih! Gadis itu jadi dibuat malu sendiri dengan pemikirannya. Tapi lengan dan tangan Vander memang terlihat sangat menggoda. Siapa yang tidak mau memeluknya? Tangan Vander yang padat berotot ditambah lengan kemejanya yang di gulung hingga siku, membuat tangan kokoh beruratnya semakin terlihat manly. Melihat tangan Van, Lara jadi berpikir kalau pria itu pakai arloji pasti tangannya akan semakin terlihat keren. Sepertinya aku harus hadiahkan jam tangan buat Vander. Lara berniat membelikan jam tangan untuk pengawalnya itu.


Sementara itu Vander malah penasaran saat melihat Nonanya itu senyum-senyum sendiri.


"Nona, kenapa kau senyum-senyum sendiri. Apa ada yang tiba-tiba membuatmu senang?"


"Oh itu, aku hanya sedang teringat suatu hal yang menyenangkan saja."


"Begitu ya?"


"Iya, sudahlah ayo kita lanjut berbelanja lagi. Aku semakin lapar nih!" Ujar Lara.


**


Miranda yang baru saja selesai mengecek email masuk di laptop, tiba-tiba teringat lagi perihal Lara yang kini memutuskan menginap di apartemen Van. "Apa pria itu sungguh bisa dipercaya?" Tanya Mira ragu.


Bukan tanpa alasan Mira mengkhawatirkan Lara bersama dengan pria, pasalnya Lara sendiri setau  Mira adalah tipe gadis yang agak defenseless, ia takut pria itu akan memanfaatkan Lara. "Nona gadis yang pintar tapi terkadang dia itu terlalu naif. Ditambah dia cantik, manis, dia juga punya proporsi badan yang indah, wajar kan kalau aku khawatir dia bersama seorang pria brengsek?"


Tapi... apa dikatakan ayah Miranda tadi adalah benar, Lara sudah dewasa dia bukan gadis belasan tahun lagi, usianya sudah kepala dua jadi dia sudah bisa bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri. "Tapi bicara soal Van aku sampai detik ini tidak tau asal usul pria itu, latar belakang keluarga, serta kehidupannya di masa lalu juga aku tidak tahu." Hal itu membuat Mira tiba-tiba jadi penasaran dengan sosok pria yang berhasil membuat Lara Hazel tertarik itu. "Sepertinya aku harus cari tau soal pria itu."


**


Vander dan Lara akhirnya kembali ke apartemen setelah selesai berbelanja. Van membawakan belanjaan-belanjaan yang telah mereka beli itu ke dapur.


"Wah ternyata kita belanja cukup banyak juga ya?" Ujar Lara melihat kantung-kantung belanjaan berjejer di atas meja dapur.


"Iya itu karena Nona bilang tadi beli aja sekalian untuk isi kulkas."


"Iya kau benar."

__ADS_1


"Yasudah kalau begitu, Nona silakan mandi bersih-bersih, biar aku yang memasak dan membereskan belanjaan-belanjaan ini," tutur Vander.


"Wah sepertinya kau pandai memasak ya? Tapi paling tidak aku mau membantu merapikan belanjaan-belanjaan ini sebelum mandi. Meskipun aku bosmu, aku tidak mau hanya jadi tamu tak berguna disini," tukas Lara yang kemudian mulai membereskan belanjaan-belanjaan tersebut.


Vander tersenyum kecil melihatnya, ia senang mengetahui kalau bosnya itu ternyata tipe gadis yang tidak suka hanya selalu mengandalkan orang lain.


Setelah selesai membereskan belanjaan yang tadi dibeli, sebelum mandi Lara menyempatkan diri untuk melihat Vander yang tengah memotong sayuran dengan rapih. Dia tampak pandai sekali mengiris sayuran pasti dia sangat jago memasak, aku jadi tidak sabar mencicipi masakan buatan Van, ungkap Lara dalam hati.


**


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Lara kembali ke dapur untuk mengecek masakan Vander sekaligus berniat membantunya membawakan masakan itu ke meja makan.


"Vander masakannya sudah matang?" Tanya Lara menghampiri Van.


"Oh Nona, ka- kau kan sudah selesai mandi, kenapa kemari? Nanti pakaianmu jadi bau masakan loh...," ujar Van agak gugup.


