Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menjadi Pelindungmu


__ADS_3

"Selamat pagi sayang," sapa Vander yang baru saja masuk ke kamar Lara sambil membawa nampan berisi makanan untuk sarapan.


Lara yang terbaring di ranjang dengan tangan di gips pun tersenyum ke arah suaminya dan membalas sapaannya. "Selamat pagi."


"Aku bawakan sup ayam jahe untukmu," tandas Vander lalu meletekan nampan itu diatas nakas dekat ranjang.


"Baunya enak, apa kau yang buat?" Tanya Lara sekedar menggoda suaminya.


"Kalau aku yang buat, aku takut kau malah tambah sakit," balas Vander yang kemudian mengambil mangkuk sup tersebut kemudian duduk bersiap untuk menyuapi istrinya.


"Ayo buka mulutmu," titah Vander yang sudah siap memasukan sendok berisi makanan ke mulut sang istri.


Tanpa banyak bicara, Lara pun langsung membuka mulutnya dan makan dari suapan suaminya. Selama tangannya masih digips, Lara memang selalu dilayani bahkan saat makan. Karena meskipun tangan satunya baik-baik saja, namun tetap saja suaminya melarangnya makan sendiri. Oleh karena itu Vander setiap hari salalu menyempatkan diriuntuk menyuapi Lara.


"Kau harus makan yang banyak supaya cepat sehat," ucap Vander seraya menasehati istrinya.


"Tubuhku sehat, hanya tanganku saja masih cidera. Tapi kau malah beberapa hari ini terus saja memperlakukanku seolah aku tidak bisa melakukan apa-apa," ungkap Lara yang sejujurnya mulai bosan terus berdiam diri saja di kamar.


Vander hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Ini sesuap lagi," tandas Vander meminta Lara membuka mulutnya.


"Aku sudah kenyang, kau saja yang makan. Kau sudah sarapan belum?"


"Yang sakit kan dirimu kenapa malah mengkhawatirkanku?"


"Karena kau suamiku, aku harus tau apakah suamiku mengurus diri dengan benar atau tidak.


"Tenang saja, ada Robert yang mengatur semua jadwalku selama kau sakit."


"Jadi kau tidak butuh aku lagi?"


"Hei, tentu saja aku sangat membutuhkanmu. Aku frustasi beberapa hari ini tidak bisa melakukan kegiatan diranjang denganmu. Aku harus melakukannya sendiri dan rasanya sungguh tidak enak!" Keluh suaminya.


Seketika Lara pun tertawa geli dibuatnya. "Sabar ya sayang, tunggu tanganku sembuh. Sebenarnya aku sih bisa melakukannya meski tangan digips. Hanya saja pasti rasanya tidak nyaman, jadi bersabarlah dulu."


"Oke aku akan bersabar semampuku."


"Oh iya Vander— soal penyebab kecelakaanku ini, kau sudah tau pelakunya?" Tanya Lara tampak serius.


"Soal itu aku sudah tahu siapa pelakunya. Tapi untuk saat ini, aku tidak ingin memberitahumu. Aku ingin kau fokus dulu dengan kesembuhanmu baru setelah itu akan kuberitahu."


Lara tertunduk.


"Hei kau tenang saja, aku pastikan orang itu akan membayar mahal semua yang ia sudah lakukan padamu."


"Terima kasih Vander," ucap Lara tersenyum lalu mengecup pipi suaminya.


"Eh?" Vander kaget Lara tiba-tiba Lara menjilat bibirnya.


"Bibirmu agak kering apa kau kurang minum?" Tanya Lara.


"Lebih tepatnya sih kurang dibasahi ciuman darimu," tandas pria itu dengan nada menggoda.


"Kau mau dicium?"


Vander mengangguk cepat dengan tatapan polosnya dan langsung mendekatkan bibirnya ke bibir merona sang istri. Namun Lara malam melipat bibirnya kedalam dan tertawa.


"Mengerjai suami sendiri itu tidak baik Lara, kau bisa kena hukuman Tuhan."


"Hahaha iya maaf."


