
Di apartemen saat tengah menunggu Lara selesai bersiap-siap, Vander menyempatkan diri untuk menelepon Aron. Ia bermaksud untuk mengajak temannya itu bertemu di kafe besok pagi.
Aron : Halo?
Vander : Ron besok pagi bertemu di kafe biasa kau bisa kan?
Aron : Ya kalau sebentar aku rasa bisa.
Vander : Baiklah...
Aron : Kau ingin bertemu denganku ingin bahas soal rekeningmu itu ya?
Vander : Iya.
Aron : Oke kalau begitu besok pagi kita bertemu di kafe biasa.
Vander : Oke...
*Mematikan panggilannya.
"Kau habis telepon siapa Vander?" Ucap Lara yang baru saja keluar kamar setelah selesai bersiap-siap. Kebetulan hari ini memang jadwal belanja kebutuhan sehari-hari Lara.
"Aku menelepon Aron, kau sungguh sudah siap?" Vander melihat jam tangannya dan berkata. "Apa semua wanita kalau dandan itu memang selama ini?"
"Aku hanya menghabiskan tiga puluh menit untuk bersiap-siap apa itu lama bagimu?" Protes Lara.
"Ya kalau bagiku sih lama sekali."
"Laki-laki memangnya tau apa soal merias wajah,"
"Kami sih tidak tau soal itu, tapi yang jelas kami jadi paham arti sebuah kesabaran ketika menunggu wanita berdandan dan berbelanja," pungkas Vander.
Lara pun mencubit gemas pipi suaminya itu. "Jadi maksudmu aku ini menguji kesabaranmu begitu? Lagipula kalau aku jadi cantik setelah berdandan kan kau jadi senang!"
Pria itu melepaskan tangan sang istri dari pipinya lalu berkata, "Tapi istriku kalau tidak dandan pun sudah cantik."
Wajah Lara pun jadi tersipu malu dibuatnya. "Kau ini paling pandai kalau merayu."
"Aku tidak merayu aku bicara fakta kalau..." Vander berbisik ditelinga Lara. "Isriku cantik, bibirnya seperti buah ceri, manis kalau tersenyum, apalagi bentuk tubuhnya indah. Badanmu kurus tapi besar dibagian-bagian yang tepat. "
"Tuan mesum stop! Lebih baik ayo kita segera pergi!" Ujar Lara merasa malu mendengar ucapan suaminya itu. Sementar Vander malah tertawa geli melihat wajah istrinya merah.
~~
Setibanya di pusat perbelanjaan mereka berdua langsung menuju ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Disana Lara terlihat serius memastikan apa saja yang harus dia belinya, sementara sang suami yang mendorong troli belanjaan malah sibuk memandangi istrinya yang sibuk mengambil belanjaan.
"Sayang, dirimu mau makan apa malam ini?" Lara bertanya pada suaminya yang masih saja bengong memperhatikanya.
"Vander aku bertanya padamu loh!" Ucap Lara.
"Oh iya itu— aku makan apa saja kalau buatan istriku enak semua," pungkasnya.
"Kau ini kenapa sih kalau menemaniku belanja sering melamun begitu, bosan ya?" Gumam Lara kesal.
"Soalnya aku tidak tau harus apa, lagipula kenapa harus dipilih-pilih sih! Kan kalau beli beras ya pilih saja beras, beli lobak tinggal pilih lobak, beli wortel ya pilih wortel, begitupun dengan daging, kentang, spageti, acar, buah, tisu, pasta gigi, sabun, semua kan sudah ada namanya kenapa masih harus memilih yang ini itu ini itu aku kan jadi pusing," ungkap Vander berkeluh kesah.
"Ya karena ada yang bisa dipilih jadi memilih, lagipula dari semua pilihan pasti ada yang paling bagus jadi aku harus pilih yang terbaik!"
"Merepotkan diri itu namanya," balas Vander.
"Itu namanya cermat dalam membeli!"
Mereka pun berdebat hingga membuat orang lain yang lewat didekat mereka memperhatikannya. Termasuk pasangan kakek dan nenek yang tengah berbelanja bersama, sepasang orang tua itu terlihat senyum-senyum melihat Lara dan Vander yang berdebat tidak penting.
