
Kota ZR kini situasinya siaga satu. Karena di beberapa titik area kota sudah terjadi kekacauan, bahkan aksi baku tembak antar petugas massa pun tak bisa terelakan lagi. Untungnya setelah perundingan antara Crux dan pihak polisi, keadaan perlahan mulai stabil. Orang-orang serta anak buah Gauren juga sebagian sudah ditangkap, dan dibawa ke lab milik Dominic untuk disembuhkan dari kecanduan yang merusak otak mereka karena obat Gauren.
Sementara di Proax, Gavin yang memimpin tim disana seketika menyergap tempat itu. Seolah sudah tahu akan terjadi penyerangan, markas Gauren tersebut terlihat sudah dikelilingi oleh penjaga. Dari jauh ia meneropong keadaan sekitar, disana sepi hanya ada satu orang yang keluar masuk sejak tadi disana yakni Mez, tangan kanan Gauren yang juga pria yang waktu itu memergoki Gavin.
"Dia tidak pergi sama sekali disana, lalu bagaimana kami menyergap markas itu?" Gavin harus membuat strategi. Karena bagaimanapun caranya, tempat itu harus segera disegel karena sudah terbukti menjadi tempat praktek ilegal.
"Tuan Gavin apa yang selanjutnya harus kita lakukan? Kita sudah berjam-jam mengawasi dari sini tapi tak ad pergerakan. Kalau begini caranya bisa-bisa kita yang akan lebih dulu ketahuan," ujar salah seorang anggota kepolisian.
"Tenang, aku ada rencana, maka dari itu tolong kalian dengarkan baik-baik." Gavin lalu menjelaskan rencana yang ia maksud kepada para polisi tersebut.
"Kalian paham kan? Intinya aku akan mengalihkan perhatian anak buah Gauren itu agar menjauhi markas. Dan setelah kuberi kode kalian langsung sergap tempat itu. Jelas?!"
"Jelas tuan Gavin!"
"Baik kalau begitu mari kita berjuang bersama!" Aku harus buktikan kepada kak Vander dan Miranda kalau aku bukan pria lemah yang akan selalu bergantung pada kak Vander!
...๐๐๐...
Di tempat lain Vander yang terlihat berada diatas atap Laizen Tower, terlihat tengah merokok sambil menelepon seseorang.
Vander : Halo, masih ingat suaraku tuan Gauren?
Gauren : Tentu saja, mana mungkin aku lupa suara aset kesayanganku. Dan akhirnya kau meneleponku.
Vander : Basa-basi ternyata memang sudah jadi hobimu ya?
Gauren : Aku merindukanmu, anak buahku semua payah. Bagaimana pun kau tetap yang terbaik, bahkan seribu anak buahku tak layak dibandingkan dengan kau seorang.
Vander : Terima kasih pujiannya tapi aku tidak butuh. Intinya adalah aku mau kita bertemu.
Gauren : Haha... Apa kau sudah menyerah, melihat kota ini yang sudah kena invasi dari rencanaku? Atau kau menyerah karena istrimu yang sedang hamil itu?
Vander seketika menggertakan gerahamnya mendengar Gauren menyebut-nyebut istrinya.
Vander : Lara tidak ada hubungannya dengan ini semua, jadi jangan pernah kau berani menyakitinya sujung kuku saja.
Gauren : Tenang saja, aku tidak akan berbuat buruk padanya. Dia wanita yang baik, dia juga mengingatkanku pada Anika.
Vander kembali terkejut mendengar Gauren menyebut nama ibunya.
Vander : Apa maksudmu menyebut nama ibuku?
Gauren : Kau akan tahu saat kita bertemu. Jadi siapkan saja dirimu anak muda.
Vander : Jangan menguji kesabaranku pak tua. Kau tahu watakku seperti apa kan.
Gauren : Aku tahu, oleh karena itu kau akan tahu semuanya setelah kita bertemu. Dan satu lagi, tentang Lara seharusnya yang kau waspadai bukan aku tapi...
Vander : Reki, dia anak buahmu sekarang. Kuperingatkan sekali lagi baik kau atau anak buahmu, jangan macam-macam pada istriku.
Gauren : Oke aku tak akan buat buat Vander marah. Intinya sampai jumpa besok.
Vander sejujurnya masih belum bisa tenang mengingat ia masih tidak tahu dimana istrinya berada saat ini. Ditambah lagi Eiji yang kini mecari Lara sejak kemarin belum memberinya kabar tentang pencarian Lara.
"Arrggh!"
