
"Huft, akhirnya selesai juga." Lara mengusap keringat dikeningnya setelah ia akhirnya selesai membereskan barang-barang di ruang kerjanya yang baru. Ya, sejak keputusan dirinya dilengserkan dari jabatan CEO kini Lara menempati jabatan sebagai direktur pemasaran di Miracle.
"Semangat!" Lara sudah bertekad pada dirinya sendiri, kalau dirinya akan membuktikan kepada semua orang kalau ia berada disini bukan karena privilleged semata, melainkan karena kemampuan yang memang ia miliki. Setelah menata ruangan sesuai yang ia inginkan, Lara pun duduk di kursi kerjanya yang baru dan mulai mempelajari semua dokumen dan juga job desc yang harus ia lakukan kedepannya sebagai dirut pemasaran. Dengan serius Lara mempelajari dokumen yang ada dihadapannya itu.
Tak lama kemudian ada panggilan masuk dari Jeden. Pria itu meminta Lara agar menemuinya segera di ruangannya.
"Baik tuan Jeden Lee aku akan ke ruanganmu!" Lara kemudian menutup teleponnya.
"Huft semangat Lara!" Gadis itu menyemangati dirinya tatkala ia harus bertemu Jeden yang faktanya kini menjabat sebagai atasannya.
~
Di ruangannya Jeden terlihat tengah duduk bersandar menyilangkan kakinya sambil menikmati segelas anggur yang dipegangnya. "Akhirnya ruangan ini menjadi miliku, dan sebentar lagi kau juga akan jadi milikku Lara," ucapnya dengan penuh rasa jumawa.
Ding!
Bel di ruangannya berbunyi. Jeden tau kalau itu Lara, ia pun langsung menyuruh gadis itu masuk menemuinya.
"Tuan Jeden ada apa memanggiku kemari?" Ucap Lara berdiri menghadap Jeden.
"Bagaimana harimu?" Tanya Jeden basa basi.
"Tuan jika kau hanya mau tanya itu lebih baik aku permisi, karena pekerjaanku masih banyak." Lara sendiri tau maksud Jeden sebenarnya meminta ia datang ke kesini adalah untuk mengoloknya secara halus.
Tiba-tiba pria itu bangkit dari kursinya dan menghampiri Lara mengajaknya minum anggur.
"Maaf Tuan aku tidak ada waktu minum, aku sedang kerja!" Tegas Lara.
"Oh ayolah, anggap saja kita minum untuk merayakan diriku yang sudah menjadi CEO."
Lara menatap Jeden dengan tatapan galak. "Jed aku tau sekarang posisimu lebih tinggi dariku, tapi bukan berarti kau seenaknya mempermainanku! Kalau memang tidak ada yang perlu dibicarakan aku permisi!" Lara yang sudah kesal bermaksud meninggalkan ruangan itu namun oleh Jeden tangan Lara malah ditariknya.
"Jeden lepaskan!"
"Tidak akan!" Jeden tiba-tiba menatap Lara dengan tatapan liar yang tidak biasa.
"Jeden kau mau apa sih!?" Lara menarik tubuhnya berusaha menjauhi pria itu, namun Jeden tiba-tiba malah melingkarkan tangannya dipinggang Lara dan menarik gadis itu kepelukannya.
"Jeden apa-apaan kau ini! Lepaskan aku tidak suka!" Lara mencoba melepaskan diri dari jeratan pria itu sambil terus berteriak marah. "Jeden lepaskan aku! lepaskan!"
"Berisik!" Bentak pria itu.
Lara pun jadi terkesiap kaget. Akan tetapi tak lama ia kembali memberontak dan mendorong tubuh Jeden. Namun sayang, meski tubuh dan tenaga Jeden tidak sekokoh dan sekuat Vander tetap saja tenaga pria membuat Lara kesulitan melepaskan diri darinya.
"Jeden lepaskan aku!" Lara semakin memberontak.
"Diam!" Jeden tampak emosi hingga tak sengaja dirinya melihat cincin yang melingkar dijari manis Lara. Pria itu pun seketika jadi semakin marah dan langsung mencengkeram kedua pergelangan tangan Lara lalu mendorongnya ke dinding.
"Jeden tanganku sakit!" Lara panik, tubuhnya tidak lagi bisa mundur karena terhalang dinding yang kuat. Gadis itu pun semakin ketakutan tatkala melihat tatapan mata Jeden yang sekamin liar dan dipenuhi kemarahan.
