
Setibanya di apartemen, Vander langsung menghampiri putranya yang saat itu jelas sekali terlihat sangat sedih.
"Papa... apa mama akan baik-baik saja?" Tanya Reynder dengan mata berkaca-kaca, berusaha agar tidak menangis.
Vander langsung memeluk putranya itu berusaha menenangkannya. "Mama pasti akan baik-baik saja."
"Ta- tapi mama sekarang dimana? Aku ingin lihat mama... Huhuhu..." Air mata Rey yang tak sanggup lagi dibendung, akhirnya tumpah ruah, Rey akhirnya menangis dipelukan papanya. "Papa, kau harus temukan mama, aku mohon temukan dia... Aku mohon pa..."
Hati Vander sungguh pedih, mendengar putranya terisak memohon padanya sambil menangis.
"Aku janji, aku akan bawa Lara kembali dengan utuh dan selamat. Kau tenang ya..."
Tiba-tiba saja bibi Frida datang dengan kepala yang dililit perban. Wanita itu langsung meminta maaf kepada Vander, karena merasa dirinya telah teledor hingga menyebabkan Lara diculik.
"Tuan tolong maafkan aku, aku sungguh ceroboh... Sekali lagi maafkan aku tuan...." Frida tampak menyesal.
Meski Frida sudah diberi tanggung jawab mengawasi Lara, tapi hal semacam ini tentu saja diluar kendalinya. Ditambah Frida hanya wanita paruh baya biasa, tidak mungkin ia bisa menghandle masalah seperti ini.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Yang aku butuhkan sekarang coba kau ceritakan padaku kejadian sebelum Lara diculik."
Frida pun menceritakan krologi beberapa saat sebelum hilangnya Lara.
#Flashback on
Setelah mendapat buket bunga mawar berwarna merah jambu, yang mana tertulis pengirimnya dari Vander.
Frida pun berjalan dibelakang Lara menemani majikannya itu menuju ke taman belakang apartemen. Setibanya disana Frida melihat Lara celingak-celinguk mencari dimana Vander.
"Ah, dimana dia? Katanya aku suruh kesini?" Tandas Lara sambil terus kepalanya menengok kesana kemari mencari keberadaan suaminya. Saat itu taman memang tampak sangat sepi, Frida berpikir taman yang sepi itu memang sengaja dilakukan Vander sebagai salah satu bentuk kejutan untuk istrinya.
"Mungkin tuan sedang bersembunyi untuk mengenjutan nyonya."
"Masa sih? Kok aku tidak yakin."
"Sebaikanya kita tunggu saja sebentar nyonya," saran Frida.
Mereka akhirnya menunggu disana. Namun saat tengah menunggu, tiba-tiba saja pundak Frida dipukul dari belakang. Frida pun langsung kesakitan dan perlahan mulai hilang kesadaran. Dan saat dirinya sudah terbangun tiba-tiba ia sudah berada diatas sofa dan melihat Tori beserta Reynder yang baru saja pulang sekolah. Disaat itu juga Frida melihat Rey dengan wajah cemas menanyakan keberadaan sang mama kepadanya.
Flashback off.
"Aku hanya ingat itu tuan, maafkan aku... Aku lihat nyonya terlalu senang saat mendapati buket bunga dari tuan, makanya tidak berpikir hal lain."
"Bunga apa?" Vander heran karena sejatinya ia belum mengirimi bunga untuk Lara hari ini.
"Lalu, bunga mawar tadi dari siapa?" tandas Frida yang juga heran.
Vander bergegas ke kamarnya dan lihat ada buket bunga mawar pink yang mana ditulis kalau itu dari dirinya. Vander menghancurkan buket itu saking murkanya, saat ia sadar kalau ternyata Lara dijebak dengan menggunakan bunga yang seolah kiriman darinya padahal tidak. "Sial! Kenapa aku bisa terperdaya begini!"
Tidak lama kemudian datanglah Robert bersama dengan manajer dan para penanggung jawab keamanan di Caelestis Garden. Mereka datang datang untuk melaporkan kepada Vander kalau sejak siang tidak ada orang asing masuk, hanya ada para kurir pengantar barang dan makanan yang memang sudah biasa mengantarkan kepada penghuni apartemen.
