
Pagi harinya Lara pun akhirnya terbangun. "Ugh! Kepalaku masih agak pusing," ucapnya.
Sepertinya pengaruh alkohol semalam masih tersisa. Lara kemudian mengingat samar-samar kejadian semalam. Yang dirinya ingat terakhir kali semalam adalah, Van datang menolongnya dari para pria brengsek itu, lalu membawanya pergi dari klub, dan sisanya Lara tidak tau jelas karena saat itu ia dalam keadaan setengah sadar jadi setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi dengan jelas. Yang Lara coba ingat adalah kejadian semalam itu didalam mobil—
Lara langsung menyentuh bibirnya. Ia mengira dirinya bermimpi tengah berciuman dengan Vander di dalam mobil.
"Meski itu mimpi tapi kenapa rasanya seperti sangat nyata?" ujar Lara. Gadis itu pun memegangi kedua pipinya karena malu sendiri mengingatnya. Tak lama Lara segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ternyata ia tidur dengan masih mengenakan dress yang yang dipakainya semalam. Lara tersenyum lega, mengetahui Vander tidak melakukan hal apapun padanya meski ia semalam tengah mabuk.
"Dia memperlakukanku dengan hati-hati sekali bahkan ketika aku sedang mabuk dan tak berdaya dia tetap menjagaku. Kalau dia begitu terus yang ada aku malah akan semakin susah untuk mengubur perasaanku padanya." Hal itu tentu saja membuat Lara gamang dibuatnya, dirinya berniat menghadiri acara reuni agar bisa melupakan masalahnya dengan Van, nyatanya malah ditolong lagi dan lagi oleh pria itu.
Tok tok! Pintu diketuk dari luar.
"Masuklah," jawab Lara.
Van membuka pintu lalu masuk dengan membawa segelas minuman. Sebaliknya Lara justru kaget dan merasa canggung karena seketika teringat akan mimpinya berciuman dengan Van semalam.
"Nona, kau sudah lebih baik?" Ucap Van meenghampiri gadis itu.
"Iya aku sudah lebih baik," jelas Lara yang kikuni duduk berselonjor diatas tempat tidur.
"Oh iya ini aku buatkan air lemon hangat, ini bisa menetralkan pengaruh alkohol pada dirimu," jelas Van sambil menyodorkan segelas air lemon tersebut.
"Terima kasih ya," Balas Lara.
Sejujurnya Lara jadi agak tidak enak hati pada Vander. Ia merasa bersalah, mengingat kemarin ia sudah mengabaikannya bahkan bicara pedas padanya tapi nyatanya pria itu masih saja memperlakukannya dengan sangat baik. Setelah selesai meminun air lemonnya Vander kembali mengambil gelasnya dan bergegas pergi, tapi tiba-tiba saja Lara malah memanggil pria itu.
"Van.."
"Iya Nona?" Vander menoleh san tidak jadi pergi.
"Apa kau berpikir aku jahat?" Tanya Lara.
Vander mengerutkan alisnya. "Apa yang Nona katakan, kenapa aku harus berpikir kau jahat?"
"Kemarin aku sudah mengabaikanmu tanpa maksud yang jelas, aku juga bicara hal yang tidak baik padamu. Tapi meski begitu, kau masih saja menolongku kemarin dari pria yang menggangguku. Aku jadi merasa kalau aku ini orang yang buruk," Lara benar-benar merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Vander kemudian duduk menghampiri Lara dan berkata, "Nona bukan orang yang buruk, aku yakin kau marah padaku pasti ada alasannya. Jadi aku mohon jangan berpikir seperti itu. Aku sudah sudah pernah katakan sebelumnya padamu, sejak aku bersedia jadi pengawalmu, maka sejak saat aku itu juga aku mengabdikan seluruh hidupku untuk menjagamu."
Lara menatap Vander dengan penuh rasa kagum dan bangga. "Kau sungguh pria yang baik Van," puji Lara.
Vander tersenyum, "Aku tidak sebaik itu."
Keduanya kini saling menatap, wajah Lara langsung memerah seketika melihat wajah Vander di dekatnya. Mimpi ciuman dengan Van semalam benar-benar terasa seperti nyata.
Van tiba-tiba menempelkan tangannya ke kening Lara. "Nona apa kau demam? Wajahmu merah."
__ADS_1
Lara tidak berani menatap Van, "Aku tidak demam kok, aku hanya..." Lara jadi penasaran ingin bertanya pada Van tentang dirinya semalam saat mabuk, apa yang dirinya melakukan hal aneh. Pasalnya ini pertama kalinya Lara mabuk.
"Van, coba ceritakan semalam setelah kau membawaku ke luar dari klub, setelah itu apa yang terjadi?"
Vander mendadak tegang, pasalnya ia harus bagaimana menceritakan kalau semalam itu Lara berubah jadi agresif hingga mencium dirinya.
"Hei, kenapa kau diam. Apa aku melakukan hal yang memalukan?" Wajah Lara tampak malu-malu.
"Nona kau yakin ingin aku ceritakan?" Tanya Vander meyakinkan.
Lara jadi makin gugup dengar Van tanya begitu.Tapi bagaimanapun Lara sudah mempersiapkan diri jikalau memang dirinya melakukan sesuatu yang memalukan di depan pengawalnya itu saat mabuk.
"Iya ceritakan saja sejujurnya, a- aku sudah mendengarnya, bahkan jika mungkin ternyata aku berteriak seperti orang gilapun aku siap menerima hal itu."
Van tersenyum licik. "Baik jika kau mau dengar maka akan aku ceritakan. Jadi semalam itu..." Vander akhirnya sungguh-sungguh menceritakan kejadian semalam diantara mereka saat di dalam mobil sedetail mungkin.
