Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Konsekuensi


__ADS_3

Di ruangannya, Lara bersama dengan Miranda tengah mengevaluasi laporan data perusahaan. Mira menyebutkan, jika dikuartal berikutnya performa perusahaan menurun maka hal itu bisa jadi ancaman besar buat Miracle. Terlebih dari laporan yang baru saja diterimanya, beberapa perusahaan partner kerjasama Miracle berniat untuk memutus kontrak dalam waktu dekat. "Jika kita tidak segera berbenah aku khawatir Miracle akan mengalami penurunan yang berujung likuidasi hingga menyebakan phk besar-besaran."


Dari apa yang dikatakan Miranda barusan, sepertinya Lara memang harus segera mencari formula agar perusahaan yang dipimpinya bisa kembali stabil seperti saat masih dipimpin oleh mendingan ayah dan kakeknya. Tapi apa yang harus ia lakukan saat ini? Lara sejujurnya masih belum banyak pengalaman, ia masih harus banyak mempelajari sistem yang ada sekarang sebelum akhirnya mengambil keputusan. Miracle adalah simbol kekuatan bagi keluarga Hazel, untuk itu Lara harus bisa mempertahankannya.


"Oh iya Mira soal pasokan bahan baku kita, apa ada kendala akhir-akhir ini?"


"Dari yang aku lihat, sepertinya dalam waktu dekat mungkin kita akan mengalami kekurangan pasokan bahan baku seperti kapas, dan sutra. Hal itu dikarenakan perkebunan kapas milik perusahaan kita akhir-akhir ini agak buruk hasilnya. Alhasil dua bulan terakhir ini perusahaan kita lebih mengandalkan pasokan dari perkebunan milik warga yang bersedia bekerjasama, dan sisanya impor."


"Begitu ya?" Lara jadi teringat ucapan Vander waktu itu yang mengatakan, kalau perusahaan bisa berjalan lacar asal pasokan bahan baku tidak ada kendala. Dan masalahnya sekarang justru Miracle agak mengalami masalah di bagian sektor bahan baku yang kian menurun.


"Oh iya Nona, soal kerjasana dengan Appletree sepertinya kerjasama itu agak tidak menguntungkan bagi perusahaan kita."


"Huh? Kenapa kau bisa bilang begitu?"


"Karena dari perjanjian kontrak yang aku lihat, semua klausul yang tertulis. Appletree punya wewenang lebih untuk tiba-tiba membatalkan kerjasama jika terjadi masalah dengan Miracle. Mungkin bagi Appletree jika mereka melepas kerjasama dengan kita itu tidak akan jadi masalah serius, mengingat Appletree kini punya daya tarik lebih besar bagi para investor dibanding Miracle. Tapi untuk Miracle itu jelS sangat merugikan."


Wajah Lara langsung medadak tegang, "Ya Tuhan, Mira bagaimana aku sampai tidak kepikiran hal itu?'


"Aku juga sempat tidak berpikir kesana, tapi   kemudian beberapa hari lalu saat aku mengobrol dengan Van dia mengatakan hal itu padaku."


"Apa kau bilang, Van?"


"Iya! Kau tau Nona, saat dia berbicara hal seperti itu, aku sempat tidak percaya padanya, tapi nyatanya yang dikatakan Van benar. Aku sungguh tidak menyangka dia bisa punya pemikiran cerdas seperti itu."


Lara tersenyum mendengarnya. "Ya, dia memang cerdas. Beberapa hari yang lalu juga dia membantuku menganalisa data perusahaan. Kau tau Mira, dia sangat baik dalam menganalisa, dan itu sungguh di luar dugaaanku," ungkap Lara dengan nada takjub.


"Aku rasa Van bukan orang sembarangan," pungkas Mira.


"Maksudmu apa?"


"Ya... Dari apa yang sudah kita lihat, dia itu cerdas Nona, dia pandai menganalisa dan cukup pandai membaca peluang. Hal itu juga yang membuatku tidak percaya, apa iya dia sejak awal memang hanya seorang gelandangan? Jujur aku tidak yakin."


Lara terdiam dan berpikir, sebenarnya ia juga punya pikiran sama seperti apa yang dikatakan Mira. Tapi sampai detik ini Lara tidak menemukan tanda-tanda keanehan pada latar belakang kehidupan Vander. Apa mungkin, semua yang Van ceritakan padaku soal masa lalu dirinya itu hanya karangan belaka yang ia buat? Tapi untuk apa? Aku baru sadar kalau Vander semisterius ini.


"Nona Lara Hei!" Tandas Mira melihat bosnya itu bengong. "Nona kenapa bengong? Tiba-tiba kepikiran dengan pengawalmu itu ya?" Tebak Mira menggoda Lara. Wajah Lara pun seketika merona mendengar nama pengawalnya itu dikaitkan dengan dirinya.


"Ah Mira kau ini," ucap Lara malu-malu.

__ADS_1


"Tidak usah mengelak, aku kan tau kalau kau itu suka pada pengawalmu yang tampan itu, iyakan?" Goda Miranda lagi.


Lara pun hanya bisa tersenyum sambil tersipu malu. "Sudahlah Miranda jangan begitu aku kan jadi malu."


Mira jadi dibuat tertawa geli karena melihat bosnya itu jadi malu-malu.


"Tapi kalau dipikir lagi, dengan potensi Van yang begitu kenapa tidak minta Van agar melanjutkan studinya saja. Sayang kan kalau dia tidak mengasah kemampuannya dan hanya jadi tukang pukul saja," celoteh Mira.


"Aku juga berpikir begitu, aku bahkan sudah menawarkan Van agar dia mau melanjutkan pendidikan atau setidaknya ikut pendidikan singkat. Tapi dia malah bilang tidak kepikiran hal itu."


"Tapi kalau seandainya dia sekolah lagi lalu siapa yang akan mengawal Nona?" tukas Miranda.


Benar juga yang dikatakan Mira.


"Eh iya Nona, aku jadi penasaran. Setelah hampir satu minggu tinggal bersama Van, kalian sudah melakukan apa saja?" Telisik Mira dengan nada usil.


Waja Lara pun langsung memerah dibuatnya. Lara tidak mungkin mengatakan pada Mira semua yang dilakukannya dan Van selama tinggal bersama. "Itu... Kami hanya hidup normal saja, seperti tidur, makan, istirahat di tempat yang sama," ungkap Lara


"Apa iya? Dari sorot matamu kok aku tidak percaya ya?" Telisik Miranda yang tidak yakin dengan ucapan Lara.


"Ayolah Mira jangan menggodaku begitu. Lagian itu kan privasiku," jawab Lara tidak mau privasinya dibahas terlalu dalam karena malu.


"Tapi Nona, daripada repot kenapa Nona tidak tunangan saja dengan Van lalu menikahinya, dengan begitu kan akan jadi lebih mudah," seloroh Miranda.


Lara langsung kaget dan merespon, "Mira kau jangan bercanda."


Miranda tergelak. "Tapi jujur, sebenarnya kau sungguhan suka pada Van tidak sih?" Tanya Mira kali ini serius.


Lara tersenyum pilu. "Ya... begitulah."


"Kalau memang begitu, maka kau harus menerima konsekuensinya Nona."


Lara menatap Miranda dengan wajah bingung. "Apa maksud ucapanmu Mira?'


"Kau jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak pernah kau bayangkan seumur hidupmu. Kau harus menerima kalau kenyataannya kau dan Van itu berada di hirarki sosial yang berbeda. Jika sudah begitu kau harus memilih pada akhirnya. Antara cintamu atau status keluargamu," terang Miranda.


"Maaf ya Nona, mungkin apa yang aku katakan pada Nona itu terdengar memilukan dan kejam, tapi itulah kenyataannya. Aku hanya ingin kau paham sejak awal tentang konsekuensi jikalau kau dan Van sungguhan memiliki hubungan khusus."

__ADS_1


Lara menyunggingkan senyum kesedihan ditambah sorot matanya pun berubah sendu. "Tidak apa Mira aku paham, kau kan hanya bicara berdasarkan sesuai realita. Lagipula yang kau bilang barusan itu memang benar kok!"


"Sekali lagi aku minta maaf ya Nona. Tapi pada akhirnya semua itu kau yang putuskan, dan aku tidak akan ikut campur sedikitpun soal perasaan Nona dan Van karena itu semua bukan ranahku. Aku pribadi akan setuju dengan semua keputusan yang membuat Nona bahagia."


Lara tiba-tiba tersenyum dan merasa lega. "Miranda, terima kasih banyak ya sudah mau memahamiku dan mendukungku selalu," ungkap Lara.


"Sama-sama Nona. Kalau begitu aku izin kembali ke ruanganku."


"Ya silakan."


Lara paham dengan apa yang diucapkan Mira barusan. Soal perasaannya dengan Vander, Lara hanya akan mengikuti kemana waktu dan arus akan membawanya.


**


Di sebuah kafe dekat perusahaan, Vander terlihat sedang menikmati secangkir kopi. Disana ada Dona juga, karyawan dari divisi marketing yang duduk diseberang meja Van tengah memperhatikan pria itu.


Ternyata Van sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Dona sejak tadi. Merasa risih Van akhirnya menatap Dona dengan tatapan tajamnya.


"Tatapan itu? Apa dia menyadari kalau aku memperhatikannya sejak tadi?" Dona langsung bergidik ketakutan. Karena merasa terintimidasi oleh tatapan Van, Dona pun memutuskan meninggalkan kafe tersebut sesegera mungkin.


"Dia mau kabur, heh tidak semudah itu," Ungkap Vander menyunggingkan senyum liciknya.


***


Dona yang terengah-engah akhirnya berhasil melarikan diri kembali ke dalam gedung Miracle. Disana ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang yang ternyata adalah Karina.


Dona : Hah huh hah... (Bunyi nafas tersengal-sengal)


Karina : Bagaimana, apa ada laporan soal Van dan Lara?


Dona : Huhu... Nona Karina maafkan aku, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Aku— tidak berani memata-mati tuan Van, dia sungguh mengerikan.


Karina : Apa maksudmu! Aku kan sudah membayarmu untuk mengawasi Van dan Lara kenapa tiba-tiba bicara begitu!


Dona : Kau memang sudah membayarku, tapi masalahnya aku takut sekali kalau harus berhadapan dengan Tuan Van, tadi saja aku hampir—


"Hampir saja apa?!" Ujar seseorang dari arah belakang Dona.

__ADS_1


Bersambung...


TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE DAN DI KOMENTAR YA BIAR AKU SEMANGAT 💜


__ADS_2