
Dari luar Robert yang baru saja masuk ke kamar tuannya untuk memberikan obat, langsung menghampiri Vander. Robert pun seketika dibuat syok dan khawatir melihat tuannya itu tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Tuan Vander anda kenapa? Tuan!" Robert yang khawatir langsung menggoncangkan tubuh Vander, namun pria itu tak menjawab. Ia justru berucap , "Aku ini sebenarnya siapa dan bagaimana? Aku, dengan wanita itu sebenarnya ada apa diantara kami?"
"Tuan apa maksud ucapan anda!" Ujar Robert yang akhirnya paham setelah dirinya melihat layar laptop yang ada di pangkuan tuannya tersebut.
"Tu- tuan ja- jadi anda— sudah tau soal?"
"Heh... He.... He... hehe..." Vandet tiba-tiba tertawa, namun tawanya itu justru terdengar sedih. Raut wajahnya pun malah sebaliknya, pria itu pun menangis sambil tertawa seolah menunjukan rasa yang tak bisa ia ungkapkan. "Ini sungguh lucu sekali! Benar-benar lucu, iya kan Robert?" Ucap Vander yang kini terlihat seperti orang linglung seolah tidak sadar akan dirinya sendiri.
"Tuan anda kenapa?" Tanya Robert semakin khawatir. Robert takut traumatic tuannya itu kambuh bersamaan dengan dirinya yang saat ini baru tahu, akan kenyataan dirinya dan Lara.
"Kenapa Robert? Hehehe... Aku tidak apa-apa, aku hanya sedang tertawa! Kenapa Robert? Kenapa kau melihatku aneh begitu? Huh..." Vander lagi-lagi mengeluarkan suara tertawa yang terdengar menyedihkan.
"Tu- tuan anda— " Bagaimana ini? Aku harus segera telepon dokter Rebecca!
Baru saja ingin menelepon dokter, Robert malah kembali dikagetkan karena melihat Vander yang seketika bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil sebuah pistol dari lacinya.
"Tu- tuan apa yang mau anda lakukan?"
Pria itu malah terlihat menyeringai dan mengokang pistol ditangannya.
"Tuan anda mau kemana?" Ujar Robert melihat tuannya yang malah mengenakan mantel hitamnya.
Sayangnya Vander tidak menjawab dan malah bergegas untuk pergi.
"Tuan tidak boleh, anda tidak boleh pergi dengan keadaan seperti ini?! Tuan!" Pekik Robert
"Berisik!" Vander menendang asistennya itu hingga terpental. "Jangan mengaturku sialan!"
Robert dengan dahi berdarah berjalan dengan tergopoh gopoh, mencoba kembali menghentikan tuannya itu. "Tu- tuan kau jangan per- gi! Tuan... Argh aghh!"
Robert memekak kesakitan kala Vander kembali menendangnya dengan lutut. "Kau itu berisik ya Robert, mau aku hajar sampai mati? Jangan buat aku marah!"
Dengan suaranya yang parau Robert mencoba menghalangi tuannya agar tidak pergi, karena ia takut Vander akan berbuat hal yang mengerikan di luar sana. Apalagi mentalnya sedang terganggu saat ini.
"Tu- tuan Van- der kumoh-on...." Robert akhirnya malah pingsan setelah Vander sekali lagi memukul bahu kirinya.
"Lebih baik memang kau tidur saja Robert!" Ucap Vander lalu pergi membawa kunci mobilnya.
Vander menuju ke mobil porsche hitamnya yang terparkir di basement, wajahnya tampak dingin dan ekspresinya tak terbaca.
"Selamat malam Tuan," ucap penjaga basement yang tampaknya ikut bergidik ngeri melihat Vander berjalan dengan sorot matanya yang dingin tak terbaca.
"Mau kemana sebenarnya tuan Vander tengah malam begini?" Ucap penjaga itu bertanya-tanya.
Vander pun menjalankan mobilnya dengan kecepeatan tinggi. Entah apa yang dirinya kini rasakan dan pikirkan? Dan kemana sebenarnya pria ini ingin pergi?
...🍁🍁🍁...
Dikamarnya, Lara yang tampak sudah terlelap tidur tiba-tiba saja mendapati ponselnya berdering. Ia yang terbangun setengah sadarpun langsung meraih ponselnya yang ada diatas meja nakas sebelah ranjangnya.
"Halo?"
.....
"Tuan Robert, ada apa?" Lara yang awalnya setengah sadar pun seketika sadar sepenuhnya setelah mendengar suara parau Robert yang seperti sedang kesakitan
No- nona, tu- tuan uhuk! dia— ugh, di- dia kabur
"Ka- kabur apa maksudmu?" Lara seketika merasa cemas. "Tuan Robert ada apa sih sebenarnya? Jangan buat aku takut!"
No- nona hati-hati!
Tut... Tut... Sambungannya tiba-tiba terputus.
"Halo, halo! Tuan Robert! Ck! Malah terputus!" Gumam Lara kesal. "Sebenarnya ada apa, Vander kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa Robert memintaku hati-hati?" Lara benar-benar merasa cemas saat ini, ia takut terjadi hal yang buruk pada suaminya. Dan beberapa saat kemudian, ponselnya pun kembali berdering, dan kali ini panggilan dari pria yang sedang ia cemaskan. Lara pun segera mengangkat telepon itu.
Lara : Halo Vander kau baik-baik saja kan!
Vander : Aku baik, sekarang kau keluarlah aku ada didepan apartemenmu.
Lara : Apa? Kau gila, ini sudah jam satu pagi loh!
Vander : Sudah cepat keluar, aku menunggumu disini oke?
__ADS_1
Vander langsung mengakhiri panggilannya.
"Menyebalakan sekali sih!" Gerutu Lara. Meski kesal, namun Lara tetap menuruti kemauan pria itu. Ia pun segera mengambil kimono hangatnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan gaun tidur tipis, setelah itu bergegas keluar untuk menemui bosnya tersebut.
Setibanya diluar, dari ujung pintu masuk kawasan apartemennya, Lara langsung bisa melihat sosok Vander yang sedang berdiri bersandar disebelah mobil mewahnya. Ia pun bergegas menghampiri pria tersebut dan bertanya kenapa jam segini tiba-tiba kemari?
Sayangnya Vander tak menjawab, ia malah tiba-tiba membelai pipi Lara sambil tersenyum aneh.
"Tuan anda kenapa?" Tanya Lara melihat Vander yang tampak agak aneh baginya."Oh iya tadi Tuan Robert meneleponku dan bilang— kalau... "
Vander tiba-tiba saja memeluk Lara dan berkata, "Diamlah, aku mau memelukmu."
Pria itu memeluk dengan sangat erat, bahkan saking eratnya, tubuh Lara yang jauh lebih kecil dari Vander langsung terasa sesak dan kesakitan.
"Van- der, lep- lepaskan, tubuhku sesak....!" Ucap Lara yang mulai susah bernafas.
Untungnya Vander segera melepaskan pelukannya. Ia pun tiba-tiba menggandeng tanga Lara dan menyuruhnya masuk ke mobil. Tentu saja Lara tidak mau langsung menurutinya, ia pun memarahi Vander dan sekali lagi bertanya ada apa sebenarnya dengan bosnya itu. Namun, Vander lagi-lagi tak mau menjawab dan malah memberikan tatapan tajam dan mengancam kepada Lara, hingga membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Lakukan saja yang aku minta, jangan sampai aku memaksamu masuk. Aku tidak mau menyakitimu!" Ucapnya dengan nada mengancam. Namun lagi-lagi Lara menolak dan marah, "Kau tidak bisa memaksaku! Atau—"
"Atau apa!" Vander tiba-tiba mengeluarkan pistolnya dan menatap Lara. "Va- vander ka- kau mau a- pa?" Ucap Lara ketakutan.
"Mau apa? Hem, kau tau aku tidak akan bisa menyakitimu, tapi kalau kau masih saja melawanku, maka jangan salahkan aku, kalau tiba-tiba saja aku memlesatkan peluru ke salah satu penghuni apartemen ini!" Ucapnya dengan nada penuh acaman.
Tidak ada pilihan, Lara akhirnya terpaksa mengikuti mau pria itu. "Baik, aku akan ikut denganmu."
"Bagus, masuklah," ucap Vander membukakan pintu.
Di perjalanan, Lara yang hanya diam saja sesekali menatap Vander dengan nanar sambil terus bertanya-tanya di dalam hati, ada apa dengan Vander saat ini? Kenapa dia tampak seperti depresi dan sedih?
"Kenapa kau menandangiku terus, setampan itukah diriku?" Ucap Vander sambil terus menyetir.
"Ya, kau selalu tampan, sayangnya saat ini kau terlihat menakutkan," ucap Lara.
Vander tertawa geli. "Menakutkan? Oh ayolah sayang, aku bukan monster kenapa kau harus takut?"
Akhirnya Vander menghentikan laju mobilnya dan menepi di sebuah pantai, ya pantai ini adalah tempat dimana dirinya dan Lara pertama kali saling menyatakan perasaan masing-masing. Lara bahkan sempat berpikir, apa mungkin Vander mulai ingat kenangan mereka dulu disini?
"Ayo!" Vander mengajak Lara keluar dari mobil dan menggandeng tangannya. Mereka berdua pun berjalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan.
Vander menoleh mengahadap Lara, menatap wanita itu dalam-dalam, dan menjawab, "Tidak, aku tidak ingat apapun!"
"Lalu kenapa kau mengajakku kesini?" ucap Lara yang Wajahnya langsung berubah sendu dan tidak mau menatap pria itu.
Vander mendongakan kepala Lara dan berbisik, "Karena aku ingin bersamamu istriku."
Mata Lara terbelalak kaget, ditambah ia merasa bingung seolah tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini, ada apa ini? Seharusnya aku senang dia mengakuiku sebagai istrinya, tapi kenapa aku merasa ini tidak benar?
"Kenapa kaget begitu, bukankah kau yang bilang agar aku ingat lebih dalam lagi soal masa lalu kita?"
Ya, harusnya aku senang mengetahui dia menyebutku istri, tapi kenapa aku tidak melihat sosok suamiku di dirinya saat ini?
Ia membelai wajah Vander dengan kedua tangannya dan bertanya, "Kau sungguh ingat aku suamiku?"
"He, he... He..." Vander tertawa. Pria itu tertawa dan terus tertawa.
Kenapa dia tertawa tapi tatapannya sedih?
"Vander kau—"
"Apa!" Pekik Vander menatap Lara sambil berlinang air mata. "Kau puas sekarang! Kau puas melihat kebodohanku sekarang Nona Lara?" Pria itu tertawa lagi.
"Kau sebenarnya kenapa Vander?" Tanya Lara yang tidak tega melihat suaminya saat ini.
Vander menangis lalu jatuh sambil memeluk Lara. "Kau tahu aku sudah mencobanya, tapi... aku tidak bisa ingat sama sekali... Aku- aku tidak ingat!" pekik pria itu sambil menangis. "Bahkan meskipun aku sudah tahu bukti-bukti itu mengatakan kalau kau istriku, tapi tetap saja aku tidak bisa ingat apapun! Aku tidak bisa ingat Lara. Dan sekarang aku takut, aku takut kau akan pergi meninggalkanku karena aku tidak bisa ingat padamu." Vander semakin erat membenamkan wajahnya kedekapan Lara. "Aku ingin bersamamu, aku ingin selalu bisa dipeluk seperti ini olehmu. Tapi aku takut kau tidak mau menerimaku karena aku tidak bisa mengingat masa lalu kita sama sekali!"
Tanpa sadar air mata Lara pun menetes tak terkendali. Mendengar pengakuan Vander seperti ini membuat dada Lara terasa sesak, dan tidak tahu harus apa. Dirinya begitu sedih, namun sisi lain ia merasa iba. Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada suamiku? Kenapa ia jadi seperti ini?
"Lara kumohon jangan tinggalkan aku, aku akan berusaha mengingatmu mengingat kenangan kita, aku akan berusaha... Aku— aku arghhh!" Vander tiba-tiba memegangi kepalanya
"Vander kau kenapa?" Lirihnya tidak tega melihat suaminya kini tampak tersiksa dan kesakitan.
"Hentikan! hentikan! hentikan baj¡ngan brengsek! Hentikan! Sudah hentikan! Aku menyerah! Jangan mengancamku lagi!" Vander terus berteriak seperti itu sambil memegangi kepalanya.
"Lara tidak sanggup lagi melihatnya ia pun langsung mendekati dan memeluk suaminya itu kedalam dekapannya dan mencoba menenangkannya. "Vander aku disini jangan takut, aku mohon tenanglah, Aku disini sayang..." Lara bisa merasakan tubuh dingin suaminya yang gemetar ketakutan. Setelah berkali-kali mencoba menenangkan suaminya, akhirnya Vander pun tampak lebih tenang. Meski tubuhnya masih gemetar namun sudah lebih tenang, pria itu kini meringkuk seperti anak kecil di dalam dipelukan Lara yang baginya menenangkan.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, aku takut...!"
"Tidak, aku akan bersamamu asalkan kau tenang, okey?" ucap Lara sambil membelai kepala Vander dengan lembut. Kini keduanya berada terdampar dipinggir pantai dimana Lara hanya bisa terduduk sambil terus memeluk Vander. Sebenarnya apa yang sudah terjadi empat tahun lalu padanya?
Setelah dirasa cukup tenang, akhirnya Vander pun seolah mulai tertidur dipangkuan istrinya. Lara pun bergegas menelepon Robert agar menjemput mereka.
"Halo tuan Robert, ini aku Lara aku bersama Vander!"
...🍁🍁🍁...
Di apartemennya, akhirnya Vander yang sudah diberikan obat penenang dan obat tidur, terlihat terlelap diatas tempat tidurnya.
Ditemani Robert dan dokter Rebecca, Lara yang ada duduk disebelah Vander yang terbaring tak berdaya hanya bisa membelai lembut kening sang suami sambil menatapnya dengan penuh rasa pilu.
"Nona Lara anda—"
"Aku mau disini, aku mau menemani suamiku," ucap Lara yang tidak mau pergi dari sisi suami tercintanya.
"Nona, kau sabar ya," ucap Rebecca menenangkan Lara. Sebagai dokter psikolog yang sejak lama menangani Vander, Rebecca paham perasaan Lara saat ini. Dirinya pasti terpukul mengetahui kondisi suaminya yang sekarang.
"Kenapa jadi begini...? Aku tidak tahu kalau dia memiliki trauma, aku- aku bahkan tidak tahu penderitaannya selama ini. Selama ini aku hanya berpikir kalau dia sudah jahat karena meninggalkan aku," ungkap Lara sambil menangis memegangi tangan Vander.
"Nona, ini bukan salah anda—," ucap Robert yang terlihat diperban bagian kepalanya akibat pukulan tuannya tadi.
"Nona Lara aku—"
"Robert...!" Rebecca memberi isyarat agar Robert tidak mengganggu Lara dulu dan membiarkannya berdua dengan suaminya.
"Kalau begitu, aku mau antar dokter Rebecca dulu," ucap Robert. Kedua orang itu pun pergi keluar meninggalkan lara dan Vander di kamar.