Sontak setelah mendengarnya Lara langsung syok dan seperti ingin menghilang. "Apa? Jadi itu semua bukan mimpi?" Wajah Lara kali ini benar-benar seperti terbakar. Ia tidak menyangka ternyata kejadian yang ia pikir mimpi itu pada akhirnya adalah nyata. Lara rasanya ingin mengubur diri hidup-hidup. Apalagi Vander ada disini bersamanya. Aku malu sekali! Pekik Lara memutupi wajahnya dengan tangan karena malu.
Van sebaliknya justru dibuat ingin tertawa. Melihat Nonanya yang sedang malu begitu malah terlihat lucu dan menggemaskan.
"Nona kau malu, padahal semalam kau bahkan dengan sendirinya melangkah duduk diatas pangkuanku loh...," Goda Vander.
"Sudah diam! Lebih baik kau pergi sana!" Lara yang masih menutupi wajahnya mengusir Vander pergi.
"Nona tapi aku tidak masalah kok—"
Padahal Vander masih mau menggoda Lara tapi melihat Lara sepertinya malu sekali ia jadi tidak tega. Akhirnya Vander pun keluar dari kamar itu.
Setelah Van keluar Lara pun akhirnya bisa bernafas lega. "Ya Tuhan, bagaimana setelah ini aku melihat Van. Setelah kejadian itu ia pasti berpikir aku ini wanita liar yang pandai menggoda laki-laki. Baiklah aku harap semalam terakhir kalinya aku mabuk."
Setelah kejadian itu Lara memutuskan untuk tidak akan pernah lagi minum alkohol.
***
Van diluar masih kegirangan karen terhibur dengan reaksi Lara yang malu dan salah tingkah tadi. "Nona Lara sangat menggemaskan kalau sedang malu-malu," ungkap Vander sambil tertawa.
DRIP DRIP!!
Suara getar ponsel Vander yang ada disakunya menggema, pria itu pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
Vander : Ya Aron ada apa?
Aron : Van aku ada informasi baru.
Vander : Apa itu?
__ADS_1
Aron : Aku dapat info kalau Eva sepertinya bekerjasama dengan seorang pria.
Van : Kau tau siapa pria itu?
Aron : Setelah aku cari tau ternyata pria itu dari Miracle group
Van : Siapa namanya?
Aron : Namanya Jeden Lee
Van : (Sial!) Lalu apa kau tau mereka merencanakan apa?
Aron : Kalau soal itu aku belum tau, aku memberitahumu hal ini karena aku tau kau bekerja dengan Nona Lara Hazel pimpinan Miracle.
Van : Baik Ron, terima kasih infomu. Kabari aku segera jika ada yang kau ketahui lagi tentang mereka.
"Sial!" Van mencengkeram ponselnya tampaknya ia sangat emosi setelah mendengar hal itu dari Aron. "Pria busuk itu dan wanita itu mereka pasti sudah bekerjasama demi tujuan masing-masing. Kalau begini sudah pasti Lara akan ikut terseret juga di dalamnya!" Van tau persis sifat Eva yang sangat mengabdi pada Crux ditambah Jeden yang diam-diam sangat licik. "Aku harus semakin waspada, bagaimanapun prioritasku ada keselamatan Nona Lara."
**
Lara baru saja selesai mandi, karena hari ini libur kerja ia hanya mengenakan dress rumahan lengan pendek. Sebernarnya hari ini Lara bermaksud ingin jalan-jalan keluar menikmati udara segar. Tapi dirinya masih malu berhadapan dengan Van saat ini. "Tidak boleh! Bagaimanapun aku tidak bisa begini, lagipula kejadian itu terjadi kan saat aku setengah sadar." Lara akhirnya bertekad untuk keluar kamar dan bersikap normal.
Di ruang tengah Lara celingak celinguk. "Huft untung Vander tidak disini,"
"Nona mencari aku?" Ujar Van dari arah belakang Lara hingga membuat gadis itu terkejut.
"Astaga! Bisa tidak sih kau itu kalau melangkah kakinya berbunyi sedikit, aku kan jadi kaget!" Omel Lara.
"Maaf ya Nona, aku sudah kebiasaan berjalan tanpa suara soalnya," ucap pria itu dengan mimik wajah datarnya.
Hari ini Vander juga tidak pakai baju semi formal ia hanya mengenakan sweater hitam dan celana pendek. Gadis itu memperhatikan Van dari bawah ke atas.
Aku baru lihat lagi dia pakai celana pendek setelah pertemuan pertama kita waktu itu saat dia masih jadi gelandangan lusuh. Jujur saja Lara melihat Van saat ini masih tidak percaya kalau pria tersebut nyatanya pernah jadi gelandangan yang tak terurus. Bagaimana bisa ada gelandangan setampan dan sekeren pria dihadapanku ini?
"Um, Nona kenapa kau memperhatikanku sambil melamun begitu?" Ujar Van memecah lamunan Lara.
"Eh ti- tidak apa-apa kok, oh iya hari ini aku mau jalan-jalan santai sambil makan siang diluar. Kau temani aku nanti aku traktir makan siang!" Ungkap Lara.
"Nona mau jalan-jalan kemana memangnya?"
"Nanti saja aku beritahu, yang jelas kau ikuti saja aku mau kemana," jelas Lara. "Yasudab kalau begitu aku mau dandan sedikit dan mengambil tas."
"Tidak dandan juga Nona sudah sangat cantik," pungkas Van tiba-tiba.
Hati Lara langsung berdesir mendengar ucapan pengawalnya itu. Ia pun berbalik badan mendekati Van dan mendongak menatapnya dengan lebih dekat.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa vote, like, comment.