"Je- jeden kau mau apa?!"
"Cincin itu dari siapa?" Tanya Jeden di depan wajah Lara.
"Bukan urusanmu!"
"Jawab dari siapa?! Dari Vander kan?" Pekiknya keras.
"Aku bilang bukan urusanmu!" balas Lara emosi.
"Kau!" Jeden tiba-tiba saja menempelekan bibirnya di bibir Lara dengan paksa.
Tidak! Aku sudah menikah ini menjijikan! Lara yang ketakutan langsung menginjak kaki Jeden dengan keras dan mendorong pria itu sekuat mungkin lalu berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
"Arrghh! Sial!" Pekik Jeden marah.
Keluar dari ruangan Jeden Lara langsung berlari ke kamar mandi dan segera membasuh bibir dan mulutnya berkali-kali sambil menangis. "Vander maafkan aku...!" Lara menangis karena merasa bersalah seolah sudah mengkhianati suaminya meskipun itu bukan salahnya.
**
Sementara itu Vander yang kini berada di RK mengurus administrasi pembelian lahan disana tiba-tiba saja mendapati telepon dari Lara.
Van : Halo istriku ada apa?
Lara : Vander aku rindu padamu...
Van : Istriku kenapa jadi manja ya? (tertawa kecil menggoda)
Lara : Vander... Cepat kembali... (Terdengar sendu)
Van : Lara kau kenapa? Kenapa suaramu agak serak begitu? (khawatir)
Lara : Aku hanya ingin kau segera kembali.
__ADS_1
Van : Tentu saja aku akan segera kembali setelah semua urusanku selesai tunggu aku ya...
Lara : ... Aku mencintaimu Vander.
Van : Aku juga sayang...
Vander mematikan ponselnya. Dirinya jadi agak khawatir dengan Lara. "Aku harus segera selesaikan semua ini dan cepat pulang! Aku merasa khawatir dengannya," Tandas pria itu.
**
Di kafe Karina dan Jeden janjian bertemu. Disana Jeden menceritakan apa yang telah terjadi diantara dirinya dan Lara di ruangannya tadi.
Karina pun tertawa mendengarnya. "Kau bodoh Jeden, kau pikir wanita mana yang suka dipaksa? Dengan kau memaksa Lara dia akan semakin menjauhimu!"
"Aku emosi karena melihat cincin dijarinya!" Ungkap Jeden
"Apa?! Cincin?"
"Iya, Lara mengenakan cincin permata di jari manisnya dan aku tau itu pasti dari Vander sialan itu, oleh karenanya aku jadi sangat marah dan menciumnya paksa tapi Lara malah langsung menginjak kakiku dengan keras."
"Apa mungkin mereka sudah menikah?" Tebak Karina.
"Tidak mungkin, Lara dia tidak mungkin menikah dengan pria miskin begitu," ucap Jeden berusaha mengelak.
"Jeden, apa Vander masih jadi pengawal Lara?" Tanya Karina.
"Beberapa hari ini pria itu sering tidak ada di kantor entah kemana dia, yang jelas dengan jabatanku saat ini aku akan membuat dia tidak bisa lagi menginjakan kakinya lagi di Miracle."
"Good idea! Setelah itu aku akan datang dan menawari Vander pekerjaan sebagai pengawal pribadiku," tandas Karina.
**
Setelah pulang dari RK Vander segera menemui Lara di ruangannya. Setibanya Vander disana, tiba-tiba saja sang istri langsung menerjangnya dan memeluknya erat sambil berkata, "Akhirnya kau kembali, aku rindu sekali..."
"Aku pun merindukanmu," balas Vander memeluk balik tubuh sang istri yang baginya sangat rapuh itu.
Dan secara tiba-tiba Lara berinisiatif mencium bibir sang suami dengan sangat intens. Vander sendiri agak terkejut, mengingat Lara tidak pernah seintens ini padanya tiba-tiba. Wanita itu pun langsung mendorong suaminya duduk sofa dan disusul dirinya yang langsung duduk diatas pangkuan Vander dan menghadapnya.
Lara kembali mengecup dalam dan basah bibir sang suami, ia bahkan memaikan lidahnya lebih agresif dari biasanya.
Ada apa dengan Lara hari ini? Pikir Vander yang kemudian menyudahi ciuman mereka.
"Kenapa kau tidak suka aku menciumu?" Pungkas Lara.
