
Setibanya di kediaman Hazel, Lara langsung disambut oleh para pegawai di rumahnya. Mulai dari tukang kebun sampai tukang bersih-bersih halaman.
"Nona Lara apa kabar, anda?" Pungkas Pak Jah yang kebetulan juga tengah berada di kediaman Lara untuk mengecek keadaan disana. Ayah Miranda sendiri memang dipercaya sejak lama sebagai kepala pegawai di kediaman Hazel.
"Aku baik Paman, kau sendiri apa kabar?"
"Aku baik-baik saja, senang melihat Nona datang kesini lagi. Kediaman ini sungguh sepi sejak Nona memilih tinggal di apartemen," ungkap Pak Jah.
"Oh iya apa Nona datang sendiri?"
"Tidak aku datang bersama pengawalku."
"Tuan Van dimana dia?" Tanya pak Jah.
"Aku disini pak tua," ujar Van yang baru muncul.
"Apa kabarmu pak tua?"
"Aku baik, kau jadi semakin tampan saja," puji pak Jah.
Lara tampak senang melihat Van cukup akrab dengan orang-orang kepercayaannya.
Van melirik Lara yang ternyata dari tadi masih berdiri menunggunya ngobrol dengan pak Jah.
"Oh Nona maaf aku jadi membuatmu menunggu," ujar Vander merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, sudah ayo masuk ke dalam!" Ajak Lara. "Paman Jah aku masuk dulu bersama Van."
"Iya Nona!"
Van sendiri sebenarnya belum pernah masuk ke dalam area kediaman Lara yang megah ini, selama ini ia hanya masuk sampai halaman saja jadi ini pertama kalinya ia diajak masuk oleh Lara. Dari depan pintu masuk menuju ke ruangan utama, tampak ada delapan orang berseragam pelayan berjejer membungkuk memberikan penyambutan untuk Lara.
Nona Lara sungguh seperti tuan putri! Pikir Vander melihat gadis itu disambut. Van jadi merasa tidak pantas kalau berjalan di sebelahnya.
"Nona selamat datang," sambut bibi Molly kepala dapur di kediamannya.
"Hai bibi apa kabarmu?"
"Aku dan semua pelayan disini baik, kami merindukan Nona disini."
"Maaf ya aku baru kembali lagi."
"Iya Nona kami paham, oh iya ngomong-ngomong tuan ini..."
Lara melirik ke arah Vander yang berdiri disebelahnya.
"Oh iya kalian pasti belum tau. Kenalkan ini Vander dia pengawal pribadiku," ungkap Lara memperkenalkan Van kepada para pelayannya.
Van lalu meletakan tangan kanannya dada sebelah kiri dan menyapa. "Aku Vander senang bertemu kalian."
"Selamat datang tuan Vander," balas para pelayan itu.
"Oh iya bibi Molly tolong siapkan makan malam, aku mau ke ruang kerjaku dulu."
"Baik Nona Lara."
Lara pun pergi bersama Van dibelakangnya menuju ruang kerjanya di lantai dua.
Tiga orang pelayan Lara yang usianya masih sepantaran Lara terpesona dengan Vander yang tampan. Mereka pun saling berbisik membicarakan Van yang sudah pergi bersama Lara ke lantai dua.
"Kalian lihat, ya ampun tuan Van sungguh tampan sekali...!"
"Iya dia sangat tampan, kira-kira sudah punya pasangan belum ya? Aku mau mendaftar jadi pacarnya kalau belum."
"Aku juga mau kalau jadi pacarnya walau cuma sehari, tapi dibanding pengawal dia terlihat lebih seperti bos mafia yang tampan dan kaya raya."
"Dengan wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi, dia bisa jadi bintang film terkenal!"
"Tapi kalau dilihat-lihat tuan Van dan Nona Lara cocok ya?"
__ADS_1
"Iya juga sih, mereka cocok!"
"Ehem- ehem! Sudah puas bergosipnya?"
"Eh bi- bibi Molly?" Ketiga pelayan itu dibuat terkenjut.
"Maaf bibi kami..."
"Sudah-sudah! Cepat kalian semua ke dapur Nona minta disiapkan makan malam," perintah bibi Molly.
"Baik Bi," ketiga pelayan itu pun pergi ke dapur.
**
Di ruang kerjanya Van melihat banyak buku tersusun rapi menggantung di rak. "Nona ruangan ini kental dengan gaya klasik aku baru tau kau suka gaya klasik seperti ini?" Ungkap Vander.
Lara tersenyum kecil. "Sebenarnya ini ruangan ayahku, hanya saja setelah dia meninggal aku juga suka kesini. Semua buku-buku yang ada disini juga milik ayahku, aku jarang menyentuhnya."
"Begitu ya?" Vander melihat ke salah satu rak buku dan mengambil salah satu buku mekanisme pasar dunia terbitan lama."Buku ini aku pernah baca di sebuah toko barang lama!" Ungkap pria itu.
"Kau suka membaca buku seperti itu?" Lara tampak tak percaya.
"Iya kenapa memangnya?"
"Aku saja malas membaca buku itu, aku lebih suka membaca novel dan buku karya perancang terkenal seperti coco chanel, alexander mcqueen, dan Vera Wang."
"Kau sepertinya memang tidak berniat menjadi pebisnis kelas dunia seperti ayahmu ya?" Vander tiba-tiba memeluk Lara dari belakang meletakkan wajahnya atas kepala Lara dan menciumi rambutnya yang harum.
"Aku hanya tidak mau mengecewakan mendiang ayahku," tutur Lara dengan suara berdana pilu.
"Tapi Nona juga punya mimpi jadi desainer bukan?" Van teringat akan desain pakaian yang digambar Lara yang ditunjukan kepadanya beberapa waktu lalu. "Kau harus meraih cita-citamu selagi masih muda dan ada harapan," ucap Vander seraya memberi semangat Lara.
Lara memutar tubuhnya menghadap Vander dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Menatapnya dengan penuh cinta dan perhatian. "Terima kasih ya, sudah selalu ada untukku dan memberiku semangat."
"Sama-sama..." Keduanya saling menempelkan keningnya.
"Oh iya, Nona pernah bilang kan kalau masih punya kakek dan nenek yang masih hidup, dimana mereka?"
"Dan Nona sendirian sejak saat itu disini?"
"Sebenarnya aku yang memaksa kakek dan nenek untuk tinggal diluar negeri, karena aku tidak mau mereka masih harus repot memikirkanku di usia senja mereka. Aku ingin mereka fokus menghabiskan masa tua mereka tanpa memikirkan apapun, kadang aku juga masih menulis surat untuk mereka kok!" Bicara soal kakeknya Lara jadi teringat ikan yang ada di kolam taman belakang rumahnya.
Lara tiba-tiba menarik tangan Van mengajak Van pergi ke taman belakang.
"Nona kita mau kemana?"
"Sudah ikuti saja aku!"
Setibanya di taman belakanga Lara langsung mengajak Van melihat kolam ikan yang ada disana.
"Kenapa Nona mengajakku kesini?"
"Aku hanya ingin menunjukkanmu kolam ikan ini, dulu saat kecil aku sering bermain disini bersama kakek dan nenek memeberi makan ikan-ikan ini." Lara mengambil remahan roti yang memang disediakan di dekat kolam dan memberi makan ikan-ikan itu.
Wajah Lara tampak murni dan polos saat memberi makan ikan-ikan, dibawah siraman sinar rembulan wajah cantiknya terlihat jelas saat memandangnya.
Dia sangat cantik, ungkap batin Vander yang sejak tadi tak hentinya memandangi Lara.
"Oh iya malam ini dan besok, aku akan tinggal disini," ungkap Lara sambil memberi makan ikan-ikannya.
"Huh? kenapa tiba-tiba sekali?" Tanya Van kaget.
"Itu karena Jeden akan menjemputku disini besok ke pesta Karina, jadi aku putuskan malam ini aku akan tinggal disini. Aku lakukan ini karena tidak mau hubungan kita terbongkar."
Van tampak tidak senang mendengar nama Jeden. Tapi jika alasannya demi hubungan kami aku pun tidak mungkin menghalangi kan?
"Maaf ya Van memberitahumu tiba-tiba begini."
Vander mengangkat dagu Lara dan mengecup bibirnya dengan singkat.n"Tidak apa Nona, aku paham."
__ADS_1
Lara merasa lega melihat Vander bisa memahaminya. Tak lama kemudian bibi Molly tiba-tiba menghampiri Lara dan Van memberitahukan kalau makan malam sudah siap.
"Nona Lara silakan masuk makan malamnya sudah siap," ucap bibi Molly
"Baik bibi aku dan Van akan segera ke ruang makan."
Bibi molly pamit pergi.
