Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Uji coba langsung


__ADS_3

Di perjalanan pulang bersama suaminya, terlihat Lara tidak biasa. Sejak masuk mobil sampai sepanjang jalan wanita itu tampak diam saja, tidak seperti biasanya yang suka banyak bicara dan membahas hal-hal tidak penting. Dari tadi Lara tampak hanya bersandar di jok dan melamun sambil melihat ke arah luar kaca mobil.


Melihat istrinya begitu, Vander yang tengah menyetir mobil jadi khawatir. Apa mungkin ada hubungannya dengan berita sayang sedang ramai dibahas oleh warganet?


Tidak tahan dengan situasi seperti saat ini, Vander pun segera menghentikan laju mobilnya dan menepi.


"Eh, kenapa tiba-tiba berhenti? Apa ada yang rusak?" Tanya Lara yang seketika sadar kalau mobilnya sudah berhenti melaju.


Vander menoleh menatap sang istri dan membelai pipinya.


"Ada apa?" Tanya pria itu dengan nada penuh kelembutan. Lara tak berani menatap mata suaminya, ia tahu kalau Vander pasti sedang mengkhawatirkannya saat ini.


"Lara, jawab suamimu kalau dia bertanya."


"Aku—"


"Soal berita yang sedang ramai di media sosial itu kan?" Vander menyentuh dagu tirus istrinya dan memalingkan ke hadapannya. "Lara lihat aku, katakan apa yang membuatmu murung sejak tadi? Kalau soal berita itu kau tenang saja, aku pasti akan menyelesaikannya."


"Apa aku boleh berkata jujur padamu?" Pinta Lara.


"Tentu."


"Vander, jika aku boleh jujur. Sebagai seorang wanita yang sudah punya suami bahkan anak, aku sedih melihat berita tentangmu saat ini." Bagi Lara mendengar dan mengetahui mereka membicarakan dirinya dan sang suami dengan tuduhan dan asumsi yang bukan-bukan, membuatnya miris.


"Kalau seandainya boleh memilih, aku ingin kita hidup jadi keluarga pada umumnya saja. Meski tidak kaya raya, tapi bisa dengan bebas menunjukan rasa cinta pada keluarga kita dimanapun tanpa takut. Jujur saja aku ingin sekali mengatakan pada semua orang, kalau kau suamiku dan aku istrimu. Aku ingin semua tahu hubungan kita, tapi pada kenyataannya itu tidak mudah," ungkap Lara terdengar menyedihkan.


"Maafkan aku yang belum bisa jadi suami terbaik bagimu, dan sering membuatmu kecewa. Tapi Lara..." Vander menggengam kedua tangan Lara dan memciumnya. "Tolong percayalah, aku janji suatu saat nanti semua akan tahu kalau kita adalah suami istri. Aku janji sayang... Aku janji, jadi kumohon jangan bersedih lagi."


Lara tahu pasti bagi Vander saat ini juga sulit untuknya. Siapa di dunia ini yang ingin pernikahannya disembunyikan? Tentu saja tidak ada. Dan Lara sejujurnya agak merasa bersalah mengungkapkan hal itu pada sang suami. Tapi setidaknya ia merasa sedikit lega karena sudah mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Aku percaya padamu," ucap Lara tersenyum. "Aku yakin kau akan menepati janjimu. Dan sampai saatnya tiba, aku akan terus bersamamu apapun yang terjadi. "


Mendengar jawaban Lara, Vander merasa lega. Ia langsung memeluk sang istri dan berterima kasih karena selalu berusaha memahaminya. "Terima kasih telah mencintaiku dan menerimaku dengan tulus."


...🍁🍁🍁...


Di musim gugur yang dingin, tampak helikopter yang di tumpangi Vander dab Robert baru saja mendarat di Crux. Mengenakan luaran jas panjang warna coklat tua dan syal rajutan istrinya, pria turun itu dari helikoper diikuti Robert yang berjalan di belakangnya.


Setibanya di Mansion, Vander yang disambut anak buahnya disana langsung berjalan menuju lab milik dokter Dominic.


