
Di apartemen, Lara yang baru saja selesai menidurkan Reynder, langsung membuka laptopnya untuk mengecek lowongan pekerjaan. Sejujurnya Lara ingin sekali menjadi salah satu tim desainer brand pakaian Lavioletta, sebuah merek busana lokal yang produknya kini sedang sangat hits di kalangan pecinta fashion baik dalam maupun luar negeri. Salah satu alasan Lara kembali ke ZR juga adalah, ia ingin sekali bisa bekerja di markas pusat Lavioletta yang terletak di ZR. Namun saat ia melihat situs resminya, disana sama sekali tidak membuka lowongan pekerjaan.
Tentu saja Lara jadi agak kecewa, sayangnya Lara tidak bisa kecewa lama-lama mengingat ia harus segera dapat pekerjaan yang baik demi dirinya dan Rey dimasa depan. Lara yang sebelumnya CEO Mircle, sudah tidak sekaya dulu semenjak dirinya sudah mejual semua sahamnya dan pindah ke luar negeri. Kini dirinya hanyalah wanita biasa yang tengah berusaha mecari pekerjaan demi menghidupi dirinya dan anaknya.
Saat sedang mencari beberapa info lowongan kerja, tidak sengaja Lara melihat info lowongan kerja di Laizen grup sebagai sekretaris. Awalnya Lara tidak tertarik, mengingat ia inginnya bekerja di bidang yang sesuai dengan minatnya yakni design dan fashion. Namun saat Lara membaca kalau gajinya sampai 60 ribu dolar perbulan, matanya pun langsung berubah hijau.
"Wah, gajinya bahkan berkali-kali lipat gaji sekretaris pada umunnya! Sepertinya aku harus coba melamarnya, kebetulan semua persyaratan umumnya cocok denganku." Lara pun akhirnya mengirim e-mail lamaran kerja ke Laizen grup.
"Ugh akhirnya...!"
Lara meregangkan otot-ototnya setelah lelah mencari lowongan kerja, dan memutuskan pergi tidur.
...🍁🍁🍁...
Hari ini Lara dan sang putra hanya bisa sarapan sereal dengan susu saja, mengingat ia belum sempat belanja kebutuhan dapur.
Saat sedang asyik menyantap sarapan, tiba-tiba saja terdengar suara ribut-ribut dari luar. Rey yang merasa penasaran pun langsung bergegas memastikannya dengan mengintip lewat sela-sela pintu.
"Rey apa yang terjadi?" Tanya Lara yang datang menyusul.
"Itu ada bibi muda yang sedang marah-marah karena diusir. "
Apa? Lara yang ikut penasaran pun jadi ikut mengintip. Ternyata ada seorang gadis muda yang sepertinya tidak bisa bayar sewa makanya dipaksa keluar. Melihatnya, Lara jadi merasa agak kasihan pada gadis itu.
"Kasihan bibi muda itu, padahal dari wajahnya dia sepertinya tidak jahat," ujar Reynder.
"Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak bisa bayar sewa ya tidak bisa tinggal disini."
"Lihat Mama, sepertinya bibi muda itu mau pingsan!" Seru Reynder.
"Astaga, Nona!" Lara pun segera keluar dan meminta gadis itu masuk ke dalam huniannya sebelum pingsan.
Di dalam Lara membuatkan segelas susu untuk Nona muda tersebut agar tenang. Namun tiba-tiba saja gadis itu malah menangis sambil curhat kalau dirinya habis ditipu orang, sehingga uang biaya hidupnya selama setahun pun sudah terkuras. "Huhu... Aku tidak tahu lagi harus tinggal dimana?"
Mendengar keluhan gadis itu, seketika Lara punya ide bagus.
"Jadi aku sungguh boleh tinggal disini?"
"Iya!"
Lara memang mengizinkan wanita itu tinggal bersamanya, dengan catatan dirinya harus membantu pekerjaan rumah dan menjaga anakku."