Vander berteriak sambil membuang putung rokok dan menginjaknya. Sebenarnya Vander ingin sekali mencari Lara, tapi disisi lain ia juga harus melakukan hal lain yang juga penting. Ia hanya berharap Eiji segera menemukan istrinya "Bagaimanapun aku sudah berjanji akan menemani Lara melahirkan."
...๐๐๐...
Gavin dengan tenang berjalan mendekati markas yang dijaga ketat oleh anak buah Gauren. Baru saja mendekat ia sudah langsung dihadang oleh para penjaga yang membawa senjata api. Untungnya Gavin juga membawa pistol yang sudah berisi penuh peluru disisinya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau siapa?" Para penjaga itu mencecar Gavin.
"Tenang-tenang semuany, aku tak ingin buat keributan. Aku hanya..."
"Hanya apa?! Kau pasti penyusup kan!" Seru Mez tangan kangan Gauren yang tiba-tiba keluar dari dalam markas, pria itu dengan cepat langsung menodongkan pistol ke arah Gavin.
Sepertinya sudah tak bisa lagi menggunakan cara negosiasi. Mau tidak mau mungkin menggunakan cara kekerasan adalah jalan terbaik.
"Tadinya aku ingin bernegosiasi, tapi karena kau sepertinya lebih suka pakai kekerasan, maka aku tidak akan segan-segan lagi!" Gavin pun membalas menodongkan pistol ke arah Mez.
"Kau orangnya Vander, apa kau cari mati?"
"Bukan aku tapi kau, dasar kuman!"
Baku tembak akhirnya tak bisa terelakan, polisi yang mengawal Gavin akhirnya semuanya turun dan saling baku tembak. Dari jumlahnya anak buah Gauren cukup banyak, ditambah mereka semua dilengkapi pistol ditangan mereka. Tapi bagaimanapun keadaannya, Gavin harus masuk ke markas tersebut untuk mengambali serum inti yang di dalam.
"Tidak ada waktu lagi!" Gavin seketika memukul tangan Mez hingga pistol yang ada ditangannya terpental dan menendangnya hingga jatuh, dan momen itu pun ia gunakan untuk segera menyelinap masuk markas Gauren.
__ADS_1
Gavin masuk ke dalam secepat mungkin yang ia bisa. Didalam sana banyak lorong dan ruangan, salah satunya adalah ruangan yang hanya bersekat kaca tebal tempat Gauren mengurung orang-orang yang sudah diculiknya.
Gavin melihat orang-orang yang diculik itu seolah meminta tolong pada Gavin. Melihat mereka terkurung lama, pria itu pun akhirnya membuka segel kuncinya dari luar dan membebaskan orang-orang itu.
"Tuan terima kasih telah menolong kami," tandas orang-orang itu.
"Nanti saja terima kasihnya, sekarang kalian pergi ikuti jalur kiri, nanti disana akan ada pintu keluar, pergilah lewat sana dan kalian akan bertemu polisi yang akan membawa kalian semua pergi dari sini
"Baik!"
Setelah orang-orang itu melarikan diri, Gavin lanjut menuju lab tempat diproduksinya serum.
"Itu dia tempatnya!"
Ia langsung masuk ke dalam lab untuk mengambil cairan serum tersebut. Melihat isi lab yang baginya asing, Gavin hanya bisa mengingat apa yang dikatakan Dominic.
Ambil botol yang ada di dalam brankas karena serumnya pasti ada disana.
"Ah benar ini dia!" Gavin langsung mengambil serum itu dari brankas untuk dibawanya keluar. Sialnya saat ingin keluar, Gavin kembali harus dihadang Mez disana.
Pertarungan satu lawan satu pun akhirnya tak terelakan. Keduanya bertarung dengan sengit, dari segi kekuatan mereka imbang, tapi dari segi ketangkasan bertarung harus Gavin akui dia lebih unggul. Buktinya Gavin beberapa kali berhasil terkena pukulan Mez di wajahnya hingga memar.
Sambil bertarung melawan Mez, Gavin memutar otak, mencari cara yang paling mudah untuk menghentikan pria itu. Dan akhirnya Gavin menemukannya caranya, di lab tersebut terdapat banyak cairan kimia yang berbahaya, oleh karena itu Gavin langsung terpikir untuk mengambil cairan kimia dan menyiramkannya ke arah Mez. Entah cairan apa yang barusan Gavin siramkan ke tubuh Mez, namun sepertinya itu berhasil.
"Panas! Panas! Bajยกngan sialan!" Mez meronta kepanasan saat itu juga tersiram cairan kimia, kulitnya tampak melepuh perlahan membakar kulit wajahnya. Gavin pun menggunakan kesempatan itu untuk segera kabur dan membawa serumnya untuk diberikan ke Dominic.