Sadar dilihati orang banyak Vander dan Lara jadi malu sendiri rasanya.
"Hei anak muda kuberitahu, sebagai pria kita memang akan lebih baik kalau mengalah pada psangan kita, karena wanita itu makhluk yang rumit," ucap si kakek kepada Vander tiba-tiba.
Sementara istri kakek itu pun menasehati Lara. "Sayang, kau pasti baru menikah ya...? Aku yang sudah menikah selama empat puluh tahun menyarankanmu agar sedikit lebih sabar pada pasangan kita, karena ya kau tau kan mereka para pria kebanyakan terlalu realiatis hidupnya jadi tidak paham perasaan kita."
"Sayang tolong kau jangan mengajari nona kecil itu sifatmu yang jelek," ungkap si kakek pada sang nenek.
"Kau yang jangan ajari anak muda itu jadi tidak berperasaan sepertimu," balas si nenek.
__ADS_1
Lucuhya malah kakek nenek itu yang jadi bedebat. Tidak ingin jadi penyebab ributnya mereka, Lara dan Vander pun akhirnya mengalah dan beterima kasih atas nasehat kakek dan nenek itu lalu pamit pergi duluan.
"Bahagia selalu ya kalian berdua...!" Seru kakek dan nenek itu.
Setelahnya Lara malah jadi tertawa sendiri dibuatnya.
"Kenapa kau malah tertawa?" Pungkas Vander bingung
"Tidak, aku hanya baru percaya setelah merasakannya sendiri. Ternyata benar seringkali pasangan suami istri ribut itu kadang kala hanya urusan sepele. Sekarang aku sadar kenapa dulu ibuku suka mengomel pada ayah hanya masalah pakaian kotor saja, jadi alasannya memang pria dan wanita itu pada dasarnya punya banyak perbedaan pola pikir."
"Begitu ya? Aku tidak tau."
Astaga! Lara lupa kalau Vander sendiri tidak pernah tau kehidupan orang tuanya. Tidak ingin Van kepikiran Lara pun mengalihkan pembicaraan. "Em— yasudah ayo kita segera selesaikan belanjaan lalu kita ke toko lain!" Pungkas Lara.
*
Setelah selesai berbelanja di supermarket, pasangan itu pun berjalan di mall sambil bergandengan tangan erat. Sesekali terlihat Lara akan memeluk lengan suaminya yang berotot itu sambil bergelayut manja.
"Aku senang akhirnya bisa jalan bergandengan tangan begini bersamu tanpa rasa khawatir lagi," ungkap Lara.
Vander tersenyum menanggapinya.
Sialnya saat pasangan suami istri itu tengah berjalan sambil bergandengan mesra, tiba-tiba saja mereka malah berpapasan dengan Karina. Sontak ketiganya pun langsung saling menatap dalam ketegangan.
Karina menatap lengan Vander yang nyaman dirangkul Lara, begitupun sebaliknya Vander juga terlihat erat menggenggam tangan Lara yang satunya. Ia pun seketika menatap sinis pada pasangan itu.
"Nona Karina, kenapa kau memandangi kami begitu?" Ucap Lara.
"Aku hanya lucu saja melihat kalian berjalan semesra ini. Apa Nona Lara tidak takut ada pegawai kantormu yang lihat?"
Lara tersenyum miring. "Takut? Untuk apa aku takut, memangnya ada yang salah kalau aku memeluk mesra lengan suamiku sendiri?"
"Apa?" Seketika wajah Karina langsung syok dan seoalah kehabisan kata-kata. "Su- suami?" Karina langsung menatap Vander yang diam saja dengan ekspresi datar.
"Vander apa benar yang Lara katakan? Ka- kau sudah menikahinya?" Karina melangkah maju mau menyentuh Vander namun segera oleh Lara langsung dihadang.
"Stop! Nona Karina tolong jangan terlalu agresif pada suamiku! Aku tidak mengizinkanmu mendekati apalagi menyentuh suamiku, jangan sampai aku membuang kemejanya hanya karena disentuh olehmu!" Tegas Lara.
"Diam kau! Aku tanya pada Vander bukan kau!" Balas Karina murka.
"Ya, aku menikahi Nona Lara dia sekarang istriku dan aku suaminya, jadi Nona Karina aku harap kau berhenti mengganggu istriku," jelas Vander dengan suara beratnya.