__ADS_1
Kebetulan Lara memang butuh penjaga untuk Rey, mengingat dirinya harus pergi cari kerja mulai besok. Meski Rey anak yang cerdas, tapi tetap saja tidak boleh dibiarkan tinggal lama-lama sendirian dirumah.
"Tenang saja Kak, aku aku akan bantu pekerjaan rumah, dan jaga anakmu yang super tampan dan lucu ini."
Karena sudah sepakat Lara pun mengenalkan diri. "Aku Lara Hazel dan ini putraku."
"Aku Reynder, panggil saja Rey,"
"Namaku Emika, aku mahasiswi tingkat tiga. Terima kasih atas kebaikan kalian."
Keesokan harinya, Lara yang baru tau dapat e-mail balasan dari Leizen grup pun terlihat buru-buru berangkat untuk interview. Untungnya sudah ada Emika jadi Lara sedikit lebih tenang meninggalkan rumah dan putranya.
"Baiklah Rey, mama berangkat dulu, kau jangan nakal dan jangan buat masalah untuk Emika. Oke? Dan Emika aku titip anakku ya, bye!"
"Bye bye Mama..."
"Hati-hati Kak Lara...!"
...🍁🍁🍁...
Lara yang telat membaca info panggilan akhirnya harus terburu-buru menuju menara Laizen. Karena bus yang ia tunggu tak kunjung datang, akhirnya Lara memutuskan untuk berangkat naik taksi. Di dalam taksi Lara meminta supir agar melaju cepat mengingat ia tidak mau sampai membuang kesempatannya bekerja di perusahaan papan atas.
Setibanya di menara Laizen, Lara segera menuju ke ruang interview. Diruangan tersebut ada belasan wanita muda yang sepertinya juga pelamar seperti dirinya. Karena lelah, Lara pun duduk dan mengatur nafas. Dari tempatnya duduk, Lara memperhatikan para pelamar lainnya. Dari semua pelamar sepertinya hanya Lara saja yang berpakaian terlalu formal ala kantoran, sementara yang lain malah berpakaian super trendi, bahkan Lara sempat berpikir, apa dirinya salah masuk ruang interview?
Lara sungguh tidak menyangka dibuatnya, sementara wanita-wanita yang tidak masuk list itu pun sebagian merasa kesal dan tidak terima dibuatnya. Bahkan ada beberapa yang malah menatap sinis ke arahnya.
Huh! Kalau memang tidak masuk standar kriteria yang diminta perusahaan ya terima saja, jangan malah sinis pada orang lain! Gerutu Lara mendapati tatapan sinis mereka.
"Dan untuk kalian berlima yang terpilh silakan menunggu, setelah ini aku akan memanggil kalian satu-persatu," ucap Robert.
Dengan sabar Lara pun menunggu dirinya dipanggil. Dan tidak sengaja dirinya menoleh memperhatikan para pesaingnya. Entah kenapa Lara merasa aura persaiangan disini jadi semakain panas, bahkan Lara bisa melihat para wanita itu tampak saling memberikan tataapn sinis satu sama lain, termasuk pada dirinya yang bahkan kenal saja tidak dengan mereka.
Merasa bosan menunggu, akhirnya Lara pun memutuskan untuk membunuh waktu dengan mencari tahu lebih dalam tentang Leizen grup. Sejatinya Lara tau tentang Laizen, dimana Laizen sendiri adalah adalah sebuah induk perusahaan raksasa yang menaungi banyak cabang bisnis seperti fashion, mall, hotel, resort, pusat hiburan, rumah sakit, digital market dan banyak lagi. Dan fakta baru yang Lara baru tau adalah, dirinya baru sadar kalau ternyata brand Lavioletta kesukaannya juga berada dibawah lisensi Laizen grup. Hal itu membuat Lara takjub dibuatnya.
"Wah Laizen grup sangat gila, perusahaan mana yang berdiri baru sekitar empat tahun tapi bisa langsung jadi nomor satu di asia. Ini gila, aku jadi penasaran sekali seperti apa ya orang dibalik kesuksesan Laizen," ungkap Lara.