...๐๐๐...
Sementara itu, Lara yang kini berada dalam tekanan Reki benar-benar dibuat stress. Ia tidak mau menikah dengan pria gila itu, tapi disisi lain Lara tidak ingin hal buruk terjadi pada anak dikandungannya.
"Aku harus kabur dari sini bagaimana pun caranya!" Lara pun kembali mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai pengganti kunci untuk ia membuka pintu. Sayangnya usahanya sia-sia, diruangan itu tak ada satupun benda yang bisa ia gunakan sebagai pengganti kunci.
"Kenapa tidak ada satupun benda yang bisa kugunakan!" Keluhnya dalam kepanikan bercampur rasa takut. Ia sungguh takut Reki akan masuk ke ruangan itu dan memaksanya melakukan semua hal yang ia tidak mau sama sekali. Lara tak menyerah, ia terus menerus mencoba membuka pintu tersebut, namun hasilnya nihil. Alhasil ia pun semakin frustasi hingga membuatnya kesal dan menangis.
"Kenapa ini semua harus terjadi padaku? Apa salahku pada mereka? Kenapa, kenapa kau belum juga datang menyelamatkan aku Vander?" Lara menangis tersedu-sedu, memikirkan nasib ia dan anak dikandungannya. "Maafkan mama sayang, maaf karena mama lemah tidak bisa membawamu segera keluar dari tempat terkutuk ini!"
KREK!
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari luar, seketika wajah Lara langsung pucat ketakutan. Karena tanpa melihat ia sudah tahu persis siapa yang datang menemuinya saat ini.
Ya Reki Helian alias Jeden, pria gila itu datang dan tersenyum seolah menunjukan kejumawaannya dihadapan Lara. Senyum itu benar-benar membuat Lara semakin bergidik ketakutan.
Reki menyentuh pipi Lara yang basah karena peluh dan air matanya. "Hei, kau berkeringat. Kenapa kau gemetaran sayangku?"
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" Bentak Lara tak sudi dipengang tangan kotor Reki.
Reki menyeringai, "Masih berani kau sombong padaku?!"
"Eghh..."
Reki mencekik leher Lara. Ia kemudian meminta anak buahnya untuk membawakannya beberapa potong tali dan menyuruh mereka mengikat tangan dan kaki Lara.
"Reki, tidak... Jangan ikat aku jangan...!" Lara memberontak, tapi sayangnya percuma saja karena tenaga kedua anak buah Reki lebih kuat darinya. Pada akhirnya Lara pasrah diikat kaki dan tangannya.
"Reki, kenapa kau jahat sekali padaku...?" Tanya Lara sambil menangis.
"Jahat? Cih, bukannya kau yang lebih dulu jahat? Kau mengabaikanku bertahun-tahun, menganggapku sampah, dan malah memilih sibusuk gelandangan itu. Kau pikir aku terima? Tidak!" Pekik Reki ditelinga Lara hingga mendengung.
"Lagipula kau pantas diikat, karena sudah berani melawanku!"
Lara terus menangis sesenggukan, ia kini tidak tahu lagi harus berbuat apa. Reki kali ini benar-benar nekat, ia sungguh sudah berubah, ia bukan lagi Jeden yang dulu. Setidaknya Jeden yang dulu tidak mungkin tega menyiksanya dengan kekerasan seperti ini.
Reki menatap Lara, dari saku jasnya ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah gunting. Lara kaget setengah mati dan bertanya-tanya, untuk apa gunting itu?
"Ka- kau mau apa Reki?"
"Mau apa? Hem... aku ingin mengajakmu bermain sedikit," ujarnya diiringi gelak tawa yang bagi Lara terdengar mengerikan.
Bermain?
"Begini, peraturannya adalahโ kau harus menjawab 'YA' semua pertanyaan yang aku tanyakan. Jika kau berkata tidak, maka gunting ini akan..." Reki meraih rambut Lara yang panjang menjuntai.
"Reki ka- kau mau menggunting rambutku?"
Reki tertawa geli. "Yap, jadi setiap kali kau menjawab 'tidak' pada pertanyaanku maka aku akan menggunting rambutmu sejengkal."
"Reki kau gila, kau sudah tidak waras! Lepaskan aku kumohon...!" Pinta Lara sambil menangis.
"Jangan menangis sayang, ini baru awal. Sekarang jawab aku. Maukah kau menikah denganku?"
__ADS_1
Lara terdiam.
"Tidak mau jawab? Tandanya bersediakah?"
"Tidak!!"
Srekk! Reki menggunting rambut Lara. "Ups... Sudah tergunting sayang...!"
Air mata Lara mengalir tak terbendung lagi.
"Sekali lagi kutanya padamu, maukah kau menikah denganku?"
"Tidak!"
Sreek!!
"Maukah aku menggugurkan bayimu?"
"Tidak!!!"
Srekk!
"Maukah kau meninggalkan Vander dan anak-anakmu?"
"Tidak!"
"Maukah kau memberikan tubuhmu, hatimu, dan jiwamu padaku?"
"Tidak, tidak, tidak, tidak!" Lara berteriak sekeras mungkin dalam isak tangisnya. Semua pertanyaan Reki, benar-benar menyiksa batin dan mental Lara secara bersamaan.
Reki tertawa geli menatap Lara, "Lihat rambut-rambutmu yang ada lantai, dan lihat rambutmy sekarang begitu pendek, bahkan hampir sama denganku. Lara... kau punya rambut panjang yang indah, tapi sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Rambutmu sudah kupotong sangat pendek, bahkan sangat pendek sampai menyerupai potongan rambut pria. Lihat dirimu kini!"
Reki tertawa mengarahkan Lara ke cermin yang ada disana.
Melihat rambut indahnya dipotong secara brutal menjadi sependek itu, Lara hanya menangis sedih, frustasi, hingga rasanya ia seperti mau gila. Dirinya seolah tak punya harga diri lagi
"Menangislah sepuasmu, itu jalan yang kau pilih. Demi suami sialanmu itu kau rela aku perlakukan begini! Iyakan Lara?!"
"Bajยกngan! Kau itu binatang Reki!"
"Diam!" Reki menampar wajah Lara dengan begitu keras hingga keluar darah dari bibirnya. Ia bahkan masih menjambak Lara dan memperingatinya. "Dengar, aku masih baik karena tak membunuhmu dan anak sialan diperutmu itu. Tapi kau dengar, jika kesabaranku habis aku tidak akan segan-segan menyiksamu sampai mati. Dengan begitu semuanya adil, baik aku dan Vander sialan itu sama-sama tidak bisa memilikimu!"
"Kau tahu Lara betapa aku mencintaimu, aku mencintaimu sampai aku hampir gila. Oleh karena itu, mari kita menikah dan membangun keluarga kita berdua."
"Tidak! Kau sama sekali tidak mencintaiku, kau hanya obsesi tehadapku. Kau itu jahat!!!"
"Berisik!" Lagi-lagi Reki mengamuk dan menampar wajah Lara dengan sekeras mungkin kemudian ia pergi. "Kau renungkan semuanya lagi! Aku pergi dulu!"
Dalam kepedihannya atas siksaan dari Reki, Lara seolah sudah putus asa. Ia rasanya ingin mati saja dibanding terus disiksa begini oleh pria bajยกngan itu. Tapi kalau aku mati bagaimana dengan anakku? Tapi aku lelah... aku tidak tahu lagi apa aku bisa bertahan.
...๐๐๐...
Di perjalanan untuk menenui Gauren, Vander mendapat telepon dari Gavin. Ia melaporkan kalau dirinya sudah berhasil mengevakuasi orang-orang yang di culik Gauren dan mengambil serum di lab dan sekarang ia sedang menuju ke labnya dokter Dominic.
Vander : Baiklah kalau begitu, segera laporkan pada komandan kepolisian.
Gavin : Baik kak!
Dengan kecepatan tinggi Vander menuju ke tempat yang ia dan Gaurens sudah janjikan untuk saling bertemu.
Sementara itu tiba-tiba saja Eiji menelepon Vander.
Vander : Halo?
Eiji : Vander, sepertinya aku sudah menemukan tempat dimana Lara disandera saat ini.
Vander : Dimana? Cepat katakan!
Eiji : Di dipinggiran kota dekat perbatasan kota, disa ada pavilium yang letaknya jauh dari jangkauan orang. Aku yakin Lara disekap disana.
Vander : Oke, kau terus awasi jangan lakukan hal mencolok. Akan segera menemuimu nanti!
Eiji : Baik!
Vander semakin mempercepat laju mobilnya menuju ke tempat yang Eiji katakan. "Lara... tunggu aku ya sayang, aku akan segera menyelamatkanmu."
...๐๐๐...
TEMAN-TEMAN BERHUBUNG CERITA INI UDAH MAU MASUK FASE MENDKATI ENDING, PLIS JANGAN LUPA DIKASIH LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR SERTA GIFTNYA BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA ๐
__ADS_1