"See? kau dengarkan suamiku bilang apa? Jadi Nona Karina kalau anda memang merasa terhormat dan punya rasa malu, tolong berhenti mendekati suamiku dan jangan menggodanya lagi. Karena dia hanya milikku dan tidak akan pernah jadi milikmu! Jadi jaga harga dirimu sebagai wanita kalau tidak mau disebut sebagai wanita perusak rumah tangga orang!" Lara memperingatkan Karina agar tidak menganggu rumah tangganya.
"Maaf kami sibuk, ayo sayang kita pergi, permisi Nona Karina kami duluan!" Ucap Lara dengan begitu percaya diri memeluk lengan suaminya dan pergi meninggalkan Karina.
Sementara Karina yang luar biasa murka, hatinya terbakar dan wajahnya terlihat marah dan cemburu. Ia mengepalkan keduanya tangannya dan mengatupkan gerahamnya sambil berteriak dalam hati. Wanita sialan, beraninya dia mengolokku begitu tidak bisa kuampuni! Aku tidak rela mereka bersatu!
Vander tersenyum senang.
"Kenapa kau tampak senang begitu?" Tanya Lara.
"Aku senang karena kau bersikap begitu pada Karina."
"Habis aku kesal melihat dia selalu saja mencoba mendekatimu," gerutu Lara merasa cemburu.
"Kau takut ya aku direbut wanita lain?" Goda Vander.
"Kenapa takut? aku lebih cantik dari mereka, hanya saja kau itu kan pria namanya pria tetap saja seperti kucing tidak bisa lihat ikan langsung sambar!"
Vander menatap Lara tajam. Pria itu langsung merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan berkata, "Aku kan sudah bilang padamu, sejak aku bertemu denganmu aku tidak bisa berpaling pada siapapun lagi. Bagiku wanita manapun tidak ada yang bisa membuatku bergairah sampai aku hampir gila!"
"Iya iya! Sudah ayo lanjut belanja!" Ucap Lara tidak mau suaminya makin kesana arah pembicaraannya.
~
Saat tiba di toko busana Lara terlihat tertarik membeli beberapa potong pakaian. Disana wanita itu tampak memilih beberapa potong baju, tak lupa ia juga membelikan kemeja untuk suaminya itu.
"Wah yang ini cocok buatmu!" Ucap Lara saat menyesuakan kemeja berwarna biru navy di tubuh Vander. "Kau suka tidak Van?" Tanya Lara.
"Apapun pilihanmu aku pasti suka."
"Baiklah kalau begitu beli ini saja!" Lara akhirnya memutuskan membeli beberapa potong pakaian. Ia pun bergegas membawa pakaian pilihannya itu ke kasir untuk dibayarnya. Namun tiba-tiba saja Vander menarik tangan Lara.
__ADS_1
"Eh ada apa?" Lara heran kenapa suaminya itu tiba-tiba mencegahnya ke kasir.
"Um— bisakah aku yang membayar belanjaannya?" Ungkap sang suami.
Lara memiringkan kepalanya heran. "Loh memangnya kenapa? Aku bisa kok membayarnya dengan uangku sendiri."
"Aku tau tapi— biarkan aku yang membayar semuanya," bujuk Vander.
"Van— apa kau?"
"Uangku saat ini memang tak sebanyak uangmu, tapi bagaimanapun aku ini seorang suami yang mana aku bertanggung jawab atas semua kebutuhan istriku. Dan— sebagai seorang pria aku punya harga diri, aku malu rasanya jika istriku malah yang harus menanggungku. Oleh karena itu, kedepannya bisakah kau lebih bergantunglah padaku?"
Lara tesenyum menatap Vander dengan penuh rasa kagum. "Baik aku mengerti," ucap Lara paham.
Lara pun menarik Vander ke meja kasir untuk membayar semua belanjaannya.
"Semuanya jadi dua puluh lima ribu dolar," ucap nona kasir setelah menghitung semua total belanjaan Lara.
"Kalau begitu, suamiku tolong bayar ya!" Ucap Lara menatap sang suami. Vander tersenyum kecil lalu mengeluarkan kartu pembayarannya dan menyerahkannya pada kasir untuk transaksi.
