
Di parkiran basement Van tengah memarkirkan mobilnya. Jika biasanya Vander selalu menurunkan Lara langsung di depan lobi gedung utama Miracle, kali ini gadis itu malah ikut bersamanya memarkirkan mobil di basement.
"Vander sesekali aku bawa mobil sendiri bolehkan?" Ucap Lara tiba-tiba.
"Loh ada apa memang, Nona tidak suka diantar olehku? Atau cara berkendaraku buruk makanya tidak suka?"
Lara menggeleng, "Bukan, hanya saja aku rindu menyetir sendiri. Kau tau, sejak aku bisa menyetir pertama kali di usia delapan belas, impianku adalah menjadi wanita karir yang kemana-mana bisa menyetir sendiri!"
Van terkekeh kecil.
"Kenapa tertawa?"
"Nona kau ini lucu sekali, disaat gadis lain ingin diantar jemput dan diperlakukan seperti putri kau malah ingin kemana-mana sendiri? Aneh!"
Lara menghela nafas. "Tapi kenyatannya, keinginan manusia justru seringkali berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada bukan? Begitupun denganku." Entah kenapa Van merasa Lara seringkali terlihat muram setiap menceritakan tentang keinginan masa mudanya yang tidak bisa ia realisasikan.
Van mendongakan dagu lara yang kecil. "Nona jangan bersedih, kau boleh kok menyetir sendiri kalau kau mau."
"Benarkah?" Mata Lara seketika berbinar.
"Dengan catatan aku tetap menemanimu."
"Baik tuan pengawal!" Tegas Lara ala prajurit.
"Memangnya mau menyetir kemana?" Tanya Vander.
"Nanti setelah pulang kantor, aku mau ke mall mencari hadiah untuk pesta ulang tahun Karina. Meskipun dia sudah kaya raya, tapi tetap saja kalau ke ulang tahun orang kan sebaiknya bawa kado."
"Ya, kau benar."
"Huft," Lara kembali menghela nafas. "Tapi sayangnya kau tidak bisa ikut denganku...!" Lara kecewa karena Van tidak bisa pergi bersamanya.
"Sudah tenang saja, Nona akan baik-baik saja pasti," ucap Van tampak sangat tenang.
Lara jadi merasa aneh melihat Van setenang itu.
"Kau sepertinya senang tidak menemaniku ke pesta," celetuk Lara.
Van langsung mengerutkan alisnya "Nona jangan memancingku pagi-pagi begini!"
"Iya-iya maaf... Oh iya Van seingatku ulang tahunmu bulan sepuluh tanggal tujuh kan?"
Van agak terkejut Lara mengetahui tanggal ulang tahunnya. "Bagaimana kau tau ulang tahunku?"
"Aku kan lihat tanda pengenalmu," ungkap Lara dengan polosnya.
__ADS_1
"Kalau Nona tanggal berapa?"
"Bulan dua belas tanggal duapuluh satu nanti, aku genap dua puluh dua tahun, ada apa memangnya?"
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengingatnya saja."
"Oh..." Aku kira dia mau bilang apa ternyata cuma begitu, dasar Vander!
"Yasudah ayo kita masuk kantor!" Ajak Lara.
Keduanya pun keluar dari mobil. Van bilang ke Lara kalau dirinya mau ke kantin dahulu jadi Van tidak bisa mengantar Lara. "Tidak apa-apa kan kalau aku tidak mengantar sampai ke ruanganmu?"
"Iya tidak apa-apa."
Lara melingkarkan tangannya di leher Vander. "Kau seperti begini saja sudah cukup kok," ungkap Lara lalu mengecup bibir Van singkat.
Dipancing begitu Vander tentu saja langsung bersemangat dan malah balik mencium Lara dengan intens sampai-sampai, mereka hampir lupa kalau saat ini masih ada di area kantor.
Entah kenapa Vander seketika merasa aneh dan sadar tempat, ia pun langsung berhenti mencium Lara dan melepaskan gadis itu dari pelukannya. "Ma- maaf Nona aku hampir lupa diri."
"A- aku juga," ucap Lara malu-malu. Sepertinya terlalu lama berduaan dengan Van di area Miracle memang berbahaya untuk hubungan mereka.
**
Miranda yang mau ke pantry untuk minta dibuatkan kopi, tak sengaja ia malah harus terjatuh karena bertabrakan dengan Dona yang sejak awal berjalan dengan tidak hati-hati.
"Eh No- nona Miranda, maafkan aku, soalnya aku sedang buru-buru."
"Sepertinya selain membuat gosip dan menjelekan bosmu sendiri kau itu juga tidak bisa berjalan dengan benar ya!?" Balas Mira sinis. Sejak pernah memergoki Dona menjelek-jelekan Lara waktu itu, Mira memang sudah tidak suka sekali pada Dona.
"Maaf Nona Miranda aku tidak sengaja, aku- aku permisi!" Ujar Dona lalu menyelonong pergi.
"Tidak sopan, dasar tidak tau malu!" Gerutu Miranda kesal.
Dona yang terlihat berjalan buru-buru langsung masuk ke dalam toilet dan mengunci pintunya dari dalam. Di dalam wanita itu bernafas dengan terengah-engah, jantungnya pun berdegup cepat. "Tadi itu aku ketahuan tidak ya?" Ucapnya penuh khawatir. Dona lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri fotonya.
"Ah berhasil! Meski agak blur sedikit tapi aku berhasil mengambil beberapa foto Nona Lara sedang bersama pria, dan salah satunya saat dia sedang berciuman dengan pria itu." Sayangnya Dona tidak tahu siapa pria yang bersama Lara, mengingat pria itu posisinya membelakanginya. Saat Dona ingin lebih dekat mengambil gambarnya, alaram ponselnya malah berbunyi.
"Aku harus jaga sebaik mungkin foto-foto ini, karena ini bisa aku jadikan senjata di kemudian hari!" Dona tersenyum licik.
**
Saat memasuki ruangannya tiba-tiba saja Lara melihat diatas mejanya ada sebuah kotak berukuran sedang berwarna putih yang diikat pita warna emas, lengkap dengan kartu ucapan diatasnya.
"Kotak apa ini?"
__ADS_1
Karena penasaran Lara yang belum sempat duduk setalah meletakan tasnya, langsung mengambil kartu ucapan diatas kotak kado tersebut. Ia membuka kartu itu dan ternyata disana tertulis kalau kotak itu dari Jeden.
"Jeden? Untuk apa dia mengirimiku ini?" Lara jadi penasaran dengan isi kotak itu, ia pun langsung membukanya dan ternyata isinya adalah gaun pesta berwarna tosca produksi rumah mode ternama. Lara pun mengeluarkan gaun itu dari kotak untuk dilihatnya. "Gaun ini kalau tidak salah harganya sekitar lima ratus ribu dolar kan?" Pungkas Lara.
Karena merasa tidak nyaman dengan kiriman itu, Lara pun langsung menelepon Jeden.
Jeden : Halo, apa kau suka gaunnya Nona? Saat kau pakai gaun itu besok malam, aku yakin kau pasti akan terlihat semakin cantik dan berkelas.
Lara : Iya itu gaun yang cantik, tapi sayangnya aku tidak membutuhkannya. Jadi alangkah lebih baik kau ambil saja lagi.
Jeden : Apa maksudmu! Aku sengaja langsung memilihkan gaun itu untukmu, kenapa kau tolak? Oh apa kau lagi-lagi dipengaruhin pengawalmu itu agar menolak hadiahku, iya?
Lara : Jeden berhenti menyalahkan Vander! Dia bahkan tidak tau apa-apa soal pemberianmu. Ini murni aku yang menolaknya, karen jujur aku kurang suka karena modelnya yang terlalu rumit dan terlalu panjang. Aku tidak suka gaun yang bawahnnya terlalu panjang sampai menyeret lantai.
Jeden : Kalau begitu kau mau gaun seperti apa, biar aku carikan untukmu.
Lara : Tidak usah repot-repot Jed, aku punya ratusan gaun yang belum aku pakai. Lagipula kita hanya pergi sebagai partner kerja jadi tidak perlu berlebihan.
Jeden : Kenapa kau tega sekali padaku Lara!
Lara : Maaf Jed, aku hanya tidak mau memberimu harapan lebih padaku. Sudah ya tolong ambil hadiahmu lagi di ruanganku!
Lara mematikan panggilannya.
"Argh sial!" Jeden sampai menggebrak meja saking murkanya setelah mendengar Lara menolak gaun pemberiannya.
"Wanita itu semakin berani saja menolak dan mengabaikanku. Itu semua karena si busuk Vander! Lihat saja, besok malam akan aku pastikan kau tidak akan bisa lagi menolakku Lara!"
**
Lara yang tengah sibuk tiba-tiba diganggu oleh bunyi bel di ruangannya.
"Masuklah," ucap Lara.
"Apa aku mengganggumu nona Lara?" Ucap pria yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Lara.
"Vander ada apa, duduklah dulu aku harus tanda tangani ini sebentar," pinta Lara menyuruh pengawalnya itu menunggunya sebentar. Pria itu akhirnya duduk menunggu di sofa sambil menyembunyikan tangannya yang membawa sesuatu dipunggungnya.
Kotak apa ini? Pikir Vander melihat kotak hadiah dari Jeden untuk Lara. Karena penasaran Van mengintip kotak itu, dan tidak sengaja malah membaca surat yang ada di dalamnya. "Jeden?" Raut wajah Vander lansung berubah suram saat mengetahui nama pengirimnya.
Lara yang sudah selesai menandatangi dokumen pun langsung menghampiri Vander. "Ada apa Van?"
Ya Tuhan aku lupa kotak hadiahnya! Lara baru sadar kalau ia menaruh kotak hadiah dari Jeden itu disana. Van tampak diam saja, sorot matanya dingin, apa dia sudah tau itu hadiah gaun dari Jeden? Aku takut dia marah.
"Vander sebenarnya kotak itu..."
__ADS_1
Bersambung...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