Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Basah dan hangat


__ADS_3

Vander bejalan dengan langkah kaki yang hampir tak terdengar. Wajahnya samar-samar terlihat, mengingat ruangan garasi itu tidak memiliki penerangan, hanya bayangan tubuhnya saja yang nampak karena pantulan sinar ventilasi yang terbuka di garasi yang gelap, lembab dan tak terurus.


Van berjalan ke arah pria yang duduk dikursi dengan posisi tangan dan kaki terikat, serta mulutnya yang di bungkam dengan perekat. Pria itu membelalakan matanya melihat sosok Vander muncul tepat di hadapannya. Ia meronta dan hanya mengeluarkan suara seraya memohon pengampunan tanpa bisa berkata sebab mulutnya ditutup.


"Kau berharap aku akan mengasihanimu? Ck, maaf tapi aku tidak semurah hati Nona Lara," Ujar Vander dengan suaranya yang berat dan mengintimidasi.


Tanpa bisa banyak berkata-kata pria itu terus menunjukan gelagat pengampunan pada Vander.


"Apapun pembelaanmu, kau sudah membuat Nona Lara bersedih jadi..."


BUGH!


Van meninju wajah pria itu hingga tubuhnya terpelanting ke atas lantai garasi yang kotor. Pria itu kesakitan sampai-sampai air matanya keluar.


Dengan kasar Van membuka perekat di bibir pria itu hingga membuat kulit bibirnya berdarah karena tertarik.


"Arghhh..."


Rasa perih di bibir dan memar biru diwajahnya membuat pria itu mengerang kesakitan. Meskipun begitu ia tetap kembali memohon dengan berlinang air mata kepada Van.


"Tuan aku sudah mengakuinya di depan Nona Lara, tolong ampuni aku. Aku membakar gudang itu ka- karena aku butuh uang!"


Van menendang tubuh pria itu hingga tersungkur. Ia menginjakan kakinya yang beralaskan sepatu kulit yang keras diatas kepala pria itu sambil lalu mengancam, "Katakan padaku yang sebenarnya siapa orang yang telah menyuruhmu, atau aku hancurkan kepalamu!"


Pria itu ketakutan sekaligus tertekan. Bagaimana dia menceritakannya, sementara dirinya diancam oleh yang menyuruhnya dan juga Vander. Pria itu menangis dengan penuh tekanan batin mendapati dua ancaman yang mana keduanya akan berdampak pada keluarganya.


"Katakan!" Seru Vander tidak main-main.


"Ba- baik aku akan katakan tapi ja- jangan bunuh ak- aku ataupun keluargaku."


"Baik, sekarang katakan!" Ujar Vander.


Akhirnya pria itu pun jujur, ia memberitahukan kalau ternyata yang menyuruhnya adalah seorang wanita yang ia tidak tahu siapa namanya.


"Bagaimana ciri-ciri wanita itu?" Tanya Vander.


"Ak- aku ti- tidak tahu, argh sakit tuan...!" Pria itu mengerang kesakitan lagi saat Van kembali menekan kakinya ke kepala pria itu karena tidak menjawab dengan jelas.


"Ak- aku akan kata- kan t- ta- tapi tolong jangan sik-sa aku Tuan," ucapnya seraya memohon belas kasih.


Vander pun menyingkirkan kakinya dari kepala pria itu dan menyuruhnya menjelaskan.


Pria itu menjelasakan ciri-ciri wanita yang menyuruhnya. Dia menjelaskan kalau wanita itu berumur sekitar tiga puluh tahun atau kurang, memiliki postur lebih tinggi dari Nona Lara, kurus, dia berambut gelap sebahu, wajahnya cantik tapi tampak angkuh. Ia juga mengatakan kalau dirinya telah diberi seratus ribu dolar oleh wanita itu dengan syarat melakukan pembakaran itu. Mendengar ciri-ciri yang disebutkan itu Van langsung teringat Eva.


"Tidak salah lagi itu pasti dia!" Van terlihat tenang namun sorot matanya berapi-api kala menebak wanita tersebut.


"Lalu apa yang dia suruh lagi?"


"Dia hanya bilang, buat Miracle tidak tenang," ungkapnya.


"Wanita itu beraninya dia..!"


KRAK! Van yang emosi langsung menendang kursi yang ada dekatnya itu hingga hancur.