Di labnya Dominic terlihat sudah siap menguji coba serum penangkal buatannya. "Ah akhirnya kau datang, kau sehat tuan Vander?" ujar Dominic setibanya Vander di dalam labnya.


"Aku sehat," balas Vander sambil membuka jas dan syalnya lalu menggantungnya. "Jadi kau sudah yakin dengan penelitianmu?"


"Kenapa tanya begitu? Apa tiba-tiba kau takut melakukan uji coba ini tuan Vander?"


Vander tertawa geli. "Dominic kau tahu aku paling pantang mundur kalau sudah maju."


"Tapi Vander, sesekali kau juga perlu mundur untuk bertahan kan?"


Dominic lalu meminta Vander membuka pakaiannya. Tanpa banyak protes suami Lara itu pun langsung melepaskan pakaian yang membungkus tubuh atletisnya.


"Badanmu makin seksi saja, andai aku wanita aku mungkin sudah merebutmu dari Lara," gurau Dominic supaya tidak tegang.


Vander lalu diminta duduk di kursi khusus yang ada di lab tersebut. Sebuah kursi yang terbuat dari baja dimana di kedua sisi pegangannya, terdapat baja pengingat yang berfungsi untuk mengingat kedua pergelangan tangan, layaknya seorang kriminal kelas atas yang akan dihukum mati.


Melihat kursi baja itu mengingatkan Vander pada ingatan buruknya beberapa tahun lalu, dimana saat itu dia disiksa habis-habisan serta dijadikan kelinci percobaan oleh Gauren. Tatapannya yang dingin dengan aura kemarahan, tangannya mengepal kuat seolah menjelaskan perasaan Vander saat ini.


Dominic yang sadar hal itu, langsung menepuk pundak Vander dan berkata, "Kalau kau tidak siap jangan memaksakan diri, aku tidak mau trauma pada dirimu kembali parah."


Vander menghela nafas perlahan. "Tidak apa, aku hanya sedikit teringat kejadian itu, sudah lanjutkan saja."


"Vander kau yakin?"


"Ya, bagaimana pun ini harus berjalan. Karena kalau tidak, pria itu pasti akan semakin tak terhentikan. Obat yang dibuat kembaranmu atas perintah Gauren dulu itu harus ada serum penawarnya."


"Baik, kalau kau yakin. Tapi aku ingatkan, kemungkinan berhasilnya tujuh puluh dan sisanya kau tahu kan?"


"Lakukan saja."


Vander akhirnya duduk di kursi tersebut, sementara Dominic yang sudah siap dengan suntikannya dengan setenang mungkin menyuntikan racun yang dibuat Gauren ke tubuh Vander.


"Sudah!"


Saat ini Vander masih tampak biasa saja, karena racunnya memang belum bekerja di tubuhnya. Ia masih harus menunggu sekitar satu jam sampai racunnya bereaksi. Dirinya lalu meminta Dominic untuk mengingat tangannya karena takut, ia tidak sadarkan diri dan akan mengacaukan semuanya. Karena Vander tahu efek racun buatan Gauren itu menyerang pada saraf sadar otak, dimana mengakibatkan kewarasan bisa berangsur hilang.


"Aku masih harus menunggu beberapa jam, untuk melihat efek racun itu ditubuhmu. Baru setelahnya aku bisa mencoba serum penawar buatanku," ungkap Dominic.


"Tenang saja, kau dokternya, cukup lakukan saja apa yang memang seharusnya."


Satu jam kemudian racun itu mulai menjalar ke tubuh Vander, pria itu merasakan sakit luar biasa di tubuh dan kepalanya. Keringat dingin ditubuhnya pun mulai bercucuran, matanya berkunang-kunang dan rasanya ingin menghancurkan semua yang menghalanginya. Vander berteriak mengerang dan mengatakan dirinya haus.


Dominic yang akhirnya masuk ditemani Robert pun tampak tidak tega dengan Vander saat ini. Terutama Robert melihat tuannya hilang waras di dengan posisi terikat di kursi baja membuatnya Miris.


"Dokter, bisakah kau segera berikan penawarnya? Aku tidak tega melihat Tuan tersiksa begitu."


"Aku tahu Robert, tapi aku belum bisa. Saat ini aku masih harus menunggu reaksi lainnya lagi. Ini masih gejala awal, racun yang dibuat oleh kembaranku atas keinginan Gauren memang bertujuan untuk merusak jaringan otak manusia agar bisa dikendalikan, dengan cara ia memberikan penawar yang bisa membuat kecanduan layaknya zat adiktif psikotropika."

__ADS_1


"Tapi..."


"Robert tenanglah, aku yakin Vander mampu melewatinya. Dia pria paling gila yang pernah aku kenal, dan aku yakin saat ini dia masih separuh sadar."


Dua jam kemudian, Vander terlihat semakin tak terkendali dan mulai hilang waras. Dominic pun langsung mengambil serum penawar buatannya, dan menyuntikannya ke tubuh Vander. Meski awalnya sulit karena Vander yang terus bergerak, namun akhirnya serum itu berhasil di suntikan ke tubuhnya.


Dominic mengelap keringatnya yang bercucuran di kening sehabis menyuntikan serum ke tubuh Vander. "Setelah ini kita lihat reaksinya sekita beberapa jam. Aku berharap ini berhasil."


"Ya aku juga berharap begitu," sahut Robert.


...🍁🍁🍁...


Di kamarnya Lara yang tiba-tiba saja merindukan sang suami pun mencoba meneleponnya. Namun sayang panggilanya tak diangkat oleh sang suami.


"Vander sedang apa sih! Kenapa tidak angkat teleponku!" Keluh Lara yang sebenarnya menutupi rasa gelisahnya. Sejak tadi memang Lara merasa gelisah dan kepikiran Vander terus, alhasil ia jadi tidak tenang.


Akhirnya Lara memutuskan menghubungi Robert.


Lara : Halo Robert, mana suamiku?


Robert : Tuan, dia sedang ada pertemuan nona, ada apa?


Lara : Pertemuan apa? Tolong panggilkan, aku ingin bicara dengannya.


Robert : Maaf nona tapi tidak bisa. Begini saja, nanti kalau tuan sudah selesai dengan urusannya akan segera aku minta tuan menelepon anda.


Lara : Sungguh?


Robert : Benar nona, aku berjanji.


Lara : Baiklah kalau begitu aku tunggu.


Ia pun mengakhiri panggilnnya dengan perasaan masih setengah lega. Bagi Lara sebelum ia bisa bicara langsung dengan sang suami, dirinya belum tenang.


Tak lama pintu kamar Lara diketuk dari luar.


"Iya masuk," ucap Lara yang saat ini tengah duduk diatas ranjangnya. Saat pintu terbuka ternyata yang datang adalah putranya yang sepertinya tidak bisa tidur.


"Eh, kenapa kau belum tidur anakku? Kemarilah..." Lara mengulurkan tangannya.


"Aku kesini untuk menemani mama, soalnya papa kan sedang pergi untuk urusan di luar pulau, jadi aku mau tidur disini untuk menjaga mama dan calon adikku, boleh?"


Lara tersenyum bangga. "Tentu saja kau boleh tidur disini."


"Yey!" Rey pun segera naik ke ranjang dan berbaring disebelah mamanya.


"Adikmu masih sangat kecil dan sedang bergerak gerak diperut. Nanti kalau sudah enam bulan kau bisa merasakannya di perut mama," jelas Lara.


"Jadi masih kecil sekali ya?"


Disebelah perut Lara Rey seraya bicara pada adiknya. "Adikku tolong kau baik-baik diperut mama ya, jangan buat mama kesakitan. Karena walau mama suka cerewet dan suka melarang beli mainan, dia tetap kesayangaku."


Lara pun tertawa geli melihat tingkah Rey yang baginya sangat manis dan lucu. Seketika Lara pun bertambah bangga sekaligus terharu, karena melihat Rey kecil yang dulu ia lahirkan susah payah, kini sudah mau jadi seorang kakak. Lara kemudian membelai kepala Rey dan berkata, "Mama yakin, Rey pasti akan jadi Kakak tebaik di dunia nantinya."


