Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Wanita Pembohong


__ADS_3

Emily yang mengenakan kaca mata hitam terlihat keluar dari gedung agensi ditemani oleh Naomi sang manajer, dan dua orang bodyguardnya menuju ke mobilnya yang terparkir diluar. Di luar gedung model itu terlihat langsung di serbu oleh para wartawan dari berbagai media, yang sudah menunggunya sejak tadi pagi.


Para wartawan secara tak beraturan mengerumuni Emily dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan terkait dirinya dan Vander, serta rumor tentang thread yang mengatakan kalau Vander punya wanita simpanan dimasa lalunya yang berakhir dipaksa menggugurkan kandungannya oleh CEO Laizen tersebut.


^^^Nona Emily tentang berita tuan Vander yang saat ini sedang ramai, apa tanggapan anda?^^^


^^^Jadi kedekatan anda dan tuan Vander sebenarnya bagaimana?^^^


^^^Apa anda tahu soal wanita yang dikencani tuan Vander di thread itu?^^^


^^^Nona tolong beri penjelasan sedikit.^^^


^^^Saat ini hubungan anda dan tuan Vander seperti apa?^^^


^^^Tolong beri penjelasan pada kami!^^^


^^^Nona Emily katakan sesuatu!^^^


^^^Nona-Nona Emily...!^^^


Meski diberondong dengan banyak pertanyaan, namun tak satu pun pertanyaan itu dijawab Emily. Wanita itu malah cederung marah dan kesal karena jalannya diganggu, hingga membuatnya mengumpat, "Kalian reporter sialan mengganggu sekali sih!"


^^^Nona kenapa anda marah?^^^


^^^Apa kau dicampakkan tuan Vander juga?^^^


^^^Nona Emily ayo beri jawaban pada kami!^^^


"Tolong tuan dan nona reporter jangan menghalangi nona Emily!" Seru pengawal Emily.


Emily akhirnya masuk ke mobil, dan bisa bernafas lega karena sudah lepas dari rundungan pertanyaan para reporter pemburu berita itu.


"Huh, akhirnya aku bisa juga lepas dari para reporter dan paparazi tak punya otak dan bar-bar itu," ungkap Emily lalu meminum jus di botolnya.


"Sekarang bilang begitu, bukankah ini semua akibat ulahmu sendiri yang menggiring opini orang-orang dengan berstatement kalau kau seolah punya hubungan khusus dengan tuan Vander," sahut Naomi dengan nada jengkel, karena sebagai manajer dirinya juga jadi ikut kesusahan karenanya.


"Tapi ini kan bukan salahku, sebelumnya tidak seramai ini. Kegaduhan ini tidak akan terjadi kalau saja tidak muncul thread sampah yang mengaku-ngaku wanita dari masa lalu Vander!"


"Intinya kau itu juga salah Emily. Lagipula sudah kubilang sejak awal, jangan berurusan terlalu jauh dengan pria itu. Meskipun kau model papan atas tapi tetap saja tuan Vander ada di level berbeda, bermain api dengannya yang ada kau malah akan terbakar sendiri."


"Cerewet sekali! Padahal Vander sendiri juga sepertinya menikmati sensasi saat ini, buktinya saja sampai detik ini belum ada satupun klarifikasi dari pihaknya."


"Emily dengar, aku bicara begini karena peduli padamu. Ingat, tuan Vander dia punya hubungan dengan nona Lara, jadi sudahi dan berhenti mengejar pria itu, kan masih banyak pria tampan dan kaya di luar sana!"


"Dengar, Lara itu cuma pacar simpanannya saja, jadi bisa ku singkirkan. Lagipula diluar sana pria yang setara dengan Vander siapa? Coba carikan aku pria yang selevel Vander, yang tampan, kaya raya, punya fisik bagus, dan punya kekuasaan. Coba carikan siapa?!"


Naomi hanya memutar matanya seolah menyerah memberi tahu Emily yang terlalu keras kepala dan obsesi pada Vander.


"Pokoknya selagi aku punya kesempatan, aku akan terus maju untuk mendapatkan dia. Dan kau sebagai manajer cukup dukung aku saja, oke!"


"Ya terserahlah..."


...🍁🍁🍁...


Di sore hari yang cukup sejuk dan hangat, nampak Tori dan juga Frida yang saat ini tengah mengawasi Rey dan ketiga sahabatnya yakni Jeny, Jody, dan Haru yang sedang bermain di taman yang ada di area Caelestis Garden.


Disana Tori dan Frida yang duduk dibangku taman, terlihat tengah membicarakan rumor tentang Vander yang sedang ramai akhir-akhir ini.


"Jadi tuan dan nyonya juga meminta bibi Frida untuk menyembunyikan berita ini dari tuan kecil?" Ujar Tori.


"Iya, nyonya bilang agar aku sebisa mungkin memantau info yang masuk pada tuan kecil. Jujur aku kasihan lihat tuan kecil, dia masih sekecil itu tapi harus selalu ikut terseret dan kena imbas masalah orang tuanya," ungkap Frida merasa iba.


"Ya mau bagaimana lagi, nyatanya tuan dan nyonya bukan seperti kita yang orang biasa. Terutama tuan, beliau seorang pesohor yang sulit dijelaskan bagaimana posisinya di dunia ini. Intinya tidak semua orang yang memiliki banyak harta dan kekuasaan hidupnya baik-baik saja."


"Kau benar, dari sini kita tahu. Semua orang punya pertarungan dan ujiannya masing-masing. Aku hanya berharap tuan dan keluarganya suatu saat bisa hidup bahagia dengan tenang. Mereka semua orang yang baik, tapi kenapa ada saja orang jahat yang iri," keluh Frida yang jengkel melihat orang-orang yang terus saja mencoba menghancurkan kebahagiaan Vander dan keluarganya.


"Iya semoga saja, itu juga harapanku."


Di sisi Lain Rey yang baru saja bermain basket dengan ketiga temannya itu, tampak sedang istirahat sejenak, saat itu tiba-tiba saja Jeny bertanya kepada Rey bagaimana rasanya tinggal di tempat semewah ini?


"Umβ€” tentu saja enak, tapi ya setelah itu biasa saja. Karena bagiku selagi dengan mama dan papa, tinggal dimanapun tidak masalah aku akan tetap senang," jawab Rey.


"Tapi Rey, sejak orang di sekolah tahu kalau kau anaknya paman Vander, semua anak terumata Leo jadi tidak berani mengganggumu lagi. Aku senang, terlebih kami jadi tenang juga," ungkap Haru.


"Kalian jangan mau ditindas, kata papaku kalau kita tidak salah kita harus berani melawan. Tapi kalau salah juga harus mengaku," ujar Rey sambil memaikan bola basket di tangannya.


Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba saja bibi Frida datang membawa es krim untuk anak-anak itu, dan memanggil mereka.


"Terima kasih bibi Frida," ucap keempat anak-anak manis itu setelah dibawakan es krim olehnya.


Selagi Rey dan teman-temannya makan es krim, Frida yang perlu membereskan dapur pun minta izin sebentar untuk pergi ke dalam. Tapi saat itu Tori juga sedang ke garasi, alhasil Frida jadi bingung meninggalkan mereka karena tidak ada yang jaga.


"Tidak apa bibi pergi saja ke dalam, tenang saja aku dan teman-teman disini tidak apa-apa kok, lagipula nanti paman Tori kan juga akan kesini lagi setelah selesai urusannya di garasi," ungkap Rey meminta bibi Frida agar tidak usah mengkhawatirkannya.


"Baik, kalau begitu aku ke dalam dulu, tuan kecil hati-hati dan jangan pergi kemana-mana ya..."


"Siap Bibi!" sahut pria kecil tersebut.


Saat keempat bocah itu terlihat sedang menikmati eskrim mereka, tiba-tiba saja muncul Emily yang entah datang dari mana mengenakan pakaian joging. Wanita itu berjalan menghampiri Rey dan teman-temannya lalu menyapa mereka.


"Halo anak-anak, sedang makan es krim ya?"


Mata Reynder pun seketika menajam kala melihat Emily datang mendekatinya dan teman-temannya.

__ADS_1


"Rey bibi ini siapa?" Ucap Haru penasaran seketika melihat sosok Emily.


"Hai aku ini model, kalian pasti tahu iklan produk kecantikan Lavioletta di TV kan, nah akulah bintang iklannya," terang Emily.


"Huh? Aku kok tidak tahu tuh," sanggah Jody.


"Ah aku tahu, tapi..." Jeny kemudian memandangi Emily dari atas sampai bawah. "Tapi kok agak beda sih, di TV cantik sekali, tapi saat kulihat langsung bibi hanya seperti perempuan pada umumnya. Cantik sih tapi masih cantikan mamanya Rey!"


"Mama Rey memang cantik sekali, aku pikir dulu mamanya Rey itu artis loh," ungkap Jody.


"Mungkin karena bibi ini kalau di tv wajahnya di warnai pakai bedak tebal jadinya beda, mamaku soalnya begitu. Tapi kalau mamanya Rey memang cantik sekali dan wangi," celetuk Haru.


"Tentu saja mamaku yang paling cantik sedunia," ujar Rey bangga.


Mendengar celotehan anak-anak dihadapannya, telinga Emily pun langsung terasa panas rasanya. Anak-anak sialan ini kenapa mereka malah memuji si jal@ng itu. Rasanya aku ingin menampar mulut bocah-bocah ini!


"Bibi Emily mau apa?" Tanya Reynder.


"Aku mau jogging sore, kalian mau ikut?"


"Tidak kami mau makan es krim saja. Bibi pergi saja jogging sendiri!" Ujar Rey seraya mengusir Emily pergi.


Anaknya Lara ini benar-benar menyebalkan seperti ibunya! Tapi aku harus tetap akting ramah di depan anak ini. "Um, Rey dimana pamanmu?"


"Huh?"


"Iya paman Vander dimana dia?" jelas Emily.


"Paman? Kok paman, paman Vander kan papanya Rey kenapa bibi sebut dia paman,"


sahut Haru.


"Mungkin bibi ini lupa dan tidak tahu."


"Apa? Papa?" Emily seketika syok mendengarnya. Sbenarnya hubungan Vander dan Lara itu apa? Papa? Maksudnya Rey ini sebenarnya anak mereka begitu? Tidak, tidak mungkin. Tapi... tapi kalau dilihat-lihat, mata anak ini memang mirip dengan Vander. Sial, rahasia apa yang lagi yang belum aku tahu tentang mereka?


Rey seketika tampak tegang. Bagaimana ini, aku lupa bilang pada teman-teman, kalau tidak boleh sebut papa didepan bibi Emily!


Emily menatap tajam ke arah Rey lalu berkata, "Rey bisakah kita bicara sebentar."


Rey mengernyitkan alisnya. "Bicara saja disini, memang tidak bisa?"


"Tidak karena ini rahasia antara aku, juga mama dan papamu."


Mendengar ada papa mamanya disebut, akhirnya Reynder pun mau diajak bicara oleh Emily. Rey kemudian meminta ketiga temannya menunggu disini, sementara ia ikut Emily untuk berbicara sesuatu.


"Mau bicara apa bibi, jangan lama-lama ya!" Tegas Reynder.


Gestur bicaranya juga mirip Vander. Sialan, kemungkinan besar anak ini memang anaknya Vander dan Lara. Tidak, aku tidak terima kalau Vander harus bahagia dengan jal@ng jelek itu!


"Apa?"


"Papamu itu sebenarnya pacarku loh!" Pungkas Emily.


"Bohong! Papa cuma cinta dengan mamaku, dan mereka akan menikah, bibi tukang bohong!" Seru Rey marah tidak terima.


"Kau tidak percaya?"


"Tidak, karena aku tahu bibi itu orang jahat!" Rey terlihat ingin menangis.


"Yasudah kalau tak percaya, tapi coba kau lihat berita ini." Emily memperlihatkan berita lewat ponselny. "Diberita tertulis, kalau aku dan papamu punya hubungan spesial, aku bahkan sering ketemuan dengannya. Kami suka jalan bersama danβ€” kami akan segera menikah nanti, jadi aku akanβ€”"


"Diam! Kau pembohong, kau bohong... kau dasar wanita jahat jelek!" Rey langsung mencakar pipi kanan Emily kemudian berlari pergi dengan keadaan sedih dan marah.


"Anak sialan beraninya kau mencakar pipiku!" Serunya dengan marah. Sambil memegangi sebelah pipinya yang terasa perih, Emily masih bisa tersenyum jahat karena berhasil memprovokasi Rey. "Lihat saja, setelah ini dramanya pasti akan sangat seru!" Emily sungguh tidak peduli kalaupun Rey memang anak kandung Vander, "Mau anak kandung sekalipun aku tidak peduli, yang jelas aku akan menyingkirkannya bersamaan dengan ibunya si wanita jal@ng itu!"


Rey tampak berlari melewati teman-temannya.


"Rey, kenapa sepertinya dia sedang marah?" ucap Jeny


"Rey!" Seru teman-teman Rey.


Sayangnya Rey sama sekali tak peduli, dan tetap berlari pergi. Sampai pada akhirnya Tori muncul dan melihat Rey barusan pergi saja. "Maaf anak-anak, tapi tuan kecil kenapa dia pergi begitu saja, apa kalian bertengkar dengannya?" Tanya Tori.


"Tidak tahu paman, tiba-tiba saja setelah bicara sama bibi tadi Rey langsung begitu."


"Bibi? Bibi siapa?" Telisik Tori tidak melihat siapa-siapa disini.


"Tadi ada bibi yang katanya model menghampiri kami, Lalu dia mengajak Rey bicara berdua saja, setelah itu kami tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tiba-tiba Rey malah pergi begitu saja."


Model? Ah itu pasti nona Emily.


"Yasudah anak-anak, karena ini juga sudah sore sekali lebih baik segera aku antar kalian pulang,"


"Oke paman!"


Kira-kira apa yang dikatakan wanita itu pada tuan kecil?


...🍁🍁🍁...


Malam harinya, saat Lara yang ada di kamarnya tengah duduk bersandar diatas ranjang sambil baca buku, tiba-tiba saja kamarnya diketuk dari luar. Melihat jam digital di sebelahnya sudah pukul 11.30 malam, Lara jadi penasaran, siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini?


Ia pun mengikat gaun tidurnya yang terbuka dan berjalan membukakan pintu.

__ADS_1


"Huh?" Lara langsung memiringkan kepalanya seraya heran, saat mengetahui kalau orang yang menghampiri dirinya malam-malam begini ternyata adalah putranya sendiri. "Rey, ada apa sayang?"


Pria kecil yang mengenakan piyama berwarna biru langit itu menatap Lara dengan matanya yang bulat dan agak sayu. "Mama, aku boleh tidur denganmu malam ini?"


Tumben sekali, bukankah dia sudah tidak mau tidur denganku lagi akhir-akhir ini?


Lara lalu tersenyum, "Tentu saja, ayo masuk."


Rey kemudian masuk dan naik ke atas ranjang. Disana Rey tiba-tiba saja langsung bersikap manja dengan memeluk sang mama dengan erat. Melihat tingkah putranya tiba-tiba manja begini, Lara jadi curiga kalau sedang ada sesuatu dengan anaknya, pasalnya Rey mirip sekali dengan Vander yang ketika sedang lelah atau ada masalah yang menggangu pikirannya, ia pasti akan selalu minta dipeluk dengan manja.


"Rey, apa kau sedang ada masalah nak?" Tanya Lara dengan suaranya yang lembut.


Namun Rey tak menjawab, ia malah semakin dalam membenamkan wajahnya ke dekapan Lara. Tidak mau memaksa sang putra bicara akhirnya sebagai seorang ibu, Lara hanya bisa memeluk sambil mengusap lembut punggung Rey supaya nyaman.


Namun tiba-tiba saja Rey menarik dirinya dari pelukan Lara dan menatap sang mama dengan tatapan sedih.


"Rey...?"


"Mama... Papa itu, papa Vander itu orang yang baik kan?"


"Eh, ke- kenapa kau tanya begitu sayang?"


"Papa sayang mama dan aku kan?"


"Te- tentu saja sayang, papa sayang pada kita. Kau kenapa tiba-tiba bicara begitu?"


"Mama bilang papa sayang pada kita, tapi- tapi kenapa bibi Emily bilang, papa itu pacarnya bibi Emily!"


"Apa?" Lara langsung terkesiap mendengar ucapan Rey barusan. "Em- me- memang bibi Emily bilang apa padamu."


"Bibi Emily bilang, papa adalah pacarnya dan mereka suka pergi bersama dan akan menikah, mama aku tidak mau... Huhu..." Tangis Rey pecah saat itu.


"Aku suka papa Vander, aku sangat menyukai dia tapi kalau dia benar pacarnya bibi Emily, lebih tidak mama tidak usah bersamanya! Aku sayang papa, tapi aku lebih tidak rela siapapun menyakiti mama..."


Lara kemudian memeluk putranya itu agar tenang. Dan setelah cukup tenang, ia pun memberikan pengertiannya kepada Rey. "Sayangm.. dengarkan mama, papamu tidak mungkin begitu, dia tentu saja sangat mencintaiku dan dirimu. Jadi tidak mungkin dia berhubungan apalagi menikahi wanita lain."


"Jadi bibi Emily itu cuma bohong kan?"


"Iya sayang, dia hanya bohong padamu. Jadi jangan kau pikirkan kata-katanya ya, biarkan saja dia mengarang bebas, yang jelas kau percaya padaku kan?"


"Iya, aku percaya pada mama," ungkap Rey yakin.


"Itu baru putraku. Oke, karena ini sudah malam, lebih baik kita tidur. Kau juga harus sekolah kan besok?"


"Iya Ma, tapi aku boleh tidur disini kan malam ini?"


"Tentu saja boleh," sahut Lara yang langsung memeluk dan mengecup kening putranya itu. "Selamat tidur anakku sayang."


"Selamat tidur mama..."


Melihat putranya sudah lelap tertidur, Lara yang masih tak menyangka kalau Emily bisa tega berbicara begitu pada putranya pun merasa geram sekali. "Keterlaluan, Emily yang sudah tau kalau aku dan Vander punya hubungan khusus, menggunakan Rey untuk mengacaukan semuanya. Jelas wanita itu sudah tidak bisa dibiarkan, dia sudah berani menganggu anakku! Aku harus membuat perhitungan dengannya!"


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya, Robert datang menemui Vander di ruangannya pagi-pagi.


Disana ia melaporkan kalau dirinya sudah selesai mengurus media yang telah menyebarkan berita thread tersebut, sesuai yang diperintahkan Vander.


"Sekarang semua situs link beritanya sudah diblokir, dan juga media cetak maupun elektronik semua sudah dipastikan menghapus siaran macam itu, dan tidak lagi menyiarkan atau menayangkan kabar itu tuan."


"Kerja bagus."


"Tapi tuan, ada satu media digital yang bersikukuh untuk tetap menyebarkannya. Bahkan mereka ngotot untuk membuktikan rumor itu, bahkan mencari bukti baru."


"Oh iya, apa nama medianya?"


"Namanya RTZ media. Sepertinya itu media berita yang belum terlalu lama tapi sudah cukup populer terutama dikalangan generasi muda usia dua sampai tiga puluhan tahun. Hal itu disebabkan karena media itu sering kali memberitakan kontroversi dan berita yang bahkan bersifat exsplisit. Itu sebabnya RTZ sangat laris dikalangan itu."


"Jadi mereka menyepelekan peringatanku?" Vander menyeringai kecil. "Kalau begitu kau hubungi pimpinannya, dan katakan padanya jika media itu tetap memaksa untuk menyebarkan, maka terpaksa akan kubawa kejalur hukum. Bagaimanapun mereka pasti tahu kalau semua keramaian ini hanyalah berita sampah yang terlanjur dapat atensi besar."


"Baik tuan aku akan lakukan, dan Tuan Vander soal yang menyebarkan thread pertama kali, apa sudah anda temukan orangnya?"


Vander mengulum senyum penuh arti, "Ya, aku sudah tahu orangnya. Dia adalah penghianat yang tidak lebih dari seekor kelinci kecil dungu yang dengan bodohnya berani bermain tipuan dengan seeokor raja serigala."


...🍁🍁🍁...


Jeden di kediamannya terlihat marah-marah di telepon. Ia kesal karena beraninya media yang sudah ia bayar mahal malah tiba-tiba membelot, dan berhenti menyebarkan berita skandal Vander itu.


"Dengar aku sudah bayar mahal dan kalian malah menyerah, hanya dan Menyedihkan."


Maaf tuan Jeden, tapi RTZ tatap saja jauh dibawah kekuasaan Laizen grup, ditambah pihak Laizen mengancam kami akan memperkarakannya di pengadilan tinggi, dengan tuduhan pencemaran nama baik dan pembohongan publik.


"Cih! Dasar tidak berguna kalian! Kalau begitu aku tidak akan bayar kalian sepeser pun"


Tuan anda tidak bisa begitu, setidaknya beri kami separuhnya, karena bagaimanapun kami telah bekerja dan membantumu.


"Jangan mimpi! Aku tidak akan bayar orang yang tidak berguna seperti kalian, bye!"


....


Jeden mematikan ponselnya dengan raut wajah marah. "Brengsek! Vander dalam sehari bisa membungkam ratusan kanal media dari semua sektor. Sekarang aku harus apa untuk membuat namanya semakin jatuh? Sementara media kini berhasil ia bungkam seutuhnya. Pasti setelah ini namanya akan kembali bersih, "Bagaimana pun aku harus cari cara untuk membuat Vander semakin banyak dibenci, dengan begitu kepercayaan orang-orang terhadap produk Laizen Grup akan menurun."


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2