"Sudahlah karena kau sudah makan segera minum dan biar aku bawa keluar mangkuknya," Vander terlihat membantu Lara minum air. Tak lama Lara pun malah mengecup bibir suaminya dan bilang terima kasih diikuti senyum manisnya.


"Aku berangkat ke kantor dulu," ucap Vander tersenyum lalu pamit keluar sambil membawa mangkuk bekas makan istrinya.


"Selamat bekerja Vander sayang..."


...🍁🍁🍁...


Di kedai kopi Miracle tiba-tiba saja muncul Eiji yang menyempatkan diri untuk minum di kedai milik Gavin dan Mira tersebut.


"Hai Eiji, akhirnya kau datang kemari juga," tandas Mira selaku manajer menyapa pria yang sudah duduk di meja bar yang ada dihadapannya. "Jadi mau pesan apa? Tenang saja karena kau tetanggaku di rumah, spesial hari ini bayar setengah harga saja."


"Benarkah? Kalau begitu buatkan aku cappuccino terenak disini."


"Siap, tunggu sebentar aku yang akan langsung buatkan."


Selang beberapa saat kemudian, Cappuccino  pesanan Eiji pun jadi. Miranda pun langsung menyuguhkannya pada pelanggan spesialnya itu.


"Wow, ternyata yang dikatakan di review benar, kopi disini enak sekali," tandas Eiji setelah mencicipi cappuccino buatan Miranda.


"Tentu saja! Oh iya tumben kau jam segini tidak kerja, sedang tidak sibuk dikantor kah?" Tanya Miranda seraya menemani Eiji mengobrol sambil memantau para pegawainya.


"Aku sedang luang, kebetulan besok aku harus ke RK untuk memantau pengerjaan pembangunan resort baru milik Laizen grup yang akan dibuka sekitar tiga bulan lagi."


"Jadi kau masih jadi pemegang tender project Laizen Grup, hebat juga kau," puji Miranda yang tahu betul Eiji sangat cemburu melihat Lara berhubungan dengan Vander.


Eiji tersenyum setelah menyesap cappuccinonya. "Bekerja untuk company raksasa sekelas Laizen Grup adalah impian banyak perusahaan rekonstruksi, jadi aku tidak mau menyia-nyiakannya. Lagipula aku dan Vander sangat profesional dalam kerja, jadi urusan pribadi tidak akan mengganggu profesionalitas kami sebagai mitra kerja."


"Baguslah kalau begitu."


"Oh iya Mira, kudengar Lara sakit, apa itu benar?"


"Itu..." Miranda jadi sedikit bingung, disatu sisi ia ingin beritahu Eiji, disisi lain ia takut Vander selaku suami Lara tidak senang kalau dirinya memberi tahu Eiji.


"Mira...?"

__ADS_1


"Oh- iya, dia— memang sedang sakit. Tap- tapi kau tidak perlu cemas, sebentar lagi Lara pasti sembuh kok."


"Begitu ya," sahut Eiji diikuti raut wajah yang kini sulit dibaca ekspresinya.


...🍁🍁🍁...


Hari ini ada perjamuan makan siang bersama di Hotel Caliente yang dibuat oleh Yuna Vergara selaku direktur Lavioletta. Acara itu dibuat oleh Yuna sengaja untuk merayakan kesuksesan produk terbaru Lavioletta yang baru saja rilis. Disana wanita itu mengundang banyak tamu penting, mulai dari sosialita kelas atas, petinggi media, hingga model serta artis papan atas, dan tentu saja CEO Laizen Grup.


Sayangnya disana Vander tampak belum datang padahal acara jamuan sudah mau dimulai.


"Tuan-tuan dan nyonya sekalian, maaf belum bisa kubuka acara jamuan ini. Karena tamu penting kita belum datang."


Yuna bersikukuh menunggu Vander datang. Untungnya tamu lain tidak keberatan menunggu, mengingat Vander memang super sibuk dan siapa yang berani melawannya.


