
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Lara sudah terlihat tengah membuatkan sarapan untuk dirinya dan Vander. Tiba-tiba saja ponsel Van yang ditaruhnya di atas meja makan berbunyi, sayangnya Van sedang bersih-bersih di kamar mandi, dan Lara pun mengambil ponsel tersebut untuk mengecek siapa yang menelepon.
"Siapa Aron? Apa dia juga teman Van sama seperti Gavin?" Tanya Lara. "Angkat atau tidak ya?" Ucap Lara ragu-ragu, ia ingin mengangkatnya tapi bagaimanapun ini ponsel milik Van dimana itu artinya ponsel ini adalah ranah privasi Vander.
"Angkat saja deh barangkali penting."
Lara akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya. Sayangnya baru mau diangkat, panggilan itu malah sudah mati duluan. Lara pun meletakan ponsel tersebut kembali.
Selang beberapa saat Vander yang sudah selesai berpakaian dan bersiap langsung datang ke meja makan untuk sarapan.
Lara yang sudah sejak tadi menunggu Vander pun menyuruh pengawalnya itu segera duduk untuk menikmati menu sarapan sandwich tuna buatannya.
Setelah Van duduk ia pun langsung melahap sandwich buatan Lara dengan lahap. "Ini enak sekali," puji Vander seperti biasanya. Karena bagi Van makanan buatan Lara adalah yang paling lezat.
Ditengah momen menikmati sarapan, tiba-tiba saja Lara teringat soal ponsel Van yang tadi berbunyi.
"Van, tadi ponselmu ada panggilan," pungkas Lara.
Vander seketika berhenti mengunyah dan langsung menelan makanan di mulutnya. "Dari siapa?" Tanya Vander terlihat sedikit khawatir.
"Entahlah, tapi dikontak tertulis namanya Aron. Memangnya Aron itu siapa, apa dia juga temanmu sama seperti Gavin?"
Kekhawatiran Van pun mulai tejadi. Perlahan-lahan Lara pasti akan tau sedikit demi sedikit orang-orang yang berada di circlenya. Hingga pada akhirnya masa lalu Van yang sebenarnya ingin ia sembunyikan dari Lara cepat atau lambat pasti akan diketahui juga.
"Vander kenapa malah melamun?"
"Oh iya Nona?"
"Jadi Aron itu siapa?"
"Ya dia temanku, teman lama," jelas Van sesingkat mungkin.
"Dia montir juga?"
"Bukan, dia— penjaga toko barang antik," jelas Vander.
"Oh, yasudah mari kita lanjut sarapan setelah itu berangkat." Sebenarnya aku merasa kalau Vander sedang menyembunyikan sesuatu dariku saat ini, tapi semoga itu hanya prasangkaku saja.
***
Jeden dengan langkah terburu-buru berjalan menuju ruangan Lara.
DING DONG!
"Masuk," ujar Lara dari dalam ruangannya.
Jeden pun langsung masuk ke dalam ruangan Lara dan menemuinya.
"Oh kau Jed, ada apa?" Pungkas Lara to the point.
Jeden duduk dan menghadap Lara.
"Kau mau bicara apa? Jika hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting maka lekas tinggalkan ruanganku."
"Aku datang karena ingin menanyakan soal kebakaran kemarin! Sekaligus bertanya apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Lara menatap Jeden. "Kau bisa lihat sendiri kan, aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, dan soal siapa penyebab kebakarannya?"
"Soal penyebab kebakaran semalam itu masih dalam penyelidikan polisi. Oh iya tumben sekali kau peduli soal miracle?" Ungkap Lara.
Jeden tertawa sinis. "Kau boleh tidak suka padaku Lara, tapi kau harus ingat aku ini masih pemegang saham terbesar kedua Miracle setelahmu, jadi hal wajar jika aku peduli soal perusahaanku."
Lara hanya mengangguk paham.
"Oh iya Lara aku minta padamu, lebih baik jauhi pengawalmu!"
Mendengar ucapan Jeden barusan membuat Lara tidak senang. "Apa maksud ucapanmu? Kau pikir kau siapa bisa menyuruhku menjauhi Vander?"
"Lara pengawalmu itu tidak sebaik itu, kau akan selalu dapat masalah jika dekat dengannya! Lagipula apa sih yang spesial dari gelandangan busuk itu?" Ujar Jeden mencoba menprovokasi Lara.
"Yang jelas dia bukan pria sepertimu!"
"Cih!" Jeden merasa jijik dibandingkan dengan Van. "Bahkan seujung kuku saja dia tidak ada apa-apanya dibanding aku. Dia itu miskin, rendahan dan kasar, apa yang spesial? Satu-satunya yang bisa ia banggakan hanya kekuatan fisiknya dan hobi bertarungnya. Atau— jangan-jangan kau benar-benar sudah jatuh hati pada gembel itu?"