"Hais! Aku sungguh tidak menyangka, kalau pertemuan Vander dengan istrinya akan jadi tragis begini," ungkap Rebecca setelah meninggalkan kamar Vander.
Robert terdiam dirinya pun kini merasa bersalah karena tidak peka dan tidak mencegah hal ini. "Aku pun baru tahu kalau ternyata Nona Lara itu istrinya tuan, aku bodoh sekali tidak peka akan hal itu. Seandainya saja aku tidak menerima Nona Lara sebagai sekretarisnya waktu itu, mungkin hal tidak akan terjadi."
"Mungkin semuanya memang sudah takdirnya," sahut dokter bertubuh tinggi dengan rambut ikal berwarna hitam tersebut.
"Lalu, apa tuan Vander baik-baik saja dokter?"
"Saat ini kondisi mentalnya benar-benar tidak stabil, Vander syok dan traumanya muncul disaat bersamaan. Ditambah ia memaksakan diri untuk mengingat banyak hal yang kenyataannya sudah ia hapus dari memori otaknya. Dan bahayanya, Vander sejak lama sepertinya punya kecenderungan psikopat bawaan, yang mana aku takut kecenderungan itu bisa malah muncul akibat terlalu banyak tekanan pada mentalnya, dan itu sangat berbahaya."
"Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Untuk saat ini aku sarankan jangan tekan dia, dan pastikan dia meminum obatnya. Dan... Jangan biarkan dirinya merasa sedih atau depresi sendirian, buat dia selalu setenang dan senyaman mungkin."
"Tapi suamiku bisa sembuhkan dokter?" sambar Lara yang tiba-tiba keluar dari kamar suaminya.
"Bisa tidak dan bisa iya, semua itu tergantung bagaimana kesehatan psikis Vander kedepannya. Sepertinya aku harus bicara dengan Dominic untuk mengatasi sakitnya Vander."
"Dominic? Siapa dia?" Tanya Lara bingung.
"Dokter Dominic dia yang bertanggung jawab atas penghapusan memori diotak tuan Vander," terang Robert.
"Kalau begitu aku juga harus bertemu dia! Bagaimanapun aku istrinya Vander, aku berhak tau apa saja yang sudah terjadi pada suamiku."
"Besok pagi sekali, dokter Dominic akan kesini, Nona bisa tanyakan semua pada beliau jika mau."
Lara mengangguk paham. "Kalau begitu, malam ini aku akan tidur bersama Vander, kebetulan aku juga sudah menelepon Emika agar memberitahu anakku kalau tidak pulang hari ini."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Nona Lara, tolong kau pastikan suamimu itu meminum obatnya sesuai dosis dan waktu yang sudah aku tentukan. Karena kau adalah orang yang paling berarti buat Vander, jadi bantuanmu dalam kesembuhannya sangatlah penting."
"Aku tahu, terima kasih dokter Rebecca."
"Okey aku pulang dulu, bye!"
Setelah Rebecca pergi, Robert pun bertanya, "Nona Lara apa anda lapar? Jika iya aku akan bawakan makanan untuk anda."
"Aku tidak lapar, oh iya Robert, kau ini bukan pelayan kan? Kenapa kau selalu melayani Vander? Apa dia tidak menyewa pelayan untuknya?"
Robert pun menjelaskan kalau, Vander tidak suka orang sembarangan memasuki kamarnya. Ia selama juga ini hanya menyuruh tukang bersih-bersih yang setiap hari datang membersihkan apartemen dan melaundry pakaiannya. "Soal makan, obat-obatan dan hal yang privat lainnya, tuan hanya percaya padaku. Itu sebabnya aku adalah tangan kanannya."
Lara tersenyum singkat.."Terima kasih ya karena sudah selalu setia dan menjaga suamiku, malam ini biar aku saja yang merawatnya. Kau pergilah istirahat. Lagipula kau pasti lukamu masih sakit dan lelah kan karena sudah dihajar oleh Vander."
"Baik Nona, kalau begitu aku permisi."
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS