Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menjawab Tantangan


__ADS_3

Di Equestrian nampak Rey dan kedua orang tuanya, selain itu ada juga Robert, Gavin, dan Miranda yang ikut pergi untuk berkuda hari ini. Mereka semua tampak berpenampilan sporty mengenakan pakaian berkuda dipadukan dengan boots kulit yang menghiasi kaki mereka.


Sebelum menaiki kuda, Rey beserta yang lainnya terlihat mengunjungi kuda-kuda yang saat ini sedang diberi makan, termasuk salah satunya adalah Thunder, kuda andalusia milik Reynder. Pria kecil itu menghampiri kuda miliknya dan menyapanya. "Halo Thunder apa kabar? Kau sehat kan? Aku kemari ingin bermain bersamamu."


Lara yang baru pertama kali melihat langsung Thunder pun langsung datang memuji kuda milik putranya itu. "Jadi ini Thunder? Ah dia gagah dan sehat sekali!"


"Mama, aku sudah tiga kali ini berkuda, nanti kau lihat betapa kerennya aku saat berkuda ya?"


"Tentu saja, nanti mama akan rekam saat Rey berkuda."


"Lara, ayo sekarang ikut aku, kita lihat kuda-kuda milikku juga," ajak Vander yang seperti biasa tidak mau kalah cari perhatian dengan istrinya.


Lara pun mengangguk. "Rey kalau begitu mama mau lihatβ€”"


"Ah iya sudah-sudah, sana mama urus dulu bayi besar mama yang suka cari perhatian itu," ucap Rey yang sudah hafal betul tingkah Vander yang tidak mau kalah.


Sementara di sisi lain, terlihat Miranda dan Gavin yang malah saling bersitegang karena Gavin yang tidak mau naik kuda tapi dipaksa oleh istrinya.


"Mira aku tidak mau naik kuda, aku tidak suka sama mereka... Hu...!"


"Astaga, kau ini pria bukan sih! Masa naik kuda saja takut, padahal kau jago naik motor!" Seru Miranda jengkel.


"Kalau motor kan benda mati, sementara kuda itu makhluk hidup dan mereka kalau marah seram seperti dirimu..." Pungkas Gavin yang kemudian berlari kabur.


"Apa kau bilang? Awas kau ya Gavin, sini kau!"


Semua yang melihat tingkah pasangan itu pun langsung geleng-geleng dibuatnya. Termasuk Lara yang melihat drama rumah tangga Mira dan Gavin sontak dibuat tertawa geli. "Astaga... pantas saja Gavin setakut itu pada Mira, dia ternyata segalak itu dengan suaminya," ungkap Lara sambil tertawa.


"Ehem, nona Lara apa drama rumah tangga orang lain lebih menarik daripada suamimu sendiri?" bisik Vander yang tidak senang melihat istrinya lebih fokus menghiraukan hal lain dibanding dirinya.


"Iya tuan cemburuan, kau mendapatkan perhatianku."


Mereka berdua pun akhirnya mengunjungi kuda-kuda milik Vander. Disana ada tiga ekor kuda, dua jantan dan satu betina.


"Woah mereka semua kuda-kuda milikmu?" Tandas Lara kagum melihat kuda-kuda keren itu.


"Ya, aku suka menaikinya dulu kalau luang. Tapi sekarang agak jarang."


"Siapa nama mereka?"


"Namanya yang hitam itu Zeus, dan yang putih adalah Ares, sementara yang betina cantik itu namanya Aphrodith."


"Keren!" ucap Lara sambil menghampiri satu persatu kuda-kuda itu dan membelainya.


"Hai Zeus kau gagah dan tampan sekali," ucap Lara.


"Zeus itu kuda pertamaku, dan dia akan segera punya anak dengan Aphrodith," ungkap Vander.


"Oh... jadi si cantik ini sedang mengadung?" Ucap Lara membelai Aphrodith.


"Lara, kau mau naik kuda juga? Aku bisa mengajarimu."


Lara lalu tersenyum ke arah Vander, "Tidak usah, aku bisa naik kuda kok!"


Vander menaikan sebelah alisnya seolah tak percaya. "Benarkah?"


"Sure! Kau jangan remehkan istrimu ini."


"Tentu saja tidak, kalau begitu kau bisa tunggangi Ares, dia kuda yang mudah ramah dengan siapapun, larinya juga cepat."


"Oke!"


Akhirnya setelah mengenakan semua atribut berkudanya, Lara langsung menunggangi Ares dan membawanya ke arena pacuan kuda. Disana Lara terlihat menunggangi kuda dengan terampil, sampai-sampai putranya pun dibuat terpana tidak menyangka kalau sang mama ternyata pandai menunggang kuda.


"Mama keren sekali!" Seru pria kecil itu.


"Kak Lara kau sangat luar biasa!" Tandas Gavin yang juga terkesima dibuatnya.


"Memangnya kau, dasar pria payah!" Sindir Mira pada suaminya sendiri.


Semuanya tampak kagum pada Lara, tak terkecuali suaminya yang tersenyum bangga lalu memujinya. "Istriku memang hebat!"


Melihat Lara yang asyik berkuda, Rey yang meski baru belajar pun ikut menyusul ke arena pelan-pelan.


"Mama...!"


"Hai sayang, ayo kita berkuda sama-sama."


Tidak mau kalah dengan anak istrinya, Vander pun ikut masuk ke arena menunggangi Zeus yang terkenal sangat gagah. Keluarga Vander pun nampak sangat bahagia menunggang kuda bersama-sama.


"Mereka sungguh keluarga yang sangat bahagia dan ideal, kalau sampai ada yang merusak kebahagiaan mereka, aku akan jadi orang pertama yang akan marah," tandas Robert.


Dan akhirnya mereka semua ikut menunggang kuda, tak terkecuali Gavin yang terpaksa ikut belajar naik kuda karena dipaksa oleh Miranda. Canda tawa, dan kehagatan keluarga pun nampak terasa di moment tersebut. Hingga pada akhirnya suasana kekeluargaan itu terpaksa rusak karena kehadiran Emily yang tiba-tiba.


"Hai semua, aku boleh bergabung kan?"


"Untuk apa penyihir wanita itu kemari?" Gumam Miranda.


"Entah, pasti dia mau mengacau," sahut Gavin menatap sinis.


"Ada apa kau kemari?" Lara langsung menampakan raut wajah tidak senang sambil menghampiri Emily yang juga tengah menunggangi kuda.


"Oh ayolah, memangnya equestrin ini milikmu?"


"Bukan miliknya tapi jika dia mau, tempat ini bisa jadi miliknya," sahut Vander membela sang istri.


Sial! Vander kenapa kau selalu saja pasang badan buat wanita hina ini sih! "Ah tuan Vander, kita ini kan bagaimanapun partner kerja, jadi tidak masalahkan kalau aku ikut gabung?"


"Bibi kau jangan berani menganggu mamaku, ya!" Tandas Rey memperingatkan.


Ini lagi, anak sialan aku tidak suka sekali padanya! "Anak tampan kau jangan khawatir aku ini aslinya baik kok!"

__ADS_1


Lara menatap curiga pada Emily, dengan apa yang sudah Emily lakukan padanya dan putranya, tentu saja Lara tidak bisa percaya dengan wanita licik tersebut.


"Oh iya, kelihatannya nona Lara cukup mahir berkuda. Bagaimana kalau kita bertanding? Itu pun kalau nona Lara berani sih..."


Wanita ini sedang merencanakan apa? Pikir Vander yang sejak tadi terus menatap tajam ke arah Emily.


"Oke, aku terima tantanganmu!" Jawab Lara dengan yakin.


Lara kenapa dia menerimanya? Gumam Vander cemas.


"Tapi dengan syarat, kau jangan berbuat licik!"


"Tentu saja, kalau urusan berasaing aku sih sangat sportif jadi tenang saja."


Karena sudah sama-sama diputuskan, akhirnya pertandingan pun akan dilakukan nanti sekitar satu jam lagi setelah break time. Vander yang melihat Lara tengah menyiapkan bekal makanan untuk yang lain, lansung menghampirinya dengan perasaan khawatir.


