
Vander akhirnya tiba dirumah sakit tempat Lara akan melakukan persalinan. Dengan raut wajah panik ia bergegas menuju ke ruang bersalin VIP tempat istrinya menunggu saat ini.
"Lara!" Seru Vander yang baru saja datang.
Dari tempatnya berdiri ia melihat putranya juga berada berdiri disisi mamanya, serta para perawat yang sejak tadi memantau Lara yang kemungkinan tak lama lagi akan mengalami kontraksi sebelum melahirkan. Selain Rey, ada juga Gavin dan Miranda yang sepertinya habis memberikan semangat untuk Lara sebelum melahirkan anak keduanya.
"Vander?" Diatas ranjang tempatnya nanti melakukan persalinan, Lara terlihat senang sekali karena suami yang ia tunggu-tunggu akhirnya hadir juga.
Vander langsung mendekati sang istri dan mencium keningnya. Ia duduk, dan langsung menggengam tangan sang istri lalu bertanya, "Apa kau takut sayang?"
Lara tersenyum dan membalas, "Rasa takut pasti ada, karena saat melahirkan nanti nyawaku adalah taruhannya. Tapi kau tenang aja, selagi ada dirimu aku pasti bisa melewati semuanya dengan lancar."
"Tapi bagaimana kalau kau kesakitan, lalu aku harus apa?" Sepertinya dibanding mengkhawatirkan Lara lebih cocok mengkhawatirkan suaminya. Pasalnya sang suami malah terlihat yang paling gusar dan panik saat ini.
"Kak Vander sepertinya kalau dilihat-lihat kau lebih tegang dari kak Lara loh saat ini," ledek Gavin tak kuat menahan tawa melihat raut wajah Vander yang sedang tegang. "Bagaimana bisa pria yang bahkan tidak pernah takut mati melawan siapapun, malah dibuat gugup setengah mati saat menemani istrinya lahiran."
"Diam kau!" Omel Vander. Sebenarnya apa yang dikatakan Gavin memang ada benarnya, ini pertama kalinya aku menemani Lara melahirkan, dan entah kenapa aku gugup sekali rasanya. Seumur hidup aku tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa saat wanita melahirkan.
"Vander, kau tidak usah tegang begitu. Sekarang peralatan dokter sudah sangat canggih jadi pasti dokter akan membantu bersalin dengan lebih mudah," ungkap Lara menenangkan suaminya.
"Baiklah... tapi kau jangan memaksakan diri ya," ucap Vander yang tetap saja terlihat tegang.
Selain Vander, diam-diam Rey juga mengkhawatirkan mamanya. Ia takut terjadi apa-apa pada mama atau adiknya.
"Ma... Mama akan baik-baik saja kan?" Tandas Rey.
Lara membelai pipi putranya yang seperti roti baru matang itu. "Iya sayang... mama akan baik-baik saja, jadi tolong doakan mama dan adikmu ya..."
"Aku akan doakan kalian."
"Anak pintar, Rey memang kakak yang baik."
Melihat Rey mengkhawatirkan mamanya, Vander jadi teringat masa lalu. Dimana dulu dirinya tidak ada disaat Lara melahirkan Rey. Rasa bersalah itu agaknya tak akan bisa hilang didalam ingatannya. Vander menepuk pundak Rey dan meyakinkan putranya itu kalau sang mama akan melahirkan dengan selamat.
"Aku percaya padamu Pa.."
Akhirnya setelah beberapa saat menunggu, Lara mulai merasakan kontraksi, pembukaan pun terjadi berkali-kali hingga akhirnya tiba waktunya Lara melahirkan. Meski di ruangan itu dingin namun bagi Vander terasa sangat panas sekali. Bagaimaa tidak, tubuhnya tak henti-hentinya dibuat berkeringat dan jantungnya berdetak keras menyaksikan langsung istrinya yang kini tengah kesakitan berjuang melahirkan anak keduanya.
Vander benar-benar panik dan takut, ia sungguh tak tega melihat istrinya terus menerus mengerang kesakitan saat itu. Ini pertama kalinya dalam hidup Vander tahu bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya.
"Nyonya ayo tarik nafas perlahan dan hembuskan lalu dorong dengan perlahan... iya bagus begitu..."
"Uh ah uh ah... huh... ahh sakit...!
"Ayo terus nyonya..."
Lara mengejan sekuat tenaga, hingga ia tak sadar mecengekeram tangan suaminya dengan sekuat itu.