"Bukan begitu hanya saja aku merasa kau agak berbeda," Pria itu membelai wajah sang istri dengan kedua tangannya dan menatapnya lembut. "Ada apa sebenarnya?"
"Lara cerita padaku!"
"Vander maafkan aku karena aku..." Akhirnya Lara menceritakan semua yang ia alami diruangan Jeden kepada suaminya itu. Mengetahui hal itu sontak tubuh Vander pun seoalah langsung mendidih dibuatnya.
"Vander aku minta maaf karena aku—"
"Sudahlah..." Van mengusap air mata diwajah istrinya itu dan mengatakan kalau ini bukan salahnya sama sekali.
"Kau tidak marah?" Ungkap Lara.
"Aku marah tapi bukan padamu. Istriku memang sangat cantik dan penuh pesona jadi wajar pria banyak pria tertarik, tapi aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah berani menyentuh istriku!"
"Vander aku mencintaimu," ucap Lara dan kembali mencium suaminya. Dengan tatapannya yang lembut dan polos Lara berkata, "Vander aku mau dirimu."
Pria itu menyeringai lalu menyentuh dagu sang istri. "Istriku memang paling mengerti cara meredamkan amarah suaminya. Baiklah kalau begitu tapi jangan menangis ya..."
**
Keesokan harinya, Vander yang baru saja mengantar Lara ke ruangannya melihat Jeden yang tengah berjalan di lobi bersama koleganya.
Dengan tatapan penuh amarah Vander berjalan menghampiri Jeden dan langsung meninju wajah pria itu dengan keras. Semua orang disana pun langsung kaget dan panik dibuatnya melihat Jeden jatuh tersungkur.
"Brengsek!" Jeden berdiri dan ingin balas menyerang Vander namun dengan mudah langsung dihindari oleh suami Lara itu, sebaliknya Vander malah kembali memukul Jeden. Hingga akhirnya para keamanan pun turun tangan mengehentikan keributan tersebut.
"Seret pria busuk itu!" Titah Jeden menyuruh para penjaganya membawa Jeden.
Sementara itu Miranda yang juga ada disana melihat pertikaian Vander dan Jeden pun segera menelepon Lara dan menyuruhnya ke lobi sekarang juga.
Para penjaga itu memegangi tangan Vander. Sementara Vander yang sudah ditangkap kedua penjaga malah tertawa mengejek Jeden dengan berkata, "Pria yang suka melecehkan wanita sepertimu tidak pantas jadi pemimpin! Kau itu tidak lebih dari pria menyedihkan Jeden!"
Dihina begitu Jeden pun murka dan langsung meninju wajah Vander. "Baj!ngan rendahan sepertimu tidak pantas bicara begitu padaku!" Balas Jeden.
Vander lagi-lagi tertawa mengejek, ia seperti tak merasa kesakitan sedikitpun dihantam tinju Jeden. "Hanya segitu tenagamu, kau itu pria atau bukan?!"
"Diam kau pria busuk!"
"Jeden berhenti!"
__ADS_1
Jeden ingin memukul Van lagi, namun hal itu diurungkan tatkala Lara datang.
Lara datang membela suaminya. Gadis itu minta Jeden untuk tidak memukulnya lagi. Melihat Lara membela Vander,Jeden tak terima ia pun kemudian meminta kedua keamanan itu menyeret Van keluar kantor.
"Dan sebagai pimpinan Miracle aku memutuskan kalau dia..." Menunjuk Van. "Tidak diizinkan lagi berada di kantor ini mulai besok!"
"Apa?! Ta- tapi Jeden...?"
"Maaf Lara disini kau bukan lagi pimpinannya jadi keputusanku tidak bisa diganggu gugat! Pria ini tidak lagi diizinkan menginjak kantor ini!"
Lara menoleh ke arah Vander menatap suaminya itu dengan penuh rasa berat hati. Tapi bagaimanapun kenyataannya sekarang ini Jeden memanglah yang berhak memutuskan aturan di Miracle.
"Nona Lara, kau tidak perlu bersedih meskipun aku tak bisa lagi di kantor ini, tapi aku akan selalu menjagamu dimanapun kau berada," ucap Vander tidak ingin istrinya khawatir dan sedih.
Lara pun tersenyum mengangguk paham.
Sementara Jeden yang menyaksikan Lara dan Vander saling bertatapan begitu membuatnya muak dan cemburu.