"Sayang, apa kau yakin bertanding? Emily dia itu licik!"


"Aku tahu Vander, oleh sebab itu aku beri syarat dia agar tidak menjauh dari kita selama istirahat, agar dia tidak curang."


Vander masih nampak khawatir.


"Suamiku... percaya padaku, aku tidak selemah itu kok."


Vander menghela nafas. "Okey aku percaya padamu, aku juga sudah minta Fred untuk berjaga dikandang Ares."


"Thank you, sekarang kau makan dulu ya aku sudah buatkan sandwich tuna kesukaanmu."


Sebelum bertanding akhirnya mereka pun terlihat bersama-sama menyantap sandwich tuna lezat buatan Lara, termasuk Emily dan manajernya ikut makan.


"Um- sandwich ini enak sekali, kalian pesan dimana?" Tanya Emily.


"Wah suatu kehormatan makanan buatanku dipuji oleh model papan atas sekelas Emily Hasaki," sahut Lara.


Apa?! Jadi makanan ini buatannya? Sial! Aku jadi malas memakannya setelah tahu.


"Mamaku itu serba bisa, sudah cantik, pintar masak, jago menunggang kuda, penyayang lagi, pantas saja papaku tergila-gila padanya!"


"Jangan lupa, kak Lara juga pandai mendesain," imbuh Gavin.


"Lara juga pandai melukis," sahut Mira.


"Nona Lara juga sangat pandai dalam manajemen," tandas Robert.


"Dia itu terlalu sempurna, oleh karena itu aku tidak bisa berpaling darinya," ucap Vander sambil menatap Lara dengan penuh kekaguman.


Mendengarnya, Emily yang berada disana pun hampir saja emosinya meletup karena terbakar api cemburu dan rasa iri. Untungnya ada Naomi yang mengingatkannya agar tetap tenang.


Mereka semua sengaja memprovokasiku. Tapi Lara kau lihat saja, setelah ini apa kau masih bisa dipuja puji begitu?


Akhirnya pertandingan antara Lara dan Emily pun akan segera dimulai. Disana kedua wanita itu sudah bersiap diatas kuda mereka masing-masing. Lara yang menunggangi Ares pun tampak percaya diri bisa menang.


"Mama semangat! Mama pasti menang!" Seru Reynder memberi semangat.


Dan tanpa berlama-lama lagi, Fred selaku pemimpin jalannya pertndingan pun menjelaskan kalau pertandingan akan dilakukan dua kali putaran lintasan, dan yang duluan menyelesaikan putaran dialah pemenangnya.


"Baiklah, bersedia go!" Setelah tembakan dilesatkan balapanpun dimulai.


Baik Lara maupun Emily tampak sangat serius melesat menunggangi kuda mereka.


Sorakan semangat dari keluarga dan pengunjung lain pun semakin menambah seru pertandingan. Sampai saat ini Lara tampak memimpin pertandingan disusul Emily yang tidak terlalu jauh tertinggal.


Lara kau jangan senang dulu, tidak lama lagi kau akan menangis!


Diputaran kedua, posisi Lara terlihat masih memimpin. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba saja laju Ares kuda yang ditunggani Lara jadi aneh dan tak terkendali.


"Ares kau kenapa?" Ujar Lara mulai panik.


Kuda Lara itu pun semakin tak terkendali, bahkan meski Lara sudah menarik tali kudanya pun, tetap saja Ares tidak mau berhenti tenang.


Ya Tuhan kenapa ini? Lara semakin panik karena Ares semakin menggila dan mengamuk sambil berlari tanpa arah.


Melihat ada yang tidak beres pada laju kuda Lara, Vander dan semua penonton lainnya pun panik.


"Kak Vander, kuda kak Lara sepertinya bermasalah!"


"Mama...!" Teriak Rey khawatir.


"Kalian semua tunggu sini aku akan lakukan sesuatu," Vander lalu begegas pergi mengambil Zeus untuk menolong istrinya.


Sementara Lara yang semakin tak bisa mengendalikan kudanya pada akhirnya hampir terlempar, untungnya ia masih menahan dirinya dengan berpegagan pada tali pengendali. Tapi meski begitu Lara tidak bisa bertahan berpegangan lama karena tenaganya terbatas. "Sakit sekali... sepertinya aku akan terlempar," ujar Lara seolah sudah pasrah karena tangannya terasa hampir patah dan hampir mati rasa untuk bertahan. Tak lama, muncul Vander dengan menunggangi kudanya, mengulurkan tangan ke arah sang istri. "Lara raih tanganku, aku akan menarikmu!"


"Vander, aku tidak kuat lagi... Mungkin aku akan jatuh terpental."


"Bodoh, kau ini bicara apa! Cepat raih tanganku dan aku akan menyelamatkanmu!"


Lara akhirnya berusaha sekuat tenaga meraih tangan Vander. Dan sedikit lagi, akhirnya Lara bisa meraih tangah suaminya itu.


Sayangnya Lara keburu hilang tenaga alhasil jangkauan tangannya hampir lepas, untung saja Vander langsung sigap menarik tubuh istrinya sesegera mungkin sehingga Lara berhasil ia selamatkan.


"Vander tanganku sakit...." Ucap Lara yang kemudian pingsan dipeluk suaminya.


...🍁🍁🍁...


Sepulangnya dari Equestrian park, Lara yang sudah diperiksa dokter dan dibalut luka serta digips tangannya akhirnya sadar dari pingsannya. Melihatnya sudah sadar, Rey dan Vander pun langsung merasa lega.


"Mama, syukurlah mama baik-baik saja huhu... Aku takut sekali melihat mama pingsan," tangis Rey pecah saat itu juga dihadapan Lara.


"Mama baik-baik saja sayang, jangan khawatir."


"Dokter bagaimana keadaan Lara?" Tanya Vander serius.

__ADS_1


"Nyonya Lara mengalami sedikit pergeseran tulang akibat tarikan yang terlalu kuat. Tapi tenang saja, dalam seminggu pasti akan kembali membaik, sisanya hanya luka-luka kecil saja yang akan sembuh sendiri. Usahakan nona jangan melakukan hal apapun untuk seminggu ini, istirahatlah yang cukup, maka akan segera sembuh."


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama tuan Vander, kalau begitu aku pamit dulu ya tuan dan nyonya," ucap dokter yang kemudian pergi diantar keluar oleh Robert. Sementara Vander yang masih berada disana menatap istrinya lalu menghampirinya dan menatapnya dengan lembut. "Kau benar-benar membuatku khawatir Lara. Aku hampir gila rasanya melihat kau tak sadarkan diri."


"Maafkan aku, karena tidak menurut padamu," sesal Lara.


"Aku memang marah padamu, tapi aku lebih marah pada diriku karena tidak bisa menjagamu."


"Papa... Aku mau disini temani mama, bolehkan?" Pinta Rey yang terlihat masih khawatir sekali dengan mamanya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau keluar dulu menyuruh Frida buatkan sup, Rey kau jaga Lara disini."


"Iya papa."


"Vander!"


Vander menoleh balik. "Ya?"


"Sekali lagi maaf."


Vander tersenyum lalu mengecup kening istrinya. "Jangan pikirkan apapun selain dirimu saat ini, aku keluar dulu oke!"


Di ruang tengah Vander tampak sedang menelepon Fred.


Vander : Jadi apa kau sudah tau penyebab kenapa Ares bisa mengamuk begitu?


Fred : Sudah tuan, tadi aku dan tim sudah menyelidiki dan ternyata penyebab Ares mengamuk adalah karena dia keracunan makanan. Aku curiga ada orang yang sengaja mencampur makanan Ares dengan zat tertentu. Karena dokter yang menangani Ares saat ini mengatakan ada zat asing yang terkandung di pecernaannya hingga membuat kuda itu kesakitan dan tidak nyaman.


Vander : Lalu kau sudah tahu siapa orangnya?


Fred : Belum tuan, tapi aku akan segera cari tahu.


Vander : Segera cari tahu!


Fred : Baik Tuan.


"Siapapun yang berani mencelakai istriku, tidak akan aku ampuni!"


Setelah selesai menelepon tiba-tiba saja Vander melihat sebuah benda warna hitam yang menempel dibawah kaki sofa.