"Vander...! Aku....!" Lara berteriak sambil terus menggenggam kuat tangan suaminya.
Vander benar-benar tak kuat lagi, ini pertama kali dalam hidupnya merasa ketakutan melihat orang kesakitan sampai seperti ini. Melihat istrinya mengejan hingga mencengkram tangannya sekuat itu, pasti Lara kesakitan sekali. Ia pernah membaca dibuku, kalau kesakitan saat melahirkan hampir sama dengan rasa sakit ketika dua puluh tulang rusuk dipatahkan secara bersamaan.
A- aku harus apa? Apa lakukan saja tindakan operasi? Vander jadi semakin panik saja.
Vander kemudian berkata pada istrinya, "Sayang jika kau tak kuat melahirkan secara normal kita lakukan operasi saja ya... kumohon..."
"Uh ha... Uh, t- tidak Vander aku bi-saa..." Lara bersikeras melahirkan dengan normal.
"Ayo nyonya terus... Sudah keluar kepalanya... tuan tolong tenangkan dan beri semangat istri anda."
"Semangat bagaimana sih, kau gila ya dokter! Istriku ini begini! Aduh aku harus apa!" Vander kelihatan semakin panik dan bingung.
"Tuan anda jangan berisik!"
"Van- der ka- kau harus percaya padaku, huh... hah... aku bi-sa..." Dengan nafas tersengal-sengal Lara meminta suaminya percaya padanya.
__ADS_1
Vander menitikan air matanya. "Baiklah, aku percaya padamu sayang. Lakukan yang terbaik untukmu dan anak kita. Aku akan disini menemanimu sampai persalinan selesai."
"Terama kasih."
"Nyonya kau bisa, ayo sedikit lagi... tarik nafas lagi dan keluarkan," dokter terus menyemangati Lara.
Tak mau kalah, Vander pun ikut menyemangati istrinya. "Terus sayang, kau bisa kau pasti bisa sedikit lagi... ayo pikirkan setelah kita akan jalan-jalan sekeluarga bersama."
"Hhh... Hu... Hh ha... Eggghhh..." Lara semakin kuat mengejan hingga bukan lagi mencengkram tangan suaminya melainkan menjambak suaminya juga.
"Tidak apa Lara kau boleh lakukan apapun padaku, meremukan tanganku, lakukan saja sesukamu..."
Lara terus dan terus mengejan sekuat tenaga hingga...
"Oaaakk... Oaakkk...."
Suara tangisan bayi laki-laki menggema di ruangan itu. Semuanya pun seketika menghela bernafas lega, terutama Vander dan Lara yang lega sekali rasanya.
"Lihat nyonya, selamat anda berhasil melahirkan anak laki-laki yang sangat sehat dan tampan," ucap dokter yang kemudian meminta perawat untuk membersihkan tubuh bayi sebelum diberikan ke ibunya.
Lara dan Vander pun saling menatap dengan senyum bahagia. "Vander, anak kedua kita sudah lahir, aku berhasil melahirkannya dengan selamat."
"Ya kau hebat sekali..." Vander yang merasa bangga sekaligus terharu dan bahagia langsung mencium kening istrinya.
Setelah bayinya dibersihkan dan dililit selimut, dokter membawanya dan menyerahkannya kepada Lara dan Vander
"Tuan, Nyonya, ini putra kalian. Dia benar-benar bayi yang sangat sehat dan menawan. Sama seperti orang tuanya," ucap dokter perempuan itu memberikannya ke dekapan Lara yang saat ini masih berbaring lemah diatas ranjang pasca melahirkan.
"Sayangku, selamat datang di dunia. Vander, lihat anak kita, dia sepertinya lebih mirip denganmu."
Mata Vander bekaca-kaca melihat Lara menggendong bayi mereka didekapannya. Ia bener-benar tidak tahu harus apa saat ini, yang ia tahu hanya ia merasa senang, lega, dan juga terharu. Ia masih tak menyangka akan menyaksikan sendiri proses manusia mengeluarkan manusia lain dari tubuhnya.
"Kau mau menggendongnya sayang?" Tanya Lara menawarkan Vander menggendong bayinya.
"A- aku? Bolehkah?"
Sebagai pria yang tidak pernah tahu sama sekali soal bayi, Vander gugup sekali saat ingin menggendong anaknya untuk pertama kali setelah lahir.
Hal itu wajar saja, mengingat meski Vander ayah dua anak, tapi baru kali ini ia akan menggendong bayi baru lahir, sementara Rey ia baru tahu setelah usianya sudah balita seperti sekarang.
"Vander tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa kok. Ini bukan seperti kau akan menghadapi perang melawan monster." Sejujurnya bagi Vander menghadapi monster jauh lebih baik daripada saat ini.
"O- oke..." Vander akhirnya mencoba setenang mungkin dan menggendong putranya. Senyum pria itu seketika mengembang saat menggendong putranya yang baru lahir. Malaikat kecil buah cintanya dengan Lara tampak murni dan rapuh berada dalam gendongannya. Ia menimang-nimang putranya tersebut dengan mata berbinar-binar, melihat pemandangan itu Lara tersenyum manis, hatinya begitu hangat rasanya menyaksikan hal tersebut.
Tak lama kemudian, Rey dan yang lainnya pun ikut masuk kedalam ruangan dimana Lara berada saat ini.
"Mama, kau... baik-baik saja kan?" Tandas Rey menghampiri Lara memastikannya baik-baik saja.
"Mama baik-baik saja sayang."
"Lara selamat atas kelahiran anak keduamu."
"Kak Lara selamat ya..."
"Terima kasih Mira, Gavin."
"Nyonya selamat atas kelahiran tuan kecil kedua," sahut Robert.
"Terima kasih Robert."
"Lalu mana papa dan adikku?"
"Itu!"
Vander terlihat berjalan menghampiri Lara sambil menggendong putranya.
__ADS_1
"Huh? Kakak, kau- kau sungguhan menggendong bayi?" Ujar Gavin seolah tak percaya Vander melakukan hal itu. "Benar-benar sulit dipercaya kau yang garang dan kejam bisa semanis itu saat menggendong bayi," ledek Gavin.
"Cerewet! Mau ku hajar?"
"Hanya bercanda..."
Semua tertawa.
Vander lalu memberikan kembali putranya itu kepada Lara.
"Rey kau mau lihat adikmu lebih dekat?"
"Bolehkah?"
"Tentu."
Rey yang tadinya ragu pun akhirnya mau melihat adiknya itu dengan lebih dekat.
Rey menatap bayi itu dan menyentuh jemari kecil adiknya.
Tangannya sangat kecil! Pikir Rey yang kemudian melihat sang adik bayi tiba-tiba malah menggenggam jemarinya.
"Huh, mama adik kenapa?" Rey membulatkan matanya karena bingung melihat jemari kecil adiknya menggengam jemari Rey yang juga masih kecil.
Lara tersenyum dan berkata, "Dia barusan memberitahu kalau dia senang dengan kehadiran kakak Rey, jadi kedepannya kalian harus saling menyayangi oke?"
"Em!" Angguk Reynder.
"Oh iya apa sudah diberi nama anak kedua kalian?" Tanya Miranda.
"Belum, aku bahkan belum ada kepikiran nama untuk anak keduaku," ungkap Lara yang hampir saja lupa soal nama. "Menurutmu Vander, nama apa yang cocok untuk anak kedua kita?"
Vander terdiam sejenak dan berpikir.
"Bagaimana kalau namanya Bruno!" Usul Gavin.
"Tidak aku tidak suka," sahut Lara menolak.
"Atau Michael saja?"
"Tidak ah, pasaran," ujar Rey.
"Lalu apa, atau Dobby saja!"
"Tidak!" Jawab Rey dan Lara serempak.
"Atauβ mmmpp!" Miranda langsung membekap mulut suaminya. "Gavin lebih baik kau diam dan pikirkan nama untuk anak kita saja oke!"
"Iya- iya aku diam!" Gerutu Gavin.
"Aku tahu!" Vander akhirnya sudah menemukan nama yang ia pikir cocok untuk putra keduanya.
"Jadi apa namanya Vander?"
"Aku akan namai dia Khaizer Liuzen, Khaizer yang artinya kaisar, aku harap dia akan tumnuh menjadi seperti kaisar yang kuat, dihormati, penuh keadilan dan bertanggung jawab."
Tanpa berlama-lama semuanya pun setuju dengan nama pemberian Vander.
Lara tersenyum dan mencium buah hatinya.
"Khai sekali lagi selamat datang di dunia sayangku..."
Dan pada hari itu pula, kebahagiaan Lara dan Vander semakin bertambah dengan kehadiran Khai. Dengan begini Lara jadi punya tiga jagoan yang akan selalu melindunginya.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS