
"Nona Lara kau masak apa?" Tanya Van penasaran.
"Oh kau sudah selesai mandi, aku baru saja selesai membuat spagetti krim jamur untuk makan malam kita," jelas Lara.
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Tidak usah sudah selesai kok, kau duduk dan tunggu saja dimeja makan. Aku akan datang membawa spagettinya kesana," ujar Lara.
Karena dirinya tidak pandai urusan dapur, Vander pun hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh Lara. Ia pun duduk dan bersiap di meja makan menunggu masakan Lara datang.
"Tara...!" Lara datang membawa hidangan spagetti udang jamur buatannya.
Hanya dengan melihat masakan yang dibuat Lara saja, Van sudah langsung dibuat lapar dan tidak sabar untuk mencicipi. Lara kemudian mengambil sepiring spagetti dan memberikannya pada Van. "Ini cobalah,"
"Nona harusnya tidak usah repot-repot mengambilkanku."
"Tidak apa-apa, aku senang kok! Sudah cepat coba masakanku."
Tanpa berlama-lama Van langsung mencoba spagetti buatan pengawalnya itu. "Hem... Enak!"
"Benarkah?"
"Iya benar," jawab Van lalu kembali memakan spagetti itu dengan lahap.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Bagi Lara, melihat Vander menyantap makanan buatannya dengan wajah gembira adalah salah satu kebahagiannya saat ini.
Hal itu karena Lara teringat ucapan Van waktu itu, ia mengatakan kalau dirinya sejak kecil sudah tidak punya ibu ditambah ayahnya yang tak peduli padanya. Mengetahui hal itu membuat Lara ingin sekali memberikan apa yang Van dulu tidak pernah rasakan, salah satunya adalah dengan cara membuatkan makanan.
Van melihat Lara tidak makan dan malah menopang dagu sambil terus memandangi dirinya.
"Nona kenapa tidak makan juga? Ini enak sekali loh...!"
"Dengan melihatmu makan dengan lahap saja sudah membuatku kenyang,"jawab Lara.
"Tapi Nona tetap harus makan."
Lara tiba-tiba tersenyum penuh arti. "Baiklah, aku baru mau makan asal kau mau suapi aku."
"Suapi?" Van melongo.
Lara pun jadi tertawa melihat tampang pengawalnya saat ini.
Tak lama Van tiba-tiba saja mengambil spagetti dengan garpunya dan menyodorkannya ke mulut Lara. "Ayo buka mulut Nona."
"Eh aku hanya bercanda loh..." Gantian malah Lara yang tidak menyangka kalau Van benar-benar melakukan apa yang ia minta.
"Ayo nona buka mulutmu,"
__ADS_1
Lara pun pada akhirnya membuka mulutnya dan memakan suapan dari tangan Van tersebut.
"Enak kan?" Ujar Van meyakinkan
Sambil mengunyah Lara pun mengangguk mengiyakan.
"Mau aku suapi lagi?"
"Tidak usah aku akan makan sendiri,kau teruskan saja makannya sampai habis," ucap Lara.
Van pun meneruskan makannya. Bagi Lara selain saat tidur, wajah Van nampak polos dan menggemaskan saat sedang makan. Terlihat seperti anak-anak yang bahagia yang tanpa beban. Mungkin karena tidak pernah merasakan hal semacam ini saat kecil, pria ini jadi baru bisa menunjukannya sekarang.
"Vander,"
"Ya Nona ada apa?"
"Aku suka sekali melihatmu makan masakanku dengan lahap," pungkas Lara tiba-tiba.
"Masakan Nona paling enak," pujinya dengan begitu polos seperti anak kecil yang senang mendapat hadiah.
Lara jadi semakin merasa kalau Vander itu sangat menggemaskan. Dibanding saat berkelahi Van yang sedang makan sqat ini terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat.
***
Setelah selesai mencuci piring bekas makan malam, Vander membawa secangkir teh herbal dan menghampiri Lara yang tengah sibuk mengecek pekerjaannya di ruang utama.
"Wah, kau baik sekali. Terima kasih ya."
Van meminta Lara untuk minum segera teh itu selagi hangat, dan Lara pun menurutinya. Gadis itu pun meletakan tablet yang dipegangnya, lalu segera menyesap teh buatan pengawalnya yang tampan itu.
"Bagaimana tehnya?" Tanya Van.
"Enak, persis seperti yang biasa aku minum. Oh iya bagaimana kau tau aku suka minum teh herbal ini?"
Van malu-malu menjawab, kalau dirinya sering memperhatikan Lara minum teh herbal. Dan beberapa hari ini sering melihat Lara membuatnya jadi Van tau dan berinisiatif membuatkannya.
"Kau sungguh perhatian sekali, aku yakin istrimu kelak pasti akan sangat beruntung punya suami seperti dirimu."
Wajah Van jadi merah dipuji oleh Lara begitu.
"Um- Nona sedang mengerjakan apa?" Tanya Van yang penasaran.
"Oh, ini aku sedang mengecek laporan keuangan dan grafik performa perusahaan di kuartal satu dan dua."
"Apa aku boleh melihatnya?" Ucap Vander minta izin.
"Boleh," Lara pun memperlihatkan data perusahaan yang terpampang dilayar tabletnya. Van kemudian langsung memperhatikan dengan serius data laporan tersebut.
__ADS_1
Melihat wajah sang pengawal yang serius memperhatikan data perusahaan Lara pun jadi salah fokus dibuatnya. Aku tidak menyangka Van bisa sampai seserius itu membaca laporan perusahaan. Aku saja tidak sampai segitunya.
"Nona, coba kau perhatikan grafik perusahaan dibulan ke ketiga dan ke enam," ujar Van tiba-tiba.
Lara pun langsung melihatnya. Terlihat di kedua bulan itu grafik perusahaan menurun cukup dratis dibanding bulan lain. "Jadi maksudnya?" Lara agaknya belum paham maksud Van.
"Maksudku, kenapa di tiap kuartal selalu ada penurunan yang signifikan, sedangkan aku lihat di pencatatan agenda perusahaan baik dari segi pengeluaran, ekspor, impor, hingga pasokan bahan baku tidak terlalu berbeda. Kalau ditarik garis dari semua aspek hal itu mungkin saja karena...?"
"Kemungkinan penyelewengan yang dilakukan oleh salah satu divisi perusahaan, begitukan maksudnya?"
"Tepat sekali Nona, karena menurutku dalam mejalankan bisnis, jika ada salah satu pilar yang rusak maka hal itu pasti akan berdampak ke keseluruh aspek tanpa terkecuali. Dan aku rasa Nona Lara harus segera mencari tau apa sebenarnya penyebab permasalahan itu timbul, sebelum akhirnya akan berdampak lebih buruk lagi untuk Miracle" jelas Van dengan mimik wajah serius.
Dan tanpa sadar Lara pun dibuat terkagum-kagum dengan sosok Van saat ini. Bagaimana bisa pengawal yang ia kira hanya paham soal bertarung dan melawan musuh, tiba-tiba terlihat begitu luar biasa saat membahas perusahaan. Dibanding aku kok malah dia yang lebih cocok jadi CEO ya? Pikir Lara.
"Nona?" Ujar Van menyadarkan Lara yang malam menatapnya tanpa sadar.
"Eh iya, jadi kejanggalan apa lagi yang kau temui berdasarkan data itu?" Pungkas Lara.
"Nona pengetahuanku soal perusahaanmu terbatas, jadi aku hanya tau hal itu saja," jelas Van malu-malu.
"Van, kau ini sungguh tidak pernah kuliah?"
"Iya, aku hanya lulus SMA."
"Tapi— pandanganmu soal dunia bisnis sangat luar biasa. Bahkan kau cukup paham dengan istilah-istilah di dunia korporasi dan sejenisnya. Aku rasa kau harus sekolah lagi, ya setidaknya kau ikut kelas study khusus bisnis. Aku rasa kau bisa jadi orang hebat suatu hari nanti."
"Soal itu... Aku tidak kepikiran sama sekali,"jawab Van.
"Ya, aku rasa kau harus belajar lagi."
"Tapi aku rasa sepertinya aku sudah terlalu tua kalau harus belajar lagi," pungkas Van sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Memang usiamu sekarang berapa?"
"Tahun ini saja aku sudah mau dua puluh sembilan," jawab Van dengan polosnya.
"Ah itu masih muda, diluar sana masih banyak orang yang usianya jauh diatasmu, mereka sekolah lagi dan itu tidak masalah sama sekali," jelas Lara seraya memotivasi pengawalnya agar tidak hilang percaya diri.
Van jadi terdiam mempertimbangkan ucapan Lara barusan.
"Sudah-sudah," Lara menepuk pundak Van. "Kau pikirkan saja lagi, sekarang aku mau tidur. Hoam... Aku sudah mengantuk, selamat malam Van," Lara pun pamit pergi tidur.
"Selamat malam Nona." Van lalu termenung sejenak. "Sekolah lagi? Apa itu hal yang harus aku lakukan?" Ucap Van penuh tanya.
Bersambung...
Jangan lupa vote like dan commentnya ya...
__ADS_1