Dipuji begitu Rey pun girang dan langsung memeluk sang mama sambil berkata, "Aku sayang mama..."


"Mama juga sayang Reynder."


...🍁🍁🍁...


Di lab Dominic, akhirnya tubuh Vander menunjukan reaksinya terhadap serum yang disuntikan Dominic. Pria itu mulai tenang dan bisa mengendalikan dirinya. Dominic lalu mendekati Vander untuk memastikan serumnya berhasil.


"Bagaimana kabarmu?"


"Lumayan, hanya saja masih pusing sekali saat ini," jawab Vander


"Tuan syukurlah anda sudah baik-baik saja," ujar Robert yang baru masuk ke lab dengan perasaan lega.


"Memang tadi bagaimana aku?" Tanya Vander.


"Nanti kau lihat saja lewat rekaman," jawab Dominic yang kemudian melepaskan belenggu baja di perbelangan tangan Vander, karena merasa serumnya berfungsi dan Van sudah baik-baik saja. Namun ia masih memegangi kepalanya karena masih sakit sekali rasanya.


"Oh iya tuan, tadi nona telepon. Dan aku bilang anda akan menghubunginya," jelas Robert


"Dia pasti khawatir denganku. Yasudah ambilkan ponselku!"


"Ini tuan," Robert membawakan ponsel milik Vander.


Setelah memakai kembali pakaiannya pria itu pun langsung menelepon Lara.


Lara : Akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Kau baik-baik saja kan?


Vander : Iya aku baik-baik saja, kau rindu padaku ya?


Lara : Iya, kami disini semua merindukanmu. Kau kapan kembali? Dan... Sebenarnya urusan di Crux itu apa?


Vander : Besok aku sudah kembali kok. Urusanku disini membahas hal-hal tentang pulau ini.

__ADS_1


Lara : Kau yakin?


Vander : Iya sayang, oh iya ini sudah malam kau tidurlah yang cukup.


Lara : (Menghela nafas) Baiklah...


Vander : Aku mencintaimu.


Lara : Aku juga, selamat malam.


Vander : Selamat malam.


Vander menghela nafas lega.


"Pasti Lara menanyakan apa yang sedang kau lakukan sekarang kan?"


"Begitulah..."


"Sudah kubilang sejak awal beritahu istrimu soal ini, dia juga berhak tahu," ujar Dominic


"Aku punya alasan kenapa tidak memberitahunya." Vander tidak mau Lara kepikiran dan khawatir, apalagi saat ini dia sedang hamil.


...🍁🍁🍁...


Keesokannya saat sedang rapat di kantor Lavioletta, Lara terlihat mempresentasikan idenya untuk membuat pakaian serta gaun khusus ibu hamil dengan model yang trendy. Menurutnya hal itu bisa menarik peminat pasar lebih luas lagi. Apalagi jaman sekarang para wanita hamil terutama yang bekerja di luar, pasti ingin tampil tetap trendy meski dengan perut yang sedang mengandung. Bagi Lara yang termasuk sangat peduli penampilan, bagaimana pun bentuk tubuh kita, penampilan harus tetap on point.


"Aku rasa itu juga akan menambah tingkat percaya diri para ibu hamil di luar sana yang sebagian masih berpikir, jika hamil akan membuat mereka susah untuk berpenampilan keren," jelas Lara.


"Aku setuju denga ide nona Lara," sahut salah satu staf marketing diikuti yang lainnya.


Termasuk Yuna selaku direktur desain kreatif. "Kalau begitu, ide ini akan masuk jadi agenda produk Lavioletta berikutnya. Dan Lara tolong kau serahkan beberapa contoh desain idemu ini padaku secepatnya ya, aku tunggu."


"Baik nona Yuna."


"Kalau begitu rapat hari ini selesai, silakan kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing," ucap Yuna menutup rapat hari ini.


Setelah hampir dua bulan menjadi salah satu desainer di Lavioletta, Lara merasa cukup puas dengan hasil kerjanya. Bagaimana tidak, dari lima ide desain yang ia tawarkan tiga diantaranya langsung di approved oleh pimpinan. Ditambah lagi, orang-orang yang ada disana cukup bersahabat, terutama para desainer pemula yang bekerja di bagian produksi. Banyak diantara mereka yang mengagumi Lara dan menjadikannya inspirasi.