"Seret pria itu keluar sekarang!" Titah Jeden.
"Aku bisa keluar sendiri!" Ucap Vander kepada dua orang security yang menengkapnya dengan intonasinya yang terdengar mengancam. Bagi Vander, dirinya bisa saja melawan bahkan menghabisi dua security itu dengan mudah namun ia tidak melakukan itu karena tidak ingin Lara dapat masalah.
Dan akhirnya pria itu pun pergi dengan langkah tegap meninggalkan kantor Miracle sambil dilihati banyak karyawan yang ada disana ikut mengomentarinya.
Yah manusia paling tampan di Miracle sudah pergi...
Dia harus pergi karena sudah berani memukul Tuan Jeden.
Lihat tuh Nona Lara diam saja pengawal sekaligus simpanannya pergi.
Wanita itu sudah turun jabatan dia bisa apa?
**
[Di bengkel Gavin]
"Hem, jadi mulai hari ini kau tidak lagi jadi pengawalnya kak Lara?" Pungkas Gavin sambil mengelap tangannya yang baru saja cuci tangan sehabis mengganti oli.
"Aku seorang suami sekarang, aku punya harga diri sebagai seorang laki-laki, dan aku ingin menyenangkan Lara dengan usahaku sendiri. Lagipula aku yang minta Lara untuk tak lagi membayarku," ungkap Vander yang tengah berdiri bersandar dengan kedua tangan melipat di dada.
Gavin tersenyum girang. "Wah aku harus beri kak Lara penghargaan,"
"Untuk apa?" Kata Vander penasaran.
"Karena dia satu-satunya wanita eh bukan, tapi satu-satunya makhluk yang bisa membuat seorang Vander banyak berubah. Jujur, aku suka melihatmu seperti ini Kak, kau jauh terasa lebih hangat dan manusiawi," ungkap Gavin. "Eh tapi kalau kau sudah tidak jadi pengawalnya lalu siapa yang jaga Kak Lara?"
"Kau!" Ucap Vander dengan datar.
"Aku?"
"Iya, kau! Kenapa tidak mau?"
"Eh siapa bilang, aku mau kok! Aku malah senang."
"Senang mengambil kesempatan mencuri pandang pada istriku?" Tatap Vander dengan tajam.
"Bu- bukan begitu Kak mana berani aku menganggu istrimu. Senang karena aku jadi sering bisa lihat Mira," ungkapnya malu.
Vander pun tersenyum kecil mendengarnya.
"Lalu setelah tidak lagi bekerja untuk kak Lara, kau kerja apa?" Gavin penasaran.
"Aku punya rencana sendiri. Terlebih Aron memberitahuku kalau ternyata aku masih memiliki aset dan rekening pribadi saat masih di Crux yang jumlahnya cukup besar," ungkap Vander.
"Benarkah Kak?"
"Hem!" Vander yang selama ini cuek dengan keuangannya ternyata memiliki harta pribadi yang dia dapatkan saat masih di Crux dulu.
"Bagaimana kau bisa tidak tahu? Dan memang hartamu ada berapa?"
"Entahlah, dulu aku memang tidak peduli sama sekali soal keuanganku sendiri bahkan aku seringkali lupa kalau aku punya uang. Dan Aron bilang kalau dihitung semua jumlahnya bisa lebih dari lima puluh juta."
"Apa?" Gavin syok mendengarnya. "Kak Vander kau gila? Kau punya harta sebanyak itu tapi bisa-bisanya kau pernah jadi gelandangan miskin?"
Vander sendiri pun heran. Sebenarnya setelah keluar dari Crux Vander Van tidak kepikiran soal uang lagi. Yang diotaknya dulu hanya asalkan ia bisa bertahan hidup dan tidak dikekang ditempat itu lagi sudah cukup. Oleh karena itu setelah pergi dari organisasi sialan itu, Van memilih kerja serabutan dan berakhir menjadi gelandangan yang hidup dari belas kasih orang lain.
"Tapi kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga aku dulu tidak tau soal uangku."
"Eh kenapa begitu?"
"Karena kalau aku tau uangku ternyata cukup banyak dan tidak jadi gelandangan, aku tidak akan pernah bertemu dengan Lara dan menikah," ucap Vander diikuti senyum penuh rasa syukur.
"Ah kakak benar, yang disebut takdir itu memang ajaib ya?'
__ADS_1
......🌿🌿🌿......
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