"Lalu rekaman cctv-nya? Harusnya kalian bisa temukan rekaman Lara saat di taman kan?"
"Umβ cctv di dekat area taman ternyata sudah dalam keadaan rusak tuan, jadi tidak dapat merekam kejadian saat itu," jawab salah satu penanggung jawab.
"Dan kau tidak tahun kalau rusak? Lara kerjamu apa selama ini!" Bentak Vander.
"Maaf tu- tuan... aku teledor sekali," penanggung jawab itu ketakutan karena bersalah atas keteledorannya.
"Kau dipecat! Dan tidak ada bantahan! Ambil pesangonmu dan enyah dari sini!" Ujar Vander saat itu juga.
Karena tau sifat Vander yang tidak akan mengubah keputusannya, pria itu pun langsung menerima keputusan itu dan pergi.
"Um, tuan maaf tapi kalau tidak salah aku sempat melihat tuan Helian, pria yang baru sebulan tinggal disini. Tadi aku melihatnya berjalan menuju ke taman belakang," ungkap seorang pengawas keamanan lain.
"Kapan?"
"Tadi siang sekitar pukul dua tuan."
"Ah, aku dan nyonya juga ke taman sekitar pukul dua," sahut Frida.
Tangan mengepal geraham mengatup, Vander pun murka dibuatnya saat itu juga, Reki bajing*n sialan itu. Dugaanku benar dia pasti dibalik semua ini! "Reki pria itu sejak awal memang aku tidak suka."
"Papa! Papa kenapa? Apa mama diculik paman Rek? Papa jawab..." Rengek Reynder saat itu juga.
Tidak ingin putranya tambah khawatir, Vander meminta Frida agar membawa Rey ke kamarnya dan menenangkannya disana.
"Papa aku tidak mau masuk kamar, aku mau ikut papa mencari mama...!"
__ADS_1
"Tuan kecil, anda ikuti kata tuan ya kumohon," bujuk Tori.
"Tapi paman Tori aku mau cari mamaku huhu..."
Frida dan Tori mencoba membujuk Rey namun anak itu tetap saja bersikeras ingin ikut papanya mencari Lara. Akhirnya Vander pun turun tangan, ia memberi pengertian pada putranya tersebut dan berjanji akan menemukan mamanya secepat mungkin. "Rey, kumohon percaya padaku oke?"
"Aku percaya, tapi papa harus janji bawa kembali mama dan adikku dalam keadaan sehat."
"Aku janji."
Rey pun berhenti menangis dan menurut pada papanya. Ia pun akhirnya masuk ke kamarnya diantar Frida dan Tori.
"Tuan sekarang harus apa?"
"Geledah apartemen Reki sekarang, mungkin ada petunjuk disana."
Vander menggeledah unit apartemen Reki, disana ia sama sekali tak menemukan apapun kecuali satu hal yakni selembar kertas bertuliskan. KAU SUDAH KALAH VANDER LIUZEN!
Vander meremukan kertas itu sambil terdiam, sorot matanya yang tak terbaca seolah menyimpan ribuan emosi yang ia rasakan saat ini
"Tuan, ada apa?" Tanya Robert penasaran.
"Robert, dugaanku benar. Reki adalah Jeden yang berganti identitas."
"Apa?!"
...πππ...
Di ruang manajer dikedai kopinya, Miranda yang baru saja tahu kabar kalau Lara diculik dari suaminya pun syok. Ia tidak menyangka hal seburuk itu terjadi pada teman baiknya.
"Lalu apa Vander sudah tahu siapa penculiknya?"
"Belum, kak Vander masih mencaritahunya tapi kemungkinan besar Reki."
"Ternyata benar pria itu mencurigakan, kalau tahu aku sejak awal melarang Lara dekat dengannya."
"Dan kak Vander juga bilang, kita juga harus berhati-hati. Karena bukan tidak mungkin akan ada hal-hal yang lebih kacau lagi terjadi disekitar kita. Musuh kak Vander kali ini sangat berbahaya."
