Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Aku bukan anak kecil lagi!


__ADS_3

Van dan Lara akhirnya tiba di Hollyfree, setelah membuka sabuk pengamannya Lara bergegas keluar dari mobil, namun malah ditahan oleh Van.


"Vander lepaskan tanganku!" Seru gadis itu.


"Maaf Nona, tapi apa kau yakin mau ke dalam sana sendirian?" Van masih mencoba mencegah Lara agar tidak masuk ke dalam klub.


"Aku bilang lepaskan tanganku!" Perintah Lara lagi.


Van akhirnya melepaskan cengkramannya dari tangan Lara.


"Van kau dengar ya, aku bukan anak kecil lagi. Jadi berhentilah menghalangi aku melakukan apa yang aku mau!"


"Aku minta maaf Nona, aku hanya khawatir di dalam banyak orang mabuk. Ya mungkin Nona tidak mabuk tapi orang lain di dalam?" Van masih berusaha agar Lara megurungkan niatnya masuk ke dalam klub.


Lara tersenyum sinis. "Vander Liuzen, sepertinya aku terlalu memanjakanmu hingga kau lupa kalau kau ini sebenarnya hanya pengawalku, bukan orang tuaku. Jadi kau tidak berhak melarang apapun yang aku lakukan, paham?" Tegas Lara.


Van tersentak dengan ujaran Lara barusan, karna baru kali ini Lara bicara pedas seperti itu padanya. "Iya Nona aku paham." Vander kali ini tidak bisa melawan ucapan Lara barusan.


Lara akhirnya keluar dari dalam mobil lalu menuju ke dalam Hollyfree.


**


Setibanya di dalam Lara langsung bisa menemukan gerombolan teman-teman almamaternya itu. Mereka yang tengah berdansa dan menikmati minuman datang menghampiri Lara dan mengajak gadis itu bergabung.


"Wow Lara kamu semakin cantik saja," puji salah seorang teman perempuan Lara.


"Bukankah sejak dulu dia yang paling cantik di kampus kita," sahut teman pria lainnya.


"Ya kau benar, Nona muda dari keluarga Hazel memang primadona kampus kita. Sayangnya tidak satupun pria dari kampus kita bisa menjadi pacarnya," kelakar yang lain.


Para teman-teman kampus Lara bergantian memujinya, entah niat mereka memang tulus memuji atau ada niat lain dibalik semua pujian itu. Pasalnya di masa kuliah Lara sebenarnya tidak teralalu memiliki banyak teman. Karena ia sadar banyak dari mereka yang ingin berteman dengan Lara hanya karena, melihat background keluarganya bukan karena memang ingin berteman dengan Lara.


"Jadi Lara, sekarang siapa pacarmu? Ayo beritahu kami, apa dia seorang CEO juga atau bahkan selebritis papan atas?"


"Ohaku belum punya seseorang kok," jawab Lara kikuk.


"Apa iya? Padahal kau itu sangat cantik, muda, dan kaya raya. Aku yakin sangat tidak sulit bagimu untuk mencari pria diluar sana."


Ya ampun, mereka ini kenapa sih ingin sekali tau urusan hidup orang lain, dasar penggosip! Lara sejujurnya tidak nyaman sekali dengan rudungan pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya itu.


"Teman-teman sudahlah, kalian jangan mengganggu Nona Lara dengan pertanyaan-pertanyaan konyol kalian," ujar seorang pemuda dengan segelas minuman ditangannya. Pria itu adalah Sendy, dia adalah senior beda satu angkatan dengan Lara. Sendy sejak dulu memamg menyukai Lara bahkan ia sampai mengungkapkan perasaannya, namun sayang cintanya ditolak oleh Lara.

__ADS_1


"Apa kabar Lara?" Tanya Sendy.


"Aku baik."


"Mau turun ke lantai dansa?" Sendy mengajak Lara untuk untuk bedansa namun Lara menolak dan memilih minum saja. Alhasil ia pun segera menghampiri meja bar dan memesan secangkir cocktail.