Dengan tatapannya yang bengis Van memandang rendah pria yang terkapar dilantai hampir setengah sadar tersebut. Kali ini Vander masih berusaha berbaik hati untuk tidak memecahkan tempurung kepala pria itu tapi, "Jika kau berani macam-macam lagi pada Nona Lara bukan hanya kau, tapi keluargamu juga akan menerima akibatnya!"

__ADS_1


Pria itu gemetar ketakutan mendengar ancaman Van yang terdengar jelas bukan main-main. 


"Aku berjanji Tuan...," ucap pria yang sudah hampir pingsan tersebut.


Vander yang sudah selesai dengan tujuannya pun pergi meninggalkan pria sialan itu di garasi dengan kondisi tak berdaya. Siapa yang mengira pelaku pembakaran Miracle ternyata adalah orang suruhan Eva. Sebenarnya apa maumu Eva! Ujar Van dibalut emosinya.


Melihat Vander keluar Gavin langsung bertanya, "Kak Van kau sudah—"


Vander langsung menatap Gavin dengan tatapan tajam bak elang yang mau menikam mangsanya. Tentu saja itu membuat Gavin bergidik ngeri dan jadi tidak berani bertanya lebih.


"Kau urus orang itu, bawa dia ke rumah sakit! Dan suruh dia enyah dari kota ini bersama keluarganya!"


"Jadi kakak tidak membunuhnya?" Tanya Gavin seolah tak percaya seorang Vander mengampuni orang lain.


Van tak mau menjawab ia hanya memberikan tatapan tajam dan penuh intimidasi ke arah Gavin.


"... I- iya iya akan aku lakukan.."


"Aku pergi dulu!" Ujar Van sambil melenggang pergi.


"Huft..." Gavin langsung menghela nafas. Bagai terhindar dari malapetaka, ia merasa lega karena Van yang saat ini tengah dalam keadaan emosi telah pergi.


"Pria itu kalau marah seram sekali sih! Coba saja ada Kak Lara pasti dia tidak berani seperti itu kepadaku," gerutu Gavin.


"Oh Tuhan tolong kau jodohkan Kak Van dengan Kak Lara supaya pria itu tidak bisa seenaknya terhadapku," ungkap Gavin seraya berdoa sambil mengeluh.


"Ah hampir aku lupa urus orang di dalam," ujar Gavin yang kemudian langsung masuk ke garasi.


***


Van : Halo Nona.


Lara : Apa kau sudah kembali?


Van : Ya, ini aku baru saja tiba di lobby.


Lara : Kalau begitu cepat datang ke ruanganku.


Van : Baik aku akan segera kesana.


Lara : Tapi Van kau harus datang ke tempatku dalam waktu kurang dari dua menit.


Van : Eh? Memangnya ada apa, apa terjadi sesuatu dengan Nona? (Terdengar panik)


Lara : Pokoknya datang sekarang dalam waktu kurang dari dua menit kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu!


Van : Baik Nona, aku akan datang sekarang juga!


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Lara, Van langung buru-buru menuju ke lantai delapan tempat dimana ruangan Lara berada. Dirinya agak merasa khawatir karena Lara tiba-tiba menyuruhnya datang secepat itu.


Melihat situasinya kalau naik lift harus menunggu sehingga tidak akan cukup waktunya.


"Tidak ada pilihan lain!" Van akhirnya memilih untuk menggunakan tangga biasa untuk sampai ke lantai delapan. Delapan lantai bukan hal yang terlalu sulit bagi Vander. "Aku bahkan pernah naik turun belasan lantai dulu!"


Di ruanganya Lara gelisah sendiri menunggu Van datang. "Aku keterlaluan tidak ya mengerjai Vander begini?" Ucap Lara jadi agak merasa bersalah karena menyuruh Van datang dengan waktu singkat. Sejujurnya gadis itu hanya ingin menguji kepatuhan pengawalnya itu tapi...

__ADS_1


Lara kemudian melihat stop watch yang ada di ponselnya. "Sudah satu menit tiga puluh detik, apa Vander bisa ya?"


Dan tak lama kemudian, Van pun datang mendobrak pintu ruangan Lara dengan nafas tersengal sengal dan tubuh penuh peluh keringat yang becucuran.