Sebenarnya Vander kemana ya? Apa dia akan datang sendiri atau membawa sekretaris noraknya itu? ujar Emily yang juga ada hadir di perjamuan mewah tersebut.


Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Dengan gaya semi formalnya Vander masuk ke ruangan ditemani Robert yang setia berjalan dibelakangnya.


"Maaf aku terlambat," ucap Vander dengan aura dominannya yang sangat terasa.


Semua tamu pun menyambut kedatangannya dengan senyuman yang sebagian hanyalah senyum palsu yang dibuat-buat.


"Yuna maaf aku terlambat," ucap Vander.


"Tidak masalah tuan Vander, yang terpenting kau sudah datang."


Disana, Vander yang melihat sosok Emily langsung memberikan sekilas tatapan yang tak biasa ke arah wanita itu.


Ke- kenapa Vander melihatku begitu? Aku jadi merasa gelisah dan takut, gumam wanita bergaun merah yang kini merasa seperti sedang diintimidasi.


Setelah semua datang akhirnya makan siang pun di mulai. Semua tamu tampak menikmati hidangan makan siang mewah sambil saling mengobrol satu sama lain di tiap meja yang berisi empat sampai lima orang. Kebetulan Vander duduk satu meja dengan Yuna, Emily, Robert, dan tuan Sagiri pimpinan dari media ZR news.


Disana Vander memberi selamat pada Yuna karena sudah berhasil menyelenggarakan fashion week yang dihadiri, lebih dari seratus lima puluh ribu pengunjung dalam seminggu.


"Terima kasih tuan, ini juga berkat anda yang sangat mendukung penuh acaranya hingga sukses besar. Tapi lain kali sepertinya akan lebih baik jika diselenggarakan di venue yang lebih besar, supaya bisa menampung lebih banyak pengunjung lagi, karena aku dengar pengunjung yang ingin datang aslinya sampai hampir tiga ratus ribu."


"Aku setuju," sahut tuan Sagiri.


"Tuan Sagiri sepertinya salah satu yang ikut untung besar saat diadakannya acara fashion week waktu itu ya?" Tandas Vander seraya menyindir karena media itu salah satu yang menyebarkan rumor murahan, kalau Vander ada hubungan dengan Emily.


"Ya... begitulah... Heheh..." Jawab pria itu mati kutu.


"Kalau nona Emily sendiri, kenapa diam saja sejak tadi? Bukankah biasanya anda yang paling suka banyak bicara?" Ujar Vander dengan tatapan seolah tersenyum hingga membuat Emily semakin ketakutan. Emily sendiri sadar, kalau sejak tadi Vander terus mengintimidasinya meski raut wajahnya tenang.


"Um— aku hanya— sedang agak sakit tenggorokan saja kok, makanya tidak banyak bicara."


"Kalau kau sakit kenapa memaksa datang kesini? Apa yang membuatmu nekat datang kemari padahal sedang sakit?" Vander terus mencecar Emily dengan nada santai namun terasa jelas sedang menekannya.


"Mungkin nona Emily ingin melihat anda tuan Vander," gurau tuan Sagiri. Sayangnya gurauan itu tidak lucu sama sekali bagi Vander hingga membuatnya berkata, "Kau masih mau sebar gosip apalagi tentangku, tuan Sagiri? Daripada aku, kenapa tidak kau sebarkan saja skandalmu dengan istri salah satu pejabat supaya seru?" Vander lagi-lagi dengan wajah seolah tersenyum menjatuhkan mental orang yang mengusiknya.


"Ti- tidak Tu- tuan maafkan diriku. Kumohon ja- jangan bahas itu," ucap Sagiri. ketakuta..


"Nona Emily kenapa kau berkeringat begitu? Bukankah disini sangat dingin," ucap Yuna.


"Um— itu, aku—"


"Mungkin nona Emily sedang merasa tegang dan gerogi. Meski ruangan ini sangat dingin, tapi ketika orang merasa tegang dan agak ketakutan, biasanya dia akan lebih banyak keluar keringat. Iya kan nona Emily?" Vander menatap Emily.