"Wah Nona suaminya tampan dan baik sekali ya?" Puji nona kasir.
"Iya, suamiku memang tampan dan juga paling baik, dia akan berikan apapun yang aku minta," pungkas Lara seraya membanggakan suaminya itu.
Hal itu membuat Vander merasa tersanjung mendengarnya. "Istriku juga paling pengertian sedunia."
"Kalian pasangan yang sangat serasi aku jadi ingin menikah juga rasanya," pungkas nona kasir itu.
**
Keesokan harinya Vander dan Aron akhirnya ketemuan di kafe. Sambil ditemani kopi hangat disana mereka berdua membicarakan tabungan dan aset milik Vander yang atas namanya.
"Jadi bagaimana kau bisa menemukan dokumen berharga miliku?" Vander lalu menyesap kopinya.
"Dulu saat kau pergi meninggalkan Crux kau kan membawa satu tas berisi pakaianmu yang seadanya itu beserta barang bawaanmu lainnya. Bodohnya kau malah dihari ketiga pergi tanpa pesan dan meninggalkan bawaanmu ditempatku!"
Laru Aron cerita, suatu hari istrinya yang seorang mantan akuntan sedang membongkar tas Vander dan ternyata berisi dokumen milik Vander. Dan setelah menemukannya dan istrinya pun segera memberitahu Aron soal aset dan uang simpan Vander selama bertahun-tahun. Ternyata Van tidak tau soal aturan Crux dimana harta yang sudah didapat sejak seorang itu bekerja disana adalah sah sepenuhnya milik orang itu sampai kapanpun. Oleh karena itu uang yang didapat Vander selama di Crux selamanya adalah miliknya. Aron pun menyerahkan semua dokumen penting itu pada Vander pemiliknya.
"Aku sudah minta tolong istriku untuk melakukan pengaktifan kembali rekeningmu. Tapi sepertinya akan lebih aman jika kau tidak menyatukan semua uangmu dalam saru rekening," saran Aron.
"Oke aku akan hubungi pihak perbankan nanti."
"Memangnya mau kau apakan uangmu itu?" Aron penasaran.
"Tentu saja akan aku putar sampai jumlahnya ratusan kali lipat!"
"Sepertinya kau sungguh serius berbisnis ya kawan?" Goda Aron.
"Aku punya istri yang harus aku nafkahi, seharusnya kau yang sudah lebih dulu menikah paham hal itu kan?"
"Iya-iya aku paham. Oh iya satu lagi!" Aron tiba-tiba mengeluarkan amplop dari tas tentengnya dan memberikannya kepada Vander.
"Apa ini?" Karena penasaran ia pun membukanya. "Tiket?" Vander heran.
"Ya, itu dua tiket perjalanan kapal pesiar mewah. Pelanggan tokoku yang dari rusia waktu itu memberikannya padaku. Tadinya ia memberikan untukku dan istriku sebagai hadiah, tapi mengingat istriku tengah hamil besar jadi tidak mungkin aku mengajaknya berlibur di kapal pesiar. Dan saat aku tau tiga hari lalu kau sudah menikah aku bepikir untuk memberikannya padamu."
"Kau serius berikan ini padaku?"
"Tentu saja, ayolah Vander anggap saja itu tiket kalian untuk bulan madu setelah menikah," pungkas Aron.
Vander mengulum senyum bahagia. "Terima kasih Ron, Lara pasti akan senang sekali!"
"Sama-sama, aku juga senang melihatmu saat ini. Sejak bersama Nona Lara kau banyak berubah. Kau jadi punya tujuan hidup dan jadi lebih teratur dan terarah."
"Begitukah menurutmu?"
"Ya! Karena bertahun-tahun aku kenal dirimu, baru kali ini akhirnya aku bisa melihat sisi dirimu layaknya manusia normal. Kau bahkan tersenyum girang tadi, padahal kau ini kan manusia paling tidak pernah senyum tulus begitu. Sepertinya aku benar-benar harus berterima kasih pada Lara Hazel karena sudah berhasil merubah Vander yang tak punya gairah hidup menjadi pria yang punya tujuan hidup."
Vander pun langsung tersenyum lembut.
Karena Lara adalah segalanya buatku saat ini dan selamanya.
......🌿🌿🌿......
__ADS_1
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