Satu menit empat puluh satu detik, waktu Van berjalan dari lobi menuju ke ruangannya. Itu lebih cepat dari dugaan Lara, mengingat dengan lift saja butuh waktu sekitar tiga menit dari lobi untuk ke ruangannya.


"Huh hah, Nona Lara aku sudah sampai! Kau tidak apa-apa kan?" Ucap Van tampak mengkhawatirkan Lara yang ternyata baik-baik saja saat ini.


Melihat Van kelelahan dan terengah-engah membuat Lara jadi tak tega.


"Nona apa aku terlambat?" Ujarnya sambil mengatur nafasnya.


Bisa-bisanya dia masih menanyakan hal begitu? Lara menggeleng tak percaya, "Tidak kok, kau bahkan melebihi ekspektasiku."


Van merasa lega mendengarnya.


"Van kau duduklah dulu," pinta Lara sementara dirinya mengambilkan sebotol air mineral di lemari es yang di ruangannya.


"Ini minum, kau pasti haus kan?" Lara memberikan botol air mineral tersebut kepada Van.


"Terima kasih," ucap Van lalu membuka tutup botol tersebut dan langsung meminumnya. Lara yang baru saja merogoh tasnya langsung duduk disebelah Van dan mengelapi keringat di sekitaran wajah Vander hingga membuat Van terkesiap dibuatnya.


"Nona kau tidak perlu mengelap keringatku—?


"Aku minta maaf gara-gara aku, kau jadi kelelahan hingga berkeringat seperti ini," ungkap Lara menyesalinya.


"Tidak apa, ini bukan apa-apa. Selama Nona tidak dalam bahaya aku tidak masalah," balas Vander tak marah sama sekali.


Namun jawaban Van yang seperti itu malah membuat Lara jadi semakin merasa bersalah.


"Sebenarnya... aku tadi hanya ingin mengerjaimu saja tapi tidak kusangka kau malah benar-benar melakukannya, sekali lagi aku— minta maaf," ungkap Lara menyesalinya


Van mengusap pipi Lara dan menatap wajah manisnya yang tampak lugu. "Nona Lara..."


Lara mendongakan wajahnya menatap Vander. Kini keduanya saling berpandangan, Lara bisa melihat jelas wajah Van yang berkeringat dan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitaran bibir dan dagunya. Begitupun Van, ia bisa menatap langsung mata Lara yang bening dengan bola mata kecoklatan.


Indah sekali! Kata itu yang paling tepat diungkapkannya saat ini melihat wajah Lara.


Van menyentuh dagu Lara dan perlahan mendekatkan bibirnya. Sementara Lara yang seolah tau kalau Van ingin mencium bibirnya langsung memejamkan mata dan— merekapun berciuman.


Lara yang mulai terbuai dalam kecupan hangat Vander langsung berpegangan leher dan kepala pria itu seolah mengukuhkan dirinya.


Bibir Lara yang lembut dan kenyal sungguh nikmat yang tak bisa Van utarakan. Ia mulai memainkan lidahnya menerobos masuk menyusuri bagian dalam mulut Lara yang basah dan terasa hangat. Lara bisa merasakan lidahnya saling berpagutan dengan lidah Van yang dengan rakus menjilati dan menghisap miliknya, hingga tak terasa ciuman mereka semakin panas dan intens. Sayangnya ditengah ciuman mesra mereka, malah harus diganggu dengan suara heboh Miranda yang langsung menerobos masuk ke ruangan Lara. Alhasil Lara dan Van pun langsung menarik diri dengan gelapan dan salah tingkah.


"No- na Lara...? Van?" Mira yang tidak tau apa-apa itu datang dengan polosnya tanpa tau situasi. Vander jujur saja ingin mengamuk rasanya saat ini.


"Kalian kenapa terlihat gugup dan canggung begitu? Nona wajahmu juga kok merah?" Tanya Miranda. "Dan kau tuan Van kenapa...? Apa kalian..."


"Ehem, Mira jadi kenapa kau datang dengan tergesa-gesa begitu?" Ujar Lara bermaksud mengalihkan pertanyaan Miranda yang ia tau pasti akan kemana-mana ujungnya.


"Oh iya sebenarnya aku mau beritahu hal penting ini padamu," Miranda mendekat dan memperlihatkan salah satu artikel yang memuat pernyataan Karina terkait Miracle.


Bersambung....


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2