Melihat cara bicara Van yang agak aneh Lara jadi merasa curiga. "Tidak apa-apa, lagipula aku cuma mau lihat masakanmu saja kok! Sini biar aku lihat dan cicipi," Ujar Lara yang ingin sekali melihat hasil masakan Vander sebelum dibawa ke meja makan.


"Um i- itu..."


"Kau ini kenapa sih seperti tegang begitu? Aku cuma mau lihat sebentar kok!" Lara memaksa Van menyingkir agar bisa melihat hasil masakannya dan ternyata Lara langsung dibuat tercengang melihat hasil masakan pria itu.


"Van ini nama masakannya apa?" Tanya Lara tidak tau jenis masakan yang dimasak Van itu.


Dari tampilanya memang aneh sih, tapi karena penasaran Lara pun mencicipi kuah masakan itu. Setelah mencicipinya seketika ekspresi wajah Lara berubah jadi aneh. "Van kau ini masak apa? Berapa sendok garam yang kau tuang, ini juga kenapa bau bawangnya menyengat sekali?" Tanya Lara.


Van menghela nafas dan kemudian mengaku pada Lara kalau sebenarnya dirinya tidak bisa memasak.


"Lalu kenapa kau tetap mau memasak?"


"Itu karena aku hanya tidak mau mengecewakan Nona yang ingin makan masakan rumah. Tadinya aku pikir masak itu mudah karena bisa tinggal menonton tutorialnya di internet, tapi ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan. Maafkan aku akibat kebodohanku malah membuatmu makan masakanku yang tak layak ini," ungkap Vander merasa bersalah.


"Nona kenapa malah tertawa?"


"Iya habisnya ekspresi wajahmu saat ini lucu sekali sih!" Ungkap Lara yang masih sedikit tertawa.


"Maaf Nona," ungkap Vander lagi.


Lara tiba-tiba mendekati Van memegang kedua pipinya lalu menatapnya. "Tidak apa-apa Vander, justru aku senang melihatmu begitu berusaha demi menyenangkanku."


"Nona?" Wajah Van merona melihat Wajah Lara yang tersenyum padanya sedekat ini. "Lalu makanan ini harus diapakan? Aku tidak mungkin membiarkan Nona makan masakan ini, kalau aku yang makan sih tidak apa-apa," ucap Van.


Lara tersenyum lalu berkata, "Serahkan padaku!"


Lara mengambil celemek yang ada di dekatnya dan memakainya.


"Eh Nona mau apa?"


"Membetulkan masakanmu, sayang kalau harus dibuang kan?" Ucap Lara yang kemudian mulai memasaknya lagi. Ia menambahkan air, beberapa irisan daging ke dalam masakan Van, dan tak lupa juga ia menambahkan beberapa kondimen kedalamnya. Setelah itu ia mengaduknya perlahan hingga aromanya tercium matang.


Van agak kaget dibuatnya melihat Lara begitu cekatan menggunakan peralatan dapur.


"Sepertinya ini sudah cukup," ujar Lara kemudian mematikan kompornya dan menyuruh Van untuk mencoba masakannya.


"Ini coba cicipi," ucap Lara sambil menyodorkan sendok kemulut Vander.


Vander pun spontan membuka mulutnya dan Lara pun menyuapinya. Van mengecap dan mengunyah kari buatan Lara itu.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Lara.


"Hmm... ini enak sekali," ujar Van tak menyangka.

__ADS_1


Lara langsung tersenyum senang mendengarnya.


"Nona hebat sekali, masakan anehku berubah jadi kare daging dan sayur yang sangat lezat setelah kau tangani," puji Vander.


Lara jadi agak malu dibuatnya. "Terima kasih pujiannya."


"Gara-gara aku Nona jadi harus repot memasak, maaf ya," sesal Vander merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kok, jujur aku malah suka sekali bisa memasak hari ini. Sebab kalau di rumah aku jarang melakukannya. Karena sejak kakek dan nenek menetap di luar negeri aku jadi tidak punya orang yang bisa aku minta makan masakanku," tutur Lara.


"Jujur aku tidak menyangka Nona pandai memasak, karena biasanya anak-anak dari keluarga kaya raya seringkali jarang mau turun ke dapur," ungkap Van.


Lara tersenyum kecil. "Dari dulu aku memang suka memasak, hal itu karena ibuku juga pandai memasak. Meski ada pelayan dan juru masak dirumah kami, tapi waktu masih hidup ibu sering sekali memasak berbagai masakan lezat untukku dan juga ayah. Melihat ibuku begitu aku jadi belajar memasak berbagai masakan dalam dan luar negeri. Oh iya ibu dan aku dulu juga suka membuat kue bersama kalau sama-sama sedang tidak sibuk," ungkap Lara sambil mengenang masa lalunya.


Van menatap kagum pada Nona di hadapannya itu. "Nona sangat hebat! Aku yakin pria yang akan jadi pasanganmu nanti pasti akan jadi pria paling beruntung di dunia."


Wajah Lara langsung memerah dipuji begitu. Ia melihat Vander tersenyum padanya. "Gadis yang akan jadi pasangan Vander nanti juga pasti sangat beruntung," gumam Lara kecil.


"Nona bilang apa?"


"Ti- tidak bilang apa-apa, sudahlah ayo kita bawa makananya ke meja makan lalu kita makan," ujar Lara mengalihkan pertanyaan Vander.


**


Setelah selesai makan malam dan mencuci piring, Lara terlihat sibuk dengan layar tabletnya. Vander yang baru saja selesai mandi dan ganti baju tiba-tiba jadi penasaran dengan apa yang tengah dikerjakan Lara saat ini. Ia pun menghampiri Lara dan melihat apa yang tengah dilakukan Lara dari belakangnya.


"Nona suka mendesain pakaian juga?" Tanya Vander.


Lara pun terkejut mendengar suara Van muncul tiba-tiba dari belakangnya. "Van kau ini seperti hantu saja muncul tiba-tiba tanpa suara!" Ucap Lara agak kesal.


"Maafkan aku Nona, kebiasaanku berjalan dengan langkah kaki tak bersuara membuatmu jadi kaget. Sekali lagi maaf karena sudah mengagetkanmu," ungkap Van menyesal.


"Sudahlah, lebih baik Van sini duduk!" Lara menyuruh Vander duduk disebelahnya. Pria itupun langsung mengikuti titah sang Nona. Tiba-tiba Lara memperlihatkan kepada Vander desain-desain pakaiannya yang sudah ia gambar.


"Vander menurutmu desain yang aku gambar bagus tidak?"


Vander jadi bingung, pasalnya ia tidak paham fashion apalagi pakaian wanita. "Nona maaf tapi aku kurang paham soal mode pakaian, tapi aku lihat semua yang Nona gambar bagus," ungkapnya jujur.


"Benarkah? Kalau benar aku senang sekali."


"Nona kenapa tidak produksi saja hasil desain Nona, aku rasa Nona sangat berbakat di bidang itu."


"Jujur saja aku ingin sekali, tapi saat ini tidak mungkin mengingat posisiku sebagai CEO di Miracle membuatku tidak ada waktu untuk mengerjakan hasil desain pakaianku. Kalau sedang ada waktu luang pun hanya bisa membuat rajutan atau syal saja," jelas Lara diikuti senyum penuh kekecewaan.


"Nona, apa kau ingin menjadi desainer?"


Lara tersenyum dan menghela Nafas. "Begitulah, tapi sepertinya tidak bisa karena aku kan harus fokus mengurus Miracle."


Vander mencoba menyemangati Lara. "Nona tidak boleh bilang begitu, bagaimanapun Nona pasti punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi Nona, kalaupun tidak bisa sekarang mungkin suatu saat nanti bisa, jadi aku mohon Nona jangan menyerah!"


Lara pun tersenyum sumrigah setelah mendengarnya. "Terima kasih atas semangatnya, kalau begitu karena ini sudah malam aku mau istirahat dulu ke kamar." Lara yang sudah mengenakan pakaian tidur pun beranjak dari sofa menuju ke kamarnya untuk tidur.


"Selamat malam, selamat tidur," ucap Lara kemudian masuk ke kamar tempat ia istirahat malam ini.


"Selamat malam Nona Lara, mimpi yang indah," balas Van pelan.


Hari ini Vander melihat hal-hal baru dari diri Lara yang tak pernah ia kira dan tahu sebelumnya. Gadis yang awalnya Van pikir sama seperti gadis kaya lainnya ternyata tidak. "Lara Hazel kau wanita yang sangat luar biasa. Terlahir dengan sendok emas dari keluarga yang sangat kaya, tapi melihat sosokmu hari ini aku jadi semakin kagum," ungkapnya. "Tapi dilain sisi, aku jadi semakin takut jika tidak bisa menahan diri pada darimu Nona," ungkap Vander.


Bersambung....


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜

__ADS_1


__ADS_2