Tentu saja disamping orang-orang yang suka padanya, ada juga yang kurang senang dengan kehadiran Lara. Dia adalah Yesi, salah satu kreatif desain juga. Dia kurang senang dan iri dengan kehadiaran Lara, karena baginya wanita itu telah membuatnya jadi tergeser eksistensinya dimata para bos. Karena rasa tak sukanya, wanita itu beberapa kali tak segan-segan berusaha menjatuhkan Lara di depan para staf lain. Dan kali ini di depan para staf produksi yang sedang mengerjakan rancangan buatan Lara.


"Wah, wah... Si anak baru yang kerja baru. dua bulan sudah berasa bos ya?" Sindir Yesi yang tiba-tiba datang ke ruang produksi.


Untungnya Lara yang sudah kebal dengan suasana toxic di lingkup kerja, memilih tak peduli ucapan tak penting Yesi dan tetap fokus mengawasi produksi. Kesal karena di abaikan, Yesi pun langsung menghampiri Lara dan memakinya saat itu juga.


"Nona Yesi anda itu bukan pegawai magang lagi, tapi kenapa tingkah anda malah seperti orang tidak profesional begitu?" Tegur Lara.


"Profesional? Hei gadis kemarin sore, dari segi apapun aku ini lebih senior darimu dan yang pasti aku lebih pengalaman bekerja disini, jadi jangan bahas profesional denganku!"


"Oh ya? Tapi aku ragu sih..."


Yesi tertawa mengejek. "Tentu saja, semua orang tahu aku ini salah satu lulusan desainer terbaik di kampus negara ini.. Sedangkan kau, apa? Paling juga modal orang dalam!"


Lara mengepalkan kedua tangannya tanda mulai emosi mendengar ucapan Yesi. Tapi bagaimanapun ia harus sabar dan jaga sikap mengingat ia baru dua bulan kerja disini.


"Aku rasa modal orang dalam tidak masalah kok, asal kau memang punya kemampuan. Bukan yang sok paling oke, tapi nol prestasi," balas Lara.


"Hahaha mencoba membela diri? Lucu sekali kau ini, jadi siapa bos yang kau ajak tidur supaya kau bisa semudah itu masuk sini?"


Lara tersenyum licik dan berbisik disebelah Yesi. "Kau tidak perlu tahu aku tidur dengan siapa. Yang jelas kalau kau macam-macam padaku, aku bisa membuatmu menyesal seumur hidup. Maka dari itu kuingatkan, jangan ganggu aku..."


"Kau- kau mengacamku?!"


"Tidak, hanya memperingati saja. Sudahlah aku tak mau buang waktu." Lara kemudian memberi semangat kepada para staf disana dan izin meninggalkan ruangan produksi. "Semuanya aku pergi dulu, semangat ya..."


"Baik nona Lara..." balas staf serempak.


"Huh! Menyebalkan sekali dia!" Gerutu Yesi tidak senang.


...🍁🍁🍁...


Lara yang baru saja duduk di ruangannya tiba-tiba mendapati telepon dari Eiji. Sejak pengakuannya dua bulan lalu, ini pertama kalinya Eiji menelepon ia lagi. Awalnya Lara ragu untuk mengangkat, tapi pada akhirnya ia angkat juga.


Lara : Ha- halo...


Eiji : Lara bisa kita ketemuan hari ini di Oliver kafe saat jam makan siang?


Lara : Boleh.


Eiji : Baiklah, kalau begitu aku tunggu dirimu di kafe Oliver.


Lara : Oke, sampai ketemu.


Setelah bicara dengan Eiji, Lara jadi agak gugup mau bertemu teman masa kecilnya itu. Ia takut kalau nanti bertemu Eiji dirinya ternyata masih marah dan belum bisa memafkannya.


...🍁🍁🍁...


TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, COMMENTNYA YA... DAN KASIH GIFT JUGA BIAR OTHOR MAKIN SEMANGAT 🙏

__ADS_1


__ADS_2