"Gavin, kau jangan menakutiku. Bicaramu itu seakan sudah tahu kalau hal buruk akan terjadi," tandas Miranda yang kini mulai risau dan cemas.
Miranda tersenyum. "Aku juga bahagia Gavin. Dan ada hal yang ingin aku katakan padamu."
"Apa itu?" Gavin penasaran.
"Akuβ"
PYARRR!
Tiba-tiba saja terdengar suara kaca pecah dari kedai. Baik Mira dan Gavin pun langsung keluar ruangan untuk memastikan kedai dan pelanggan mereka. Dan setibanya disana pelanggan semuanya sudah tampak bergemuruh ketakutan dan pani
"Ada apa ini?" Tanya Gavin pada pelayan kedainya.
"Tuan Gavin, barusan ada yang melempari kaca kedai ini dengan batu besar yang dibungkus kain bertuliskan ancaman akan menghancurkan kedai ini."
Sial! Ternyata ini maksud kak Vander aku harus jaga diri. Orang-orang Gauren pasti sudah tahu kalau akulah yang tadi memata-matai markas mereka.
"Gavin bagaimana ini?" Tanya Mira ketakutan.
"Kau tenang, sekarang juga kita harus menutup kedai dan pergi dari sini. Karena tempat ini sudah tidak aman lagi," jelas Gavin.
"Kau yakin segawat itu?"
Gavin sendiri tidak tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi yang jelas ia harus waspada. Karena bukan tidak mungkin jika hal yang lebih buruk dari lemparan batu akan terjadi.
"Mira kau percaya padaku kan?
"Iya aku percaya padamu Gavin." Angguk Mira percaya pada suaminya, ia pun kemudian meminta semua pengunjung agar segera meninggalkan kedai,dan menyuruh semua karyawannya pulang.
"Kak, ini sebenarnya ada apa?" Tanya karyawan Mira yang juga ikut was was.
"Aku minta maaf atas semuanya tapi aku harus menutup kedai ini sementara waktu demi keselematan kita semya," jelas Mira.
Para karyawan itu tampak sedih mengingat jika mereka tak bekerja di kedai ini, lalu darimana mereka akan dapat pemasukan.
"Kalian tak perlu khawatir, gaji kalian tiap minggu tetap akan kami bayarkan," imbuh Gavin.
Benarkah? Wah terima kasih tuan Gavin. Para pegawai cukup tenang setelah mendengar itu dari Gavin.
__ADS_1
Setelah menutup kedai kopinya, Mira dan Gavin pun bersiap untuk pergi. Namun sebelum pergi, Gavin bertanya kepada apa sebenarnya yang ia ingin sampaikan tadi di ruangannya.
Dengan wajah malu-malu, akhirnya Miranda pun memberi tahu suaminya kalau saat ini ia sedang hamil.
"Ap- apa kau serius?" Gavin terbata-bata seolah tidak percaya. "Aku tidak sedang mimpi kan? Awhh... Sakit!"
Mira mencubit perut suaminya seraya memberitahu kalau semua ini kenyataan. "Kau pikir aku ini suka bercanda!"
Seketika Gavin seperti kehabisan kata-kata, ia pun terharu dan langsung memeluk istrinya itu dan berjanji akan menjaganya.
"Hei kenapa kau menangis Gavin?!"
"Aku hanya senang bercampur sedih, aku senang akan jadi ayah, tapi sedih karena saat tau kau mengandung malah keadaanya tengang seperti ini."
"Tidak masalah Gavin, asalkan kau selalu bersamaku aku akan kuat."
Keduanya saling melempar senyum, kemudian bergandengan tangan bergegas masuk mobil lalu pergi.
...πππ...
Di sebuah kamar yang cukup besar, terlihat Lara yang berada tergeletak tak sadarkan diri diatas sebuah ranjang besar.
Tak lama kemudian, akhirnya Lara pun mulai tersadar. Perlahan ia membuka matanya dan langsung merasa asing dengan ruangan tempat ia berada saat ini.