"Nona ini minuman anda," ujar bartender memberikan minuman racikannya.


Lara pun meneguk cockatail itu. Sebenarnya meskipun Lara datang ke tempat seperti ini dengan tujuan melupakan kejadian tadi pagi, nyatanya ia tetap saja kepikiran, terutama pada Vander. Lara teringat telah mengatakan hal yang cukup pedas pada pengawalnya itu saat di mobil tadi. "Apa aku tadi sudah keterlaluan bicara begitu pada Van?" Tanya Lara pada dirinya sendiri. Dirinya merasa menyesal sudah mengatakan hal yang tidak baik pada Van. Padahal selama ini Van selalu ada untuk menjaganya dan melindunginya. "Huh menyedihkan!" Pungkas Lara sambil tertawa sedih.


Saat tengah minum sendirian tiba-tiba Sendy menghampiri Lara. "Kenapa kau hanya minum sendirian dan tidak berdansa dengan yang lain?" Tanya Sendy.


"Aku tidak suka musik yang diputar oleh DJ aku lebih suka dansa klasik," tukas Lara sambil terus minum.


"Tolong buatkan lagi minuman," ujar Lara meminta bartender menuangkan minuman untuknya lagi.


"Aku tidak tau kalau kau suka minum?" Ujar Sendy.


Lara hanya tersenyum kecil dan tak menjawab. Sendy pun duduk di sebelah Lara dan mengajaknya minum bersama.


Dari tempat yang tak terlalu jauh dari tempat Lara berada,.ternyata ada Vander yang mengawasi Lara dari kejauhan. Van khawatir dengan Nonanya itu oleh karena itu ia memutuskan untuk diam-diam menjaganya karena takut ada hal buruk terjadi. Raut wajah Van saat ini terlihat tidak senang. "Siapa pria yang bersama Nona Lara, kenapa dia dari tadi terus memadangi Nona apa dia menyukai Lara?" Van benar-benar merasa tidak suka melihat pria lain mendekati Lara.


Lara tanpa sadar sudah habis dua gelas minuman, kepalanya pun mulai berat.


Sejujurnya toleransi alkohol Lara termasuk rendah, tapi karena suasana hatinya buruk tanpa sadar ia malah meminum dua gelas minumannya sampai habis. Astaga kepalaku terasa berat, sepertinya aku minum kebanyakan! Lara sudah mulai dalam pengaruh alkohol saat ini. Ia sampai memegangi kepalanya. "Aku mau ke toilet sebentar," ungkap Lara yang kemudian berdiri namun sempoyongan. Sendy pun sigap menangkap pinggang Lara agar tidak jatuh.


"Kau tidak apa-apa kan?"


"A- aku ti- tidak apa-apa Sen terima kasih. Sekarang bisalah kau lepaskan aku," pinta Lara yang memang kurang nyaman disentuh pria itu.


Tak lama, tiba-tiba saja beberapa orang pria muncul dan mendekati Lara yang kini sudah mulai mabuk.


"Wah sepertinya tuan putri kita sedang mabuk, bagaimana kalau kita antar dia ke rumah," Ujar salah satu diantara pria yang baru datang itu sambil tertawa.


Lara semakin tidak nyaman, dan tubuhnya jug mulai kurang keseimbangan. Tapi para pria itu malah terus saja mendekati dan mengganggunya.


"Aku mau pergi, kalian tolong minggir!" Tegas Lara.


"Kenapa pergi cepat-cepat, kita kan belum bersenang-senang," ucap Sendy kembali merangkul pinggang ramping gadis itu.


"Lepaskan tanganmu pria brengsek!" Pekik Lara sambil mendorong pria itu menjauhinya.

__ADS_1


"Lihat Nona Lara galak sekali, tapi kalau kau galak begitu malah jadi tambah hot!" Seru pria lain.


Lara terus mencoba menerabas pergi dari situasi. itu, tapi pria-pria itu terus menghalanginya. Satu wanita mabuk melawan empat pria, Lara tentu saja kalah.