Sial! Vander benar-benar sedang mengintimdasiku saat ini. Tidak bisa, aku harus pergi dari sini!


"Oh iya nona Emily, apa kau tahu cerita babi dungu tersesat yang mencoba menipu raja serigala?"


"Ti- tidak. Me- memangnya kenapa tuan Vander?"


"Sayang sekali, cerita itu seru tapi sad ending bagi si babi dungu. Babi itu berakhir mengenaskan ditangan srigala. Tapi mau bagaimana lagi, babi itu sendiri yang memilih mati. Padahal sudah dilepaskan oleh sang raja serigala, tapi dia malah dengan bodohnya berpikir bisa menipu sang raja, alhasil matilah dia ditangan serigala itu dengan sangat mengenaskan."


Apa maksud ceritanya itu? Vander, pria ini benar-benar mengerikan.


"Maaf aku- aku permisi ke toilet sebentar," ucap Emily yang mau ke toilet.


"Nona Emily!"


"Iya tua Vander," sahut Emily tegang.


"Hanya ingjn mengingatkan, jangan suka bermain dengan api kalau kau tidak tahu seberapa besar dan panasnya api itu bisa membakar dirimu!"


Emily yang semakin terintimidasi pun tak menjawab apa-apa dan langsung pergi.


Kau tidak bisa kabur wanita licik.. Semua kartu matimu ditanganku. Akan kubuat kau menyesali semua yang sudah kau perbuat pada istri dan anakku.


...🍁🍁🍁...


Di kamar Lara yang tengah berbaring sambil membaca buku untuk membunuh bosan, tiba-tiba saja kamarnya diketuk oleh Frida.


"Masuk Bi..."


"Nyonya maaf menganggu anda."


"Ada apa?" Tanya Lara.


"Nyonya, di luar ada tamu ingin bertemu anda."


"Tamu? Siapa?" Tanya Lara dengan wajah penasaran.


"Dia seorang pria, namanya— tuan Eiji Hartman."


"Huh? Kak Eiji?" Lara agak kaget mendengar Eiji datang mengunjungi tempatnya. Ya ampun bagaimana ini? Tapi kalau diusir kasihan juga, tapi... Ah sudahlah mungkin sebentar saja, kebetulan Vander belum pulang kerja.

__ADS_1


"Yasudah bi, tolong suruh dia tunggu di ruang tamu akan temui dia disana."


"Baik nyonya."


Bibi Frida akhirnya menyuruh Eiji menunggu di ruang tamu, sementara dirinya akan buatkan minum.


Sambil menunggu Lara muncul, Eiji tampak mengamati seluruh ruangan apartemen Caelestis yang desainnya cukup mengesankan baginya.


Apartemen ini sangatlah mewah, untuk sekelas sekretaris yang belum bekerja selama setahun, pastinya ini mustahil di dapat kecuali... Bosnya memang memiliki persaan lebih pada pegawainya. Jelas, Vander menganggap Lara lebih dari sekedae pegawai. Lara, apa mungkin kau dan Vander...?


"Kak Eiji," sapa Lara yang datang dengan kondisi tangan digips.


"Lara, kau kenapa?" Melihat kondisi Lara Eiji angsung kaget sekaligus khawatir. Untungnya Lara langsung menjelaskan kepada pria itu kalau dirinya baik-baik saja dan akan segera sembuh dalam beberapa hari.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa kau sampai celaka? Bukankah kau cukup handal menunggang kuda?" Tanya Eiji penasaran dengan penyebab Lara bisa kecelakaan.


"Um— itu karna..."


"Vander tidak bisa menjaga karyawannya!" Tandas Eiji terdengar marah.


"Tidak, ini semua bukan salahnya. Dia justru yang menolongku, kalau bukan karena dia menolongku, mungkin aku sudah sekarat atau bahkan meninggal," jelas Lara.


Kenapa kau selalu saja membeli pria itu Lara? "Ya mau bagaimana lagi, toh aku tidak disana, intinya aku kemari hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Dan ini... Aku bawakan manisan buah kesukaanmu. Semoga kau lekas sembuh, aku tidak tega melihatmu sakit Lara."


Wanita itu menerima bingkisan dari Eiji dan berterima kasih. "Terima kasih kak,"


"Sama-sama, kalau begitu aku pamit dulu. Permisi," ucap Eiji lalu pergi.


"Hati-hati kak..." ucap Lara lalu menghela nafas melihat Eiji sudah pergi.


"Nyonya maaf tapi pria itu siapa? Apa dia teman nyonya?" Tanya Frida.


"Iya dia temanku sekaligus mitra kerja Vander juga. Oh iya Bi, tolong simpan manisan ini, aku mau kembali ke kamar," Lara langsung memberikan manisan itu kepada Frida lalu kembali ke kamarnya.


"Baik Nyonya."


...----------------...


Sepuluh hari pasca insiden kecelakaan, akhirnya cidera tulang Lara sudah kembali pulih. Ia juga sudah terlihat di kantor dan kembali bekerja, meski tetap dalam pantauan dokter dan suaminya.


Lara yang tengah membereskan mejanya pun nampak menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi terus saja memandanginya. "Tuan Vander, nanti matamu bisa sakit loh kalau terus-terusan melihatku begitu."


Vander tersenyum dan membalas, "Mana mungkin, yang ada mataku jadi segar terus karena akhirnya objek pemandanganku kembali enak dipandang."


Mendengar gombalan sang suami, Lara pun hanya bisa senyum-senyum kecil.


"Istriku, kenapa kau begitu cantik dan menggoda, aku jadi ingin memakanmu rasanya," ujar Vander merayu istrinya.


Kali ini Lara akhirnya berjalan menghampiri sang suami dan langsung duduk diatas pangkuannya.


"Tuan Vander, mulutmu selalu saja manis saat memujiku. Apa kau tidak bosan?" Ungkap Lara sambil menatap suaminya seraya menggoda.


"Mana mungkin aku bosan memujamu, ratuku... kau terlalu indah," ungkapnya sambil menyentuh rambut panjang nan indah milik istrinya.


"Oh ya? Kalau aku gendut dan keriput, apa kau masih akan cinta padaku?"


"Tentu saja, kita kan akan menua bersama," ucap Vander yang kemudian ingin mencium Lara namun dihalangi oleh telapak tangan istrinya.


"Sebelum menciumku, katakan padaku soal pelaku yang sudah membuatku celaka!"


"Kau sungguh ingin tahu?"


"Iya."


"Baiklah, pelakunya adalah orang yang sama yang sudah memberi Rey jus nanas, dan membuat rumor dimedia tentangku dan dia."


Lara tersenyum sinis. "Emily?"


"Ya."


"Jadi wanita itu belum jera juga," ungkap Lara bernada emosi.


"Kau tenang saja aku akan membuat wanita itu mendapatkan hukumannya—"


"Tidak perlu Vander."


"Eh, apa maksudmu sayang?"


"Aku sendiri yang akan membalas semua yang sudah ia lakukan."


"Ta- tapi Lara kau—"


"Sstt...! Suamiku, kali ini kau cukup menjagaku dan membantuku dari balik layar, memberi pelajaran wanita licik itu akan aku lakukan dengan caraku."


"Kau yakin?"


Lara tersenyum, "Tentu saja, aku akan memberinya pelajaran agar dia tahu dimana levelnya, dan siapa dirinya."


Emily sudah berusaha mengcelakaiku, menyerang anakku, dan mencoba merebut suamiku. Lihat saja Emily akan kubuat kau tahu siapa Lara Hazel sebenarnya.


Vander tersenyum seraya bangga. "Istriku memang yang paling hebat."


"Oleh karena itu, kau mau kan membatuku Vander sayang?"


"Tentu saja, keinginanmu adalah perintah bagiku. Berjalanlah sesukamu Lara, kau tidak perlu takut karena ada aku yang akan selalu menjadi pelindungmu."


"Terima kasih banyak sayangku..." Mereka pun akhirnya berciuman mesra.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2