"Itukan?" Vander yang tampak tidak asing dengan benda itu pun langsung mengambilnya dari kaki sofa, dan menghancurkannya dengan jemari tangannya. "Siapa yang berani menaruh alat penyadap disini?!"


Dengan dana serius, Vander pun berteriak memanggil Tori dan juga Frida menghadapnya segera.


Keduan pegawai itu pun dengan segera menghadap Vander yang saat ini jelas tengah marah.


"Kalian berdua jawab aku, siapa orang asing yang masuk kesini terakhir kali?!" Tanya Vander dengan penuh penekanan.


Dan saking takutnya, Frida dan Tori malah terdiam


"Kalian tuli atau apa, jawab aku!"


"No- nona Emily Tuan!" Jawab Tori terbata-bata.


"Emily? Bagaimana bisa dia masuk kesini?" Tanya Vander lagi dengan nada marah yang membuat Tori sampai takut bicara. Namun karena takut Vander semakin marah, Tori pun berusaha cerita dengan agak terbata-bata. "Se- sebenarnya tuan, no- nona Emily..."


"Papa jangan marah pada paman Tori dan bibi Frida," ujar Rey yang tiba-tiba muncul.


"Tuan kecil?"


"Kenapa aku tidak boleh marah pada mereka yang sudah lalai?"


"Karena ini bukan salah mereka, ini salahku. Aku yang menyuruh bibi jahat itu akhirnya masuk kesini, maafkan aku huhu..." Rey menangis dan meceritakan kejadian saat itu pada papanya.


"Papa maaf karena aku sudah ceroboh, aku salah membiarkan bibi jahat itu masuk kesini," sesal Rey sambil menangis.


Vander lalu berjongkok dan mengusap lembut kepala putranya. "Sudah jangan menangis, kau memang salah tapi karena kau sudah dengan lantang berani berkata jujur, aku hargai itu. Tapi lain kaliβ€” dengarkan nasihatku dan Lara, jangan pernah biarkan orang yang bukan kenalan baik kita masuk ke rumah, kau paham?"


"Hem, paham papa."


"Anak pintar. Sekarang hapus air matamu dan kembali ke kamar jaga mama."


Rey lalu mengangguk dan kembali ke kamar Lara.


"Tuan, kami juga minta maaf karena tidak hati-hati menjaga kepercayaan tuan dan nyonya," ucap Frida.


"Aku maafkan, sekarang Frida kau buatkan istriku sup dan bawakan ke kamarnya."


"Baik Tuan."


"Dan kau Tori, kau aku tugaskan khusus jaga apartemen ini. Jika saat aku tidak ada, Emily atau siapapun selain yang ku izinkan memaksa masuk, tidak perlu segan usir saja dengan paksa.


"Baik tuan Vander."


Setelah menemukan alat menyadap ini, aku jadi semakin yakin, kecelakaan Lara ini juga ulahnya. Sepertinya betina licik itu semakin hari semakin berani saja main api denganku. Kalau begitu akan kuberitahu dia apa itu panasnya api yang sebenarnya.


...🍁🍁🍁...


Di mobil, Emily yang tengah mencoba mendengarkan percakapan di apartemen Lara lewat alat penyadapnya, tiba-tiba saja kesal dan marah-marah sendiri karena tidak terdengar suara apapun dari sana. "Apa alat ini rusak? Kenapa tidak muncul suara sama sekali sih!"


"Kau kenapa marah-marah?" Tanya Naomi.


"Alat ini bodoh, tidak keluar suara sama sekali!" Tandas Emily.


"Mungkin penyadap yang kau pasang yang rusak, atau mungkin?"


Emily langsung membelalak kaget. "Tidak, tidak mungkin alat yang aku taruh disana ketahuan. Aku sudah taruh di kaki sofa, mana mungkin ketahuan!" Elak Emily yang sebenarnya mulai ketakutan. Bagaimana kalau benar alat itu sudah diketahui keberadaannya? Dan parahnya, bagaimana kalau yang lihat alat adalah Vander?


Entah apa yang akan terjadi selajutnya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2