Astaga kepalaku berkunang-kunang. Tapi aku ingin pergi dari sini! "Minggir kalian, aku mau pergi! Atau—" Lara semakin merasa pusing.


"Atau apa? Sudahlah kita bersenang-senang dulu malam ini baru nanti kau kami antar pulang,"


Van yang baru saja kembali dari toilet langsung melihat para pria itu mengganggu Lara, seketika amarahnya pun memuncak. "B*jingan kalian mau mati!"


Lara terus memberontak namun Sendy malah semakin kuat merangkulnya. "Aku bilang singkirkan tanganmu dariku dasar brengsek!"


Vander yang tengah emosi mendekati para pria yang mengaggu Lara itu, dan langsung melayangkan tinju ke wajah Sendy hingga membuat pria itu jatuh tersungkur hingga hidungnya berdarah. Semua orang pun langsung dibuat syok dan heboh.


"Vander!" Ujar Lara melihat sosok pengawalnya itu muncul. Van membuka jasnya dan langsung dipakaikan ke tubuh Lara.


"Sialan! Siapa kau, beraninya memukulku?!" Ujar Sendy tak terima.


"Kau tidak perlu tau siapa aku, yang harus kalian semua tau adalah, siapapun yang berani mengganggu apalagi menyakiti Lara seujung kuku saja maka akan aku hancurkan!"


"Cih! Pria busuk hajar dia!" Perintah Sendy menyuruh teman-temannya menghajar Van.


Van pun langsung mendorong Lara agar menjauh. Kekacauan di hollyfree pun tak terelakan lagi, Van yang tengah emosi langsung saja menghajar satu persatu para pemuda itu hingga babak belur, bahkan yang salah satunya malah hampir saja ia bunuh saat itu juga. Tapi untungnya manajer klub itu keburu datang sehingga Van tidak jadi membunuhnya.


"Apa-apaan ini! Beraninya kalian mengacau di tempatku!" Ujar sang manajer marah. "Dan kau tuan, kenapa kau menghajar para pengunjungku!"


Van menatap tajam manajer itu dengan tatapan marah hingga memuat sang manejer bergidik ngeri. Van melempar pria yang hampir dibunuhnya itu kelantai lalu menghampiri manajer klub. "Aku menghajar mereka bukan tanpa alasan. Dan untuk kerusakan fasilitasnya aku akan ganti!" Van memberikan beberapa lembar uang sekitar 10 ribu dollar. "Itu uang cash yang aku punya saat ini, sisanya aku akan kulunasi, kau tidak perlu khawatir aku pasti akan mengganti semua kerugianmu!"


"Ta- tapi kau tidak bisa begitu, ka-kau harus bayar saat ini juga," protes si manajer itu meski diselimuti rasa takut melihat sosok Van yang tampak menyeramkan.


Tiba-tiba saja Lara mendekat dan memberikan kartu namanya pada si manajer Hollyfree. "Sisanya kau bisa hubungi aku di nomor itu," ucap Lara dengan suaranya yang terdengar agak serak.


Manajer itu pun langsung dibuat kaget kala melihat kartu nama Lara yang tertera sebagai CEO Miracle.


"Oh ba-baik aku percaya padamu Nona Hazel terima kasih, aku minta maaf karena telah membuat anda tidak nyaman," ucap si manajer seketika jadi ramah. "Dan aku juga minta maaf pada Tuan, aku tidak tau kalau kau ada hubungan dengan Nona dari pimpinan Miracle."


Van masih dengan tatapan dingin dan tajam memperingatkan si manajer, "Jangan sampai ada berita soal kekacauan ini, apalagi menyeret nama Nona Lara, kalau sampai ada berita itu muncul aku pastikan kau dan tempat ini hancur jadi abu!"


"I- iya tuan, aku pastikan tidak akan ada berita seperti itu, tapi tolong jangan tatap aku begitu," balas si manajer ketakutan.


Lara yang sudah semakin hilang keseimbangan pun langsung digendong oleh Van dan dibawanya pergi dari klub itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa VOTE, LIKE, COMMENT ya...


__ADS_2