Lara sontak menikam Jeden dengan tatapannya.
"Kenapa, apa ucapanku salah? Kalau memang kau tidak punya perasaan pada galandangan busuk itu yasudah, pecat saja dia!" Seru Jeden.
Emosi Lara kian memuncak mendengar semua ucapan buruk Jeden soal Van. Alhasil gadis itu pun bangkit dari duduknya dan meminta Jeden segera meninggalkan ruangannya.
"Kau mengusirku hanya karena ucapan jujurku tentangnya, heh! Lara Hazel sepertinya otakmu benar-benar sudah dicuci oleh gelandangan itu ya?"
"Aku bilang keluar dari ruanganku sekarang!" Ujar Lara dengan nada meninggi.
Lara buang muka tak menggubris ucapan Jeden. Hingga akhirnya Jeden pun keluar dari ruangan Lara.
**
Di dekat TKP kebakaran semalam Van tampak tengah menghubungi Aron lewat sambungan ponsel.
Aron : Van, aku baru lihat berita soal kebakaran itu—
Van : Ya, kebakaran itu memang ulah seseorang.
Aron : Lalu siapa pelakunya?
Van : Untuk itu polisi masih menyelidikinya. Tapi dibanding itu ada hal penting yang aku ingin katakan padamu.
Aron : Apa?
Van : Semalam saat kebakaran terjadi aku sempat melihat Eva, dan entah kenapa aku merasa Eva adalah orang dibalik kebakaran semalam, dia seperti sengaja melakukannya untuk menarik perhatianku.
Aron : Kau benar juga, lalu apa yang dia lakukan?
Van : Tidak ada, dia hanya menyunggingkan senyum sinis ke arahku lalu pergi.
Aron : Lalu kau tak mengejarnya?
Van : Nona Lara membutuhkanku saat itu, jadi aku tidak bisa.
Aron : Van jikalau ini semua pertanda untukmu kembali ke tempat lamamu apa kau—
__ADS_1
Van : Aku tak berpikir hingga kesana, yang terpenting buatku sekarang hanyalah Nona Lara. Dan Aron, aku minta padamu tolong suatu saat kalau kau bertemu dengan Lara, jangan ceritakan tentangku saat masih di Crux. Aku tidak mau dia—
Aron : Aku paham. Tapi Van, apa kau jatuh cinta dengannya?
Van : Soal itu bukan urusanmu. Aku meneleponmu karena aku rasa kedepannya aku akan banyak meminta bantuanmu dan Gavin.
Aron : Baiklah.
Van : Oke!
"Sepertinya aku sudah tidak mungkin lepas darinya. Aku terlanjur menjadikan Lara bagian jiwaku yang masih hidup."
Selang beberapa menit setelah Van selesai teleponan dengan Aron, tiba-tiba saja Karina meneleponnya.
"Mau apa wanita ini meneleponku?!" Tanya Vander yang kelihatan tidak terlalu senang menerima panggilan tersebut.
Van : Iya halo Nona Karina ada apa?
Karina : Van nanti siang apa kita bisa ketemuan?
Van : Untuk apa?
Karina : Aku ingin bertemu berdua denganmu, boleh kan?
Van : Nona kau tau kan aku ini—
Karina : Pengawalnya Lara? Kenapa selalu Lara Lara dan Lara. Apa hidupmu itu hanya untuk dia?!
Van : Iya.
Karina : Van aku tidak mau tau siang ini kita bertemu atau— Atau lebih baik aku batalkan saja kontrak Appletree dengan Miracle.
Van : Kau tau, aku paling benci diancam!
Karina : Aku tidak mengancam, aku hanya menggunakan kekuasaan untuk menekan. Jadi?
Van : Baiklah dimana kau mau bertemu?
Karina : Kafe Verona jam satu siang!
Van : Ok
Karina : Aku tunggu kehadiranmu tuan Vander.
Van langsung mematikan sambungan teleponnya. "Nona pasti tidak senang kalau tau aku akan bertemu Karina." Van sebenarnya juga tidak mau menemuinya, tapi ancaman Karina membuatnya terpaksa menurut.
**
Di ruangannya Lara yang sedang sibuk dengan segala tumpukan dokumen yang harus ditanda tanganintiba-tiba mendapati telepon dari kepolisian.
"Baik inspektur aku akan turun ke lobby segera," jawab Lara lalu mematikan panggilan tersebut. Tanpa banyak ucapan, Lara langsung bergegas meninggalkan ruangannya untuk menemui polisi yang sudah ada dibawah.
Polisi sudah tau siapa pelaku pembakaran gudang semalam.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜
__ADS_1