"Van ayo kita makan malam," ajak Lara yang kemudian langsung menarik tangan Vander.
------
Setelah makan malam selesai Lara langsung mengantar Van yang akan kembali pulang ke apartemen.
"Van tunggu dulu!"
Vander yang baru saja mau membuka pintu mobilbpun jadi tidak jadi melakukannya.
"Ada apa Nona?"
Lara memberikan ciuman di pipi Vander, gadis itu lalu tersenyum dan berkata, "Van jangan tidur terlalu malam, dan jangan tidur sembarangan! Ganti spreinya jangan lupa, dan yang pasti taruh pakaian kotormu di keranjang yang benar, dan jangan lupa hari ini cuaca dingin jadi pakai piyama jangan tidur tanpa pakaian seperti biasanya."
Van tersenyum lalu mencubit gemas kedua pipi Lara yang putih merona. "Kau ini cerewet seperti ibu-ibu saja!"
"Aku ini pacarmu, bosmu yang juga merangkap jadi ibumu lebih tepatnya," gurau Lara.
"Iya, iya kau segalanya buatku, kalau begitu aku pulang dulu ya. Jangan rindu padaku," ucap Van mengusap kepala Lara lalu masuk mobil dan pergi.
**
Di dapur beberapa pelayan terlihat tengah membicarakan Van dan Lara.
"Kau lihat sendiri kan bagaimana Nona Lara dan tuan Van saling memandang di meja makan?"
"Iya aku lihat, seperti punya hubungan khusus."
"Walau tampan, tapi masa nona Lara mau sama pengawal yang statusnya bawahan begitu?"
"Siapa tau namanya juga cinta, cinta kan tidak pandang status."
"Tapi apa kata diluar sana kalau putri keluarga Hazel ternyata punya hubungan dengan pengawalnya sendiri, apa tidak mencoreng nama baik keluarga?"
"Mencoreng apa?" Ucap Lara yang entah kenapa tiba-tiba datang ke dapur.
Para pelayan itu pun langsung gelagapan dan panik melihat Lara takut pembicaraan mereka terdengar.
"Um, i- itu Nona, maksud kami... Kami takut mencoreng nama baik keluarga Hazel kalau tidak becus bekerja."
"Oh begitu! Yasudah teruskan beres-beresnya," pungkas Lara lalu pergi.
Lara menaiki tangga sambil memikirkan ucapan para pelayannya tadi. Sebenarnya ia dengar apa yang mereka bicarakan soal dirinya dan Vander. Lara jadi merasa sedih dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa mungkin aku dan Vander memang sebenarny tidak ditakdirkan bersama?
"Aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai layaknya orang lain pada umumnya."
**
Van baru saja selesai mandi, pria itu seperti biasa tidak pakai atasan setelah mandi, ia hanya mengenakan celana training panjang sementara tubuhnya yang kekar dan berotot terpampang jelas dengan selembar handuk yang digantung dilehernya. Ia mengambil sekaleng bir dan meminumnya lalu ke kamar untuk beristirahat. Melihat kasur berukuran besarnya yang hanya ada dirinya membuat Van agak terasa aneh, mengingat sejak dirinya berpacaran dengan Lara ia terbiasa berbagi ranjang dengan wanita itu.
"Kasur ini jadi terasa kosong...!" Biasanya tiap malam mau tidur Lara sudah berbaring duluan di tempat tidur sambil mengecek pekerjaannya atau sekedar bermain ponsel. Setelahnya baru mereka mengobrol sebentar sebelum tidur. Van merebahkan tubuhnya sambil mencoba memejamkan mata namun tidak bisa. "Nona biasanya akan meletakan kepalanya di dadaku sambil mengusap-usap kepalaku, dan memelukku. Kali ini dia tidak ada aku jadi agak susah tidur," keluh Vander.
"Oh iya!" Van teringat salah satu pesan Lara agar pakai baju saat tidur malam ini. Pria itu pun bergegas mengambil kaos dan memakainya.
Kalau ada Lara pasti dia yang sering menyiapkan pakaian Van, mengingat selera pakaian Vander kata Lara kurang oke.
Vander kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. "Aku tidak boleh begini, aku harus tidur!" Ujar pria itu lalu kembali memejamkan matanya.
Esok harinya...
Lara terlihat memilah-milah gaun pesta yang akan ia kenakan malam ini. Ia pun meminta Van untuk membantunya memilih gaun lewat video call.
__ADS_1
Bersambung....
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