"Dimana ini? Kenapa aku dibawa kesini?" Lara bangkit perlahan sambil memegangi perutnya yang membesar. Ia melihat sekeliling ruangan itu dengan perasaan tak menentu. "Yang jelas aku harus segera pergi dari sini!" Lara kemudian turun dari ranjang besar itu dan mencari cara untuk keluar. Sayangnya ruangan ini benar-benar tidak ada jendela sama sekali, hanya ada pintu dan ventilasi udara diatas. "Kalau seperti ini, bagaimana caranya aku bisa kabur?" Lara memegangi perutnya dan mengusapnya. "Sayang, kau harus kuat. Mama janji akan membawa kita keluar dari sini!"
Tidak ada cara lain, jalan satu-satunya Lara hanyalah lewat pintu ruangan yang ada. Ia memegang gangang pintu tersebut dan ternyata memang dikunci dari luar. Lara pun mencoba untuk mencari benda tipis kecil untuk bisa dimasukan ke lubang kuncinya, sayangnya saat ia mencoba untuk membuka pintu tersebut, seseorang dari luar malah membukanya.
Dengan cepat Lara langsung mundur menjauhi pintu itu. Ia juga sudah siap memegang lampu tidur sebagai alat pertahanan diri, kalau-kalau penjahat itu mau menyerangnya. Lara tampak gemetar takut, tapi meski begitu mau tak mau ia harus tetap bertahan demi anak dikandungannya. Saat ini aku tak bisa mengandalkan siapapun selain diriku sendiri.
Pintu pun terbuka dan seseorang tampak berjalan masuk.
Lara yang hampir saja mau menyerang orang itu seketika terkesiap dan dibuat syok sekaligus tak percaya, saat melihat sosok pria yang baru masuk itu menatapnya sambil menyeringai. "Hai Lara, apa tidurmu nyenyak sayang?"
"Reki?"
Ka- kau, kenapa, kenapa kau bisa ada disini?" Lara syok sampai terbata-bata dibuatnya melihat Reki saat ini.
"Aku bisa disini karena aku yang membawamu kesini."
"Apa!?" Lara sungguh tak menyangka kalau orang yang menculiknya adalah Reki, pria yang sudah ia anggap baik selama ini.
Reki tersenyum dan berjalan mendekati Lara.
"Kau mau apa, jangan mendekat! Atau kupukul kau!"
"Wah- wah, kalau marah kau jadi semakin cantik saja, aku jadi semakin suka padamu," ujarnya dengan tatapan yang bagi Lara begitu menjijikan.
"Kuperingatkan jangan mendekat, atauβ atau eugh sakit!" Reki mencengkaram kedua pergelangan tangan Lara dengan satu tangan dan menatapnya dengan sangat dekat.
"Atau apa? Mau kabur? Kau pikir kau bisa?"
"Reki, tidak kusangka kau ternyata seekor ular yang jahat! Kau penipu!" Maki Lara.
Reki tertawa geli, ia langsung memegang wajah Lara dengan kasar. "Iya aku jahat! Dan itu semua karena kau! Kau yang sudah membuatku sejauh ini paham!" Reki kesal dan mendorong Lara ke ranjang.
"Egh,a maksudmu! Apa salahku padamu huh?"
Lagi-lagi Reki tertawa lalu mendekati Lara dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. "Kau masih tanya apa salahmu? Lara kau ini benar-benar kejam."
"Kau ini bicara apa sih Reki!" Pekik Lara di hadapan pria itu.
"Kau barusan meneriakiku? Apa kau juga suka meneriaki suamimu begitu?"
Apa sebenarnya maksud pria ini?
"Reki, jika aku memang punya salah padamu tolong katakan, aku akan minta maaf padamu tapi kumohon nangan seperti ini!"
"Melepaskanmu? Jangan harap!" etelah belasan tahun aku mengejarmu. Aku tidak akan melepaskanmu apalagi membiarkanmu bahagian dengan suami gelandangan tengik yang kau pungut dulu itu!"
Gelandangan tengik? Lara seketika teringat kalimat itu, seingatnya satu-satunya orang yang suka menyebut Vander dengan sebutan gelandangan dan tahu asal pertemuan Lara dengan Vander hanyalah...
"Jeden?"
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1