"Huh? Jadi kau melamar kesini tapi tidak tau bos dari perusahaannya? Aneh sekali," sambar wanita disebelah Lara dengan ekspresi menyebalkan.
"Aku memang tidak tahu makanya aku memperlajarinya sekarang. Lagipula paling pimpinannya usiannya tidak beda jauh dengan Tuan Robert," balas Lara.
Sontak keempat wanita itupun langsung bereaksi tidak terima.
__ADS_1
"Heh jadi kau sungguhan tidak tau? Kuberi tahu ya CEO Laizen itu masih muda, usianya masih dibawah tiga puluh lima tahun. Dia itu sangat tampan, tinggi dan pasti dia sangat keren."
"Dan dia juga punya standar tinggi pada wanita, oleh karenanya dia sangat selektif mencari sekretaris. Contohnya aku ini, aku lulusan terbaik S2 dua tahun lalu, aku masih single dan aku selalu berpenampilan modis serta—'
"Ah iya-iya, terima kasih infonya soal bos perusahaan ini, tapi maaf aku sih tidak ingin tau latar belakang anda ya Nona," balas Lara santai.
Wanita itu pun kesal dengan ucapan Lara dan malah memakinya. Untungnya Robert datang dan melihatnya, alhasil wanita itu malah langsung di coret dari daftar dan diseret keluar ruangan.
"Aku beritahu, tuan tidak suka wanita kasar dan bar-bar jadi jaga sikap kalian atau nasib kalian akan seperti wanita tadi," jelas Robert.
Lara jadi merasa ngeri sendiri, tapi kalau mundur sayang juga apalagi masuk ke tahap ini saja tergantung peruntungan. Akhirnya interview pun di mulai, satu persatu wanita itu dipanggil oleh Robert untuk wawancara kerja. Dan dua orang sudah dinyatakan gagal, kini tinggal Lara dan satu wanita bernama Lola, usianya dua puluh tujuh tahun. Dibanding yang tiga tadi, dia memang yang paling berkelas. Namun yang mengejutkan adalah, saat Lara tahu kalau wanita itu adalah general manager di perusahaannya. Sudah punya jabatan bagus malah memilih melamar jadi sekretaris yang pangkatnya biasa saja. Aneh, pikir Lara.
Akhirnya wanita tadi itupun keluar dari ruang wawancara. Ekspresi wajahnya terlihat biasa-biasa saja.
Lara jadi membatin, apa dia diterima atau malah tidak? Ah siapa peduli, yang penting aku harus jadi yang terbaik demi diriku dan anakku.
"Nona Lara Hazel!" Panggil pria bernama Robert itu.
"Baik!"
"Silakan masuk."
Lara mengatur nafas setenang mungkin lalu masuk ke ruangan Robert itu. Disana Lara duduk menghadap Robert yang tampaknya seorang yang cuku perfeksionis. Ia lalu membacakan profile CV Lara secara singkat.
"Lara Hazel, dua puluh lima tahun. Lulus kuliah dengan predikat cumlaude lima tahun lalu. Dan pengalaman kerja anda?"
"Um- aku bekerja sebagai asisten diluar negeri selama hampir empat tahun," jelas Lara.
Di CV Lara memang sengaja tidak memasukan jenjang karir sebagai CEO di portofolionya, karena ia tidak mau orang mengungkit masa lalunya lagi.
Duh kenapa jadi tegang begini ya? Pikir Lara. Dirinya yang sama sekali belum pernah merasakan interview diperusahaan jadi agak gugup saat ini. Setelah itu Robert melontarkan beberapa pertanyaan pada Lara yang harus ia jawab cepat, untungnya Lara bisa melewati itu.
Setelah selesai interview, Robert pun meminta Lara untuk datang lagi besok jam sembilan pagi.
"Eh, tu- tunggu ini maksudnya apa? Aku diterima?" Lara agak bingung dengan perkataan Robert.
"Besok Nona akan tahu, sekarang silakan anda pulang."
"Baik kalau begitu aku permisi."
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA YA, DILIKE, COMMENT, SHARE, VOTE, DAN KASIH GIFT MAKASIH💜